Bab 8-4
Bab 8-4
Memeras informasi dari asisten ibunya tidak semudah yang Alec bayangkan. Pria itu jangkung dan kurus kering, rambut putihnya selalu disisir rapi. Barang sekali pun, Alec tidak menyangka pria itu tidak terintimidasi oleh tubuh besar dan wajah gelap Alec. Asisten ibunya itu keterlaluan loyal. Baru ketika Alec memecahkan botol bir dan mengarahkan beling tajam itu kepadanya, pria itu membuka mulut.
Alec geli melihat wajah ketakutannya, para pemain opera saja tidak bisa menandinginya. Tapi, sungguh, Alec tidak berniat melukai pria itu. Pria itu sudah tua memiliki sembilan anak dan satu istri. Tidak setega itu Alec membawa bencana ke dalam keluarga besarnya.
Tapi semua ini menyangkut Thalia. Alec harus menyelamatkannya. Thalia sama sekali tidak tahu apa yang akan dihadapinya di Lane End. Tempat penampungan segala hal yang buruk. Mafia. Narkoba. Rumah bordil. Pembunuh bayaran. Penjahat. Dan pro-Reyes. Atau anjing Reyes. Alec tak mampu menyangkal bahwa anjing Reyes adalah sekumpulan penjahat kelas kakap di Reibeart.
Jadi, di sinilah ia sekarang. Siang hari, di salah satu rumah bordil di Lane End yang menghadap danau. Menurut keterangan asisten ibunya, Pangeran Caesar disekap di rumah sisi lain danau. Dan dilihat dari banyaknya anjing reyes yang menjaga gubuk itu, Alec tidak perlu meragukan informasi dari pria tua itu. Alec juga tidak perlu meragukan lagi bahwa Thalia akan datang ke sana, dengan atau tanpa pengawasan.
Alec mengeluarkan sebatang rokok dari celananya. Mengabaikan godaan salah seorang pelacur berdada besar yang terus menggesek dadanya ke lengan Alec. Ia bukan perokok, namun di saat yang paling buruk, ia butuh rokok. Thalia dan Lane End adalah salah satu dari banyak masalah yang benar-benar buruk.
Ketika para berandalan di seberang jalan bersiul menggoda seorang wanita, Alec tidak perlu berpikir dua kali untuk mengetahui siapa yang sedang mendekat. Suara hentakkan kakinya begitu familiar dan, sebutlah Alec gila, tapi Alec menyadari tiap tarikan napasnya. Juga tiap embusan napasnya.
Thalia, wanita itu sendirian. Di manakah pengawal bodohnya itu ketika waktu membutuhkannya? Seketika Alec menurunkan rokok dari bibirnya. Wanita itu tidak terbalut gaun melainkan pakaian berkuda serba hitam yang melekat erat pada tubuhnya. Sebelum ini, tidak pernah terpikirkan oleh Alec bahwa Thalia memiliki tubuh yang—menggiurkan. Baiklah, dadanya memang tidak sebesar pelacur di sini, tapi pinggang rampingnya mengimbangi segalanya dengan baik. Bokong itu, astaga, mengapa Alec tidak pernah mencoba membelai kelembutan absolut itu?
Rambut hitam panjangnya dikucir menjadi satu ikatan menggoda, menampakkan leher jenjangnya yang tak lelah Alec perhatikan. Mata keemasannya bersinar antara kecemasan dan senang—tunggu, senang? Apapun yang wanita itu pikirkan, rasanya tidaklah sesuai dengan perasaannya sendiri.
Alec melangkah keluar dari rumah bordil. Ia tidak tahan melihat para berandalan mengganggu Thalia. Pada langkah pertamanya, Thalia langsung menyadari keberadaannya. Itu mendatangkan perasaan senang yang tak terkira. Seakan-akan dirinya ini memang diciptakan untuk dirasakan oleh kelima indra Thalia.
