Bab 6-1

Bab 6-1

Thalia harus mengedipkan matanya beberapa kali sebelum percaya dengan apa yang ada di depannya. Dan ia tak akan percaya karena mungkin saja ini bukan dirinya, melainkan perbuatan ahli-lah yang mengubahnya. Selain itu, ia tahu, ia berpengalaman—setidaknya selama tujuh belas tahun—dalam dunia warna dan ia tahu bahwa gaun violetnya menonjolkan sisi manis, atau mungkin, seksi dalam dirinya.

Wanita berambut hitam dalam model terkini dengan mata keemasan ini jelas bukan dirinya atau mungkin ini memang dirinya. Ia jarang memperhatikan diri sampai-sampai ia tak ingat lagi sebagaimana alisnya dengan indah membentuk lengkungan di atas mata emasnya, bibirnya yang tipis dan manis, tulang pipinya yang tinggi, terlalu menonjol ketika tersenyum, pipinya yang kurus, memperlihatkan tulang rahangnya begitu tegas.

Pria yang berdiri di sampingnya, bertubuh pendek dengan kumis tertata rapi, sambil berkacak pinggang memegang gunting menyatakan, “Saya merasa sangat terhormat dapat menjadi orang pertama yang memandangi wajah cantik Anda, Putri. Cantik. Anak Anda sempurna hari ini, Yang Mulia Raja. Kurasa aku pernah melihat wajahnya—“

Bartholomeu memotong, “Kania. Foto Kania di aula, Figgins.”

“Oh, ya. Kania sungguhlah wanita yang cantik, kau beruntung bisa mendapatkan wajah secantik ini dari keturunan genetiknya, nak.” Figgins mengedipkan mata pada Thalia, ia memainkan kumisnya sejenak. “Yah, walaupun biasanya ia menyudut dengan rambut kumal dan usangnya.” Biasanya Bartholomeu akan marah, namun tidak untuk kali ini karena Figgins memberitahukan hal sebenarnya dan Bartholomeu tak bisa mengelak.

“Ju-ju-jur saja, maksudku, aku tidak, yah, aku belum mengetahui, maksudku, mempelajari cara mengatasi kelemahan, dan, um, yah itu,” ujar Thalia tergagap, tidak terlalu berani mengeluarkan suaranya di depan Mr. Figgins yang merupakan kebanggaan wanita-wanita di Reibeart.

Mata Figgins memincing menatap wajah Thalia yang membiru ketika berbicara dengannya. “Duh, kau perlu perbaiki tatapanmu, postur tubuhmu, dan caramu berkomunikasi. Tapi, aku bukan ahlinya, kurasa ayahmu akan menemukan seseorang yang tepat,” komentar Figgins sebelum membungkuk hormat kepada Thalia dan Bartholomeu sebelum pamit. “Terima kasih, Baginda, telah memilih saya untuk mempercantik Putri Mahkota, saya mohon permisi dan selamat sore.”

Bartholomeu mengangguk dan tersenyum simpul sampai akhirnya menyerukan sebuah perintah kepada pelayan di depan pintu, “Bukakan pintu bagi Mr. Figgins!” dan pria berkumis itu menghilang, seakan ditelan pintu.

Ada kecanggungan di antara Thalia dan Bartholomeu setelah hilangnya kehadiran seseorang. Thalia mencuri pandang ke mata hijau ayahnya dengan bibir terkatup rapat, terlalu takjub akan transformasinya ini sampai-sampai tak kuasa lagi bagi dirinya menganga. Satu pertanyaan muncul di benaknya, diikuti oleh banyak pertanyaan lain mengenai tindakan memaksa ayahnya ini. Ia tidak ingin diubah dan yang ia maksud dengan diubah adalah rambutnya dipotong mengikuti model terbaru, diberi perona pipi, pewarna bibir, dan lain-lain. Sungguh, dirinya sangatlah tak berpengalaman dalam hal semacam ini dan ia tak bisa menyebutkan lagi nama objek lainnya selain kedua itu.

