Epilog
Halo! Bagi kalian yang menikmati cerita ini, bisa kalian baca kelanjutan kisah anak-anak dari Thalia di ceritaku yang judulnya KATARINA.
Dukungan kalian sangat berarti bagi saya! terima kasih udah memberikan kepercayaan kepada saya :)
***
Epilog
Gores kuas Thalia terbuyarkan saat derap lari Caiden menemui genderang telinganya. "Ayah pulang!" bocah itu berseru, suaranya sejernih aliran sungai dekat rumah mereka. Kontras dengan rentetan air hujan yang seolah mendobrak-dobrak tanah di luar.
Caiden menaruh telunjuk di atas bibirnya dan berbisik lirih, "Jangan beritahu dia aku bersembunyi di balik pintu, ya?" Ia melompat girang, lalu berlari menuju koridor.
Thalia berseru, "Perhatikan langkahmu saat menuruni tangga, Caiden!" Sedetik kemudian, Thalia samar-samar mendengar seruan 'ya' yang begitu khas. Bersiapn turun ke bawah, menyambut Alec, Thalia meraih kain yang disodorkan pelayan pribadinya. Membersihkan berkas-berkas cat di tangannya. "Terima ka—"
Ucapan Thalia terpotong saat Petra, putrinya yang berusia tiga tahun, menarik ujung gaun Thalia. Mata birunya menemui milik Thalia dengan ekspresi memelas meski seluruh wajahnya menyiratkan kemandirian yang terlampau dini. Bagaimana tidak, pada usianya yang tiga tahun itu ia sudah berani tidur sendiri, gemar membaca dan berbicara layaknya anak berusia lima tahun. Sedangkan kakaknya, Caiden, yang setahun lebih tua, selalu menghabiskan waktunya bermain.
Dan bertarung, pikir Thalia sambil menghela napas berat. Begitu pula Petra, yang tak jarang membaca buku Seni Dasar Bela Diri. Keduanya memiliki aura kemerahan yang terlalu pekat untuk anak seumuran mereka. Seakan-akan mereka telah dilatih jadi seorang prajurit sejak berada dalam kandungan. Tak sekhawatir Thalia, Alec malah memuji rasa penasaran Caiden atas senjata—membongkar pistol (tanpa sepengetahuan Thalia, dan karena itu, Thalia marah terhadap Alec seharian) walau tak pernah dipasang ulang.
Di sisi lain, Petra setiap hari meninju boneka mahal yang Thalia belikan sebab ketika Petra mengatakan ia menginginkan boneka, Thalia pikir anak itu menginginkan teman main selain perawatnya. Thalia salah. Putrinya yang satu itu malah menjadikannya karung tinju tiap malam.
"Mau kugendong?" Thalia berjongkok dan mengulurkan tangannya pada kedua sisi tubuh Petra.
Rambut hitam pendek Petra bergoyang maju mundur saat kepalanya menggeleng. "Tidak," ujarnya sembari menunjukkan sesuatu pada telapak tangannya. "Ada serangga di gaun ibu."
Berusaha menahan mual yang berada di ambang gerbang, dengan zahlnya, Thalia membuat serangga itu terlontar keluar jendela. Mengibaskan sedikit telunjuknya dan beberapa saat kemudian, sebuah kain terbang turun ke atas telapak tangannya. Thalia mengusap tapak kecil Petra, membersihkan kotoran apapun yang mungkin ada di sana.
"Ibu tak pernah nyaris meremukkan serangga seperti itu." Thalia membuang kain ke samping tubuhnya. Namun, sebelum selapis kain kotor itu menyentuh tanah, ia terbang ke atas meja dekat jendela.
Petra menatap tangan kecilnya yang digenggam Thalia. Thalia mengikuti arah pandangnya dan mendapati aura mereka berdua bercampur padu. Ungu-merah. Saat itulah Petra berucap, "Aku tak mau jadi seperti ibu." Manik biru itu berubah kelabu, terpatri pada mata Thalia. "Aku mau bertarung, mau masuk akademi nanti besar."
Jantung Thalia mendadak berpacu cepat. Perang saudara Reibeart empat tahun lalu berkelebat di ingatannya. Darah dan ledakan dan perpisahan. Senjata tajam dan tubuh yang tak berdaya. Thalia meremas jari-jari kecil anaknya. "Dengar, ibu tidak melarangmu, tapi—"
Pintu di belakang mereka terbuka kasar. Terpantul ke dinding lalu nyaris menutup lagi, tapi kaki Alec menahannya. Dua pelayan; pelayan pribadi dan perawat Petra, membungkuk hormat kepada Alec yang menggendong Caiden di atas pundaknya.
"Itu baru anakku." Tangan Alec mengacak rambut tebal Caiden. Anak itu tersenyum lebar, giginya terpampang. Kedua tangannya terkepal, meninju udara di atasnya. Menguarkan aura kemerahan yang persis seperti milik Alec.
Thalia mendelik pada Caiden. "Caiden Theoxaris Reyes, kau tak akan membuka pintu dengan zahl-mu lagi."
Suara kecewa terselip keluar dari bibir manis Caiden. "Yaaaaaaaaaah. Tapi, ayah bilang aku boleh melakukannya kapan saja." Ia memeluk kepala ayahnya erat-erat.