Muka Thalia terlihat jengkel. Wanita itu mengerutkan alisnnya dan dengan manis mengerucutkan bibirnya. Saat itu jugalah Alec mesti menahan gairahnya sekuat tenaga. Wanita itu memantik api di sekujur tubuhnya sampai-sampai Alec takut ia akan terbakar api nafsu. Takut, tentu saja, ia datang ke sini untuk menyelamatkan Thalia, bukan memperkosanya.
Alec mendekati Thalia, wanita itu harus mendongak sedikit. “Demi—apa yang kau lakukan di rumah bordil?”
Senyum terukir di wajahnya. Suara Thalia renyah sebagaimana Alec ingat. Alec mengangkat kedua bahunya acuh. “Seharusnya kau tahu. Gairah seorang pria terkadang tidak dapat ditahan.”
Tampak kekecewaan meriak di wajah Thalia, wanita itu menghindari pandangannya. Alec langsung merasa bersalah. Ya Tuhan, ia baru saja mematahkan hati Thalia. “Maaf,” ujar Alec, dua jarinya mengangkat dagu Thalia. “Aku di sini untukmu.”
Tatapannya tidak mendamba (seperti apa yang Alec harapkan), malah kian sengit seolah-olah Alec baru saja membunuh dua domba tidak bersalah. “Apa maksudmu, Alec?”
“Aku tahu kau mencari Pangeran Caesar. Bocah itu terletak di seberang danau. Dan, Thalia, kau sendirian tidak akan berhasil melewati tempat ini tanpa diperkosa. Apalagi dengan baju—“ Alec melihat tubuh berkelok Thalia. Sebuah erangan tertahan menyumbat tenggorokannya. “Intinya aku di sini untuk melindungimu.”
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya lirih, nyaris merupa bisikan.
Alec baru saja hendak mengatakan yang sebenarnya, namun menarik mundur kata-katanya. Ia tidak akan membuat wanita ini menghindarinya sekalipun itu artinya ia harus melarikan kenyataan. “Maaf, aku tidak bisa mengatakannya.”
Thalia tidak memaksa Alec untuk menjawab. Wanita itu menghantam dada bidang Alec dengan tinjunya. Tidak sedikit pun beringsut. Alec menysukuri dirinya sendiri berada di sini sebab wanita itu tidak akan mampu melawan penjahat dengan tinju lembut. “Kalau begitu, ayo.”
Tangan Alec melingkar di seputar pinggang menggodanya. Sejenak, Thalia terenyak, namun ia tidak menolak. Kau menerimanya, kalau begitu, pikir Alec. Alec mengimpit dirinya dengan sisi tubuh Thalia dan mencium aroma khas wanita itu. Memabukkan. Tidak bagus.
Ketika melewati para berandalan yang tadi menggoda wanita di dalam rangkulannya, Alec memberi tatapan wanita-ini-milikku-langkahi-mayatku-dulu.
***
“Tidak bagus, mereka menjaga gubuk itu sebagaimana perangko menempel pada surat.” Thalia kembali menjatuhkan bokongnya di atas rerumputan, kemudian menyandarkan punggungnya pada batang sebuah pohon yang maha besar.
Alec duduk di sampingnya, memperhatikan lentik bulu matanya. Kelopak matanya yang setengah menutup, merunduk mencucup tanah dengan tatapannya. Semburat merah menyinari wajahnya layaknya matahari terbit. Ia mengulum bibirnya dan itu membangkitkan tumpukkan gelora yang telah dibendung Alec.
Thalia sedikit terperanjat mendapati suara erangan lirih yang tidak mampu diredam Alec. Alec meraih bibir bawah Thalia dengan ibu jarinya, merasakan hawa panas yang berembus ke jarinya. “Jangan lakukan itu, kumohon.”
Impulsif, wanita itu beringsut mendekat, melupakan akal sehatnya. Satu sentuhan itu mengawan pada mata keemasannya, Alec bisa menangkap seberkas gairah. “Lakukan apa?” tanyanya polos. Entah wanita itu mencoba menggoda Alec atau ia memang murni tidak tahu.
