Bab 16-2
Bab 16-2
Tristan mendapati angin yang menembus celah jendela ruangannya, membawa pesan tersirat. Jantungnya berdetak cepat. Bibirnya mengerut dalam pertanyaan. Ia jadi penasaran, seburuk apakah firasat yang ia rasakan.
Jemarinya bergetar hendak memencet panel tombol pada lengan ranjangnya. Setelah ledakan di Chyrus, ia tak ingat apa-apa lagi. Ia tahu Thalia meneriakkan namanya putus asa. Namun, ia tak sanggup menjawab. Sekujur syaraf di tubuhnya lumpuh. Matanya tak kuasa membuka. Ia dipaksa lelap dalam ketidaksadaran.
Saat terbangun, beberapa bulan yang lalu, hidung Tristan mencium aroma obat-obatan, tak asing. Sekilas melihat interior ruangan yang serba hijau-putih-biru, Tristan tahu ia berada di Whiteford, republik ahli medis. Republik yang netral, memiliki sepasukan tentara medis yang siap menolong korban perang dan bencana. Menjunjung tinggi kemanusiaan.
Telunjuknya meraba—dengan samar-samar manuver membelai—salah satu tombol tak kasat mata. Kepala ranjangnya mulai bergerak maju perlahan. Ketika luka besar pada perut membuatnya meringis sakit, ranjang itu berhenti maju. Teknologi, pikir Tristan. Beberapa detik kemudian, setelah nyerinya mereda, ranjang kembali beringsut maju. Kini, Tristan duduk pada sudut yang membuatnya disinari silau matahari pagi hari.
Tak tepat disebut pagi. Pandangan Tristan menemui hologram tanggal, jam, dan cuaca pada sudut jendela lebar yang nyaris menutupi sisi dinding di kanannya. Pukul 11.45 Waktu Republik Whiteford. Whiteford dan Reibeart ada di benua yang sama meski terdapat perbedaan waktu di antaranya. Whiteford lima jam lebih lambat dari Reibeart, sebab republik ini berada di sisi barat Wilayah Tengah. Berbatasan langsung dengan Kerajaan Fitzalbert yang terpisah Samudera Barat; teritori Kerajaan Waisenburg di Wilayah Barat.
Sebenarnya, Tristan merasa sungguh tak adil sebuah kerajaan menguasai satu samudera sendirian. Tapi mereka begitu kuat dan terkesan militan. Tak ada yang berani menentang mereka. Dan sedikitnya, mereka murah hati. Alih-alih menjajah semua pulau yang bertebaran di samudera itu, mereka menyokong pembangunan pulau-pulau itu. Menjadikannya bagian dari Persemakmuran Waisenburg.
Reibeart, di sisi lain, artistik dan penuh mahakarya. Nyaris semua pelukis, penyair, penari, pemeran, dan seniman kenamaan, berasal dari Reibeart. Atau mereka memutuskan untuk menjadi warga kerajaan Reibeart. Dunia mengenal Reibeart akan kesenian dan keindahan. Sejak kecil, tiap-tiap warga Reibeart memiliki jiwa seni. Terkadang selalu terpintas di benaknya, mengapa ia tak punya keahlian berseni seperti warga Reibeart pada umumnya.
Bahkan Reyes—Alec—pandai berperan. Tristan pernah mendengar kabar burung, bahwa sebelum menjadi penanggung jawab drama tahunan Reibeart, Alec pernah berperan sebagai tokoh dari drama yang menjadi perbincangan media dunia selama berbulan-bulan lebih. MENAKJUBKAN, Tristan mengutip salah satu pujian di koran.
Mengarahkan tangannya pada angin hampa, sejajar tepat di dahinya, Tristan menggerakkan tangannya ke bawah perlahan. Lalu, sebuah layar hologram besar seolah mengalir, nyaris menutupi seluruh sisi dinding. Lambang Republik Whiteford—salib berwarna biru di atas tangan berwarna hijau dan latar putih—mengambang di hadapannya. Tristan menyentuh pilihan ‘televisi’ dan layar itu bersilih ganti.
