Bab 9-2
Mungkin bab ini agak.. sedikit.. explicit. hanya sedikit kok, ga banyak huehe. ini cuman fantasi aku aja dan karena tulisan itu udah jadi media saya sebagai pencurahan ekspresi.. yah... ya begitu deh. silakan dibaca ;)
Bab 9-2
Nyaris seminggu sejak pertemuan terakhirnya dengan Alec of Reyes. Thalia mengamati bayangannya di cermin sementara para pelayan memermaknya. Ia biasanya akan girang menyaksikan pantulan cantiknya. Namun, tidak untuk kali ini. Pikirannya dikabuti oleh Alec. Ia memikirkan pria itu semalam, dan malam sebelumnya, dan dua malam sebelumnya. Setiap malam. Berdoa kepada Sang Rembulan agar mempertemukannya dengan Alec.
Thalia merindukan pria itu. Ciumannya, lengannya, tawanya. Entah sebesar apa pengaruh Alec bagi Thalia sebab semua orang tahu. Ayahnya, Tristan, para pelayan, tukang kebun, dan penjaga istal. Semuanya tahu, Thalia kerap kali termenung dan menatap jauh. Saking jauhnya sehingga orang-orang tidak mampu menemukan titik fokusnya.;/
Sesungguhnya itu sederhana saja. Titik fokusnya terpatri pada bayangan Alec.
Desahan lelah keluar dari antara mulutnya ketika para pelayan telah menata rambutnya sebagaimana rupa. Mengepang rambutnya dengan rumit, lalu bertemu di belakang dan—Alec. Bagaimana bisa ia memusatkan perhatian pada keindahan rambutnya jika tiap kali mengedipkan mata, ia merasakan napas pria itu?
Apakah itu aturan bagi orang yang telah mengaku saling suka? Berpisah selama seminggu tanpa kabar. Membuat salah satu pihak dilanda rindu. Memenuhi benak dengan gambaran kasih tak berkarat, namun tidak memperbolehkan jarak merapat.
“Thalia,” ujar Tristan dari belakang, mengenakan topeng putih. Suara konstannya mengingatkan Thalia akan Alec. Entah mengapa, sudah seminggu ini Thaliaacap kali membandingkan pria demi pria dengan Alec. Mata pria itu tidak sekelam Alec. Suara Tristan serak, suara Alec sejernih tabuhan gendang. Mr. Hayson terlalu jangkung dan ceking. Alec sempurna walaupun dengan luka di sudut dahinya, diasingkan di antara rambutnya.
Thalia menghela napas berat. “Ya, Tristan.”
Matanya menangkap sekelebat rasa terpukul di wajah Tristan. “Pesta topeng dimulai sejak pukul delapan malam.” Tristan memberitahu. “Sekarang sudah pukul setengah sembilan. Yang Mulia Raja mengharapkan kehadiranmu.”
Tristan maju, menawarkan kepadanya sebuah topeng. Pria itu tidak perlu berlutut untuk menunjukkan betapa terhormat tindakannya. Membantu Thalia dalam hal-hal kecil telah meradang dalam dagingnya. Thalia selalu menyukai Tristan yang itu. Tapi, sayangnya, rasa suka itu tidak sebesar sukanya pada pria satunya. Yang menghantui pikirannya.
Topeng setengah wajah berwarna emas dengan pinggiran perak. Bulu keemasan bertengger di salah satu sudutnya. Topeng itu melengkapi bara merah gaunnya yang menjuntai hingga ke lantai seperti aliran darah. Bagian belakangnya terbuka, memancarkan keindahan punggungnya yang telah belajar berdiri tegak. Dari ujung tulang punggungnya ke bahu, membentuk huruf V yang lebar. Garis dada gaun itu amat rendah, menonjolkan belahan dadanya yang menggoda.
“Thalia.” Suara Tristan penuh penekanan membangunkannya dari lamunan.
Tangan Thalia terentang kepada Tristan. “Ulurkan tanganmu, Tristan. Ada pesta topeng yang perlu kuhadiri.”