“Jangan berpura-pura tidak tahu, Thalia of Seymour,” geram Alec rendah. Tapi, tidak sedikit pun terdengar menakutkan. Malah, terdengar menyedihkan sebab ia harus mengubur gairahnya dalam-dalam sampai ia mati rasa.
Mata Thalia berkilat jail. “Kau, Alec of Reyes, sama sekali tidak seru.” Thalia meraih tangan besar Alec dan membawanya ke pipi halus wanita itu. Mengusap punggung tangannya berkali-kali, mengecupnya, sebelum akhirnya Thalia kembali mengarahkan pandangannya kepada Alec. “Aku mencoba menggodamu, kau tahu.”
Sebelah alis Alec terangkat, ia tidak menyadari tubuhnya bergerak mendekat. Menyisakan hanya sebatas penghalang berupa pakaian. Alec dapat merasakan dada Thalia naik turun di dadanya. Tanpa perlu menggeseknya pun, Alec tahu, bahwa dirinya telah terbakar gairah oleh sentuhan sesederhana itu. Tapi, apa yang dimiliki Thalia semuanya tidak pernah sederhana. Thalia melakukan segalanya dengan ceroboh. Dan Alec menyukainya.
Alec berhasil menemukan suaranya. “Benarkah?” Tangan Alec membawa wajah Thalia ke depan bibirnya. Napas mereka seakan tersatu dalam jarak yang sempit. “Kalau benar begitu, kau telah berhasil.”
Menempelkan bibirnya ke bibir Thalia selalu adalah kegiatan yang akan ia nikmati. Sekedar menempelkannya saja di sana, merasakan lembab bibirnya. Aroma bibirnya. Lekuk bibirnya. Segalanya. Sebelum akhirnya ia mengulum bibir bawah Thalia keras. Satu uluman dan ciuman itu selesai sampai di sana.
Kepala Alec menjauh, namun ia tidak kuasa melepaskan tiap sentuhannya dari tubuh Thalia. Mata kucing Thalia mencari-cari titik fokusnya, kabut gairah dalam mata Alec. Seakan-akan satu uluman itu cukup menyesatkan mereka berdua ke dalam palung dosa. Tapi, memang itulah kenyataannya, Alec tak bisa mengelak.
Tampaknya Thalia menginginkan lebih, bibirnya mencari-cari bibir Alec. Oh, asal kau tahu, Sayangku, aku pun ingin memerkosamu di atas rumput ini sampai kau tidak lagi dapat berjalan semana harusnya, pikir Alec. Tangan Alec yang menyekap jarak di antara mereka membuat Thalia berhenti mencari. Alec berujar, “Kau perlu tahu bahwa aku sedang menahan diriku sendiri.” Dan itu sakit. Sebab ia membutuhkan wanita itu menyelimutinya erat, sekarang. Sekarang juga.
Thalia berhasil menyadarkan dirinya sendiri. Lambat laun, akal pikirnya kembali merasuki dirinya. Gairahnya musnah begitu saja seolah ciuman tadi tidak pernah terjadi. Betapa menyenangkan, memiliki calon istri yang pengertian.
Istri. Alec pernah berpikir bahwa ia tidak akan pernah bisa membayangkan kehidupan berkeluarga tanpa Astrid, cintanya yang telah meninggal. Mereka telah merencanakan segalanya bersama. Nama anak, tempat resepsi pernikahan, tempat bulan madu, dan tempat tinggal. Mereka begitu yakin segala mimpi itu akan terwujud kendati perbedaan status sosial. Astrid hanyalah seorang guru pribadi keluarga menengah ke atas di Reyes. Sedangkan Alec adalah representatif Reyes, sosok yang bertanggung jawab atas kelangsungan keluarga Reyes.
Alec selalu dihantui ketakutan akan kehilangan Astrid hanya karena perbedaan status sosial. Namun, pada kenyataannya mereka dipisahkan oleh ajal. Saat itu malam, Astrid sedang mengantar makanan kepada ayahnya di markas pemberontakan. Kejadiannya begitu cepat, beberapa pesawat Seymour mengapung di atas markas. Lalu, bom-bom mulai dijatuhkan. Tidak ada yang selamat. Astrid meninggal. Tiga tahun telah berlalu, tapi Alec sukar melupakannya.