"Ha. Kapan saja. Ia harus melangkahi mayatku dulu." Thalia memicing kepada Alec. "Lihatlah dirimu. Membasahi dan mengotori koridor dengan pakaianmu itu." Tanpa harus bergerak sedikit pun, Thalia menuruni Caiden dari pundak ayahnya.
"Ibu curang memakai sihir itu setiap hari!" Caiden cemberut dan wajahnya tampak dua kali lebih manis dari biasanya.
Alec mengelus kepalanya. "Lain kali akan ayah ajarkan sihir yang lebih hebat dari itu, ya?"
Ekspresi Caiden berubah drastis, mengangguk semangat. "Benarkah?"
"Benar, Sayang." Alec mengalihkan tatapannya pada Petra. Merunduk sedikit dan merentangkan tangannya. "Kemarilah, Putri Ayah."
Petra berderap maju dengan langkahnya yang kecil. "Aku bukan Putri. Aku Pelindung. Tadi ada serangga di gaun ibu dan aku meremukkannya." Tangan Petra memeragakan caranya membunuh makhluk tak bersalah itu. "Seperti ini, Yah."
"Begitukah?" Alec mengecup pipi Petra.
"Aku pernah mematahkan gunting tukang kebun dengan tanganku sendiri." Caiden menepuk dadanya, berusaha terlihat hebat di hadapan ayahnya.
Tak mau kalah, Petra menambahkan, "Tapi kau kencing di celana saat masuk ke rumah hantu musim panas yang lalu—"
"Nah, bagaimana kalau kalian masuk ke dalam kamar kalian dan mendebatkannya di sana?" Alec mendorong kedua anak itu lembut.
Seruan tak setuju keluar serempak dari mulut keduanya. "YAAAAAAAAAAAAAH."
Alec menyiratkan kedua pelayannya untuk keluar dan membawa dua anak itu ke kamarnya masing-masing.
Terdengar keluhan dan rengekan sebelum akhirnya pintu menutup, meninggalkan mereka berdua di dalam kamar tersebut. Sekejap, mata Alec yang dipenuhi canda tawa, berkabut oleh gairah dan rindu. Seolah-olah api di dalam matanya melelehkan warna perak matanya. Melelehkan tegak tungkai Thalia. Hasrat yang mendalam, tak pernah lekang meski nyaris sebulan mereka tak bertemu.
Langkah panjang Alec menghapus jarak di antara mereka. Bibir Alec membelai daun telingannya. Napasnya yang memburu menggelitik saraf Thalia, membangkitkan gelora di sepanjang tulang belakangnya. Ketika Thalia menyadari hawa panas yang menyapa lubang telinganya, Thalia nyaris berharap lidah Alec akan menggoda titik sensitifnya. Namun, ia salah.
Pria itu berbisik lirih. Seolah-olah ucapannya adalah kenyataan yang hanya perlu diketahui mereka berdua. "Aku merindukanmu." Lalu, mengecup kulit di balik telinga Thalia.
Kedua tangan Thalia meraih leher Alec. Melingkarinya dalam kebutuhan yang mendalam. Menyisiri rambut gelapnya yang kusut oleh air hujan. Tapi, seperti yang sebelum-sebelumnya, sensasi yang Thalia rasakan saat mengaggumi rambut Alec, selalu membawanya satu tingkat lebih tinggi dari sebelumnya. Membawanya membubung lebih jauh.
Gigi Alec menggigit kecil sisi leher Thalia dan mengulum kulit yang ada di sana. "Aku memikirkanmu sepanjang malam. Membayangkanmu di tiap kedipan mataku."
Thalia menarik diri sedikit dari Alec. Sebelah alisnya terangkat menggoda. "Apa yang kau bayangkan?"
Tawa sumbang sarat akan gairah keluar dari tenggorokan Alec. "Aku tahu kau menggodaku." Ibu jari Alec menggesek muka bibir Thalia, kiri lalu kanan, atas bawah, tutup buka. Matanya meneliti lekuk bibir Thalia saksama, memperkirakan kecupan seperti apa yang layak diterima Thalia. Alec merunduk, wajahnya membayangi Thalia. "Aku tidak keberatan memberitahukannya padamu, Thalia. Dengan praktek."
Namun, sebelum bibir Alec mampu memberitahunya, Thalia menghentikannya. Tangan Thalia menghalangi upayanya mencium dirinya. "Bagaimana kalau kita—" Thalia menahan napasnya. Ini sungguh memalukan—"Mandi bersama?"
"Ah. Aku akan menyiapkan airnya, kalau begitu." Lalu, secepat kilat, Alec masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi air yang mengucur. Mulai memenuhi bak mandi.
Terhuyung, Thalia berjalan menuju meja riasnya. Cermin di hadapannya menampakkan bayangannya. Rambut hitam panjang yang terurai menjuntai hingga pinggang. Pipi yang merona. Bibir merah yang merekah minta dikecup. Naik-turun dada yang tidak teratur. Dan di atas segalanya, mata emas yang seolah mengalir dan bersirkulasi.
Thalia tidak menyangka setelah empat tahun menikah dan memulai kehidupan baru di Waisenburg, ia akan memiliki gairah sebesar ini terhadap Alec. Thalia pikir, setelah menghabiskan waktu bersama, kepergian Alec yang nyaris sebulan tak akan mengganggunya. Pada awalnya, memang tak mengusiknya sedikit pun. Tapi, tadi—adalah hal yang tidak diantisipasinya. Gairahnya membludak kian tak terbendung. Sebulan ternyata membawa dampak besar bagi Thalia.
