Bab 4-1

Bab 4-1

Berisik dan baru pukul delapan. Thalia terduduk di ranjang mewahnya, menguap lebar-lebar sembari meregangkan tubuh buruknya. Tubuh buruknya. Tubuhnya tidak bisa dibilang buruk kalau Lord Greyster menyentuhnya ganas kemarin siang. Thalia bergidik merasakan seluruh bulu di tubuhnya berdiri mengingat-ingat apa yang Lord Greyster lakukan padanya kemarin siang. Thalia tidak mau mengingat ataupun percaya bahwa kemarin ia dicabuli Lord Greyster, ia lebih baik diam dan bersikap seakan tak ada apa-apa yang terjadi. Tapi, pemandangan tolol di hadapannya ini memaksanya mengingat segala hal mesum yang Lord Greyster lakukan padanya.

Berisik dan baru pukul sembilan. Ya ampun, Thalia tidak pernah menganggap 'pukul delapan' dan 'pukul sembilan' itu pagi. Ia selalu bangun lebih pagi dari anggota keluarganya yang lain, kurang lebih pukul tujuh. Tapi, untunglah ia sudah mandi, setengah jam lalu, menyegarkan wajah paling mengantuknya. Ia tidak pernah sebegitu malas dan mengantuknya bangun dari tidur. Mungkin percakapan panjang lebarnya dengan Tristan adalah penyebab dari kantuknya hari ini sehingga...satu, dua, tiga, empat, lima...lima. Sehingga lima orang pelayan harus datang ke kamarnya merapikan setiap sudut dan interior, membawakan selusin gaun modern yang tentu saja, Thalia tahu, itu dari Lord Greysternya yang Termesum.

Tristan. Thalia tersipu malu mengingat percakapan tadi malam di balkon kamarnya. Percakapannya sungguh lama dan Thalia sama sekali tidak diperbolehkan berbicara oleh Tristan. Kebanyakan orang akan bosan mendengar pria itu berbicara panjang lebar, namun tidak untuk Thalia. Thalia dengan manis-juga antusias-duduk di seberangnya, mendengarkan setiap patah kata yang diucapkan bahkan gerak-gerik pria itu. Ditemani dengan cahaya bulan, biskuit buatan Mrs. Tedd, dan susu, percakapan itu sempurna, sama sekali tidak membosankan.

Pernah Thalia ungkit bahwa dirinya suka meneliti kebiasaan dan sifat seseorang. Dan apa yang Thalia suka dari Tristan adalah kenyataan bahwa pria itu tidak bermuka dua. Wajah dan mata hijau cerahnya tidak memancarkan atau menampakkan kebohongan layaknya si Setan Bermata Biru itu. Sedangkan Setan Bermata Biru adalah sebutan untuk Alec yang Thalia dan Tristan buat sejak-semalam. Ya, sejak semalam. Semuanya yang menyenangkan serta mengasyikan dimulai sejak semalam, sejak kemarin, sejak Tristan datang.

Ada beberapa perubahan fisik yang Tristan alami. Thalia tidak terkejut dengan perubahan itu, ia tahu semua orang akan mengalaminya. Thalia malah terkesima dengan sebagaimana tampannya Tristan telah tumbuh. Pertama, matanya entah bagaimana memancarkan kilauan indah yang mampu memanaskan tubuh Thalia, sungguh. Kedua, hidung mancungnya yang sekarang membuat Thalia gemas ingin menciumnya. Ketiga, tinggi tubuhnya melebihi dugaan Thalia mengingat dulu tinggi mereka hampir sejajar. Keempat, suara maskulinnya sekarang pintar menghiasi benak Thalia dengan kata-kata romantis yang menggoda. Kelima, keenam, ketujuh, dan masih banyak lagi beberapa perubahan yang Thalia hendak jabarkan dalam otaknya. Namun, lesung pipinya tidak pernah berubah, tetap di pipinya ketika berbicara, mengembang ketika tersenyum, dan melelehkan hati Thalia ketika tertawa. Tristan semakin tampan begitupula Thalia yang semakin terkesima dengan wajah i-

"Aww!" Thalia menjerit tak keruan ketika seorang pelayan menarik kencang tali korsetnya.