“Kau tahu, hari ini Keluarga Waisenburg jauh-jauh datang dari barat ke Reibeart bukanlah demi menonton pertunjukkan opera. Tujuan sebenarnya adalah memperat hubungan dengan Seymour dan maka dari itulah aku tidak mau kau tampil seperti biasanya, mengecewakan pandangan para Waisenburg tentangmu. Mungkin ini lucu, tapi aku tidak mau kau direndahkan oleh orang lain sejak detik itu, sejak rambutmu mulai dipotong. Aku mau rakyat bisa menghargaimu seperti halnya mereka menghargai Seymour yang lain. Kau harus berubah, Thalia. Tak diragukan lagi dan aku telah membuat keputusannya, bagaimanapun juga, kau harus menjadi ratu dan memimpin kerajaan ini. Walaupun aku sama sekali tidak tahu dari mana kau mendapat pengaruh sikap ugal-ugalan seperti itu,” kata ayahnya berpanjang lebar.

Bartholomeu, ayahnya sendiri, menganggap ia mengecewakan. Sedih, memang, tapi benar kata ayahnya, ia terlalu banyak memalukan ayahnya. Sikapnya, fisiknya, seharusnya ia berubah, namun niat dan tekad entah kenapa selalu padam sebelum ia mencoba. Dan hari ini ayahnya membawa perubahan besar kepadanya, hanya secara fisik. Tapi, toh, ia rasa untuk sekarang ini saja sudah cukup. Sudah cukup, selanjutnya biarkan ia yang berkembang. “Ya, ayah.”

Bartholomeu menatap jam tangannya, matanya membelalak, terkejut sebagaimana cepatnya waktu berlalu dan sekarang sudah hampir jam setengah tujuh. “Oh, ya ampun. Transportasiku sudah menunggu.”

Thalia, refleks, berdiri dan hendak mengekori ayahnya, namun Bartholomeu dengan tegas menjulurkan tangannya ke depan, mengindikasikan Thalia untuk berhenti di tempat. “Jangan. Transportasi ini hanya untukku. Alec akan menjemputmu, Thalia. Bukankah dia begitu baik? Dan, tegakkan punggungmu.”

Mungkin Bartholomeu tidak menyadarinya, tapi Thalia membatu di tempat, bergeming setelah mendengar pemberitahuan ayahnya. Alec akan menjemputnya dan ia tidak merasa semangat atau apapun yang akan dirasakan oleh wanita seumurannya.

Setelah nyaris sebulan tak bertemu, berbicara, ataupun menatap wajahnya, Thalia tahu satu hal. Alec memang melamarnya hanya untuk kepentingan dan tujuan tersembunyinya. Pertama, kepentingannya adalah kepentingan keluarganya, Thalia tahu itu, mengingat Seymour adalah musuh abadi Reyes. Kedua, tujuan tersembunyinya yang tidak bisa dibilang sembunyi lagi karena secara garis besar Thalia mempelajari sudah bahwa Alec hanya menginginkan kekuasaan yang akan ia dapat. Lalu, bagaimana dengan pembunuhan itu? Kalau benar Reyes menuntut kematiannya, kenapa Alec mau menikahinya demi kekuasaan? Membingungkan dan sepertinya tanpa sadar Thalia telah terjatuh pada lubang berbahaya.

Harinya tanpa Alec sungguh sempurna dalam pandangannya, walaupun ada cacat di beberapa waktu seperti ketika Tristan tidak diperbolehkan tidur di sebelahnya, hilangnya sekotak pensil miliknya, dan ditemukannya ular ganas bersembunyi sempurna di bawah ranjangnya oleh Tristan dan dirinya. Dan sekarang ular itu Thalia simpan, dikandangkan secara sembunyi-sembunyi agar suatu saat Thalia bisa meminta penjelasan dari Alec of Reyes. Sedangkan momen sempurnanya adalah saat ia menggambar untuk opera dan menggambar dan menggambar tanpa kehilangan bakat itu seharipun, berkat kehadiran Tristan yang menenangkan. Tapi, ketenangan tidak memberikannya tekad untuk mengirimkan lukisan itu pada opera. Tidak.

