Bab 20-1

Bab 20-1

            Kedatangan Tristan membawa harapan bagi para pengungsi. Pria itu menjadi bukti bahwa para Seymour masih mampu bertahan di bawah tirani Reyes. Sambutan mereka yang meriah dan pesta alakadarnya semalam suntuk berhasil membuat Thalia melupakan gangguan di kepalanya. Banyak keluarga bergembira, sisanya bersedih mengunci diri di antara bela sungkawa. Hanya segelintir prajurit yang gugur; yang lainnya pulang, memuji kekuatan Thalia dalam kekaguman serta keagungan.

            Kekuatanmu adalah salah satu dari kemustahilan yang patut diperagungkan. Aku tidak heran, ucap suara dalam dirinya.

            Thalia berhenti mengetuk jemari pada meja kayu di lapangan. Mengabaikan nyanyian dan kemeriahan di sekitarnya. Picingan matanya jatuh di satu titik kayu lapuk itu. Kania?

            Tidak menyangka anak zaman sekarang tak memiliki tata krama. Panggil aku Nyonya.

            Kalau begitu, apa bedanya kau dengan kakakmu?—dan fakta itu mengguncang Thalia. Marilyn adalah Kalia, kakak kembar Kania. Thalia bergidik ngeri saat membayangkan wanita bengis itu adalah pendahulunya.

            Bedanya, aku menerima kematian lapang dada. Dia menghindari dan menipu kematian.

            Aku tidak setuju. Kau menggentayangiku, apakah itu namanya lapang dada? Thalia  mendengus. Kau mati karena racun, bukan?

            Kania mewujud di sampingnya. Thalia terperanjat, bulu kuduknya berdiri. Rambut hitam, mata emas, dan bibir semerah darah, wajahnya sepucat mayat. Bayangannya sedikit pudar dan sungguh tipis. Seolah-olah mudah tersapu angin meski warna pada matanya menegaskan suatu maksud yang teguh dijunjung sejak ia mati. Thalia mengernyit lalu ragu-ragu meluruskan tangan berusaha menggapai Kania. Tapi, apa yang ia dapat hanyalah angin. Tangannya terjatuh ke atas bangku kayu.

            “Terkejut melihat bagaimana aku mewujud?” Kania tertawa sumbang. Pori-pori di kulit Thalia meremang. Hantu, benar-benar hantu.

            “Sesungguhnya, lebih karena kau begitu mirip denganku.” Thalia bergidik. “Ngeri membayangkan kau adalah aku yang kelak akan mati.”

            Tristan di kiri Thalia menoleh heran, bertanya. “Ada apa, Thalia? Kau berbicara sendiri.”

            Thalia mengerang. “Seandainya kau mampu melihat, Tristan. Ada Kania di sampingku.”

***

            Jelaskan apa maksudmu merasuki diriku, Thalia menyentuh dahi dengan ujung jemarinya. Setelah dipandang sinting oleh Tristan, pria itu mengantarnya ke dalam kamar untuk beristirahat. Kau lelah, kau berhalusinasi, katanya. Dan Thalia harus membendung dorongan dalam dirinya untuk membengkokkan tulang serta persendian Tristan.

            Kania kembali  mewujud, duduk di sampingnya. Thalia tak menyadari pakaian Kania yang sungguh polos; gaun putih khas pembungkus mayat. “Tenang, Putri, kau terdengar marah.”

            “Aku terdengar kesal, dirasuki tanpa tahu mengapa,” pekik Thalia.

            Kepala Kania merunduk memandangi Thalia. “Satu hal yang perlu kau ketahui, aku tidak pernah merasukimu. Aku selalu bersamamu sejak  hari pertama ibumu tahu bahwa ia mengandungmu.”

            “Mengapa aku tidak pernah menyadarinya?”

            “Sebab kau tak pernah melatih zahlmu, kau tak akan tahu tanpa mengembangkan kekuatanmu. Aku hantu, Putri, dan hanya dengan kekuatan batin kau mampu melihatku.”