Tapi pelayan itu tidak menghiraukan jeritan Thalia dan seorang pelayan lain bantu menarik tali satunya. Thalia hanya dapat berpegangan pada tiang penyangga ranjangnya, menahan sakit yang ia alami karena selama ini ia tidak suka memakai-

"Ususku bisa keluar! Astaga!" jerit Thalia.

Ternyata anggapan Thalia bahwa selama ini tubuhnya ramping dan memuaskan itu salah. Tubuhnya tidak cukup proposional untuk Lord Greyster sehingga pria itu membawakannya berbagai macam korset dengan penyangga dada yang dilebih-lebihkan. Thalia tidak bisa bilang dadanya kecil, hanya saja tidak sesuai kriteria Lord Greyster. Bokongnya juga tidak terlalu kecil, tapi, sekali lagi, tidak sesuai kriteria Lord Greyster yang akan mengajaknya berjalan-jalan di kota hari ini. Seorang putri kurus ceking berjalan-berdampingan-dengan seorang bangsawan gendut nan besar. Lucu. Thalia tertawa masam.

Thalia melirik ke sekelilingnya. Ia mendengus sebal. Kamarnya telah dirapikan oleh lima orang pelayan hari ini dan semua barang kembali ke tempat seharusnya. Sepatu di rak sepatu, kalung di kotak perhiasan, dan beberapa benda lainnya di tempat seharusnya. Thala tidak suka itu. Ia lebih suka merapikan kamarnya sendiri, meletakkan berbagai barang keperluannya di tempat yang kasat mata. Kalau seandainya ia hendak cepat-cepat mencari sepatunya, ia tinggal kembali ke tempat di mana terakhir kali ia meletakkannya, lalu pakai. Selesai. Kalau sepatunya dibariskan di rak sepatu-serapi itu-bagaimana Thalia tega mengambilnya yang akan berakhir: berantakan. Entah kenapa, ia tidak pernah berhasil berteman dengan kamar yang rapi.

Thalia mulai mengetukkan jari ke tiang penyangga ranjang sementara para pelayan mengikat pita tali korset. Akhirnya, penderitaannya selesai. Thalia menghempaskan diri ke atas kasur dan...Astaga! Korset itu mencekik perutnya. Thalia berusaha bangun sekuat tenaga, namun akhirnya dibantu oleh dua orang pelayan. Apakah itu artinya ia harus bersikap manis serta sopan santun ketika memakai korset...terkutuk ini? Apakah itu artinya ia tidak bisa menaruh sepatu di atas lemari dengan korset ini? Apakah itu artinya tubuh rampingnya akan terbentuk dan segera memuaskan Lord Greyster dengan korset ini?

Thalia bergidik ngeri. Ia melirik ke arah seorang pelayan yang merapikan kursi meja riasnya. "Be-begini, korset ini sangat mencekik perutku dan, um, dan tidak menyisakan tempat untuk perutku bernapas dan um, ba-bagaimana kalau-"

"Tidak. Tidak, Yang Mulia," tegas seorang pelayan. "Silakan duduk, Yang Mulia. Rambut Anda memerlukan sedikit perbaikan di bagian depan dan mungkin belakang."pelayan itu menarik kursi bagi Thalia untuk duduk. Thalia berjalan cepat, langkahnya begitu aneh, dibuat-buat olehnya. Ia duduk perlahan di kursi itu dengan harapan sesuatu seperti tadi tidak terjadi lagi. Ia duduk manis menghadap kaca, melihat rambut-rambut depannya mulai ditarik, dijepit di belakang, oleh seorang pelayan yang tangannya handal mengatasi rambut kusutnya.

Pelayan itu membesarkan matanya dan bergumam. Pendengaran Thalia memang lebih tajam dari orang-orang di sekitarnya dan seharusnya ia bisa mendengarkan gumaman pelayan itu. Tapi, pelayan itu seakan berbicara pada dirinya sendiri, begitu pelan layaknya gerakan kucing. Mungkin Thalia diharuskan memiliki telinga kelelawar jika ingin mendengar apa yang pelayan ini-

"Aww!" Sial. Pelayan itu menarik rambutnya seakan itu adalah tali tambang.

"Tolong kecilkan suara Anda, Yang Mulia. Anda akan berkilau di bawah tangan saya, Steffani." Pelayan itu menenangkan.

Alis Thalia berkedut. "Steffani," ujar Thalia, "jangan menganggap rambutku tali tambang, please."

