Aftermath
Tanganku meremas lengan sendiri. Telapak berkeringat, licin yang seolah menginginkanku membersihkan sisa-sisa Syrus di kulitku.
Zayn memintaku untuk pergi ke kamar dan mengunci pintu, tapi aku justru berhenti setelah beberapa langkah meninggalkan ruang kerjanya.
Aku tidak bisa pergi dan menunggu. Bukan karena takut, tapi aku harus berada di sini jika Zayn berada di luar kendali.
Jangan ada lagi nyawa yang melayang karenaku. Itulah yang berulang kali melintas di kepala, menggerogoti keinginan untuk segera hadir di antara mereka daripada bersembunyi dan menguping.
Langkah Zayn terdengar dari balik dinding. Tenang seperti biasa, tidak tergesa sedikit pun. Sikapnya jauh berbeda dengan detak jantungku yang diam-diam memilih menunggu, dan melanggar perintahnya.
"Ada apa?" Suara Syrus terdengar, jelas menikmati setiap detik.
Ketukan berat mendarat di sesuatu. Suara furnitur bergeser menghantam dinding.
Aku terpejam, tubuhku tersentak hingga tanpa sadar meremas lebih kuat lenganku sendiri. Lembap. Keringat di telapak tangan tak kunjung pergi.
Zayn tidak menjawab. Ia tahu itu tidak diperlukan.
"Aku cuma datang untuk memastikan kakakku tidak bermain sendirian." Syrus tertawa kecil. "Dia manis. Kau seharusnya berbagi—"
Suara hantaman kedua memutus kata-katanya. Syrus mengerang—pendek dan terbunuh—tapi Zayn masih diam.
Aku berbalik, menempelkan telinga pada dinding. Tanganku kini mencengkeram rantai menjijikan yang menjuntai di depan tubuhku.
Suara hantaman itu masih terdengar, bersama erangan Syrus dan kesunyian milik Zayn. Aku ingin melihat, ingin memastikan, tapi berada di sini saja sudah membuat napasku tercekat.
"Apa itu tadi?" Suara Syrus melemah, tapi tetap angkuh. "Cemburu? Kau takut aku lebih … mengerti selera—"
Lagi-lagi suara berderak—tulang? Lututku goyah, nyaris jatuh, tapi segera kutahan. Aku harus tetap berdiri lalu berlari kapanpun, sebelum ia tahu bahwa tikus kecilnya sedang menguping.
"Kau menyentuh sesuatu yang bukan milikmu." Zayn akhirnya berbicara.
Nada yang tidak pernah ia gunakan padaku. Nada yang lebih tajam, berat, seperti dewa kematian yang membacakan vonis kepada calon mayat. Dan itu memberikan sedikit kelegaan yang ... tidak yakin harus disebut demikian.
Suara Syrus teredam, tergantikan dengan batuk seolah seseorang sedang mencengkram tenggorokannya.
"Semua keluarga bisa—"
Vas bunga melayang melewati pintu. Membentur dinding, sebelum jatuh dan pecah menyebarkan beling.
Tulang rusukku semakin sakit, debarannya seperti akan meledakkanku. Siapapun itu, telah menelan paksa napasku.
"Dia bukan keluarga Blood and Dice." Zayn menggumam rendah. "Dia milikku."
Aku menutup mulut dengan kedua tangan agar tidak menangis. Bukan karena apa yang ditinggalkan ayahku, bukan juga karena Syrus memperlakukanku seperti sampah.
Itu karena Zayn. Dia mengatakannya dengan cara yang benar-benar berarti, meski kata itu telah menjadi keseharianku. Kali ini hanya … berbeda. Diakui, diumumkan di hadapan orang yang ingin mencuriku darinya.
"Ya, aku milikmu. Selamanya milikmu," bisikkan itu keluar dari bibirku, tertelan oleh detak jantungku sendiri.
Ujung jariku menyentuh bekas luka yang ia buat di Pabrik Harrows, bersama luka di bagian bawahnya—berbentuk garis vertikal—yang kubuat untuk menggertaknya saat itu.
Kehadirannya tidak nyata, dia berada di balik tembok ini, berjuang untukku sebagai miliknya yang tidak akan pernah dibagi. Keheningan menyelimuti, panjang yang menyayat pikiranku diam-diaya, seolah mereka siap untuk saling membunuh, tapi itu tidak akan terjadi.