Setibanya di Waisenburg, Sang Raja segera menawarkan pada Alec posisi khusus sebagai intel kerajaan sekaligus komandan pasukan rahasia kerajaan. Dengan pekerjaan itu, mereka berhasil membangun rumah di desa yang tenang dan damai. Hidup dengan berlimpah uang, salah satunya merupakan tanda terima kasih diam-diam dari Organisasi Dunia kepada Thalia yang telah menghentikan usaha Dewan untuk sementara. Memperoleh nama keluarga yang baru—Reyes. Hidup tanpa diketahui orang-orang dari masa lalu.
Sedangkan Kassia, gadis itu memutuskan untuk memisahkan diri dari mereka. Merintis pendidikan di Institut Medis Whiteford. Thalia telah mencoba segala usaha agar gadis kecil itu mau menerima uang sokongan tiap bulan dari Thalia. Namun, gadis lembut itu bersikeras untuk mengusahakan hidupnya sendiri dan berjanji akan mengunjungi mereka suatu saat.
"Thalia?" suara Alec bergema dalam kamar mandi. Mengirimkan getar kejut ke sekujur tubuhnya.
Menelan ludah susah payah, Thalia menyaut gelagapan. "Y-ya?"
"Masuklah, Sayang. Aku membutuhkanmu di sini." Terdengar bunyi kecipak air. Thalia bisa membayangkan tubuh kokoh itu bersandar di bak. Mata kelabunya pasti menerawang pintu kamar mandi, bertanya-tanya kapan Thalia akan masuk. Benaknya memikirkan segala hal nakal yang ia inginkan.
Thalia melepas ornamen rambut yang menahan sebagian kecil rambutnya di belakang. "Tunggu.. aku—"
"Aku akan menjemputmu." Bunyi kucuran air bersaing kalah dengan suara kecipak air yang mengindikasikan keberangkatan Alec dari bak.
"T-tunggu!"
Terdengar langkah Alec yang menuju pintu. Kulit tangannya membungkus dingin kenop. "Kau menghabiskan waktu terlalu banyak di sana—"
Bunyi kibasan yang secepat angin memasuki pendengaran Thalia seiring dengan perasaan lega yang menyeruak dalam hatinya. Alec berseru-seru jengkel, "Caiden benar. Kau curang menggunakan kekuatanmu itu setiap saat." Tangan Alec mengentak-entak air dalam bak.
Thalia mulai berjalan menuju kamar mandi dengan tungkai lemah. "Aku hanya tidak mau kau membasahi karpet lagi."
"Kau berbohong, Thalia," ucap Alec tepat saat langkah Thalia berhenti di hadapan pintu kamar mandi. "Aku bisa memastikan wajahmu semerah apel."
Menghirup napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan, Thalia berupaya tampil tenang di hadapan Alec. Ia akan mematahkan ucapan Alec hanya karena ia tak ingin pria itu menggodanya lebih lanjut lagi. Setelah yakin wajahnya sedatar nenek tanpa libido, Thalia menggeser buka pintu tersebut.
"Hai, pakaian," sapa Alec hambar.
Thalia menutup pintu di belakangnya dan melangkah masuk. Menginjak ubin biru mengkilat yang memantulkan bayangan dirinya. "Apa? Kau mengharapkan aku masuk telanjang?"
"Ya. Kau memakan waktu banyak di luar sana sedangkan aku di sini berselingkuh dengan angan-anganku." Alec menggoyangkan jarinya. "Ayo, sini."
Thalia menjijit sedikit dan berpura-pura mengamati bak. Tentu saja menghindari bagian di mana tubuh Alec tersingkap bebas. "Airnya bahkan belum penuh."
"Alasan. Memangnya kau pikir ini malam pertamamu? Aku pernah melihat tubuhmu bulat utuh. Kau tak perlu merasa gugup."
"K-kalau begitu kurasa kita tak perlu melakukan ini lagi, bukan?" Thalia menelan ludahnya dan berjalan mundur hendak pergi dari situasi ini.
Alec membalikan tubuh seutuhnya sehingga kini mata penuh gairah itu memandangnya lekat-lekat. "Aku ingin melihatmu lagi. Di bawah sana sakit sekali sampai-sampai rasanya aku akan mati bila tidak menyentuhmu."
"Alec." Thalia menahan hasratnya sendiri. Berduaan di kamar mandi, diserbu kata-kata menggoda seperti itu—pertahanan Thalia runtuh.
"Kumohon. Aku membutuhkanmu. Aku mohon." Kepala Alec menekuk ke samping sedemikian rupa. Wajahnya yang mendadak berubah manis dengan ucapannya memenangkan hati Thalia sepenuhnya.
Thalia memejamkan matanya putus asa dan maju beberapa langkah. Dua inci dari Alec. Salah satu tangan Thalia meraih risleting gaun di belakang. Lalu membukanya lambat-lambat. Sebuah hukuman tersendiri bagi Alec yang telah memperbudak Thalia dengan kata-katanya itu. Gaunnya kini tergantung longgar di sikunya. Belahan dadanya tersingkap dan Thalia tak berani membuka matanya. Walau rasa penasaran mendobrak-dobrak benaknya: Ekspresi seperti apakah yang ditunjukkan Alec?