Steffani menggulung rambutnya ke atas dan mulai menyisir bagian yang tersisa. "Rambut Anda sangat indah, saya tidak percaya selama ini-"

"Teriakanmu terdengar sampai lantai dasar, Thalia." Suara bariton khas teman lamanya menghiasi seluruh pelosok kamar. "Sampai Aula," ulang suara itu.

Thalia menengok ke arah pintu, dan pria itu di sana, secara tiba-tiba berdiri di ambang pintu kamar. Satu tangan menahan tubuhnya, berpegangan pada bingkai pintu, sedangkan yang sebelahnya ia letakkan di pinggangnya. Itu, gayanya, mampu meronakan pipi setiap pelayan di kamar Thalia dengan warna merah sempurna. Tapi, tidak untuk Thalia. Thalia sudah kebal dengan gaya kerennya itu. Well, itu disebabkan oleh Tristan yang gemar menebarkan pesona di hadapannya.

Hari ini ia memakai pakaian formal khas bangsawan. Kemeja putihnya hampir transparan, menampakkan sedikit otot yang selama ini, selama sepuluh tahun, katanya, ia olah. Rompi hitam melengkapi atasannya, semakin menegaskan betapa busungnya dada bidang Tristan. Dasi-ia tidak memakai dasi, sungguh mencerminkan Tristan, tapi kancing kemejanya ia kancing habis tidak menyisakan tempat bagi Thalia untuk melihat tulang selangka pria itu yang menonjol.

Kelima pelayan memandangi Tristan terkesima, setelahnya mereka semua menekuk lutut hormat, menyapa Tristan, "Pagi, Sir Schiffer."

Tristan mengangguk kecil. "Pagi yang indah." Pria itu tersenyum, menebarkan pesona ke pelosok kamar sampai-sampai yang di kursi meja rias tersedak ludahnya sendiri. Tristan mengangkat sebelah alisnya sepelan mungkin dan ya, ampun, apakah Tristan tahu bahwa semua tindakannya itu memberikan kesan seksi?. "Siang yang indah untuk putri kita," ujarnya.

Tidak menjawab, tubuh Thalia merosot turun di atas kursi meja riasnya. Thalia memutar bola matanya ketika Steffani berhenti menyiksa kepalanya berhenti sejenak dan menatap Tristan. Terimakasih ya Tuhan, kau menghindariku dari siksaan duniawi ini, ujar Thalia dalam hati. Thalia melirik ke kaca di hadapannya dan mendapati wajah Tristan menggelap di ambang pintu itu. "Ada yang ingin kubicarakan dengan putri kalian."

Para pelayan terdengar melengkungkan alisnya. Ya Tuhan, Thalia mendengar para pelayan melengkungkan alisnya! Sepertinya mereka semua tidak mau meninggalkan ruangan yang artinya meninggalkan pemandangan langka wajah tampan seorang pria. "Kami belum merapikan rambut putri mahkota, Sir Schiffer."

"Aku bisa. Aku sudah terbiasa memperindah rambut Thalia," Tristan menjawab cepat, tidak suka dibantah.

Tristan memang tidak suka dibantah dan Thalia sangat memaklumi suaranya membesar seketika yang membuat para pelayan memandang satu sama lainnya lalu keluar dari kamar itu, meninggalkan pangeran tampan di ambang pintu dan seorang putri buruk rupa menatap dengan kecewa rambut setengah jadinya di kaca. Tristan memasukkan diri ke dalam kamar, menutup pintu dengan sopan, setelahnya melangkah lebar ke meja rias.

Dan apa yang Tristan lakukan pertama kali adalah mengambil jepit rambut yang menahan rambut belakangnya jatuh. Pria itu memandangi wajah Thalia di kaca. Keduanya membuka mulut bersamaan, tapi suara Thalia keluar terlebih dahulu. "Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"

"Kurasa sebaiknya kau bertanya pada ayahmu," ujar Tristan lirih.

"Dan kau masuk ke kamarku dengan alasan ada yang ingin kau bicarakan?" suara Thalia berubah sinis.

Tristan tersenyum, bukan, lebih tepatnya memamerkan gigi putihnya. "Aku akan menjadi bagian dari keamanan kerajaan."

Thalia, seakan tidak terkejut dengan pernyataan itu, berujar datar, "Oh? Baguslah."

"Kau tidak terkejut?" tanya Tristan cepat.

"Tidak. Sama sekali tidak."

"Kenapa?"