Sekalipun tak pernah Thalia merasakan kesepian setelah Tristan kembali hadir ke kehidupan sehari-harinya. Walaupun Alec tanpa mengabarkan apapun mengirimkan hadiah berupa bunga mawar yang, jujur saja, sebenarnya membuat tubuh Thalia gatal-gatal, bersin terus menerus, dan segala macam. Tristan segera membuangnya tanpa segan, tanpa memandang betapa cantiknya rangkaian mawar itu, ke luar jendela. Alergi bunga mawar, makanya aku tak pernah membawamu ke kebun belakang kastil yang dipenuhi mawar, Thalia, kata Tristan.

Begitu menakjubkan betapa banyak hal yang Tristan ketahui tentang dirinya tanpa ia sadari sendiri. Thalia jadi bertanya-tanya apakah ia benar-benar mengetahui banyak hal tentang Tristan. Baiklah, mari dirinya coba. Pertama, Tristan adalah anak bungsu dari Keluarga Schiffer. Kedua, ia lebih sering menghabiskan waktu di Kastil Seymour daripada di rumahnnya sendiri. Ketiga, adalah pengawal pribadinya. Keempat, Tristan mengenali dirinya, mungkin. Mungkin, mengenali dirinya. Ia kira Tristan mengenal dirinya. Bukan. Ia kira ia mengenal diri Tristan, tapi ia tidak tahu sedikitpun. Jadi kedekatan macam apa yang ia rasakan selama ini?

“Persetan dengannya!” seru Tristan, membanting pintu kamar dan membangunkan Thalia dari lamunan. Thalia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum berbalik dengan, anehnya, anggun, ke arah pengawal pribadinya itu.

Pria itu terus mengumpat sampai akhirnya menyadari perubahan pada Thalia. “Wow. Kau berubah,” katanya, kemudian: “Oh, sial. Andaikan saja Zahlmu tipe healing, aku akan menyuruhmu menyembuhkanku sekarang.”

Salah satu alis Thalia terangkat terganggu akan tangan Tristan yang sedari tadi menutup-nutupi dadanya. “Ada apa, Tristan?”

Tristan menoleh, menatap sejenak ke arah Thalia, memberengut entah karena apa. “Jangan. Jangan melihatku seperti itu. Saat ini kau terlalu cantik dan mungkin aku akan melakukan hal-hal tak terduga padamu,” gumamnya sejelas mungkin agar Thalia mengerti. Thalia hanya mengangguk ketika Tristan melanjutkan, “Sekretaris tunanganmu, Anastasia Stokes. Dia bagaikan wanita jalang, dengan seenaknya melukaiku yang sedang mengamankan tubuhnya dari senjata apapun yang sanggup melukaimu. “

“Kau terluka.” Thalia menarik kesimpulan. Thalia mendekati tubuh Tristan yang berdiri terbungkuk-bungkuk di dekat lemari, mencari-cari perban atau obat apapun itu. Menyadari bahwa Tristan adalah orang yang tak tanggung-tanggung mengalirkan cairan apapun pada lukanya, Thalia mencengkeram kedua lengan berotot Tristan sekuat mungkin. Dan pria itu berhenti walaupun sebenarnya ia bisa saja meremukkan tulang Thalia hanya dengan sekali kibas. Thalia mengamati lukanya yang menyebarkan darah ke kemeja putihnya dan mendengus. “Tidak terlalu parah. Ms. Terence dapat menyembuhkanmu. Lukamu, maksudku.”

Bola mata Tristan berputar, Thalia tahu pria ini tak begitu yakin dengan kekuatan Zahl Ms. Terence. Lalu, Thalia meyakinkan, “Setidaknya Zahl Ms. Terence bertipe healing dan jika kau menginginkan penyembuhan sekarang, maka Ms. Terence adalah satu-satunya orang di kastil ini yang mahir menggunakan zahl healingnya.”