Thalia membiarkan gaun merah itu jatuh ke atas lantai. Suara gemerisik lembut itu mendorong Thalia membuka kelopak matanya. Perlahan tersingkap wajah tampan suaminya itu memandanginya penuh pemujaan. Bibirnya bergerak-gerak tak karuan, berbisik pada dirinya sendiri. Thalia memeluk dirinya sendiri. Udara dingin menerpa kulitnya. Thalia jadi bertanya-tanya sehangat apa air di dalam bak itu.
Tangan Thalia kembali meraih kait bra di balik punggungnya dan membebaskan kedua payudaranya. Menyembunyikannya dengan tangan, Thalia merunduk mulai melucuti celana dalamnya. Kewanitaannya mulai tersingkap beserta kulit putih pahanya yang selalu Alec kagumi.
"Aku—tubuhmu semakin indah dari hari ke hari."
"Terima kasih?" Thalia berjalan maju malu-malu. Thalia yakin rona semerah api membakar kulitnya. Jantungnya berpacu begitu cepat dan nyaris meledak saat ia mengangkat kaki mulai memasuki bak. Air hangat menyambut kakinya, memompa gelenyar nikmat ke seluruh tubuhnya. Dan mau tidak mau, Thalia terpaksa mengerang bahkan sebelum ia disentuh Alec.
Thalia menempatkan dirinya di pangkuan Alec. Punggungnya menyentuh dada bidang Alec. Tangan kasar Alec menyingkap salah satu sisi leher dari helai-helaian rambutnya. Memandangi jemari yang seolah tak pernah lepas dari senjata itu dengan lembut menyingkirkan helaian rambutnya entah mengapa mengirimkan kenyamanan sendiri dalam hati Thalia.
Bibir Alec mengecup tengkuknya, lalu beralih menyembah leher Thalia. Gejolak menyenangkan mulai berpusar di perutnya. Dan ia perlu berusaha keras untuk tidak mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur, menggesek kejantanan Alec yang mengeras. Tapi, tetap saja, Thalia tak mampu menahan gesekan tersebut. Dan api yang muncul akibat gesekan tersebut.
Alec memegang pundak Thalia kencang. Lembab bibirnya masih menyapu lehernya, lekuk bahunya, telinganya. Meninggalkan jejak-jejak basah maupun ciuman. Tapi, kemudian bibirnya menyebut nama Thalia bagai anugerah terbaik dalam hidupnya. "Thalia. Thalia."
Kedua tangan Thalia ke belakang meraih kepala Alec. Perlahan Thalia menempelkan bibirnya pada Alec. Membiarkan pria itu menikmati kenyamanan lekuk bibir Thalia sebelum melumatnya utuh-utuh. Menciumnya. Mencicipinya. Menggigitnya. Sehingga Thalia mendesah membuka mulutnya. Dan pada saat itulah, lidah Alec menyusup. Menginvasi rongga mulut Thalia.
Ciuman yang diberikan Alec menghasilkan suara entah erangan dan geraman, juga tak jarang suara kecupan menggairahkan. Menggelitik genderang telinga Thalia, lalu memenuhi sekejap tubuhnya oleh gairah yang membludak dari tempatnya. Thalia tak sadar selama ini ia membendung gairahnya sendiri. Menyimpan kenangan malam hari mereka sendiri—tak menduga benaknya merindukan itu teramat sekali.
Alec tak melepas pagutan mulut mereka bahkan ketika tangan kokohnya itu mulai menyisiri tubuh Thalia. Memuja sisi payudaranya. Menangkup keduanya, meremasnya sedemikian rupa yang segera disusul oleh erangan Thalia. Kepala Thalia mendongak ke belakang, bersandar pada lembah leher Alec. Matanya berkunang-kunang oleh gairah, tak jelas memandangi apa di langit-langit.
Alec berbisik di telinga Thalia, "Aku bahkan belum menyentuh ini, Sayang." Sebelah tangan Alec mengusap paha dalam Thalia. "Kau mau aku menggigitmu di sini, Thalia?"
Thalia mengangguk lemah. Bibirnya membuka merekah lupa caranya berbicara. Benaknya terlempar pada angan-angan yang tercipta tetiba. Di mana Alec bersimpuh tepat di antara kepalanya. Rambut hitamnya itu membelai-belai kulit paha Thalia sementara bibirnya mengecup dan menikmati dirinya di bawah sana.
Thalia akan mengerang nyaris menangis dibawa membubung tinggi oleh tindakan Alec. Menjilat intinya. Menggeseknya. Memasukkan lidah dalam palung panasnya. Keluar, masuk. Keluar, masuk. Gerakan pasangan bercinta. Kedua paha Thalia akan mengapit kepala Alec tanpa sadar. Sebagai tanda kepuasan dan keinginan. Dan kemudian tubuhnya akan gemetar dalam kejang kenikmatan. Kebas, lumpuh oleh gairah.
Tapi, Alec memang seorang penipu. Hanya dengan satu godaan itu dan Thalia telah membawa pikirannya terlalu jauh. Thalia tak tahu harus merasa apa saat Alec menggesekkan ibu jarinya di puncak payudara Thalia sembari membelai kulit pahanya. "Sayang? Kau masih di sana?"