"Karena aku tahu kau akan menjadi salah satu dari mereka."

"Tapi aku berbeda." Tristan berusaha untuk tidak menjadikan obrolan ini membosankan dan omong kosong.

Thalia mengangkat sebelah alisnya persis sama dengan apa yang Tristan lakukan tadi, di ambang pintu. "Beda?"

Tristan mengangguk. "Beda." Lalu ia menurunkan kepalanya dan berbisik, "Aku akan menjadi pengawalmu."

Thalia membesarkan matanya, terkejut. Ia selalu menduga ia membutuhkan pengawal mengingat betapa banyaknya manusia yang ingin membunuhnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa Tristan, teman tercintanya lah yang akan menjadi pengawalnya, ksatrianya. Dengan begini, bukankah impian Tristan untuk terus berada di samping Thalia telah terwujud karena pekerjaan pengawal putri mahkota adalah untuk berada di sekitar putrinya setiap saat...setidaknya begitu di Reibeart.

Thalia beranjak dari kursi, berdiri begitu bangga di depan temannya, ksatrianya. Thalia meraih kedua tangan Tristan dan tersenyum begitu manis, tidak peduli dengan wajahnya yang terekspos. "Selamat!" Thalia memeluk tubuh Tristan erat-erat. "Aku suka padamu, Tristan!" serunya riang sambil melompat-lompat di atas karpet. Tiba-tiba saja keriangan itu tergantikan oleh sebuah pertanyaan serius yang keluar dari bibir Thalia. "Jadi kau pergi menghadap ayahku dengan pakaian seperti ini?"

Tristan memutar bola matanya, seakan mengingat-ingat....."Iya."

Thalia terkesiap. "Astaga, pakailah dasimu kali lainnya! Hormati ayahku, kumohon."

"Ia tidak memprotes..."

"Cukup hormati, Tristan. Itu ayahku."

"Lagipula peresmiannya besok," ujar Tristan mengabaikan Thalia dan menurunkan beberapa jepitan dari rambutnya.

Thalia menatapi rambutnya yang turun perlahan menutupi wajahnya. "Bisakah kau lakukan itu pada korset terkutuk ini? Eh, dan kau pintar mengalihkan pembicaraan."

Tristan bertanya, "Kudengar kau akan berkencan dengan Greyster. Apa itu benar?"

Thalia mengangguk sebagai jawaban dan Tristan berkata, "Kalau begitu tidak. Setidaknya kau harus menghormati pria yang telah membelikanmu selusin gaun dengan memakai salah satunya. Jadi, yang akan kulakukan hanyalah membuka rambut ini, mengerti?"

Thalia mengangguk sementara jemari Tristan menelusuri kepalanya, mencari-cari jepit yang mungkin masih tersembunyi. Apa yang ia lakukan begitu sensual, begitu menghangatkan sesuatu di hati Thalia, memanaskan benak Thalia, meronakan wajah Thalia. Thalia tahu, seharusnya ia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini oleh pria itu dan terbiasa dengan ketampanannya sejak sepuluh tahun yang lalu. Tapi, entah kenapa, sekarang dirinya menganggap ketampanan Tristan itu menganggu dan tidak bisa dibilang menenangkan hati.

Setiap kali jemari pria itu-secara tak sengaja-menyentuh leher ataupun telinga Thalia, akan selalu ada perasaan seperti: "Tolong, cepatlah pergi atau kalau tidak, sentuh lebih banyak" bergejolak di hati Thalia. Ia tahu itu tidak masuk akal dan ia sudah mempelajari hal penting di pelajaran Ms. Hubert. Ia hanya mengungkapkan hal sebenarnya karena...karena memang itulah hal benar ia rasakan di hatinya yang hampir merosot ketika jari Tristan menuruni tulang rahang ke dagunya, membawa mata Thalia mengintip Tristan dari balik bahunya.