Ketika Tristan menghela napas berat, Thalia terpaksa mendongakkan kepalannya dan menatap mata hijau Tristan yang berkilau, berkilat, bersinar, apapun itu. Pria itu sedang kesal, dan betapa lucu kedua alisnya bertekuk tak senang atas perlakuan Anastasia padanya. Bulu matanya yang panjang tanpa ragu menutupi sebagian hijau matanya ketika pria itu membawa bola matanya ke bawah, balas menatap Thalia. Hijau adalah warna yang hangat, tapi entah kenapa hijau yang Tristan perlihatkan sekarang adalah hijau sedingin es. Hijau, namun dingin. Sepanas es.

Tristan merunduk dan rambut pirangnya segera membelai dahi Thalia. Mata hijau itu menatapnya dalam-dalam, mengingat betapa dekat jarak di antara mereka, Thalia bisa melihat jelas betapa—betapa sensual Tristan menatapnya. Tidak hanya tatapannya, bahkan napasnya memburu dan dalam keheningan canggung di antara mereka, Thalia bisa mendengarkan desir darahnya dan Tristan mengalir lebih cepat. Seakan bersatu, jantung mereka berdetak di saat yang sama, memompa darah pada saat yang sama.

“Thalia..”

Tristan membayangi wajah Thalia dengan wajahnya, tapi Thalia tidak protes. Tidak sama sekali. Mungkin ia menginginkan ini. Mungkin.

Dengungan transportasi udara melintas di atas mereka dan mendarat di lapangan. Tristan menarik diri dengan kalap, berujar, “Maafkan ketidaksopananku. Tegakkan punggungmu, transportasinya sudah menunggu.”

Thalia bergeming, akal sehatnya tidak bekerja, tidak bekerja. Tristan hendak menciumnya. Dan ia tidak melawan.

***

“Ia menyentuh tubuhku,” ujar Anastasia bersungut-sungut di tengah keramaian koridor opera, “dan aku tak tertolong untuk tidak meninggalkan satu lukapun pada tubuh manisnya itu.”

Alec menatap jam canggih nan elegannya dengan seksama, seakan-akan gerak gerik detik jam lebih penting daripada perkataan Anastasia. Pikiran Alec seakan terhenti oleh sebuah denting lonceng, memangnya apa yang ia tunggu? “Kau tak memprotes padaku ketika aku menyentuhmu.”

Tangan putih Anastasia mengibaskan rambut pirangnya ke belakang. “Kau berbeda.” Anastasia tersenyum. “Tristan, siapalah namanya, setelah menyentuh tubuhku, membuatku menghilangkan salah satu sepatu merahku.”

Tawa Alec menyembur keluar. “Kau melemparkan sepatumu padanya?”

“Iya. Jangan ketawa karena, sungguh, cara pria itu berbicara begitu menyebalkan, bisa dibilang ketus. Kau bahkan lebih baik darinya, Alec. Kau lebih—“ perkataan Anastasia terpotong dan ia terkesiap, memaku pandangan pada sesuatu di belakang punggung Alec. “Astaga.”

Alec mengerutkan dahi, tanpa bertanya telebih dahulu pada wanita di depannya, ia berbalik. Koridor yang tadinya sungguh ramai tiba-tiba nyaris menghilangkan suara ketika satu langkah kaki masuk ke dalam opera. Alec turut berkesiap. “Oh, Tuhan.” Itu Thalia.

***

Gedung Opera Reibeart berada di ibukota kerajaan, Gemma. Dengan besar melebihi stadium kerajaan, opera ini dapat menampung kurang lebih sepuluh ribu orang setiap tahunnya. Setiap tahun pula, Reibeart yang terkenal sebagai kerajaan seni, selain mempertunjukan opera khasnya juga menjejerkan banyak lukisan mahakarya para seniman terkenal di Reibeart. Seniman di Reibeart terdiri atas beribu-ribu orang, tidak hanya satu atau dua, karena seperti panggilannya, Reibeart adalah kerajaan seni. Semua orang yang menyukai kesenian akan berguru di Institut Seni Gemma.

Thalia berjalan memasuki ruang opera bersama Alec yang melangkah, mendampinginya dalam diam. Hanya diam, tidak ada kecanggungan atau apapun, berbeda sekali dengan apa yang barusan ia rasa dengan Tristan. Beda. Rasanya bersama Alec lebih nyaman dan jantungnya tidak perlu melompat dua kali lebih cepat. Tapi, ia tidak bisa percaya pada Alec begitu saja, Thalia tidak akan membiarkan hati dan tubuhnya melunturkan kewaspadaan serta pertahanan.