"A-aku di sin—ah!" Thalia terlonjak. Puncak payudaranya seketika mengeras di detik ketika ibu jari Alec menggesek inti Thalia dengan kecepatan mengaggumkan. Membawa Thalia menuju bibir jurang dan nyaris jatuh—dan rasanya akan lebih baik apabila ia jatuh saja. Thalia tak kuasa menahan dorongan untuk menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Menggesek kejantanan Alec yang seolah tak sabar memasuki Thalia.
Punggung Thalia menggesek dada bidang Alec. Menimbulkan getaran menyenangkan yang memaksa bibir Thalia membuka tanpa suara. Seakan-akan erangannya telah kandas oleh gairah. Nyaris kandas. Sebab, saat erangan entah desahan yang keluar dari tenggorokan Thalia, pendengarannya disapa oleh suara serak menggairahkan. Thalia sampai tak yakin itu adalah suaranya.
Tapi, Alec menggeram dalam mendengarnya. Memaju-mundurkan kejantanannya di gerbang Thalia. Menggeseknya. Menggoda palung dalam itu. Menggoda Thalia. Menggoda dirinya sendiri. Alec memasukkan dua jarinya ke dalam palung Thalia. Merabanya perlahan sebelum bermain lihai di dalam sana.
Thalia perlu menahan tubuhnya sendiri dengan dua cengkeraman yang nyaris merobohkan bak. Alec tak berhenti mengecup leher Thalia dan membisikkan namanya di telinga Thalia seolah-olah tak ada lagi kata yang lebih berarti dari itu. Lebih berharga dari dirinya. "Thalia."
"Alec. Alec. Alec!" Thalia tak mau membuka matanya—takut menerima fakta bahwa ini hanya angan-angannya semata.
Namun, Alec berpinta, "Buka matamu."
"Ap—"
Secepat kilat, Alec membalikkan tubuh Thalia. Alec membuat Thalia menumpukan lutut di dasar bak. Mengapit pinggang Alec. Sedangkan payudaranya disapa udara dingin sekaligus sepasang tatapan panas dari Alec. Thalia perlahan membuka kelopak matanya. Pancaran cahaya lampu lurus memasuki pandangannya. Bagai tirai pertunjukkan yang lambat-lambat dibuka, Thalia mendapati wajah Alec yang merah. Bibirnya yang merekah. Matanya yang kabur oleh gairah, bersilih ganti antara biru dan kelabu. Uap napasnya keluar satu-satu. Berembus tepat di depan payudara Thalia.
Alec begitu indah dan mendapati bahwa ini semua merupakan kenyataan mendorong sebuah senyum tersungging di wajah Thalia.
Alec tertawa. "Mengapa kau tersenyum? Wajahmu mengerikan."
"Benarkah?" Senyum Thalia segera pudar. Kedua tangannya erat mencengkeram bahu Alec.
"Tidak. Senyummu sempurna." Tangan Alec yang memegang pinggul Thalia, membawa Thalia turun. Bibir mereka bersatu dan berpagut dalam permainan lidah yang menggairahkan sebelum Thalia menyadari kejantanan Alec yang melesat masuk ke dalam palungnya. Thalia mengerang di antara ciuman mereka. Meski kucuran air mengingatkan Thalia pada saat pertamanya yang menegangkan, Thalia tak merasa sesakit kala di pondok itu.
Kini ia merasa benar-benar penuh. Alec berada di dalamnya begitu penuh. Dan Thalia melingkupinya utuh. Kekosongan yang ia rasakan sebulan terakhir mulai terisi oleh serpih partikel warna-warni entah. Thalia menyelaraskan goyang pinggulnya dengan tarian Alec yang liar dan di saat bersamaan, mendamba. Kedua tangan Alec menuntun pinggulnya sedemikian erotis. Sedangkan Thalia tak berani menjamin pundak Alec bebas bekas setelah ia mencengkeramnya sekuat itu.
Alec melepas diri dari pagutan bibir mereka dan menggigit kecil kulit lembut payudaranya. Sebelum menjilat puncaknya. Mengulumya dengan masih mempertahankan entakan-entakan liar nan erotis di bawah sana. Thalia menyaksikan itu dengan jantung yang berpacu tak menentu, bulu kuduk yang berdiri. Gelora yang menjalar dari tulang punggungnya. Gairah yang tak terbendung. Pusaran menyenangkan yang membawanya begitu tinggi. Lebih tinggi dari sebelumnya. Lebih nikmat. Puncak. Ia akan menuju puncak—dari sela-sela isapannya itu, Alec melirik Thalia dari sudut matanya. "Thalia," erangnya sebelum menghujam Thalia terakhir kalinya. Dalam.
***
Thalia terbangun oleh elus lembut jemari Alec di keningnya. "Selamat pagi, Sayang."
Lelah, Thalia acuh tak acuh mencuri pandang pada jendela besar di dinding kamarnya. Lalu, memastikan waktu dengan jam yang tergantung di dekat rak buku megah. "Pagi? Ini jam sebelas malam."
Alec mengecup pipi Thalia. "Aku tak mungkin menyapamu selamat malam ketika kau bangun."
Thalia menghadap kepada Alec. Tubuh kokoh itu menguarkan hawa hangat yang membuat Thalia merasa terlindung. Thalia beringsut kian dekat dan menyandarkan kepala di dada bidang itu. Mendengar detak konstan jantung Alec yang menggelitik gendang telinganya. Menyadari irama ketukannya persis sama dengan milik Thalia.