Mata hijau Tristan tidak cerah seperti biasanya, ada sedikit kelabut mengelabu mata hijaunya. Ada apa? Dan Thalia berhasil menanyakannya, "Ada apa? Matamu kabur dan-"

Tristan memotong, "Thalia." Tristan tersenyum, membanggakan wanita di depannya itu. Kedua tangan Tristan menggenggam erat kedua bahu Thalia dan membalikkan tubuh kecil Thalia dengan mudahnya. Tristan memang selalu lebih kuat dari Thalia, namun sekarang, entah kenapa Tristan terlihat lebih besar dan...dewasa? Ya ampun, Tristan sudah dewasa dan itu meronakan pipi Thalia. Apakah itu sebabnya Tristan terlihat lebih keren dan mempesona saat melakukan apapun? Tristan sudah bukan anak tiga belas tahun yang Thalia lihat dulu. Sekarang, ia adalah seorag pria dua puluh tiga tahun, siap membisikkan Thalia rahasia pria itu. "Kau sangat cantik, dan aku tidak mau seorang priapun mengetahuinya kecuali diriku."

***

Mungkin sedikit gila. Tapi ini kenyataannya. Lord Greyster membelikan Thalia apapun yang terlintas di mata besar pria itu. Tidak heran mata besarnya dapat melihat hampir seluruh barang berharga toko dan membelinya-untuk Thalia. Tentu, Thalia merasa berterima kasih, namun ia tidak tersanjung dengan semua barang itu. Semua barangnya bernilai lebih dari sejuta Kon. Sepertinya Lord Greyster sengaja memboroskan segala kekayaannya demi mendapatkan hati Thalia. Padahal, apa yang bisa memenangkan hatinya adalah: cat, kuas, dan kanvas. Oh, dan mungkin kertas gambar.

Di Reibeart tidak sulit menemukan barang seperti itu. Reibeart dikenal sebagai kerajaan seni dan terkutuklah Reibeart jika tidak memiliki satu toko menyediakan berbagai macam alat-alat kesenian. Dari banyak toko seni di Reibeart, Thalia sering mengunjungi toko di dekat ujung kota yang telah berdiri beratus-ratus tahun lalu, mungkin saja sejak Adolphus memerintah. Toko itu memiliki bau antik dan ukiran unik di seluruh ruangan. Toko tersebut mampu menjadi toko seni nomor satu di Reibeart, asalkan saja pemilik toko itu mau merenovasi beberapa kerusakan dan mempromosikan tokonya ke seluruh penjuru kerajaan. Tapi, si pemilik toko mengatakan bahwa, "Tidak perlu. Toko ini akan lebih berharga dengan kehadiran Anda, Yang Mulia." Dan, tentu saja membuat Thalia seakan kecanduan pergi ke toko itu

Reibeart kerajaan seni dan setiap tahunnya digelar opera pertunjukkan kolosal oleh para profesional di Gemma, ibukota Reibeart, yang dihadari oleh orang dari luar malaupun dalam kerajaan. Thalia rutin datang ke opera dan duduk di balkon istimewa yang hanya untuk para anggota kerajaan. Balkon itu begitu istimewa dan semua orang iri pada raja yang berhasil mendapatkan balkon se-istimewa, se-hebat, se-spektakuler, se-bagus dan se-se-se lainnya. Setiap tahun ceritanya selalu berbeda, selalu unik, dan selalu menghibur. Thalia tidak pernah lelah menontonnya, selalu terpukau dengan betapa tinggi suara para penyanyi, betapa hebat lakonan mereka.

Opera itu tidak sekedar bernyanyi, bermain musik, dan berakting. Banyak pelukis sering melukis sesuai tema cerita di mana lukisan itu nantinya akan dipamerkan di dinding setiap lorong. Thalia sering berharap bahwa lukisannya bisa dipamerkan di salah satu lorong, dilihat banyak orang, dan dibeli oleh seorang yang kaya. Tapi, mungkin itu hanyalah khayalan belaka karena ia tahu lukisannya tidak sebagus lukisan di lorong itu. Lukisannya amatiran dan akan terinjak oleh penonton nantinya.

"Mungkin kau harus melihat ini, My Princess," ujar Greyster, membuyarkan lamunan Thalia.

Thalia mengangkat gaunnya sejajar dengan betis ketika berbalik dan melihat dua lusin kotak sepatu dibawa oleh sebuah kereta pribadi Lord Greyster. "Menurutku, lebih baik melamun daripada memikirkan kekayaanmu yang melorot dalam sehari." Sepatu. Bagaimanakah kabar sepatu usang kesayangannya karena Thalia sangat yakin sepatu usang itu akan terendahkan oleh sepatu-sepatu mahal bertaburan berlian yang Lord Greyster beli untuknya. Dari sekian banyak barang yang Lord Greyster beli untuknya, hanya ada satu kalung biasa-biasa saja yang menawan hatinya. Orang-orang akan menggunakan kalung di leher, tapi Thalia melilitkan kalung itu di pergelangan tangannya.