Tristan segera disuguhisaluran berita dunia—Anastasia. Napas Tristan tercekat. Pembawa berita mengacungkan jarinya pada rekaman aksi Anastasia. Wanita itu sedang menghantamkan gagang belatinya pada seorang tentara, di hutan, saat seseorang berhasil merekam penyerangannya. Sedetik kemudian, manik birunya menatap tajam perekam. Pembawa berita menghentikan videonya pada saat Anastasia melemparkan belatinya.
Pembawa berita itu berbahasa asing. Tebakan Tristan, salah satu bahasa di Wilayah Timur, mengingat mata sipit dan tubuh rampingnya. Namun, dengan mudah, Tristan mampu mencerna perkataannya. Gagasan Liga Bangsa Dunia nyatanya tak mengecewakan. Chip yang ditanamkan di otaknya—dan otak seluruh penduduk di dunia—saat lahir, membuatnya mengerti bahasa-bahasa universal di dunia. Meski ia harus akui sedikit kecewa sebab benda kecil itu hanya membuatnya memahami bahasa asing. Bukan membantunya berbahasa asing.
“Ini adalah rekaman rahasia dua bulan yang lalu, ditemukan di antara puing-puing salah satu gudang persenjataan Reibeart. Wanita di belakang saya, dikenal sebagai Lady Anastasia Stokes—“
Layar itu mendadak berubah hitam. Alisnya hampir terangkat saat sebuah pesan video muncul.
“Tristan!” Jantung Tristan berhenti berdetak. Suara manis itu begitu nyata. Begitu nyata—
Tristan mendapati wajah cantik Thalia dilapisi riasan yang memukau. Bulu matanya dua kali lebih lentik dari biasanya. Pipinya lebih merah. Bibirnya berkilau segar seakan siap dikecup. Matanya berpendar keemasan, senang. Sebuah rangkaian bunga berwarna putih mengelilingi rambutnya—tunggu.
Rangkaian bunga putih?
“Apa kabarmu? Maaf, aku baru bisa menghubungimu setelah ayah memberi tahuku IDNet-mu tadi pagi.” Thalia berhenti. Bibirnya terulum dalam satu garis menggemaskan. Menahan malu dan girang.
Tangan Tristan berkedut. Seolah hendak meraih wanita itu dan mendekapnya. Rangkaian bunga putih. Yang benar saja. Tristan merasakan jantungnya berdenyut menyakitkan. Pasti ada kemungkinan lain. Tidak mungkin Thalia.. Tidak. Mustahil.
“Banyak hal terjadi semenjak kau pergi menyembuhkan diri,” ujar Thalia, kesedihan terbersit di tiap katanya. “Ada pemberontakan. Reyes mulai beraksi menentang Seymour. Hendak menggulingkan tahta ayahku. Beberapa tindakan anarkis berhasil ditanggulangi. Namun, sisanya—tak tertolong. Mereka menargetkan aset-aset negara dan mencurinya. Terjadi pembunuhan di mana-mana. Banyak pihak dipaksa mendukung gerakan mereka. Dan semua orang takut perang saudara akan meletus kembali.”
Pemberontakan. Benar. Dunia menyorot topik hangat ini setiap harinya. Dua keluarga ternama; Reyes dan Seymour memang terbukti tak mampu akur. Segala usaha telah diupayakan oleh banyak pihak. Namun, dendam yang mendekam di antara keduanya tak mampu lekang oleh waktu.
Namun, Thalia, apa maksud mahkota bunga itu? Tubuh Tristan seolah perlahan mengeping dan menghilang memikirkan banyak kemungkinan. Rasa ngeri bahkan melandanya saat mengingat firasat buruk yang ia dapatkan tadi. Tristan mengepalkan tinju tepat di atas dada, menahan rasa sakit yang menusuk. Sesuatu akan pergi.
Poros hidupnya akan pergi. Setelah segala hal yang ia lakukan demi Thalia.
“Ayahku berasumsi bahwa hanya ada satu jalan menenangkan kedua belah pihak. Penyatuan, Tristan. Aku akan menikahi Alec.”
Tristan menggigit bibirnya. Hendak menimbulkan satu luka lagi pada tubuhnya yang sudah nyaris rusak. Agar menuntaskan kehancuran itu. Kehancuran yang merapuhkan perasaannya. Meyakinkannya lebih jauh bahwa kini Thalia akan pergi. Darinya.
Tristan jadi bertanya-tanya apakah selama ini Thalia pernah menjadi miliknya.