Saat itu ia benar-benar rusak. Dan ibunya menyatakan bahwa balas dendamnya akan mewujud segera setelah ia berhasil menikahi Thalia of Seymour. Memikirkan itu sementara berhadapan dengan wajah Thalia, membuatnya dilanda beribu kutukan.
“Jumlah penjaga semuaya ada lima belas orang,” jelas Thalia. Suaranya yang bening berhasil menjernihkan pikiran Alec dari rasa bersalah. “Dan mereka terdiri dari—pria-pria bertubuh besar dan berwajah sangar.” Thalia mengibaskan tangannya ke arah gubuk itu.
“Hanya lima belas orang?”
Thalia mendengus tidak percaya. “’Hanya.’”
“Kau meragukanku?”
Gigi putih Thalia terpapar dalam seringaian indah. “Sedikit.”
“Baiklah, begini rencananya. Kau akan menyusup sementara aku menyerang.” Alec berdiri, menepuk celananya berkali-kali sebelum mengulurkan tangan kepada Thalia. Thalia menyambutnya dan berdiri.
“Kalau saja ini hari terakhirmu di dunia, jangan hantui aku, Alec.” Thalia memandanganya dengan menuduh.
Alec meringis. “Lihat saja nanti, Thalia.”
***
Pada awalnya, para anjing Reyes itu menyambutnya dengan hormat. Namun, ketika Alec mulai melayangkan tinjunya, seisi Lane End seakan berteriak: pengkhianat. Pengkhianat Reyes. Hati Alec sedikit pilu ditusuk oleh hujatan mereka. Mau bagaimanapun Alec tumbuh dan banyak mengabdi kepada Reyes. Tapi untuk saat ini, rasanya tidak ada kata yang lebih cocok menggambarkan dirinya.
Menjadi umpan di antara lima belas berandalan, kesemuanya membawa senjata tajam, rasanya tidak menjadi akhir hidup Alec. Alec bahkan pernah melawan empat puluh anjing Seymour ketika sedang mengamankan area yang menjadi perbandaran bahan peledak Reyes. Ia juga pernah bertarung dengan Jenderal Tinggi Militer Reibeart yang didasari oleh hal sepele; pelacur. Kemampuannya berkelahi memang harus diacungi seribu jempol.
Dan ia selalu menang. Alec selalu menang. Ia tidak pernah kalah dan ia tidak suka kalah. Mungkin itulahs sebabnya Alec tidak bisa mengalah. Ia ingin mendominasi—ia ingin menang.
Ia menikam jantung anjing Reyes terakhir dengan tombak yang diperkuat Zahl. Ia melihat sekeliling dan ia tidak menemukan Thalia. Kekhawatiran membuat dirinya menjadi gundah selama beberapa saat. Namun, ketika ia menemukan Thalia di sana, sedang berjalan mendekat gubuk, Alec langsung berlari memeluknya.
“Bukankah aku memintamu untuk menyusup ketika aku sedang mengalihkan perhatian mereka?” Thalia meronta, namun dekapan Alec membuatnya sukar begerak. Tubuh wanita itu meliuk-liuk di bawah tubuhnya. Seharusnya ia merasakan gairah yang membara. Tapi, untuk sekarang ini, ia buta rasa. Ia hanya dapat merasakan syukur sedalam tikaman di dadanya. Ia mencium ubun-ubun Thalia dan wanita itu berhenti meronta.
“Aku tidak tahu kau begitu cakap berkelahi sampai-sampai aku tidak memiliki waktu untuk mengendap-endap.”
Rahang Alec mengeras. Kenangan berbagai latihan kerasnya dulu menyibak, menggandrungi benaknya dengan memar dan darah. Andai saja kau tahu kemampuan ini sesungguhnya bertujuan menjungkirbalikkan keluargamu, pikir Alec.
“Kau membunuh mereka semua?” tanya Thalia, tatapannya melihat Alec seakan dirinya adalah racun.