Terlihat pengawal Lord Greyster berjaga-jaga di samping kereta itu, menatap tajam ke kanan dan kiri memastikan jalanan aman bagi tuannya untuk berjalan. Pengawal. Thalia baru saja mempunyai seorang 'pengawal'. Kenapa dulu ayahnya tidak pernah menugaskan seseorang untuk mengawalnya? Sedikit kecewa dengan keputusan ayahnya, tapi Thalia senang yang menjadi pengawalnya adalah Tristan. Astaga, demi Tuhan, Tristan, temannya. Dan ia harap Tristan di sini bersamanya, meninju wajah kepiting Lord Greyster.

"Kau terlalu banyak melamun sampai-sampai kau tidak siap ketika kuserang," kata Greyster dengan muka mesum tololnya. Bagaimana bisa seseorang mempunyai muka merah dengan mata lebar dan mulut semesum Herman Greyster? Thalia bergidik ngeri.

"Kali ini tidak akan seperti kemarin dan aku lupa melaporkan perbuatanmu pada ayahku."

Lord Greyster mendengus. "Mustahil sekali bagi Bartholomeu menyampingkan keluarga yang mendukung Seymour dan menikahkan anak semata wayang dengan musuh keluarga."

Wajah Thalia menggelap dan entah kenapa gaun itu merosot ke lengan atasnya, memberikan pemandangan indah bahu Thalia yang terbungkus kulit pucat. "Panggil ayahku dengan sebutan Yang Mulia, Lord Greyster."

Lord Greyster meletakkan dua jari babinya di bawah dagu Thalia, turun ke tulang selangkanya. "Ya ampun, nak, kita tidak bisa melakukannya di sini."

Thalia menghindar, menutupi kulit leher jenjangnya dengan tangan seakan-akan itulah tempat di mana Lord Greyster menyentuhnya. "Ini tempat umum," tegas Thalia, "aku akan berteriak jika kau macam-macam denganmu."

"Dan siapakah yang akan menolong putri dengan gelar buruk rupa?" Lord Greyster menjentikkan jari dan dua orang bertubuh besar, pengawal Lord Greyster berjalan mendekati Thalia.

Thalia melirik ke sekelilingnya dan, astaga, ia sudah berada di sudut kota, siapa yang akan menolongnya? Thalia mulai berjalan mundur, langkahnya begitu sigap. Ketika mendapati salah satu pengawal hendak menarik lengannya, Thalia mengambil sebelah sepatu haknya dan melemparnya tepat ke wajah si pengawal. Thalia ambil yang sebelahnya pula dan segera berlari ke depan tanpa tujuan tapi satu keinginan pasti: kabur dari Lord Greyster dengan otak mesum sintingnya.

Larinya cukup cepat, jadi Thalia bisa yakin kedua pengawal itu tidak dapat mengejarnya.Tunggu, Thalia 'kira' larinya cukup cepat ketika jalan di depannya dihadang oleh salah satu pengawal dan kedua lengannya diapit erat oleh pengawal lainnya. Sebagai pembalasan yang, tentunya tidak akan membuatnya berhasil keluar dari cengkeraman pengawal Greyster, Thalia melemparkan sepatu lainnya tepat ke dahi si pengawal di depannya. Jantung Thalia seakan merosot ke perutnya seakan-akan darah akan mencuat keluar ketika Thalia mengatai Lord Greyster dengan urat-urat wajah yang mengembang, terlihat jelas di permukaan.

"Bajingan! Brengsek! Sial! Lepaskan aku, dasar pria tua gendut yang berbau mesum dan kotoran babi!" teriak Thalia, cukup kencang untuk meyakinkan orang-orang di sekitarnya bahwa ia dalam bahaya. Tapi mulutnya dibekap dengan segera oleh tangan kekar pengawal Lord Greyster. Ya, Tuhan, seseorang tolonglah aku. Aku tidak mau disentuh lagi oleh pria ini. Seandainya saja aku membawa pisauku sekarang, aku akan membunuhnnya. Seandainya saja aku memperdalam ilmu zahlku. Seandainya. Seandainya. Ya Tuhan, penyesalan memang selalu datang terakhir, pikir Thalia.