Thalia dan Alec berjalan menuju balkon istimewa hanya untuk anggota kerajaan yang mendapat pemandangan paling jelas dari panggung opera. Langkah Alec terlalu panjang dan pria ini sama sekali tidak berniat menunggu langkah pendek juga tergopoh-gopohnya. Itu menjadikan Alec adalah sebuah pribadi yang tidak sabar, check. Thalia harus menuliskannya di buku observasinya, nanti.

Akhirnya, Alec menghentikan langkahnya, sedangkan Thalia harus melangkah beberapa kali lagi sampai akhirnya dapat berdiri di samping pria itu. Bahkan profil sampingnya pun begitu mempesona. Rahangnya begitu menggoda tanpa satu rambut pun di sana. Pria ini pasti menghabiskan banyak perawatan untuk menghilangkan rambutnya se-total itu. Tapi, ternyata setelah diteliti lagi, pria ini tidak benar-benar melakukan perawatan karena samar-samar terlihat beberapa rambut pendek terjejer rapi.

“Yang Mulia Waisenburg, Yang Mulia Ratu, perkenankan hamba untuk memperkenalkan diri. Nama saya Alec Zachary of Reyes, sedangkan wanita ini adalah putri dari Bartholomeu IV, Thalia Ersa of Seymour,” Alec berbicara begitu manis, tak ada cela sedikitpun bagi Keluarga Waisenburg di depannya untuk berprasangka buruk akan Alec.

Pria tampan di depan Thalia tersenyum. Astaga, pria ini bahkan jauh lebih tampan dari Alec. Rambut cokelatnya tertata rapi begitu mencerminkan seorang raja kerajaan paling maju di dunia. Alisnya tegas menggarisi mata hijaunya yang berkilat senang. Koreksi, matanya biru. Tunggu, tunggu, matanya hijau. Ah, matanya hijau kebiruan, berubah-ubah seiring waktu, sungguh indah. Wajahnya seakan baru saja keluar dari buku cerita Empat Iblis yang setiap dari tokohnya memiliki wajah tampan bak malaikat.

Pria itu, Thalia yakin, adalah Wahrforce William Waisenburg, raja Waisenburg. “Selamat malam, Putri Thalia. Kau sangat cantik malam ini,” sapanya begitu sopan.

Thalia menekuk lutut dan balas menyapanya, “Selamat malam, Yang Mulia.”

“Dan Tuan Putri, perkenalkan, istriku tercinta, Adeline Waisenburg, lalu anak kembarku, Caesar dan Athena,” William melanjutkan.

Istrinya, Adeline yang tersenyum padanya, juga sangat cantik. Rambut pirang hampir putihnya disanggul rapi dan terlihat dari tipis tebalnya sanggulan, Thalia tahu bahwa rambut wanita ini sungguhlah panjang serta terawat. Mata hijaunya mengingatkan Thalia akan Tristan, namun miliknya lebih bening dan eksotis. Lesung pipi yang bermekaran di kedua pipinya adalah hal terakhir yang membuat Thalia teringat akan Tristan. Wanita ini manis, sungguh manis, kebalikan total dari dirinya. Seharusnya sepasang orang ini tidak berjalan berdampingan karena tanpa mereka sadari, mereka membutakan sebagian penonton.

Di samping Adeline, dua orang anak bertubuh pendek yang Thalia yakini berumur tidak lebih dari lima tahun. Kedua anak kembarnya identik, walaupun yang membedakan adalah panjang rambut, pakaian, dan beberapa struktur tubuh. Rambut mereka cokelat persis ayahnya. Athena, bertubuh lebih tinggi dari Caesar, memiliki mata hijau Adeline yang setajam William tanpa sedikitpun kelembutan pada wajahnya. Sedangkan Caesar benar-benar kebalikannya. Wajahnya manis seperti ibunya, matanya hijaunya lembut dan menenangkan. Thalia rasa, kedua anak kembar ini benar-benar melengkapi satu sama lain. Dan siapa sangka mereka begitu akur serta rukun ketika opera dimulai, semua orang termasuk dirinya duduk di kursi yang telah disiapkan.