***
Pesta Topeng Tahunan telah ada sejak masa Adolphus of Reyes, Raja Reibeart yang pertama. Tujuan utama pesta ini sesungguhnya untuk memperingati berakhirnya musim panas. Namun, Thalia selalu berpendapat bahwa pesta ini adalah ajang Tebak-Tebakan-Siapa-Wanita-Satu-Itu-Atau-Siapa-Pria-Satu-Itu. Sebenarnya tidak sulit mengenali para wanita (gaun mereka yang mencolok menjadi pembeda utama). Tapi, mengenali para pria barulah perkara bajingan (mereka serempak mengenakan setelan hitam).
Kali ini Pesta Topeng diselenggarakan di salah satu aula megah di Kastil Seymour. Aula ini berbentuk setengah lingkaran. Panggung orkestra yang masih tertutup tirai merah, terletak di garis lengkung ruangan. Bartholomeu IV, para keluarga kerajaan Waisenburg, dan beberapa intel kerajaan tengah berdiskusi di balkon kehormatan, beberapa meter di atas udara, tepat di seberang panggung, di garis diameter.
Melihat wajah kaku ayahnya, Thalia memutuskan untuk turun dari balkon dan bergabung dengan kerumunan tamu. Tristan menahannya di tangga, Thalia berhasil mengelak. Adalah hal yang baik menghindari kemarahan ayahnya. Seorang intel berbisik lebih keras dari seharusnya, mungkin terguncang. Apakah pantas seorang intel terguncang? Thalia samar-samar mendengar hal serupa ini:
“Tidak ditemukan… Sudah. Di sepenjuru… Menantu.. Reyes.”
Thalia dapat menyimpulkan bahwa mereka sedang mendiskusikan Millea, Rhea, Juna, dan Alec-nya tersayang.
Seberkas rasa sakit mencatuk hatinya. Mengetahui bahwa Alec dituding melakukan pembunuhan membuat perutnya terpelintir. Wajah putus asanya ketika Thalia memeluk kepalanya telah menjelaskan segala hal. Meski Alec melakukan aksi pembunuhan massal di Lane End, Alec tak mungkin menghilangkan nyawa keluarganya. Thalia hendak membela Alec di hadapan ayahnya, siapa tahu hati pria tua itu akan melunak. Namun, akhir-akhir ini Bartholomeu bahkan tidak pernah menginjak kamarnya.
Benak Thalia bergulat dengan satu gagasan. Apakah ini sebabnya Alec tidak kunjung menemui dirinya?
Thalia baru saja hendak memutar langkahnya, mengambil limun di salah satu meja, ketika ia menangkap gerakan misterius itu di sudut ruangan. Dekat panggung orkestra. Kepala Thalia miring secara impulsif. Thalia mengenali pria itu. Berbadan kekar, rahang yang garang, bibir yang keras. Dengan memicingkan matanya, Thalia berusaha mengenang siapa pria itu. Belum sempat Thalia menemukan namanya, pria itu menoleh ke belakang, ke arah koridor. Lalu, menghilang ditelan tirai panggung.
Seharusnya, Thalia langsung mengetahui namanya. Nama pria itu berada di ujung lidah namun benaknya tidak mengizinkan dirinya mengingat. Pria besar berbahaya sepertinya sukar dilupakan. Matanya kelam telah menyaksikan banyak pembunuhan. Luka di atas bibirnya yang kentara. Otot-ototnya yang terlampau kekar.
Tepat pada saat itulah ia melihat sesosok pria lain. Yang baru datang dari koridor, tempat pria berbahaya itu menoleh. Pria lain itu merapikan kemejanya seraya berjalan sungguh cepat, seolah-olah dikejar sesuatu. Atau, mengejar sesuatu. Topengnya hitam, mudah menyamarkannya di antara bayangan. Tapi, sekeras apapun pria itu berusaha bersembunyi di kegelapan, Thalia mengenali mata kelabunya.