Tangan Thalia meraih tangan Alec dan membawanya tepat di atas jantungnya. "Coba kau rasakan. Milikku berdetak selaras dengan milikmu." Thalia tersenyum.
Dengan satu sentakkan, Alec membawa Thalia ke bawah dirinya. Berada dalam lingkup bayang-bayangnya. Sesaat Thalia kira pria itu akan menciumnya. Namun, nyatanya, pria itu mendekatkan telinganya di rongga kiri dada Thalia. Rambut gelapnya yang selembut bulu burung menimbulkan gejolak geli di tiap sudut tubuh Thalia. Memacu jantungnya memompa darah lebih cepat—oh. Pria itu tak akan lagi mendengar detak jantung yang sama.
"Milikmu berdetak cepat." Salah satu sudut bibirnya tersungging. Senyum miring milik Alec. "Kenapa?"
Thalia merengkuh leher Alec dan membawa pria itu turun ke bawah. Ketika sudah cukup rendah, bibir Thalia berbisik: "Karena kau membuatku gila."
Bibir Alec membelah terbuka, terkejut oleh pernyataan tiba-tiba itu. Tampaknya tak menduga jawaban persuasif itu keluar dari Thalia. Tapi, secepat ia terkejut, ia kembali memperoleh kesadarannya. Pria itu menggesek hidung Thalia dengan ujung hidungnya, gemas. Senyuman merekah lebar saat pria itu berucap, "Kau juga membuatku gila sampai-sampai kupertimbangkan rencanaku menyarankan pada William untuk mendirikan asuransi bagi suami-istri."
"Aku tidak melihat hubungan di antara keduanya," tuduh Thalia. Dahinya mengerut dan bibirnya mengerucut.
Alec memeluk Thalia erat. Thalia mampu merasakan panas wajah Alec di lembah lehernya. Embusan napasnya yang menggelitik serta jantung yang berdetak tak karuan di atas kulit Thalia. "Aku juga tidak. Itu karena aku senang," ujarnya malu. "Aku perlu menutupi kemaluanku itu dengan—yah seperti tadi."
"Tidak. Kau seharusnya menutupi kemaluanmu dengan celana."
Punggung Alec bergetar oleh tawa yang tertahan. "Terima kasih atas sarannya."
"Sama-sama." Thalia mengelus punggung Alec yang berotot. Meraba bekas-bekas luka cambukannya di bawah sentuhan jarinya. Luka yang teruntuknya.
Alec memberi jarak di antara mereka dan memicingkan mata. Meneliti wajah Thalia saksama. "Apakah ada yang mengganggumu?"
"Mengapa kau bertanya?"
"Wajahmu tampak terganggu saat aku datang." Mata Alec terpaku pada Thalia. Meminta jawaban. Menuntut segala kesedihan yang dirasakannya. Dan di saat seperti ini, Thalia tahu ia tak bisa mengelak dari keinginannya untuk merangkul Alec dalam pelukannya. Pria ini manis dalam caranya tersendiri. Dengan perhatian-perhatian kecilnya.
Thalia menghela napasnya. Lagipula, tak ada gunanya berbohong. "Mengenai Petra. Ia ingin menjadi seorang tentara—ia ingin bertarung. Aku tidak tahu bagaimana caranya seorang anak berumur tiga tahun menyukai perang, bukannya bermain. Dan ketika mendengar kata 'prajurit' keluar dari mulut mungilnya, segala bayangan mengerikan itu menyerbuku, Alec. Kau tahu, darah. Darah ayah, paman, ibu, Rhea, Juna, dan tentara lainnya. Aku tak ingin ia memandangi darah seperti aku melihatnya. Aku tak ingin ia menderita dan sakit mengemban tugas sebagai seorang tentara."
Alec mengusap dagunya. "Petra. Gadis itu mirip Gideon dari segala hal, sungguh. Ketertarikannya akan pertarungan. Keinginannya untuk menjadi prajurit dari usia dini. Kau tahu, saat Gideon berumur tiga tahun, ia mengejutkan kedua orangtuaku dengan menyatakan keinginannya untuk bertempur. Ayah dan ibu awalnya menganggap pernyataannya itu candaan semata. Tapi, mereka kian khawatir saat Gideon menghabiskan tiap harinya di perpustakaan mencoba membaca buku bela diri. Dan ketika ia sudah cukup besar menyandang pedang kayu, aku beberapa kali dikalahkannya, sungguh."
"Ya—dia itu pria dan aku tidak terlalu peduli. Tapi Petra seorang perempuan—dan ia anakku. Aku tak mau hal yang aku, kau, atau Caiden alami—"
Alec menaruh sebuah telunjuk di atas bibir Thalia. Menghentikan ucapannya dengan satu gestur sederhana. "Petra artinya batu karang. Kau dan aku memilih nama itu karena tendangannya dalam rahimmu. Karena suara tangisnya yang keras dan tegas. Karena tatapan matanya yang menginginkan kemenangan. Karena harapan tinggi bahwa suatu saat nanti ia akan sekeras namanya. Tak akan mudah takluk oleh ketakutannya sendiri. Kau mungkin membutuhkan aku untuk menenangkanmu. Namun, ia akan menenangkan dirinya sendiri, selalu seperti itu. Dan aku bangga memilikinya meski dengan seluruh keinginannya yang juga membuatku ngeri. Tapi, entah mengapa aku yakin dengan kekeraskepalaannya itu, ia akan bersikeras untuk terus hidup. Sesulit apapun keadaannya."