Thalia, tentu saja, duduk di sebelah Alec, di barisan paling depan. Mata Thalia berpetualang ke pelosok balkon sebelum akhirnya menyadari bahwa ayahnya belum hadir. Seharusnya Bartholomeu duduk di kanan Thalia sambil mengangkat kaki, mengetuk dagu, dan menghayati jalan cerita. Tapi, tak ada tanda-tanda kehadiran ayah besar tercintanya. Thalia hendak berdiri, mencari ayahnya ke koridor, namun tirai dibuka dan pertunjukkan dimulai.

Cerita tahun ini adalah Pursuit, sebuah cerita klasik tentang sepasang kekasih yang berasal dari dua keluarga yang berseteru, saling membenci satu sama lain. Thalia tidak terlalu menyukai cerita klasik walaupun ada sekitar duapuluh atau tigapuluh buah buku klasik disiapkan oleh Ms. Harriet, terjejer di rak buku kamarnya. Ms. Harriet adalah salah satu mantan mentornya, paling menyukai cerita klasik dan sering membacakan salah satu cerita favoritnya pada waktu senggang.

Thalia tidak paham isi ceritanya, jadi ia menatap ke wajah Alec penuh harap yang sedang menatap lurus ke atas panggung. “Alec,” panggil Thalia dan pria itu langsung menoleh.

“Ada apa?”

“Ceritakan padaku.”

“Apa?”

“Ceritakan padaku jalan ceritanya,” tegas Thalia, suaranya agak dibesarkan.

Alec terhentak dari tempat ia duduk dan memiringkan kepala ke arah Thalia. “Kau tidak tahu jalan ceritanya? Pursuit adalah salah satu cerita klasik yang terkenal, Thalia. Bahkan orang biasa tahu cerita ini.”

“Ya, aku—“

“Berikan aku beberapa alasan agar aku setuju menceritakannya padamu.”

Thalia memberengut, alisnya berkedut. Wajah Alec begitu mempesona diterangi oleh sinar keemasan lilin. Mata kelabunya seakan sama, berwarna emas seperti dirinya dan walaupun opera begitu riuh diisi oleh nyanyian, Thalia dapat mendengarkan jantung miliknya berdetak lebih kencang—dan semakin kencang melihat, merasakan, dan mendengarkan napas Alec di dekat wajahnya. “Kumohon, tapi aku hanya bisa memberikanmu satu alasan. Aku tidak suka cerita klasik. Tidak suka, dan aku tidak pernah membacanya. Aku bergidik jijik saat Ms. Harriet, mentorku menceritakannya padaku. Tahun-tahun sebelumnya di opera, aku tertidur mendengarkan betapa kencangnya salah satu penyanyi menarik suara dan—itu menghantuiku, mendorongku menjauh dari cerita klasik.”

“Kau tidur pada operaku. Betapa kejamnya dirimu.” Alec menyipitkan matanya.

Thalia memutar bola matanya. “Ya. Dan kalau kau tidak mau menceritakannya, aku akan tertidur lagi, pasti.”

Tangan Alec meraih tangannya, menggenggam erat tangannya seakan-akan hari ini adalah hari terakhir bagi mereka di dunia. Rona menjalar ke pipi Thalia, tapi untunglah warna keemasan di sekitar ruangan mengasingkannya begitu mudah. Thalia menatap tangan besar itu menyelimuti tangannya. Tangan besar itu—Thalia baru sadar, tangannya besar dan hangat, menggenggam tangannya begitu erat dan menenangkan, menangkup pipinya, menggelitik seluruh sudut tubuhnya, bermain dengan rambut hitamnya. Alec menggenggamnya. Bukan. Thalia juga ikut menggenggamnya.