Bubungan jutaan bunga seakan menyebar di dada Thalia. Rasanya sesak. Sekaligus menyenangkan. Ini seperti ketika kau menyukai sesuatu hal meski itu menyebabkan kau kelelahan. Seperti ketika dirinya menyukai Alec dan menyebabkannya dilanda rindu. Alec. Pria itu tidak pernah luput dari pandangannya.
Thalia bergegas berlari, menyusup di antara tamu-tamu (kerumunan tidak membelah untuk dirinya). Thalia akan menuntaskan rindunya, sekarang. Ia harus memandang wajahnya lekat-lekat jika seusai ini Alec akan pergi lagi. Alec masuk ke dalam tirai panggung. Dan Thalia mengekorinya bagai anak itik yang tersesat.
Tangan Thalia menemukan lengan kokohnya. “Alec!” Napas Thalia tersengal-sengal. Suaranya bergema di dalam ruang redup itu sehingga beberapa pemusik menatapnya keheranan. Mereka memalingkan wajahnya begitu mengetahui dirinya adalah Putri Mahkota Reibeart.
Langkah Alec berhenti dan ia berbalik menghadap Thalia. Wajahnya adalah perpaduan antara keputusasaan dan kehilangan jawaban. Namun, ketika menemukan mata keemasan Thalia, sebagian kecil pria itu meneriakkan kemerdekaan. Detik selanjutnya, mulut mereka telah memagut ciuman.
Bibir Alec membelah bibirnya dengan mudah. Tubuhnya menuntut Alec mendekat, dan pria itu tidak menolak. Tangan kekarnya merayap menyentuh pinggulnya, berhenti di bokongnya. Bahu lebarnya mendesak Thalia mundur, sampai punggung telanjangnya menyentuh tembok dingin. Kedua lengan Thalia melingkar, meraba rahang Alec yang ditumbuhi anak rambut. Kasar, namun Thalia menyukai sensasi yang ditimbulkannya.
Alec memiringkan kepalanya dan membuka mulutnya kian lebar. Pria itu melahap Thalia. Tangannya tidak berhenti menjamah lekuk tubuh Thalia sementara bibirnya mencecap lidah Thalia. Mempermainkan rongga mulutnya dengan lidahnya. Menggigit kecil bibir bawah Thalia dan tidak berhenti sampai di sana.
Gigi mereka berseteru dalam permainan saling menyudutkan. Sejenak, bibir Alec kehilangan jejak lembab bibirnya. Mencari-cari di seputar wajah Thalia dengan putus asa dan mendesah jengkel. Tapi itu seksi. Thalia menarik kerah kemeja pria itu dan mempertemukan mereka dalam ciuman lagi.
Ciuman itu berpindah ke pipinya, menjilat muka bibirnya sebelum turun ke dagu, ke rahangnya, ke lehernya, ke lekuk lehernya, ke tulang selangkanya, ke belah dadanya. Bermain lidah dengan lembut lembah di antara payudaranya. Thalia melengkungkan punggungnya, tidak tahu diri. Namun, Alec melepas bokong Thalia, meraih kedua tangan miliknya dan mencium kedua telapaknya.
Thalia mengerang. Kemudian, Alec mengenggam tangannya penuh kasih sayang. Bibirnya kembali bertengger di leher Thalia, tidak berniat sedikit pun meninggalkan titik nyamannya. Punggung tangan Alec menyentuh payudaranya, tapi ia tidak tergoda untuk meremasnya. Ia tidak lagi membutuhkan godaan. Ia membutuhkan udara dan itulah yang tengah ia lakukan. Menyelaraskan napasnya yang berat dan terengah-engah.
Udara menipis di antara kehadiran mereka, rupanya. Apakah hal itu berlaku pula dengan waktu?
“Thalia,” ujar Alec, suaranya masih parau.
“Aku merindukanmu.” Thalia menggigit bibirnya.
Kepala Alec mendongak hanya untuk mendapati mata Thalia yang nyaris menekuk sedih. Alec mengecup bibirnya secepat angin. Tapi itu cukup untuk menghapus kesedihan dalam dirinya yang melepuh. “Aku merindukanmu.”