Alec mendesah. “Mereka pantas mendapatkannya. Mereka telah membunuh—yah, kau tidak perlu tahu.”
Thalia melepaskan dirinya dari dekapan Alec ketika dirinya lengah. “Kurasa sebaiknya kita bergegas ke dalam gubuk. Kau tahu, aku mendengar orang-orang di Lane End sedang mengamuk sebab kau—“
“Aku mengkhianati Reyes.” Alec mengangguk. “Masuk dan temukan bocah itu. Aku akan menjaga pintu.”
Dan Thalia pun masuk.
***
Benar saja, segerombolan pria dengan parang mulai mendekat. Mereka membentuk barisan yang menyumbat jalan, kemudian menyebar ke area danau. Alec jadi bertanya-tanya, apakah mereka ini suruhan seseorang atau memang hendak melampiaskan amuk atas teman-teman yang telah Alec bunuh. Begitu banyak yang datang sampai-sampai terbersit sebuah pikiran di benaknya. Kalaupun bisa selamat dan keluar dari Lane End, salah satu anggota tubuhku pasti akan tertinggal, pikir Alec, entah itu kaki atau tangan.
Entah kenapa timbul sebuah perasaan menenangkan. Meski tahu dirinya akan menghadapi masalah yang sungguh besar. Ia akan merelakan satu atau dua anggota tubuhnya asalkan Thalia bisa selamat bulat utuh dari tempat zinah ini. Pengorbanan itu entah kenapa membuatnya dibubung rasa lega.
“Thalia, kalau kau masih menyayangi nyawamu, sebaiknya kau keluar. Sekarang,” ujar Alec penuh penekanan.
Tidak ada jawaban.
Alec mempersiapkan dirinya menghadapi segerombolan orang marah. Ia memegang tombak di tangannya. Thalia tidak juga keluar ketika gerombolan itu telah mengerumuni Alec. Sekarang, Alec mempunyai alasan untuk membunuh mereka semua. Demi mempertahankan hidup. Dan Alec mulai menebas.
Tubuhnya yang tadi bersih dari sayatan, sekarang belumur darah. Seratus orang ini bukan tandingannya. Kekuatannya pun melemah seiring tebasan, tenaganya telah terkuras habis. Orang-orang itu semakin bertambah seiring waktu. Sepertinya seisi Lane End tidak ingin melewatkan pertarungan seratus lawan satu dengan penguasa Reyes.
Reyes hendak menggorok leher salah satu penjahat ketika ia mendengar sebuah suara lantang dekat danau.
“Reyes!” teriak orang itu dan semua penyerang tunduk diam.
Alec menyingkirkan darah dari matanya agar mampu melihat jelas. Pria itu hitam, tubuhnya besar dan jenggotnya tidak pernah dicukur. Dilihat dari banyaknya orang yang patuh pada katanya, itu mengindikasikan bahwa ia semacam—ketua geng. Tapi apa yang lebih mengejutkan Alec adalah dua sosok yang dirangkulnya.
Jiwanya seakan meninggalkan raga. Tubuhnya dingin dan bibirnya sekering musim panas—dan beku. Seluruh kekuatan hidupnya dikuras begitu saja melihat dua sosok di pandangannya. Jantungnya tidak berdebar kencang, malah membatu dan tidak membiarkan Alec bergerak sedikit pun. Tubuhnya mati rasa dan napasnya tercekat. Napasnya—ia butuh napasnya. Tapi, ia tahu, bahwa ia tidak akan bisa lagi menghirup udara andaikata—
Andaikata napas Thalia habis di tangan ketua geng itu.
Dua sosok itu Thalia dan Pangeran Caesar. Pisau tersampir di leher Thalia. Mata Thalia membelalak takut. Alec dapat menerka rasa takut itu sebesar rasa takutnya sendiri, sampai-sampai Alec ngeri. Lidahnya hendak mengumpat, hendak menghujat, tapi yang ia dapatkan adalah kebisuan. Bisu, saking ngeri. Padahal ia harus menyelamatkan Thalia, tapi ia tidak bisa. Melihatnya di tangan ketua geng itu sudah sama seperti harus melihat wanita itu mati.