Mendadak, kilas bayangan berkelebat di benak Thalia. Seorang wanita jangkung nan tangguh. Pedang panjang di tangannya menyiratkan kebuasan sekaligus pertahanan diri. Darah yang terciprat pada wajahnya menambah keanggunan mata biru tajamnya. Rambut hitamnya berkibar bebas bagai menertawakan pertarungan di balik punggungnya.
"Ya, Alec." Thalia mencengkeram lengan Alec. "Aku melihatnya, Petra. Ia secantik—aku tak tahu harus menyebutnya apa. Bunga es? Caranya memegang pedang mengingatkanku padamu."
"Tentu saja. Bila ia memegang pedang bagai kuas, ia tak akan bisa bertahan." Alec tertawa lepas.
Thalia hanya tersenyum menanggapi candaan Alec. "Kau tahu, aku hanya takut—Kalia. Aku takut ia masih berusaha menghancurkan aku. Ia pernah nyaris berhasil melakukannya terhadap Caiden. Namun, entah bagaimana anak itu berhasil hidup kembali. Aku takut ia menghancurkan hidup Petra. Menjadikan darah sebagai mimpi buruknya. Pembunuhan sebagai siksaannya. Aku tidak keberatan bila sewaktu-waktu Kalia menyakiti aku. Aku hanya—tidak mau kalian yang berharga bagiku direnggut oleh dirinya lagi."
Ibu jari Alec mengusap setitik tangis yang muncul di pelupuk mata Thalia. "Maafkan aku, Thalia. Aku mem—"
"Aku lebih suka memercayai bahwa Kalialah yang membuatmu membunuh ayah. Dan itu memang kenyataannya." Thalia meraih tangan Alec dan membawa telapak kasarnya mengelus pipi Thalia.
"Aku lebih suka memercayai bahwa kau telah mengirim jalang itu ke dimensi lain." Alec mengecup kening Thalia, dalam. "Dengar, Thalia, aku bersumpah tak akan merampas apapun darimu lagi. Sebagai gantinya, aku akan melimpahkanmu dengan segala hal."
"Alec—" Thalia memicingkan matanya pada titik di balik pundak Alec. Sebuah benda besar yang tertutup oleh kain putih bersih. Sesuatu jauh dari masa lalunya menggelitik pikirannya. Namun, Thalia tak yakin pasti itu apa. "Apa itu?"
Alec mengikuti titik pandang Thalia dan berujar, "Oh. Kau tahu, pekerjaanku di Reibeart sedikitnya terlibat dalam meneliti Kastil Seymour yang telah terabaikan. Aku memutuskan untuk mengunjungi studiomu—dan menentukan mahakarya ini. Aku menyelundupkannya keluar Reibeart dan menyuruh Fremann membawanya ke kamar."
"Mahakarya?" Thalia meledak dalam tawa. "Lukisan yang mana? Aku tak yakin pernah melahirkan mahakarya sebelumnya. Lukisan bukit kah? Atau bunga matahari?"
"Bukan. Sebuah lukisan yang tak selesai." Alec beranjak dari kasur dan mengulurkan tangan pada Thalia. "Mau melihat?"
Thalia sedikit lega mendapati pria itu berdiri dengan celananya. Melingkupi tubuhnya dengan selimut, Thalia mengekori tindakan Alec. Menerima uluran tangannya, Thalia diarahkan untuk berjalan tepat di depan dada bidangnya. Biasanya, Thalia akan memuja betapa keras dadanya. Namun, saat ini pikirannya mencurahkan perhatian lebih besar pada kanvas di hadapannya. Entah lukisan apa yang tersembunyi di balik kain putih ini, Thalia tak bisa mengingatnya.
Lukisan apa? Lukisan menara? Balkon? Kegiatan pasar? Ke—
Alec menyingkap kain putih itu. Mata Thalia membelalak lebar. Napasnya tercekat seolah tertahan pada satu dimensi lain dan tak akan kembali lagi. Benaknya berputar, berbagai kilas balik ingatan berkelebat begitu cepat. Tungkainya melemah, namun keteguhan hatinya lah yang membuatnya tetap berdiri.
Di hadapannya, lukisan malaikat itu membentangkan sayapnya pada Thalia. Tiga lapis sayap yang masih sama seperti di ingatannya. Kepala tanpa wajah yang menoleh ke kiri, mengintip Thalia dari bahu. Dan tiba-tiba, sekilas gambaran melesat di benak Thalia. Hanya mata biru-kelabu, rambut gelap, dan warna menakjubkan yang akan menyempurnakan lukisan tersebut. Hanya Alec yang mampu melengkapinya—
Caiden dan Petra adalah malaikat kecilnya. Namun, Alec adalah malaikat yang muncul mengawali perjalanannya.
Jemari Thalia menyusuri permukaan kasar kanvas itu. Menyisiri garis rahang malaikat itu sembari mencoba membayangkan garis rahang Alec sendiri. Persis. Benar. Persis. Thalia tersenyum lebar mengetahui kesamaan tersebut. Dewa-dewi telah mempertemukan mereka terlebih dahulu—bahkan sebelum Thalia menyadari itu adalah Alec.