Dia atau Zayn tidak tahu bahwa pisau lipat itu, masih bersembunyi di dalam genggamanku.
"Keluar dari rumahku."
Aku mengembuskan napas. Akhirnya, Zayn bicara lagi. Tidak berteriak, tapi justru membuat setiap kata lebih kejam.
"Sebelum aku lupa kau keluargaku."
Sepatu menyeret lantai. Syrus terbatuk, tawa kecil lolos, entah menantang, atau mengakui kekalahan sementara.
"Anjing itu cepat belajar," katanya pelan. "Kau harus lebih cepat, sebelum yang lain datang untuk bermain dengan peliharaanmu."
Peliharaan? Anjing? Aku?
Aku menggeleng, tidak benar-benar melakukannya setelah mendengar suara langkah yang mendekat. Entah itu Syrus atau Zayn, aku hanya segera berlari. Menuju kamar dengan seluruh gerakan yang kubuat seminimal mungkin, pintu kukunci dua kali, lalu ketakutan menghantamku.
Apa yang dipikirkan Zayn padaku?
Punggungku menekan pintu, selagi suara langkahnya mendekat.
Apa dia tahu ini penyerangan?
Aroma lily di kamar tidak lagi mendominasi, kini bercampur dengan musk dan citrus. Dia datang, membawa udara pekat yang akan membuat paru-paru tidak lagi merasakan udara.
Dia tidak akan menuduhku berkhianat.
Tapi aku tetap menjauh, saat hawa panas menekan dada. Tubuhku terpaku di sudut ruangan, memaksa menghadap pintu untuk menyambutnya.
Suara di kepala, berusaha membantuku—menyusun kata-kata, menjelaskan tentang semua ini. Untuk pertama kali, mereka berpihak padaku.
Satu, dua, dan pintu terbuka. Aku yakin sudah mengunci, tapi dia mendorong pintu tanpa perlu mengetuk. Tatapannya masih gelap. Menatapku bersama neraka yang disembunyikan di balik punggungnya. Dia masuk, berdiri tidak jauh dari tempatku untuk melarikan diri.
"Ammy." Mata itu menatapku, suaranya datar, menusuk, hingga apapun di sekitar kami terdiam.
Kakiku terseret di atas lantai, seperti ditarik oleh kawat berduri untuk membuatnya patuh sekaligus terluka. Aku tidak punya bukti tentang perlawananku, tentang pencurian kepemilikan ini, bahkan pisau lipat di genggamanku tidak berarti apa-apa.
"Zayn …." Jantungku memukul kuat rongga dadaku, hingga seluruh tubuh terasa sakit. "A-aku … melawannya."
Tidak ada kata yang keluar darinya, tapi tatapan itu selalu terpaku padaku.
Dan itu … senantiasa membunuhku secara perlahan.
"Dia … tidak mendapatkan apapun." Kepalaku tertunduk dalam, menolak memperlihatkan kotoran yang menempel padaku.
Keheningan menekanku dari segala sisi. Zayn masih belum mengatakan apapun, tapi apa yang terlihat di tangan dan wajahnya telah menjawab segalanya. Dia membelaku, yang bukan berarti aku bebas begitu saja.
"Answer me."
Tubuhku berkeringat, hanya karena dia menetapkan aturan dengan nada yang tidak lagi sama. Aku tidak berani menjawab, tapi seluruh inderaku menanti hal lebih darinya.
"What did he do to you?"
Jujur. Kejujuran adalah landasannya. There's nothing left in the dark.
Aku menelan ludah. Sayangnya tidak membantu menyelamatkan tenggorokanku, yang seperti menyimpan pecahan kaca.
"Dia … dia memintaku membersihkan sepatunya." Kuberanikan diriku untuk menatapnya. "Dia … memaksaku dengan ini."
"Do it …." Ia menggenggam pergelangan tangannya. "For me."
What? Suaraku tidak keluar, tapi bibirku bergerak samar untuk hal itu.
Bukan Zayn, bukan juga bayanganku yang dulu bersembunyi di balik topeng bauta. Pria ini adalah orang lain, meski masih menyimpan keamanan untukku.
Lututku bertekuk, nyaris menyentuh lantai saat tangan Zayn menahan lenganku. Aku menoleh, ingin bertanya, tapi dia lebih dulu berkata, "No."