            “Jadi,” ujar Thalia, “selama ini jiwamu tak pernah benar-benar tenang.”

            “Benar, tidak pernah tenang. Bergentayangan di kastil Seymour, dari tahun ke tahun menunggu seorang bayi yang mewarisi kekuatanku. Lalu, ibumu mengandungmu.”

            “Kau hendak membalas dendam karena seseorang meracunimu?” tanya Thalia lirih.

            Kania mengangguk. “Bukan sembarangan orang, Putri. Dia adalah Kalia, kakakku sendiri. Dan sejarah yang selama ini kau dengar telah mengacaukan kisah sesungguhnya.” Kania melanjutkan, “Aku dan Adolphus menjalani pernikahan yang bahagia—mustahil kami tidak memiliki anak. Dari benih percintaan kami, aku mengandung sepasang anak kembar. Namun, tak sampai tujuh bulan, Kalia membunuh keduanya. Kau tak pernah tahu rasanya sakit dua anakmu digugurkan secara paksa—“ mata Kania berubah keji.

            “Aku tak pernah menyangka Kalia melakukannya. Tapi kakakku itu memang melakukannya. Ia membawaku ke hutan saat senja, dekat Seymour. Lalu sepersekian detik kemudian, kekuatan yang tak asing bagiku menyentuh kedua janin dalam perutku. Memaksanya keluar dan mati. Aku melawan, tapi tidak kuasa. Aku tidak tahu apa yang merasukinya. Tapi ucapannya terus kukenang: ‘Kau memang cantik, Kania. Namun, akulah yang akan menaklukan dunia.’ Dan dari pernyataannya itu, kutebak Kalia melihat sesuatu dari masa depan. Aku melawannya atas nama kedua anakku, tapi dalam kondisi kesakitan, sedih, dan lemah, aku tak pernah bisa mengalahkannya. Ia menghantamkanku ke tanah, dan akibat ledakan zahl kami, dari jatuhku itu, terbentuklah sebuah kawah. Kalian mengenalnya sebagai Kawah Kalia, tapi tak pernah mengetahui apa yang sebenarnya pernah terjadi di sana. Aku ditemukan mati dan jadi tua di sana, Putri.”

            Ucapan terakhir ayahnya menyambarnya bagai petir di siang hari: Ia ditemukan mati dan berubah tua. “Ibuku—“

            “Nah, Thalia, itu adalah apa yang hendak aku ceritakan. Aku mengikuti ibumu selama berbulan-bulan. Janin yang memiliki kekuatan untuk mengguncang dunia selalu membawa kemalangan bagi ibunya, Putri. Maka aku melindunginya dari malapetaka hanya karena aku menginginkanmu sebagai balas dendam. Dan akhirnya, kau pun lahir, selamat dan sehat. Ayahmu membawa kalian ke sebuah kediaman—aku lupa namanya. Aku masih membuntuti kalian, menjaga dan menyelamatkan kalian. Namun, suatu hari, Kalia datang, tua dan lelah dan nyaris habis kekuatan. Aku tahu wanita itu telah bertahun-tahun tak mendapat tumbal yang sempurna: Cantik dan memiliki hati bersih. Mendengar kalian yang sedang beristirahat di pedesaan, ia segera menyerang. Aku bahkan tak menyadari kehadirannya sebelum Kalia menikam ibumu dan menghisap seluruh esensi wanita itu. Aku melawan, terkadang merecokinya. Tapi kekuatanku selalu dan akan terus selamanya tak sebanding dengan miliknya. Dengan kekuatannya yang telah pulih, ia melihat kehancurannya dalam dirimu. Dan mengetahui itu, aku tidak menyerahkanmu dengan mudah, Thalia.  Ia berusaha membunuhmu—aku berhasil melindungimu, namun gagal menyelamatkan ibumu. Ia pergi dan lenyap dalam kabut pagi,” jelas Kania.