“Ke mana kau seminggu ini? Aku cemas. Aku kira kau ditangkap dan diasingkan ayahku. Kau tahu, ayahku merasa benar-benar bertanggung jawab atas kehidupan adik ibuku yang janda. Ayah tidak menikahinya demi cinta, tapi demi pengabdian terhadap ibuku. Dan ketika Millea menghilang—sebagian diri ayah juga menghilang. Ia tidak lagi terlihat di kastil, ia—aku tahu—mengunjungi makam ibuku dan mungkin meminta maaf tiap hari. Jadi aku khawatir kau—“
Alec tersenyum, jemarinya menggapai pipiku dan mengelusnya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Ribuan kali. “Aku tidak menghilang, Thalia.” Dahinya berkerut memikirkan suatu jawaban untuk menghindari fakta. “Ada beberapa urusan.”
Thalia menjawab cepat, “Tidak apa-apa kalau kau tidak mau mengatakannya.” Ia tidak mau keputusannya itu berubah. Ia takut kelak jikalau ia tak mengemukakan gagasan tersebut, rasa penasarannya kian menjadi.
Jemari Alec menyusuri rahang Thalia dan berhenti pada bibir bawahnya. Alec menggesek ibu jarinya beberapa kali sebelum akhirnya Thalia mencium kulit asin pria itu. Lalu menjilatnya. Mungkin lidah Thalia membawa dampak besar bagi pria itu. Alec meredam erangannya, kembali menundukkan kepala dan mencium Thalia ganas.
“Apakah kau tidak diundang ke pesta ini dikarenakan tuduhan raja kepadamu?” Thalia melekatkan dahinya dengan milik pria itu. “Gerak-gerikmu aneh tadi.”
Tawa merdu keluar dari antara bibirnya. Kedekatan ini membuat Thalia menyadari betapa gemas dirinya memandangi bibir ranum itu. Serta matanya yang tampak kekanak-kanakkan. Hidung mancungnya yang sempurna. Thalia mengecup tiap keindahan yang baru ia pahami.
“Aku diundang, Sayangku. Namun aku menolak untuk datang saat undangan itu menghampiriku—“
“Jadi apakah itu sebabnya kau mengendap-endap?” tanya Thalia penasaran.
Alec memberengut, campuran antara jengkel dan pemikiran keras. Thalia tidak sengaja mendekatkan pinggulnya dengan pinggul pria itu. Alec menyentuh pinggulnya pelan, menghentikan tindakannya yang provokatif.
“Ya Tuhan, jangan lakukan itu, Thalia.” Alec merapatkan suaranya ke dekat telinga Thalia. Gelenyar nikmat menjalar perlahan dari punggungnya. Merecoki tubuhnya dengan gairah. “Kau tidak mau aku kehilangan kendali, bukan? Akibatnya buruk, Thalia. Aku akan memakumu di lantai, membentang pahamu. Menggelitik keintimanmu seperti ini—“ lidahnya membelai lubang telinga Thalia. “Menggigit pahamu—“ Tangan Alec meraba pangkal pahanya, nyaris menyentuh daerah lembabnya.
“Meninggalkan bekas yang akan kau kenang tiap kali kau basuh tubuhmu. Membuai tubuhmu—“ jemarinya bermain dengan daerah di pangkal pahanya. Menekannya. Mengusapnya. Thalia mendesah senang. Jantungnya berdebar kencang sampai-sampai ia curiga Alec mampu mendengarnya. Tungkainya lemas tak lagi bisa menopang berat tubuhnya. Sekujur tubuhnya gemetar penuh antisipasi. Gairah itu menguasai pembuluh darahnya yang mencuat tak karuan di pipi. Ternyata, selembar kain sutra tidak cukup mencegah gairah ini. “Awalnya satu. Lalu dua. Tiga. Empat. Lima. Sampai kau merasa benar-benar penuh bahkan sebelum aku memasukimu, Sayang.” Jemari yang bermain di bawah sana bertambah seiring ucapannya.