Lalu, pada akhirnya, Alec mampu memutar lidahnya. “Lepaskan.” Suaranya sarat akan kengerian dan perintah absolut.
Tapi, ketua geng itu tidak sedikitpun beringsut. Ia tertawa. “Semudah itu kau meminta?”
“Kau bisa mengambil nyawaku, tapi lepaskan kedua orang itu.” kata-kata itu meluncur tanpa Alec pikir dua kali.
Ia tak lagi dapat berpikir jernih. Ia mengabaikan hidup atau matinya ia nanti. Semua pikirannya berporos pada keselamatan Thalia. Mau bagaimanapun juga, wanita itu harus hidup. Harus hidup.
“Oh, maafkan kami, Lord. Tapi kami diberi perintah untuk membantai dua orang ini.” Pisaunya menancap semakin dalam ke leher Thalia. Thalia meringis, wajahnya campuran antara takut dan sedih. Melihat itu, pembuluh darah Alec membeku. Alec berhasrat menyelamatkan Thalia. Sangat. Tapi dirinya mematung di sana layaknya binatang haram.
Alec mendesis, “Marilyn.”
Ketua geng itu mengangguk memberi persetujuan. “Benar, ibumu,” ucapnya, “apakah kau akan mengkhianatinya lagi?”
“YA.” Langkahnya maju, menantang ketua geng itu. Kerumunan orang di sekitarnya siaga menebasnya. Tapi ia tidak peduli. Mereka tidak akan membunuh Alec. Alec—pada dasarnya—adalah majikan mereka. Alec yang membayar mereka. Kakinya terus mengambil langkah maju, tidak takut. Atau mungkin, sudah terlanjur takut. Tapi, kakinya menapak dengan mantap, tidak ada keraguan. Ia akan menolong Thalia sebagaimana sebelum-sebelumnya.
Pisau itu turun dari leher Thalia. Sejenak, setitik harapan menghias relung paru-paru Alec, mengembalikan napasnya. “Kudengar wanita ini tidak bisa berenang,” ucap si ketua geng, bersiap menenggelamkan Thalia ke danau.
Alec menghentikan langkahnya. Ia menatap Thalia dan dengan tatapannya menyiratkan; benarkah itu?
Jawaban Thalia hanya berupa tatapannya yang seram. Benar.
Sial.
Tapi, kemudian, Alec mendapat tindakan tak terduga dari wanita itu. Thalia menendang organ vital lelaki di belakangnya sekuat tenaga. Lelaki itu meraung kesakitan. Alec berlari mendekat, mendengar ratusan langkah di belakang mengikuti. Ia harus cepat. Namun, sebelum sempat Alec sampai ke samping Thalia, si ketua geng menceburkan Thalia ke dalam danau.
Sekarang ketakutan yang mengungkung Alec berubah jadi amarah yang menuntut dibebaskan. Napas yang baru saja ia peroleh, sekarang menghilang, lagi. Alec mengambil langkah dengan berat. Luka sayatan di belakang lututnya menghambatnya berjalan. Tapi, ia tahu di atas itu semua, ia terguncang oleh suara deburan air yang menghantam tubuh Thalia.
Ketika hendak menyebur ke dalam danau, Alec melihat Tristan dan William Waisenburg beserta pasukannya tengah berlari ke arah mereka, memerangi para penjahat Lane End. Alec mengabaikan ketangkasan dan kecepatan William Waisenburg yang luar biasa. Atau, kekuatan Tristan yang menguar dari tubuhnya. IA HANYA AKAN MENOLONG THALIA.
Dan wanita itu tenggelam semakin dalam.
Alec ikut masuk ke dalam air dan matanya mendapati Thalia nyaris berada di dasar danau, tidak sadarkan diri. Ia menyelam semakin dalam, tidak memedulikan apabila nanti napasnya abis. Tidak memedulikan apakah hidup atau mati nanti. Kalaupun hidup, ia tidak ingin bernapas di kehidupan tanpa Thalia Ersa of Seymour. Kalaupun mati, ia ingin mati bersama wanita itu.