Memikirkan itu, pedih yang ia rasakan malah bertambah dua kali lipat. Napasnya tercekat. Terkurung pada saluran sempit tenggorokannya. Ia tak mampu berbicara selain mengeluarkan bunyi tercekik yang aneh. Pandangannya perlahan kabur—dipenuhi tetes panas yang berasal dari pelupuk matanya.
“Aku tahu ini mendadak.” Thalia tersenyum. Sangat manis. Hati Tristan remuk. Rasanya bagai jatuh dari tiang tertinggi dunia. Mengapa ia tersenyum di saat di sini Tristan menahan amukannya—membiarkan setetes tangis mengaliri pipinya?
Brengsek.
Tristan meraung tak karuan. Tangannya meraih sebuah vas di samping ranjangnya dan melemparnya ke arah layar. Tristan berharap layar itu pecah jatuh bersama serpihan vas. Namun vas itu melayang jauh dari layar. Menghantam dinding.
Apakah ini akhir bagi dirinya?
Tristan meraung dan mulai melempari setiap barang apapun yang ada di sekitarnya. Mengabaikan lukanya yang mengerang nyeri. Bergerak ke sana sini, mencari benda untuk dirusaki. Rasanya begitu—ya Tuhan. Tristan tidak tahu. Ia malu. Sedih. Dan murka.
Ia murka. Reyes merebut Thalia darinya—apakah gairah waktu itu hanya imajinasinya saja? Apakah dunia mempermainkannya? Bukan. Tristan membohongi dirinya sendiri.
Seorang perawat datang tergopoh-gopoh dan membelalakkan mata histeris saat mendapati tubuh Tristan berlumuran darah. Lukanya pasti menganga sekarang. Begitu besar layaknya lubang di jiwanya. Thalia yang akan pergi.
“—pernikahan kami akan dilaksanakan hari ini pukul enam kurang lima belas menit sore. Sekedar kalau kau penasaran, aku bisa mengirimimu video pernikahan kami.” Thalia tertawa.
Tristan menepis tangan keriput si perawat yang hendak membimbingnya berbaring.
“Berbaringlah. Aku akan mencarikan—“
“DIAM!” Suara Tristan bergetar. Sarat akan amarah.
“Tapi, Tuan—“
Tristan mendorongnya menjauh. Meringkuk pada ranjangnya. Tak mau repot-repot mengembalikan kepala kasurnya mendatar. Ia menggigit bibirnya dan memejamkan mata. Tak akan ada air mata. Tak akan ada air mata.
Terdengar entakan langkah si perawat yang menggema keluar. Menyerukan kata ‘dokter’ berkali-kali. Tristan menekan luka pada perutnya. Tapi tak meringis atau mengerang kesakitan. Rasanya tak sebanding dengan lubang menganga pada jiwanya.
“Sampai jumpa,” ujar Thalia. Suaranya kian menjerumuskan Tristan pada kegundahannya.
Selamat tinggal.
***
“Sudah siap?” Bartholomeu berdiri di ambang pintu kamar riasnya.
Thalia menutup perekam video di hadapannya. “Sepertinya.”
“Ayah tak bisa mendampingimu, kau tahu.” Bartholomeu masuk dan menutup pintu di belakangnya. Matanya berkaca-kaca, merah. Raut wajahnya begitu berat menitipkan putri tunggalnya pada seorang pria—calon pendamping hidupnya.
Thalia berdiri. Melangkah, sedikit terburu-buru, ke arah Bartholomeu. Bartholomeu merentangkan kedua tangannya dan membawa Thalia masuk dalam pelukannya. Thalia menyandarkan wajahnya pada dada hangat ayahnya. Sementara sebuah tetes hangat menyapa ubun-ubunnya ketika Bartholomeu mengecup puncak kepalanya.
“Aku tahu, sebab ayah akan memberkati pernikahan ini.” Thalia menyerukkan kepalanya lebih dalam.
Tangan kasar itu menangkup pipi Thalia dan menggiring matanya menemui pandangan berwibawa Bartholomeu. “Ya. Dan mungkin ini adalah terakhir kalinya kita berpelukan. Maksudku, sebelum kau dinikahi.” Suaranya parau dan terbata-bata.
