011. Rite
Paru-paruku terbakar bukan karena apa yang kulakukan pada Syrus, tapi karena dunia belum kembali ke tempat yang benar.
Aku menahan diri untuk tidak menghancurkan apapun di lorong ini, karena ketika aku marah, segala sesuatu biasanya belajar tunduk—mau atau tidak. Tidak ada yang sulit tentang ini, aku hanya sedang memilih untuk tidak membuat rumah ini runtuh bersamaku.
Diam adalah warisan keluarga kami—cara paling efisien untuk mematahkan manusia tanpa harus menyentuhnya. Tapi diam membuat mereka lupa siapa yang mengatur tarikan napas mereka.
Dan Ammy, yang berani memintaku melepaskan apa yang kusembunyikan … tidak paham bahwa ketika aku melakukannya, itu bukan sekadar amarah.
Itu keputusan Tuhan. Tuhan yang dia pilih untuk disembah, dan satu-satunya yang cukup layak untuk meremukkan atau mengangkatnya hidup-hidup.
Aku terus bergerak, meski otakku saat ini terlalu sulit untuk dibuat berpikir.
Pintu di ruang kerja masih terbuka, pecahan vas bunga berserakan di lantai, aku berhenti sebentar selagi Ammy berdiri di belakang. Dia tidak bergerak, tidak bertanya, tapi kurasakan tatapannya memindai dari balik punggungku.
"Duduk." Kukatakan padanya, tanpa menoleh, hanya menunjuk ke arah sofa hitam yang bagian bawahnya terdapat bercak darah. "Kau ingin aku meluapkannya padamu. Aku akan memberikannya."
Noda itu telah mengering, cukup sulit membersihkannya, tapi aku tidak menyesal. Syrus adalah hama yang menempel denganku selama masih berada di manor, dan dia kembali mencoba merusak milikku.
Ammy melangkah pelan, tapi tidak terlihat ragu. Wajahnya menunduk, masih diam seolah dia berbicara dengan pikirannya sendiri. Sampai ia duduk di sofa itu, tatapan kami akhirnya bertemu.
Tanganku terlipat di atas dada. Menarik napas panjang, tapi tidak membantu apapun. Ada banyak cara untuk melepaskan ini, dan semuanya akan menghancurkan sesuatu—tembok, tubuh, atau sisa kewarasan. Ammy tidak termasuk dalam daftar yang kuperbolehkan hancur.
Syrus akan mengadu, mengistimewakan posisinya, lalu ayah akan memanggilku. Kami akan terjebak dalam satu ruangan, diam untuk saling membunuh, berbicara untuk menilai siapa yang mengaku lebih dulu.
"Telapak tangan menyatu di depan dada." Suaraku semakin berat dari sebelumnya, bergetar menolak keinginan untuk berteriak. "Tutup matamu." Karena ibuku selalu mengajarkan dongeng itu. Bukan sebagai cerita anak-anak, tapi sebagai pelajaran kepatuhan.
Diam, tunduk, dan menunggu. Itu inti yang ia tanamkan.
"Putri yang baik tidak merusakkan dunia dengan suara," katanya dulu, sambil menyelesaikan rajutan di depan perapian.
Dia lupa menemukan ujung cerita itu, bahwa putri itu mati sebelum ada yang peduli.
Bukan disebabkan oleh apel. Tapi oleh lelaki yang memegang pedang, selagi mangsanya menutup mata.
Senyum asimetris lolos begitu saja, ibuku tidak benar sepenuhnya. Ia memiliki celah karena pada akhirnya pertolongan yang dia tunggu tidak akan pernah datang. Rajanya membunuhnya, mungkin sebentar lagi akan menyakitiku, meski bukan dengan tangannya sendiri.
Apakah sudah saatnya? Pertanyaan itu tersembunyi di sudut kegelapan diriku, tidak pernah dilontarkan, dan tidak akan pernah menemukan jawabannya.
Penebusan untuk nyawa pendosa di gereja ibuku, tidak pernah benar-benar membantu. Aku melihat ayahku pada wajah mereka, seperti pertama kali melakukannya di gedung terakhir. Darah yang mengalir selalu memberikan kepuasan, tapi itu hanya sesaat.
Karena pendosa sesungguhnya, masih bermain-main menjadi tangan Tuhan.
Langkah sepatuku memecah keheningan, punggung Ammy menegang, tapi segera rileks karena tahu itu adalah aku. Dia memintaku meluapkan amarah padanya, dan permintaan tersebut akan membuatnya menyesal.
Tidak akan ada darah, barang-barang yang kembali pecah, atau teriakan. Aku menyimpan mereka semua untuk waktu yang tepat dan Ammy bukan bagian dari itu.
Aku berhenti di meja kerja, menarik salah satu lacinya untuk mengambil salah satu benda tua yang tersimpan untuk mengingat mereka.
Kalung logam yang dinginnya selalu mengingatkanku pada musim dingin yang tidak pernah berakhir di rumah ini. Rangkaiannya kaku, melingkar di leher, lalu menjulur turun sebagai batang tipis yang memaksa kedua tangan menyatu di depan dada, seperti patung doa yang dipajang terlalu lama di ruangan gelap.