"Apa?" Alec memeluk pinggang Thalia dari belakang. Dagunya menekan ubun-ubun Thalia. Dua jari Alec menekan ujung bibirnya. "Kau tersenyum."
Thalia meraih kedua lengan Alec dan membawanya melingkari tubuhnya. "Ya karena—ini adalah lukisan yang mengawali pertemuan kita. Itu kau."
"Malaikat?" sebelah alis Alec terangkat. "Kau yakin tak ingin mengubahnya, menambahkan tanduk setan mungkin di atas kepalanya?"
Thalia menggeleng. "Tidak. Kau merendahkan dirimu sendiri, Alec."
"Aku bajingan, Thalia, dan jangan lupakan brengsek. Aku bajingan dan brengsek. Malaikat tak sesuai untukku."
"Sejauh yang kutahu selama ini kau memang bajingan. Namun, saat kau melindungiku, kau selalu tampak bagai malaikat bagiku," ujar Thalia.
"Thalia—"
"Alec Zachary of Reyes, aku mencintaimu." Thalia mencium pipi Alec. "Dan kalau kau mencintaiku, sebaiknya kau tutup mulut dan bantu aku menyelesaikan lukisan ini, mengerti?"
Alec memeluk Thalia lebih erat. Wajahnya berubah panas menyentuh tengkuk Thalia. "Seandainya kau lebih sering mengatakannya—"
"Apa?"
"Bukan apa-apa." Alec mengeratkan pelukannya. "Aku mencintaimu. Selamanya seperti itu."[]
Aku ga bisa bilang betapa senangnya aku bisa menyelesaikan cerita ini. Mengetikkan tanda pengakhir yang terakhir bagi cerita ini. Aku sebenarnya berharap buat meneruskan cerita mereka berdua karena aku sendiri masih pengen liat mereka dan anak-anaknya. Tapi, apaboleh buat. Sudah sampai sini dan aku udah bangga bisa menyelesaikan cerita ini.
Dan mengenai moral cerita—aku juga ngga terlalu tahu apa yang perlu aku sampaikan dari cerita ini. Mungkin saja keberanian untuk berdiri teguh mempertahankan mimpi kita sendiri. Atau beberapa pesan lainnya yang kalian semua tangkap menurut sudut pandang sendiri-sendiri. Tapi, bagi aku, cerita ini mengajarkan aku untuk ngga takut nulis apapun yang aku mau. Jangan takut menumpahkan imajinasi kamu, seaneh apapun itu. Semenyebalkan apapun itu. Jangan takut ngga ada yang nerima karya kamu karena di dunia oren ini, mustahil ada cerita yang tak akan mungkin terbaca.
Pengalaman aku sendiri saat nulis cerita ini sebenarnya juga ngga terlalu berharap punya pembaca banyak, voter banyak, dan komentar banyak. Aku nulis cerita ini berdasarkan imajinasi aku sendiri dan demi kesenangan aku sendiri. Aku juga nulis di dunia oren ini bukan buat nyari popularitas tapi lebih buat nyari kesenangan dan teman-teman di sini.
Dan aku emang dapet banyak temen di sini. @_NanuBeauty @endahend @alitmas @vabian @SeasonInTheSun @Kireyaurora @iweiwe @Radha_mhrn @Citra407 @Zorrabcde @ainohana @irmarhmn @NamiCho @itsallidea @blueslady @octaviadwins dan segenap pembaca lainnya yang udah setia nemanin aku nulis dan tiap kali selalu dibaca :---) maaf karena ngga mencantumkan namanya karena.. aku ngga kuat... #hehehe
Lalu, untuk menjawab pertanyaan kalian: Ya. Cerita ini bakal ada sekuel kok. Judulnya Rapture, menyorot Anastasia-Tristan. Yah, mereka sama-sama pirang. Sama-Sama benci. Sama-sama petarung. Sama-sama mau menang. Sama-sama keras kepala. Sama-sama terjebak cinta segitiga. Sama sama setia ama cintanya yang dulu. Sama sama berinisial nama keluarga S. Maaf buat semua orang yang ngga memiliki kesan baik buat Anastasia. Aku sengaja bikin dia gitu buat nyari sensasi dikit HEHEHE. Tapi, semoga aja dengan ceritanya nanti, kalian bisa berubah pikiran tentang Anastasia. Mohon ditunggu ya :---) karena 10 part pertama lagi dalam proses.
Ohya, dan coman info dikit aja sih. Bagi yang penasaran sama keluarga Reyes, mereka bakal punya lima anak. Satu cowo dan empat cewe!
Ohiya, dan (nyaris) akhir kata, maafkan aku buat penggunaan nama wanita yang mirip-mirip. Thalia-Kania-Kalia-Kassia. Maaf banget ya, tapi aku emang suka banget sama nama yang iramanya begitu. Apalagi aku paling suka huruf K sama G:---). Mungkin karena namaku sendiri Felia, makanya ngasih nama tokoh mirip-mirip sama nama aku semua huahahhaa.
Akhir kata, terima kasih udah nemanin aku selama ini! Aku sempat berhenti nulis Ugly Royale di bab 8-1 dan mulai menulis kembali ketika—gatau ya, kayak ada yang nyuruh aku nulis aja. Dan aku ga nyesel lanjut nulis setelah setahun nyaris berhenti nulis Ugly Royale. Karena aku seneng bisa menyelesaikan cerita ini.
Terimakasih!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top