Alec menggigit telinganya. Erangannya tak lagi cukup menanggapi sentuhan Alec. Pria itu berbisik nyaris selirih angin yang berembus, “Dan ketika aku memasukimu, diriku akan melebur seutuhnya dengamu. Kau akan merasakan aku. Aku akan merasakanmu. Aku akan menghujammu sampai kau memohon maaf—“
“Alec.” Suara Thalia sarat gairah yang tak lagi mampu disamarkan. Napasnya terengah-engah dan ia kesulitan menemukan suaranya. “Aku—maaf.” Thalia mencengkeram pundak Alec yang menjadi tumpuannya berdiri sejak tadi. “Tapi tadi itu tidak sengaja.”
Kecupan Alec di hidungnya mengakhiri permainan jarinya di bawah sana. “Itu, Sayangku, adalah peringatan agar kau tidak lagi melakukan hal yang sama ke pria yang salah.”
“Jadi, menurutmu kau adalah pria yang benar?” Sebuah senyum tersungging di bibir Thalia.
“Tidak. Aku pria yang berdosa—“
Sekelompok suara mulai memasuki panggung. Gaduh menyadarkan mereka berdua untuk berdiri sepantasnya, dengan jarak sewajarnya. Beberapa orang mengangkat selo ke sisi kanan panggung. Seruling di tengah, biola di kiri. “Pertunjukannya akan dimulai limabelas menit lagi,” sahut seseorang dari balik bilik.
Alec tiba-tiba mengumpat dan memperhatikan jamnya. Wajahnya semakin jengkel ketika mendapati jarum panjang jam telah bergeser banyak. Mereka menghabisi waktu selama itu bercumbu sampai-sampai lupa akan pergerakan jarum jam. Mungkin Alec memiliki rapat yang harus dihadiri. Mungkin Alec memiliki urusan yang lebih penting daripada menyelinap di Pesta Topeng. Dan Thalia menghambatnya. Ia tidak tahu harus bangga atau sedih. Ia tidak suka mengulur jadwal kegiatan orang lain.
Tangan Alec menyelip di balik kepalanya dan membawanya maju. Bibirnya mengecup dahinya sekejap. “Kau telah menjadi pengalihan yang menyenangkan, Sayangku. Tetapi ada orang yang harus kukejar.”
Pria itu lenyap ke dalam bilik.
***
Orkestra itu adalah orkestra terbaik di dunia yang berdomisili di Reibeart. Tidak heran keluarga kerajaan Waisenbug bersedia menunda keberangkatannya demi pesta akbar ini. Thalia duduk di salah satu kursi di balkon, Pangeran Caesar memeluk lututnya. Sejak peristiwa penculikan itu, pangeran bocah ini lebih merasa tenang berada di dekatnya.
Thalia geli memperhatikan raut wajahnya yang lembut. Kontras dengan wajah kembarannya, Putri Athena yang keras dan kaku. Meskipun begitu, kedua bocah ini teramat rupawan. Tidak mengherankan, pikir Thalia, ayahnya menawan, ibunya memesona. Dua insan nyaris sempurna melahirkan anak-anak rupawan.
Adeline menyenggol pundak Thalia, melabraknya dari lamunan. Tangan Adeline melambai-lambai di sepanjang rambutnya. “Kau tahu, ikalnya sedikit berantakan.”
Thalia menyengir, berusaha menyembunyikan ronanya. Kekacauan dalam dirinya itu tidak lain disebabkan oleh Alec. “Tadi aku berjalan-jalan di taman sejenak. Kurasa anginnya menyibak rambutku.”
Tawa Adeline merdu bagai petikan harpa. “Aku juga pernah muda, Thalia. Aku tahu apa yang kau lakukan.”
Kedua bahu Thalia terangkat pasrah. “Kalau begitu, Yang Mulia, aku mempertaruhkan rahasiaku kepadamu. Jangan mengecewakan aku.”
“Tidak akan.” Adeline memeluk Athena.