Apa maksudnya? Dia menuntunku, kembali berdiri tegak, seperti sebelumnya. Lengannya melingkar di pinggangku, menyentakku hingga tubuhku menghantam miliknya.
“Buka mulutmu.”
Aku menurut. Mengabaikan suara jantung yang beradu dengan perintahnya.
Tangan kanannya terangkat, jari-jari terlipat hanya menyisakan telunjuk dan jari tengah. Aku bisa melihat darah di sana, aromanya mendominasi indera penciumanku.
Aku terpaku. Merah di jari-jari itu bukan sekadar darah—itu sisa perang. Sisa dirinya yang baru saja dipertaruhkan untukku.
"Bersihkan bekasnya," katanya.
Nada itu tidak mendorongku jatuh, justru menarikku kembali dari jurang yang tadi sempat menelan napasku.
Wajahku mendekat. Tidak untuk tunduk, tidak untuk memuaskan kehendaknya, melainkan untuk memastikan bahwa tidak ada jejak Syrus di tubuhnya. Bahwa yang tersisa hanyalah pertempuran yang ia pilih demi aku.
Buku jarinya menyentuh bibirku, dan aku menariknya sedikit ke dalam mulut—sebatas satu sentuhan, cukup untuk menghapus rasa besi, keringat, dan sedikit cairan antiseptik.
Tidak ada gerakan maju mundur, bukan servis yang dipelintir. Hanya sentuhan yang menghapus garis darah dari buku jarinya.
Aku menahan napas di tengah ingatan yang menelusup begitu saja, saat aku menempelkan telinga pada dinding di balik ruang kantornya.
Jarinya tidak bergerak. Ia membiarkanku menentukan tempo—langkah kecil dari tubuhku yang masih bergetar, tapi ingin memastikan kebenaran; Zayn berhasil. Aku kembali. Dunia kami belum diretas siapapun.
Pelan-pelan, aku menyapu noda itu dengan cara yang tidak pernah diajarkan siapapun, yakni mengembalikan apa yang menjadi miliknya pada tempat yang benar.
Tatapannya tidak erotik. Tatapannya gelap, tajam, dan—entah bagaimana—terluka.
Satu tanganku membungkus pergelangan tangan pria itu, selagi tangan satunya menggenggam kuat logam kecil yang bisa melukai siapa saja. Jari-jariku membuka lipatan jarinya yang lain. Tangan Tuhan, sebutan itu lahir begitu saja di dalam kepalaku, mengalir bersama darahku, menjadi napas yang mengisi paru-paru.
Ketika darah terakhir hilang dari kulit seputih susu itu, dia menangkap daguku dengan tangan satunya, tidak keras, tapi cukup untuk memastikan aku melihatnya langsung.
Neraka di dalam dirinya, seolah dipaksa terbuka dan sekarang dia membutuhkan penenangnya.
Bukan obat yang biasa dia berikan untukku, tapi … bisakah kukatakan bahwa itu adalah aku?
Dingin yang membuat tengkukku meremang dengan cara paling menyakitkan.
"How do you feel?" tanyanya selagi membebaskan daguku, dan mengusap telingaku yang menyematkan namanya, menggunakan ibu jari.
Kedua mataku terpejam, benda tumpul itu adalah satu-satunya hal nyata yang di dalam genggaman, dingin yang memaksaku untuk tetap sadar.
"I'm scared."
"Berikan padaku." Tangan lainnya menyusuri lengan bawahku, sebelum menyelipkan jari-jarinya di dalam genggaman, tempat pisau lipat itu bersembunyi. "Sesuatu yang kau sembunyikan."
Tanganku terbuka. Tidak perlu usaha untuk memaksa, aku memberikannya dengan harapan dia tidak salah menilaiku.
Zayn menatap benda itu sesaat, mengeluarkan bagian tajamnya dan … semua terjadi begitu saja. Cepat, tanpa aku bisa menangkap apa yang dia temukan di sana.
Bibirnya melahap bibirku. Tangan besarnya menarikku ke dalam pelukan yang terlalu kuat, seakan dia ingin memasukkanku ke dalam tubuhnya.
"Kau yang memilih," bisiknya di tengah ciuman yang lebih mirip disebut marah, daripada pengampunan. "Aku tidak pernah memaksamu."