“Kau tidak akan tidur, tidak akan.” Matanya seakan berkabut, menyembunyikan apapun membara di sana.
“Aku akan sangat terhormat jika kau tidak tidur selama proses penceritaan dijalankan, Thalia.” Lalu, Alec sedikit menyampingkan tubuhnya ke Thalia.

Akal sehat Thalia mencoba menghindar dari gesekan pundak Alec yang menggetarkan tubuhnya, tapi di lain sisi, hatinya begitu menuntut ini. Begitu menuntut.. sampai akhirnya ia memutuskan untuk berkata, “Tunggu, kurasa aku merepotkanmu. Bagaimana kalau kita menonton saja?”

Alec tidak tersenyum, tidak cemberut, tapi ia menyipitkan matanya dengan hormat. “Tidak. Aku sudah bosan menonton latihan awal, latihannya, gladi resiknya. Kita memang akan menontonnya. Kau akan menontonnya selama aku menceritakannya padamu perlahan agar sepanjang hidupmu kau mengenang masa-masa ini.”

Thalia mengoreksi, “Masa ini, Alec. Masa ini, karena masa ini tak akan terulang dua kali.”

“Well, bisa. Kita akan menontonnya tahun depan, lagi. Bersamaan, duduk bersamaan.”

“Aku bisa gila.” Thalia terkesiap, memikirkannya saja sudah membuat seluruh tubuhnya memanas, dikuasai oleh suatu gelora aneh.

Alec meringis. “Gila, tidak. Kita hanya menonton dan bercerita.”

Thalia tahu perkataannya salah, jadi ia kembali berkata: “Tidak, tidak. Ya. Bagus. Maksudku, bagus, bercerita.”

“Kalau tidak salah dengar, kau bilang kau bergidik jijik saat seseorang bercerita padamu.” Alec mengangkat sebelah alisnya.

Nyanyian pembuka usai sudah dan Alec belum sama sekali bercerita. “Oh, ya ampun, ya ampun, Alec, memasuki adegan kedua, adegan kedua. Ceritakanlah.”

Alec tertawa kecil, mengeratkan pegangan pada tangan halus Thalia. Mungkin Alec tidak tahu bahwa tindakan tak terduganya itu membuat hati Thalia seakan menciut, takut semua ini berakhir. Seharusnya Alec tidak memberikan momen-momen indah seperti ini dengan sentuhan fisik. Seharusnya jangan.

Tapi, apa boleh buat, Thalia juga menikmati sebagaimana telapaknya mengelus punggung tangannya yang terbungkus sarung tangan. Entah kenapa, tiba-tiba muncul perasaan ini di mana Thalia ingin melepas sarung tangan utuh-utuh, merasakan kulit Alec bersandar pada kulitnya. Merasakan sinyal aneh yang Alec kirimkan, merasakan nadi pria itu berdenyut di atasnya.

Pria itu menyiksanya, setiap kali menyentuhnya, ataupun menatapnya, ataupun (dalam kasus ini) bercerita padanya dengan gaya paling sensual: berbisik dan menghembus telinga Thalia dengan napas panasnya. Napasnya panas dan udara sekitar dingin, mengingat malam musim panas sangatlah dingin, begitu sempurna, Alec menghangatkannya. Menghangatkan tubuh Thalia dengan napasnya, gerakan tangannya, bahkan suaranya yang kental, walaupun tidak pernah menenangkan atau menyelaraskan detak jantung Thalia dengan yang biasanya.

Alec bercerita, begitu pelan, meyakinkan Thalia bahwa dirinya pintar merasuki otaknya dengan hal-hal nakal. Mungkin, jika Thalia dipaksa membuat sebuah ringkasan tentang cerita ini, maka mungkin saja yang dilontarkan oleh mulutnya hanyalah sebuah suara tertahan, atau yang lebih parahnya: menceritakan sebagaimana Alec berpenampilan tampan hari ini. Tapi, setiap hari Alec memang tampan, siapa yang tidak akan menyadari ketampanannya?