Thalia Ersa of Seymour, aku persembahkan hidupku untukmu. Mati atau hidup, aku bersamamu. Kau bukan Astrid. Kau tidak boleh mati meninggalkan aku. Aku belum melakukan seratus hal yang kuinginkan padamu. Aku belum melihat kita berdiri di atas altar pernikahan. Aku belum bertanya apakah kau menyukaiku. Aku belum—banyak sekali yang belum kita lakukan, calon istriku. Tapi di atas semuanya, JANGAN MATI.
Tangannya meraih tangan Thalia dan dengan satu tarikan, membawa mereka berdua ke permukaan danau. Alec membawanya ke bantaran danau dan membiarkannya berbaring di atas rerumputan penuh darah. Aku tidak bisa menyiapkanmu ranjang empuk. Tapi untuk saat ini, hanya rumput yang kita miliki.
Layaknya orang kalap, mata kelabu Alec membesar. Sebagian takut, sebagian bersyukur. Tangan besarnya bisa dikatakan melukai bahu Thalia, tapi ia tidak peduli. Kalau itu satu-satunya cara agar kesadaran wanita ini kembali, ia akan melakukannya. Kelak jika ia memang masih memiliki hari-hari yang panjang, Alec akan mencium bahunya. Menciumnya beribu kali tanpa habis. Sebab, ia telah melukai Thalia. Dan ia berpikir, hanya dengan itulah kesalahannya dapat ditebus.
Alec menangkap gerakan di bawah kelopak mata Thalia. Kemudian, air menyembur dari mulut Thalia. “Alec,” ujar Thalia lirih dan kesakitan, takut membayangi wajahnya. Merajai sanubarinya. Mata keemasannya seakan transparan, Alec dapat menemukan kengerian. Kulitnya yang pucat, sekarang seputih kertas. Giginya bergemeretuk, air danau mengusir hangat tubuhnya.
Tapi ini adalah apa yang seutuhnya diinginkan Alec.
Alec merengkuhnya. “Jangan bicara.”
“Tapi—“
Bibir Alec mencari-cari bahunya dan menghujani permukaan halus itu dengan beribu ciuman. “Kau hidup. Setidaknya itu yang penting.”
Jauh di dalam lubuk hatinya, sebuah tempat terkelam memanggil namanya. Tempat bagi kenangan terkutuk dan perasaan berdosa. Sebuah suara, tidak asing, tua dan angker. Sebuah suara yang selama ini menjadi panutan apa yang harus dilakukan Alec, apa yang tabu. Suara yang sering kali menuntut Alec melakukan perbuatan nista, berkata:
Bukankah kau pernah menginginkannya mati? Kau membenci Seymour. Seymour telah membunuh Astrid, Cintamu. Apakah kau telah melupakan pedih kala Astrid tiada? Apakah kau telah melupakan sumpah yang kau ikrarkan di hadapan Adolphus? Kau membenci Seymour. Astrid mati dalam api dan sekarang Thalia harus mati dalam air. Bunuh dia. Bunuh dia. Bunuh dia. Yang kau rasakan kepadanya tidaklah sedalam rasa bencimu kepada Seymour. Bunuh dia. Bunuh dia. Kau memiliki kesempatan untuk membunuhnya, dan itu adalah sekarang.
Alec menghela napasnya perlahan, membunuh bisikan jahat itu.
Tidak. Aku menyukai Thalia of Seymour. Sekarang, pergilah.
Bisikan itu mendesis.
Tapi kau tidak bisa melarikan diri dariku. Akan kupastikan kau membunuhnya, suatu hari.
Suatu hari.
***
Oke saya tau ini panjang bingit. Tadinya aku pengen bagi jadi 2 bab. tapi... hati berkata lain. hehe. Dimohon tanggapan, saran, dan kritiknya. Jangan lupa komen dan vote, makasih :)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top