Tangannya menuntut leher dan rahangku untuk mengubah posisi, memaksaku menengadah untuk menyamai tingginya.
"Dan aku … hanya mengambil kembali apa yang nyaris dicuri."
Suara klik terdengar di belakangku. Collar yang menusukku melonggar setelahnya, tapi Zayn tidak melepaskan ciumannya.
Tanganku meremas kemeja hitam itu, berusaha menyeimbanginya atau … aku hanya memerlukan pegangan agar tidak tumbang.
Sayangnya, pertahanan itu runtuh bersama cairan hangat yang berhasil keluar melalui sudut mata. Semakin membasahi pipi, saat ciumannya turun menyentuh garis pipiku, dan kini berakhir di leherku.
Lidahnya memberikan rasa perih pada beberapa bagian di sana. Jari-jarinya masuk ke sela-sela rambutku, mencengkeram dengan penuh tuntutan, agar aku memberikan jalan untuknya membersihkan jejak orang lain.
Tidak ada orang lain. Hanya dia. Selamanya memang dia. Pria yang pantas, yang tahu bagaimana memperlakukanku. Sosok terakhir, hingga napasku tidak lagi bersamaku.
"Zayn …." Suaraku lebih lemah dari sebuah bisikan, setelah dirinya menjauh dariku dan kini menatapku.
Di matanya aku melihat semuanya; amarah, kepemilikan, ketakutan yang mengerut. Tangannya menjangkau pinggulku ketika aku menyandarkan tubuhku di dadanya. Ia tidak memaksaku. Seolah memastikan bahwa yang kulakukan tadi karena aku memilih dia.
"I'm sorry."
Dia tidak menjawab permintaan maafku, tapi tubuhnya sudah cukup menjadi jawaban bahwa ia tidak meninggalkanku.
Bekas luka itu ia sentuh kembali. Bukan ciuman yang merayakan, melainkan yang menutup rapat sebuah retakan. Bibirnya dingin, lalu hangat. Sentuhan diam yang membawa pengakuan dan penahanan.
Dia mengusap bekas itu dengan jari-jarinya sampai darah kering menipis lalu dengan gerakan lembut, bisikan pertama mendarat di telingaku.
"Bersihkan dirimu. Lima menit, aku menunggumu di meja makan."
Aku tidak ingin menjauh, tapi dia membantuku berdiri tegak. Lengannya memelukku sekali lagi, sebelum benar-benar menjauh dengan pintu yang ditutup sebagai batas.
"Jangan …." Aku menggeleng, tidak bisa membiarkan hal itu begitu saja.
Pintu kubuka kasar, langkahku cepat untuk mencapainya, dan tanganku meraih tangannya, memaksa agar ia berhenti.
"Katakan sesuatu," tuntutku, tidak ingin membiarkan lubang di dadaku bertambah besar. Kelembutan yang dia bentuk tidak seharusnya kudapatkan sekarang. "Kau tahu aku memilihmu."
Sesuatu di dalam diriku terbakar, menyulut lidahku untuk tetap melanjutkan kalimat. "Dan … daripada bersikap lembut, aku merasa lebih aman jika kau meluapkan amarah yang kau tahan itu padaku."
Hening. Bibirnya tertutup rapat dan tanganku menguncinya kuat, hingga kuku-kuku milikku mungkin telah menyakiti kulit di bawahnya.
Aku ingin dia lebih keras dari ini. Memaksaku, hanya untuk menanamkan dirinya pada seluruh yang aku punya.
Tangan Zayn mengencang di dalam cengkeramanku. Amarahnya berpusat di sana dan anehnya, hal itu justru membuatku berdebar daripada takut.
Rasanya lebih baik seperti ini. Kejujuran. Tidak ada yang disembunyikan.
"Kau yang memintanya sendiri," katanya pelan, tapi terdengar jelas. Menusuk seperti ribuan anak panah yang diarahkan padaku.
***
Makasih sudah bertahan sampai sejauh ini 🩶🩶
Kamu bisa follow instagram/tiktok jessicalush.author untuk bocoran bab-bab yang aku tulis.
Aku juga terbuka untuk pertanyaan, diskusi, review/kesan kalian melalui DM selama mengikuti TTQB & UWS.
Terakhir, terima kasih dan dengan cinta, Jess.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top