Tampan memang dan setelah dilihat-lihat, walaupun William lebih tampan, ada sesuatu pada Alec yang tak dapat dijelaskan Thalia dengan kata-kata. Ia bisa menjelaskannya, tapi ia tidak menyatukan, merangkai segala kata untuk menyanjung Alec. Tidak bisa. Tapi, mungkin ia bisa melakukannya lewat perbuatan. Dan Thalia menyobanya. Thalia merengkuh kerah kemeja Alec dengan tangan yang masih bebas, mengejutkan Alec dengan tindakannya.

Ini akan menjadi sebuah skandal. Ini akan menjadi sebuah penghinaan akan akal sehatnya. Ini akan menjadi sebuah bencana. Tapi, mereka bertunangan. Dan ini akan turut serta menjadi momen terbaiknya. Menariknya lebih dekat, lebih dekat, sampai Thalia bisa merasakan napas pria itu pada wajahnya, bukan lagi telinganya. Berpindah, tapi Thalia masih dapat merasakan sensasinya—

Dan lampu opera menyala. Istirahat pertama sebelum melanjutkan kembali ceritanya.

Ketika semua orang segera beranjak dari kursi menuju ruang istirahat atau koridor, Thalia melepaskan pegangan pada kerah Alec, merona dalam cahaya dan kali ini Alec dapat melihatnya dengan jelas. Alec tidak berkomentar apapun dan mereka, kali ini, terperangkap dalam keheningan mencanggungkan, bahkan lebih canggung daripada saat Tristan akan menciumnya. Mungkin ini disebabkan oleh Thalia yang mengambil ‘langkah’ terlebih dahulu. Mungkin.

Benak Thalia menyadari hangatnya tangan Alec masih menyelimuti tangannya. Apakah Alec akan melepaskan tangannya? Thalia tidak ingin melepaskan tangannya, tidak mau. Egois, memang. Tapi, dia adalah wanita yang menghangat karena sentuhan seorang pria, dan manusia mana yang mau kehilangan penghangatnya? Alec lebih dari sekedar penghangat, Thalia tahu ia menginginkan setiap senti tubuhnya. Menginginkan orang yang ia benci. Menginginkan musuhnya. Entah kenapa menginginkan seseorang sepertinya lebih sakit daripada menginginkan orang seperti Tristan.

Sakit. Tapi ia enggan melepaskan tangan sang pedang yang menusuk hatinya. “Aku tidak mau melepasnya,” bisik Thalia lirih walaupun tahu bahwa ruangan opera nyaris kosong.

“Begitupula denganku. Aku juga tidak mau,” balas Alec.

Dan wajah Thalia dipenuhi api seketika.

-------------------------------------------------------------

Selesai sudah bab ini :D bab ini saya bikin sepenuh hati, bukan untuk kesenangan pribaid, tapi saya memikirkan kesenangan kalian, para riderrrr #salahfel ehehehe. Makasih ya :D bagi yang udah ngomen dan ngevote di bab sebelumnya :D oh iya, saya punya satu pertanyaan... mohon dijawab karena saya merasa dirugikan sekali karena kebodohan saya :|

Siapa yang modemnya telkomselflash? Menurut kalian modem ini boros gak? karena baru beberapa hari, 100 rb saya langsung ludes...

terus, mau nanya, kalau misalnya, kita beli kartu telkomsel baru, terus kita belum aktifin, jadi masih di kotaknya ntu tuh, terus dikirimin pulsa sebelum kartunya sempet dimasukin ke hape, apa pulsanya bakal masuk setelah kita pasangin ke hape? soalnya punya saya kok engga masuk ya...

bener-bener bulan yang merugikan.... kepengen nangis 200 rb ilang begitu saja karena ketololan saya..

mohon dijawab, mohon vote dan komentarnya chemans chemans. makasih buat semua fans dan semua orang yang udah mendukung aku maupun dari awal ataupun baru-baru ini :D gadis cerewet ini ingin mengucapkan: Terima kasih banyak dan selamat beraktifitas.

#MAAPYEBANYAKMINTA

*edit tambahan: tadi saya baru nyadar saya dilewatin kecoak :& pic di samping adalah anastasiaaa :d bagaimana menurut hadirin sekalian? oh iya didedikasikan buat kak rei yang unyu unyu 

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top