Thalia berbisik lirih, “Ayah tak perlu khawatir. Reibeart akan kembali tenang.”
Ibu jari Bartholomeu mengusap pipinya. “Aku tak suka mengorbankan putriku demi kerajaan.”
“Egois sekali.” Thalia tertawa pelan. “Tapi, aku mencintainya, ayah.”
Bartholomeu mendekap Thalia sekali lagi. Erat dan kehangatannya tak mampu usang oleh waktu. “Aku tahu. Aku tahu. Aku melihat cahaya cinta pada matamu.”
Hening. Canggung. Bartholomeu mengecup rambut Thalia yang tertata dalam satu kepangan elegan. Mahkota bunga putih segar begitu kontras dengan rambut legamnya. “Kau sangat cantik, Thalia.”
“Yah, semua orang berkata demikian.” Thalia mengangkat kedua pundaknya, acuh tak acuh. “Tapi, terimakasih. Ayah membuat pujian itu terdengar sepuluh kali lipat lebih indah.”
Bartholomeu seakan menahan tawa. Namun, beberapa detik kemudian, wajahnya berubah serius. Tatapannya tajam dan penuh tekad. Siap menguak rahasia. Tangannya gemetar, memberi jarak di antara mereka. “Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu, Thalia.”
Thalia mengangkat sebelah alisnya. “Ayah?”
Jakun Bartholomeu bergerak di balik jenggotnya. Menelan ludah menjadi salah satu kebiasaan ayahnya saat gugup. Ayahnya jarang kehilangan kendali atas emosinya. Entah apa yang membuatnya gugup, pasti sesuatu teramat penting.
“Ibumu tak mati saat melahirkanmu.”
Ribuan pecahan memori mulai menjadi satu. Ia terkenang akan mimpinya yang dulu. Ia mendapat penglihatan mengapa ibunya mati. Dibunuh. “Ia ditikam,” ujar Thalia gentar.
Bartholomeu mengangguk. “Apakah seseorang memberitahumu?”
“Aku—aku hanya bermimpi. Kenapa?”
Bartholomeu menggeleng, perlahan. Tanda penyesalan. “Kalau begitu kau sudah tahu cerita lengkapnya?”
“Tak seutuhnya. Mimpi itu melebur dalam gelap saat ibu ditikam.” Thalia memandangi ekspresi ayahnya. Kilat cemas pada mata ayahnya mengusiknya. Ia tak tahu dapat keberanian dari mana—namun, pertanyaan itu keluar begitu saja. “Apa yang kau sembunyikan, ayah?”
“Ibumu adalah wanita yang cantik.” Bartholomeu terdiam. Lalu, kembali membuka mulutnya. “Dan di mana-mana, di abad mana pun, selalu ada pengguna Zahl Forming yang begitu kuat, mengupas dikit demi dikit potensi di balik kekuatannya. Potensi yang mengerikan, sesungguhnya. Ketika kekuatan ini terlepas dari sangkarnya, mereka tak hanya sekedar mengendalikan atom-atom benda. Mereka bisa saja mengendalikan dunia. Dan ibumu adalah salah satu korban mereka.”
Lagi-lagi, Bartholomeu menelan ludahnya. “Langsung ke intinya saja, aku ingin memberitahumu bahwa—“ napasnya tercekat. “Hari itu, saat aku baru kembali dari persinggahan tak jauh dari kediaman—aku menemukannya tak lagi bernyawa.”
Thalia merasakan darahnya berdesir cepat.
“Dan ia tak lagi sama,” ujar Bartholomeu, perlahan. Membiarkan Thalia mencernanya lamat-lamat. “Ia ditemukan mati dan berubah tua.”
***
Sorak sorai penduduk Reibeart memadati jalan masuk Kapel Seymour. Tak lagi jelas apa yang mereka serukan. Namun, Thalia tahu, bahwa mereka turut berbahagia atas pernikahan ini. Atas kedamaian yang kelak mereka dapatkan. Thalia mengembuskan napasnya berat. Mereka memandang pernikahan ini sebagai tindakan politik. Bukan seremoni ikrar cinta.