            Thalia merasakan air mata menggenang di pelupuk matanya. Ibunya, Allegra of Seymour dibunuh oleh wanita paling bengis yang pernah ia kenal. Kalia of Seymour—pendahulunya. Gejolak aneh bergemuruh dalam perutnya. Seakan berseru, dia bukan pendahulumu. “Apakah ibuku satu-satunya korban Kalia?”

            Kania menggeleng. “Adara of Reyes—beberapa tahun setelah ibumu meninggal. Apa kau  mengenalnya? Kalia melakukan pencucian otak terhadap nyaris semua orang di dunia mengenai silsilah keluarga Reyes. Nyaris—hanya aku dan Gideon. Entah hati sekeras apa yang pria itu miliki sampai-sampai tidak dapat dipengaruhi Kalia—“

            “Gideon? Gideon Sinclair? Siapa Adara?” tanya Thalia bertubi-tubi.

            “Dulu, ia adalah Gideon of Reyes, adik dari kekasihmu—Alec of Reyes. Adara ialah ibu dari kedua pria itu, yang mati menua di hadapan kedua anaknya.”

            “Gideon—“ Tenggorokannya tercekat. Napasnya bagai bilah pedang yang menyayat paru-parunya. “Gideon adik Alec?”

            “Itu menjadikanmu kakak iparnya. Pria itu dua tahun lebih tua, tapi kau memilikinya sebagai adik iparmu. Tidakkah itu menyenangkan?” Kania tertawa.

            “Ini masalah serius. Aku tak habis pikir kau tertawa.” Thalia meredakan dentum jantungnya yang menggila. Itu menjelaskan segalanya. Mengapa Gideon selalu mengingatkannya pada Alec. Tulang mereka bagai terbentuk dari satu darah yang sama. Dan darah yang mengalir di balik pembuluh darah mereka memang sama. Gideon adik dari Alec of Reyes. Thalia harus mulai terbiasa dengan kekeraskepalaan yang diwarisi dua pria itu.

            “Tunggu, jadi kau mengetahui segalanya?” tanya Thalia.

            “Tentu saja. Aku hebat, bukan? Kalau kau berpikir kau bercinta dengan Alec seorang diri, maka kau salah.” Kania tersenyum miring. “Aku ada di sana saat kau mengerang dan dihujani ciuman oleh pria tampan itu.”

            Wajah Thalia memerah—“Tidak sopan—“

            “Aku juga mengetahui isi pikiranmu berminggu-minggu ini yang selalu bersangkutan pada Alec. Yang selalu dipenuhi Alec. Wajahnya, warna matanya. Aku tak menyangka pikiranmu menyimpan detail konkret pada wajah tampannya itu. Dan harus kuakui, pria itu memang sangat tampan. Mengingatkanku pada Adolphus. Sungguh tampan, tidak heran kau memikirkannya tiap sa—“

            “Bisakah kau berhenti berceloteh?” Thalia menggeram.

            “Tidak bisa.” Kania menggeleng. “Aku sedang menghibur seseorang dalam dirimu, Thalia. Lembut dan rapuh. Kini, ia sedang tertawa. Tidakkah kau merasakannya?”

            Sebelah alis gelap Thalia terangkat. “Siapa?” tanyanya ketus. “Jangan bermain-main denganku, Kania.”

            Kania tersenyum. “Aku tidak bermain-main. Manusia sekecil itu membutuhkan hiburan, bukan hanya tekanan dari emosi tak stabil ibunya.”

            “Aku masih tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” Thalia mengulum bibirnya dalam satu garis tegas.

            Kania menjentikkan jarinya, menuntut tangan Thalia menggapai perutnya. Mengelusnya beberapa kali sementara Thalia masih mengernyit tidak mengerti. “Ucapkan halo pada teman kecilku meski ia belum tumbuh sempurna,” ujar si hantu. “Apakah kau akan terkejut bila kunyatakan kau tengah mengandung anak Alec of Reyes?”

            Thalia tidak terkejut. Sungguh.[]

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top