Jika seseorang mencoba bergerak, logam itu akan menarik kembali—mengingatkan bahwa tubuh bukan lagi miliknya. Bahu menegang, lengan terbakar perlahan, dan rasa sakit kecil mulai merayap seperti doa yang tidak pernah dikabulkan.
Ibuku dulu menggunakan ini pada Lily. Bukan untuk menghukumnya—tidak seburuk itu—tapi untuk mengajarinya bagaimana tampak suci ketika dunia menuntut penyerahan diri. Keheningan, katanya, adalah bentuk ibadah yang paling aman.
Benda ini tidak pernah dimaksudkan untuk kebebasan. Itu diciptakan untuk ketenangan yang lahir dari ketidakberdayaan.
Ammy menoleh saat bunyi logam membentur pelan laci meja kerja. Aku membiarkannya, hanya melirik dan membaca apa yang terlihat di wajahnya.
Kerutan halus di sudut mata, bibir yang tertutup rapat untuk menelan ludahnya berkali-kali. Jari-jarinya bergerak gelisah di antara kedua paha. Dan napas itu, seolah sengaja mengikuti suara langkahku.
Aku berhenti di depannya. "Buka matamu," perintahku, dingin yang penuh kasih untuknya.
Kami saling menatap, tanpa harus berbicara. Sepasang alisnya nyaris menyatu, tapi menolak untuk melanjutkan. Tidak ada siapapun di rumah ini selain kami, tapi setiap sudutnya membisikan hal yang lebih jahat.
"Angkat tanganmu setinggi dada."
Dia melakukannya. Ragu, tapi tidak bisa mengalahkan tekadnya. Kedua tangan itu terangkat perlahan, jari-jari saling melilit dalam satu genggaman dan ruangan berubah bersamanya.
Tidak ada suara selain napasnya yang putus-putus, tapi keheningan itu justru memenuhi segala celah—menggeser udara segar dari ruang kerjaku, menjadi ruang lembap tempat Lily dan ibuku berakhir.
Bahunya menegak, menahan sakit yang belum sempat ia pahami, sementara lehernya sedikit bergetar saat ia menelan ketakutan yang berlapis-lapis.
Kalung logam kupasangkan di lehernya. Benda itu akan memperparah lukanya, jika ia memilih bergeser sedikit saja. Suara klik memantul, seperti bisikan vonis atas apa yang dilakukan gadis ini bersama Syrys.
Wajah Ammy sedikit menengadah untuk menatapku, meski lututku merendah saat memasangkan benda ini padanya. Telunjukku menelusup di antara jarinya yang saling melilit, membenarkan posisinya sebelum pengait jari tertanam di antaranya.
Siapapun, akan melihatnya seperti kepasrahan. Pada Ammy, ini terlihat seperti doa yang dipaksa keluar dari tubuh yang belum sepenuhnya terbiasa menyembah.
"Kau sudah tahu, benda ini bukan dipergunakan untuk memberikan kenyamanan."
Ammy mengangguk. Menggigit bibir beberapa saat, ketika aku memutar tuasnya, membuat jari-jari itu menekan kuat tonjolan timah di antara mereka.
"Apa terlalu ketat?"
Gigitan itu terlepas, tapi bukan berarti ia langsung menjawab. Matanya mengernyit tipis, udara berubah semakin pekat di sekitarnya. Dia seolah mengerti, apapun jawabannya tujuanku hanya satu.
"Tidak," jawabnya pelan, nyaris seperti bisikan yang ditiupkan oleh rumput yang dipangkas oleh mesin pemotong rumput.
Aku mengangguk pelan, lalu memutar tuasnya dua kali. Jari-jari itu menyatu rapat, menekan seakan ingin menghancurkan tonjolan runcing timah diantaranya.
"Jangan menutup matamu. Jangan bicara apapun, sampai kulepaskan." Tanganku terulur untuk mengusap jari, tongkat logam yang menghubungkan kalung kaku di lehernya, dan luka-luka hasil perbuatan Syrus.
"Kau yang memintaku untuk meluapkan amarahku padamu." Aku mengingatkan dan dia mengangguk, meski dadanya bergerak berat, bersama bahu yang tidak benar-benar tegak seperti dihisap oleh sesuatu di bawah sana.
Aku bangkit, menatap Ammy yang posisinya hanya setinggi pinggangku. Melangkah mundur, tidak kulepaskan mataku darinya begitu pula dengan dia hingga pintu ruang kerjaku tertutup rapat.
Dan nada kotak musik masih bergulir di belakang pintu kayu.
***
Kalau mau liat kalung dan pengait tangan Ammy, silakan liat di IGS aku ya 😘
Mau double up gak? Komen di sini ya.
Kamu bisa follow instagram/tiktok jessicalush.author untuk bocoran bab-bab yang aku tulis.
Aku juga terbuka untuk pertanyaan, diskusi, review/kesan kalian melalui DM selama mengikuti TTQB & UWS.
Terakhir, terima kasih dan dengan cinta, Jess.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top