Thalia berharap ia bisa berteriak dan meminta tolong, tapi sepertinya harapan itu mengkhianatinya karena dirinya dibawa ke gang sempit yang tak memiliki penerangan lebih. Orang-orang tidak akan menyadari dirinya di sini dan tidak akan berani menolongnya karena kedua pengawal bertubuh besar itu menjaga di pintu masuk seakan-akan mereka adalah penjaga nightclub. Suaranya juga pasti tidak akan terdengar sampai ke tengah kota karena, Ya Tuhan, ini di sudut kota dan yang ada hanyalah orang-orang jahat di sini. Dan orang jahat tidak keberatan seseorang bertindak jahat kepada sesamanya. Dan Herman Greyster adalah orang jahat.

Kaki Thalia masih berusaha untuk berlari, tapi usahanya itu sia-sia saja karena tubuh gendut Greyster menutupi semua ruangan di gang itu kecuali, yah, langit. Tubuh Greyster tidak terlalu tinggi, sejajar dengannya. Thalia bisa melompati Greyster, tapi ia tidak yakin ia akan berhasil kabur mengingat kedua pengawal itu menjaga di depan. Sial. Kenapa kedua pengawal itu di depan? Apakah mereka ingin mendengar majikannya bercinta? Sungguh menjijikan dan tolol.

Sekarang Greyster berada di depan, mengintimidasinya dengan wajah sinting pria itu. Thalia terduduk di tanah yang becek itu, salah satu tangannya berusaha mengambil apapun-tongkat ataupun kalau Tuhan memberkatinya, pistol-di belakang punggung. Sayangnya, ia tidak menemukan apapun, yang ia bawa balik ke hadapannya adalah tanah kotor gang itu. Tubuh Thalia diangkat paksa oleh Greyster dengan satu kali tarikan pada rahangnya. Ia tidak mau ada tulangnya yang patah, jadi tanpa membantah ia berdiri sejajar dengan Greyster.

Hati Thalia seakan menciut ketika Greyster melakukannya lagi-menjilat telinga dan lehernya. Tangan Greyster meremas kasar dada Thalia yang kalau Thalia membuka matanya pasti akan terasa memalukan sekali. Ini memalukan sekali dan tidak ada orang yang akan menolongnya. Tidak akan yang datang menunggangi kuda putih dan menolongnya. Tristan. Ia berharap Tristan menolongnya. Tristan. Hanya satu nama itu yang ada di benaknya ketika Lord Greyster mencicipi tubuh rampingnya dengan lidah.

Ya ampun, Thalia akan menendang, sekali lagi, kelamin pria itu andaikan saja punggungnya tidak benar-benar berdempetan dengan dinding gang. Dan Greyster terus melakukan apa yang pria itu akan lakukan pada tubuh Thalia. Rasanya memalukan dan menjijikan. Harga dirinya akan hilang ketika ia keluar dari gang ini tanpa melakukan apapun dan membiarkan Greyster mengambil keperawanannya. Tapi, ia bisa apa? Ia tidak bisa apa-apa. Ia hanya bisa melihat wajah Greyster menggesek wajahnya.

Pria ini mesum dan tolol. Seharusnya Thalia bisa melakukan sesuatu agar pria ini berhenti mencabulinya. Ia bisa meninju pria ini. Benar, ia bisa. Dan ia luncurkan tinju tepat ke hidung Lord Greyster. Tinjunya tidak cukup kuat, tapi ia bisa mendengar Lord Greyster meringis kesakitan dan melangkah mundur satu petak, memberikan Thalia tempat itu melakukan hal lebih banyak. Thalia luncurkan sekali lagi tinju ke bawah dagu-atau apa namanya yang tak dapat Thalia ketahui karena benda itu tertimbun begitu banyak lemak-Lord Greyster sebelum berjongkok dan merangkak di antara kedua kaki gendut pria itu.

Sedikit sesak ketika merangkak di antara kedua kaki Lord Greyster dan hatinya hampir copot mengenaskan ketika Lord Greyster menarik ekor gaunnya. Thalia terus merangkak keluar. Ini kesempatannya untuk kabur, kenapa ia tidak mencoba berusaha dengan lebih banyak tenaga kali ini? Thalia menghela napas lega ketika ia berhasil keluar, berguling di tanah gang walaupun ekor gaunnya robek ditarik oleh Lord Greyster.