Tirai mulai disibak. Ditarik perlahan ke atas. Rangkaian alat musik dan pemainnya duduk rapi. Senyum menghias sebagian wajah mereka. Yang lainnya terlihat gugup. Dirigen berdiri di tengah, sebuah tempat yang teramat untuknya. Ia merapikan kemejanya sebelum mengangkat kedua lengannya berwibawa. Wajahnya penuh misteri, perintah, dan ketegasan.
Ayunan tongkatnya memulai getaran suara yang pertama—hingga sebuah teriakan histeris pecah di aula. Thalia seakan mendengar suara detak jantung seisi ruangan yang mendadak berhenti. Ketegangan merambat dari satu orang ke orang lain. Bahkan mereka yang menonton dari balkon, mampu merasakan hantu yang merasuki tiap orang.
Hening. Tidak ada suara dentingan piring atau langkah kaki. Tidak ada embusan angin atau ayunan tongkat. Salah satu pemain suling, seorang pria ceking, wajahnya pucat pasi. Sekilas lihat pun Thalia tahu, pria itu yang melontarkan teriakan barusan. Ia meraba pipinya ketakutan. Tangannya gemetar. Dari kejauhan, Thalia dapat melihat merah yang menempel pada jarinya. Darah. Semua wanita terkesiap, memadukan simfoni setan. Ketika pria itu menengadah, semua orang mengikuti tindaknya. Ketakutan itu semakin menjadi. Teriakan demi teriakan mulai pecah. Para tamu mulai berhamburan, seisi aula adalah topan yang mengacau. Bagaimana orang di seisi ruangan tidak menyadarinya sedari tadi?
Jauh di atas kepalanya, tergantung tiga mayat. Ketiganya nyaris terhalangi oleh tirai, tapi kami semua mengenalnya. Tidak perlu barang semenit untuk mengenali ekspresi gusar serta terpukul dalam wajah Bartholomeu IV. Itu Millea dan kedua anaknya. Pipi mereka tidak lagi berpendar merah. Wajah ketiganya putih, berbibir biru. Leher Millea tergorok. Jantung Rhea dan Juna ditikam. Darah masih mengucur tetes demi setetes.
Matanya membelalak membaui amis darah yang terbang dibawa angin dingin; pertanda awal musim gugur atau jiwa yang telah tumbang. Jantung Thalia berdetak dalam ritme yang meresahkan. Peluh membasahi tengkuknya. Tangannya yang dingin, mati rasa, tidak dapat menemukan kehangatan pada tangan Caesar. Bocah itu malah telah menangis.
Para penjaga keamanan segera membawa tangga untuk dipanjat. Mereka menaiki tangga dan menarik mayat itu satu per satu. Perut Thalia bergejolak ketika memandangi mereka. Thalia menahan sesuatu yang memaksa minta dimuntahkan. Telinganya pekak oleh ramainya kekalapan orang. Thalia tidak lagi dapat membedakan mana suara hatinya, mana suara jantungnya, atau mana suara orang di sekitarnya. Semuanya memadu membentuk ancaman bagi kewarasannya.
Ayahnya meraung, “HAPUS TULISAN DI KACA ITU!”
Thalia terperanjat. Raungannya menusuk genderang telinganya penuh pilu dan amarah. Hatinya seakan menciut dan tak bisa kembali lagi. Seisi aula tidak menyadari goresan horror di atas sana. Dan ketika semua orang mendongak sekali lagi, wajah mereka terkuras habis dari darah. Begitupula Thalia. Pembuluh darahnya berdenyut menyakitkan dan ia tidak bisa menahan dorongan untuk tidak menyentuh pergelangan tangannya. Di belakang ketiga mayat itu tergantung, di atas sebuah dinding berlapis kaca yang berpendar terang, tertulis dengan darah pekat:
ALEC OF REYES ADALAH SEORANG PEMBUNUH.
***
Yakk, selesai sampai di sini. Bagaimana? Komentar dan votenya ditunggu hehe. Kasih masukan atau kritikan ya. Karena cerita ini ga bakal lanjut tanpa dukungan kalian. Makasih banyak.
[Pic: Orkestra, Tristan, dan rambut Thalia]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top