Thalia segera berdiri, tapi-

Tapi, gerakannya dihentikan oleh tarikan kencang Lord Greyster pada lengan gaunnya. Thalia meronta-ronta, berusaha keluar dari jeratan menjijikan Lord Greyster. Namun, ia tidak mau gaunnya robek dan memperlihatkan mata jelek Lord Greyster tubuh telanjangnya. Namun, ia ingin kabur dari sini. Namun, ia tidak mau gaunnya robek. Jadi yang mana? Kurasa kabur lebih baik dengan memperlihatkan pria mesum ini sedikit tubuhku, pikir Thalia.

Dan Thalia mencoba berjalan mundur dengan tangan menarik-narik lengan gempal Lord Greyster agar lepas dari gaunnya. Terdengar sedikit robekan pada lengan gaunnya ketika Lord Greyster berhasil menarik dirinya mendekat ke napas panas pria itu. Tenaga Lord Greyster nyatanya lebih besar dari dugaan Thalia dan Thalia tidak dapat menolong dirinya selain mendekat ke dekapan tubuh pria itu. Tristan. Tristan. Di mana Tristan? Tristan akan menolongnya? Atau mungkin, apakah sebaiknya Thalia jangan terlalu banyak berharap pada pangeran bermata hijau cemerlang itu?

Hari ini hari sialnya. Thalia tahu itu. Ia tidak akan berhasil keluar dari gang ini tanpa ternodai. Ia tidak akan berhasil. Dirinya memang aneh, sulit beradaptasi, dan tidak pintar berbicara, namun ia pantang menyerah. Thalia melirik ke bibir Greyster yang menyapu lehernya sekaligus melukai hati menciutnya. Ia pantang menyerah dan apakah ini adalah hasil dari sebuah 'pantang menyerah'? Mungkin iya. Mungkin iya, Tuhan memberikan musibah seperti ini padanya agar lebih memperhatikan dunia. Mungkin. Mungkin. Thalia menutup matanya perlahan dengan pasrah ia membiarkan bibir Greyster hendak menempel pada bibirnya.

-Belum sempat Greyster menciumnya, pria gendut itu telah terjatuh ke tanah.

Astaga, Ya Tuhan, demi segala dewa, matanya menangis ketika melihat...

Melihat setan bermata biru itu menolongnya.

***

Terimakasih buat readers yang udah komentar di bab sebelumnya, bab 3-2 :---). Ada seseorang yang bertanya: "jadi tristan itu penyebab Thalia menutup diri? Yo wes tak jawab: Iya. Bener. Tapi Tristan cuman mau Thalia menjaga kecantikannya dari orang lain, sedangkan sikap minder, eksentrik, engga percaya diri Thalia emang udah ada sejak kecil. Tapi selain sikap-sikap gitu, ada sedikit kepedean pada diri Thalia ketika dirinya berada dalam sebuah masalah ataupun berbicara dengan orang-orang terdekatnya. Dan Thalia kalau membenci engga main-main, ia bisa membenci orang itu sampai mati sekalipun. Langkah kaki Thalia selalu berantakan, makanya Thalia pikir larinya itu udah cepet, padahal belom. Kalau saya ama Thalia lomba lari, mungkin saya yang menang #lol. Maaf saya engga bisa balas komentar kalian di bab sebelumnya karena kemarin saya keseruan nonton film penyiksaan. Eh, bukan film penyiksaan sih, genrenya thriller, tapi ngeliat film bunuh-bunuhan gitu kan kayak nyiksa saya ampe merinding, makanya saya bilang film penyiksaan._. Thriller emang selalu hebatnya, walaupun ngeri ngeliatnya tapi selalu penasaran apa kelanjutan ceritanya ehehehe. Oh iya film yang saya tonton kemarin itu judulnya: Two People. Korea sih, habis paman saya suka korea._. Oh iya, makasih buat para reaaders yang udah mau ngefollow saya..perlu dilihat 5 hal tentang saya di kotak tentang saya sebelum memencet tombol follow ya soalnya saya taku kalian nyesel telah meng-follow orang yang salah, amatiran pula. Btw, mohon votenya bila suka dan komentarnya bila suka gak suka *apasih*. Bagi yang ngevote dan comment di cerita sebelumnya, saya sampaikan ciuman dingin dari bibir akuorangindower AHAHAHA.

Akhir kata, selamat beraktifitas, Tuhan memberkati :)

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top