Thalia mengapit lengan pendampingnya erat-erat. Mencium bau mawar putih menguar dari jas hitamnya. Saudara jauh ibunya adalah seorang perancang busana. Beberapa hari yang lalu, ia menawarkan Thalia salah satu rancangan busana pernikahannya. Sebuah gaun nyaris menyerupai balon. Thalia tak bisa membayangkan bagaimana ia, dengan keunikannya itu, mampu berkecimpung di kancah internasional.
Mata Thalia menemui pintu kapel yang terbuka lebar. Menampakkan puluhan orang—keluarga jauh Seymour maupun Reyes—duduk pada dua belah jajaran kursi. Ayahnya sudah menunggu di sana, tepat di depan altar. Seragam emas keagamaannya menari dibelai semilir angin. Rahangnya masih gemetar, dilanda kesedihan begitu dalam, mengenang kematian istrinya. Allegra of Seymour.
Thalia juga tidak menyangka, sungguh.
Thalia menyusuri ruangan itu dan menemui Alec di kanan ayahnya. Alec menoleh ke arahku, wajahnya begitu kaku. Matanya abu-abu, digeluti kabut kelabu yang tak jelas maknanya. Meski begitu, secara keseluruhan, Alec tampak tenang dan penuh pengendalian. Seakan-akan hari ini tak akan diingatnya. Seakan-akan, ini hanya sebuah keharusan.
Thalia menggigit bibirnya saat gaun putih sederhananya mulai menyapu lantai kapel. Tiap-tiap hadirin di sana berdiri. Berkasak-kusuk sebelum akhirnya diam penuh hormat. Hanya lagu dari para pemusik yang menghias ruangan. Tentara berjajaran, merapat pada tembok dengan senjata siaga di tangan. Thalia jadi penasaran apakah Tristan sudah menerima pesannya.
Perlahan, Thalia menguraikan tangannya dari kepalan saudara jauhnnya. Alec menawarkan lengannya pada Thalia, nadinya berkedut di atas ketajaman tulang rahangnya. Thalia tersenyum penuh harap Alec akan membalas sunggingan bibirnya. Namun, nyatanya, pria itu bergeming, membawa Thalia menaiki tangga. Sial. Setidaknya ia mengharapkan kedipan penuh goda. Bukan ekspresi es batu.
Para pemusik segera memainkan himne pernikahan khas Reibeart. Lambat, penuh pemujaan, dan berdenting lembut. Bartholomeu mulai membuka sebuah kitab suci, merapalkan mantra pernikahan. Tiap katanya meresap ke dalam relung-relung tubuh Thalia. Relung terdalamnya sekali pun. Menggetarkan rasa yang dalam hitungan detik akan menggenap.
Menjadi satu. Dengan Alec. Hidup dan mati.
Thalia terus menunduk saat ayahnya berujar, “Alec Zachary of Reyes, putra dari Dietrich, putra dari Adolphus, apakah kau akan memiliki Thalia Ersa of Seymour, putri Bartholomeu, putri Matthew, sebagai istri, hidup bersama sebagai sahabat dan pasangan? Akankah kau mencintainya sebagai satu-satunya, menghormatinya sebanding dengan kau menghormati harga dirimu, membagi kebahagiaan, juga kesedihan, kemenangan, juga kekalahan. Dan melindunginya segenap jiwamu hingga akhir hayatmu?”
Suara tercekik seseorang menusuk genderang telinga Thalia. Diikuti dengan serbu keterkejutan orang lain. Thalia mendongakkan kepala perlahan. Ia baru saja hendak menoleh ke belakang saat ia menyaksikan pemandangan mengerikan itu. Alec mengacungkan pistolnya tepat di atas topi panjang Bartholomeu. Tepat di atas dahinya. Siap menembus kulit demi kulit, mematikan kerja otaknya.
Thalia membelalakkan matanya tak percaya. Tak mampu berkedip maupun bersuara. Langkahnya mundur, beberapa langkah. Terus mundur, berusaha lari. Berusaha—sampai akhirnya punggungnya menyentak jatuh sebuah vas bunga. Bunyi itu memekakkan telinga tiap-tiap hadirin yang tadi menyambut Thalia dengan senyuman.
Lirikan Alec bertemu dengan wajah histeris Thalia. Mata itu dingin, berkabut, dan tak terjelaskan. Namun, Thalia tahu sebuah perjuangan yang berkilat di dalamnya. Menolak dan memberontak melakukan ini. Membunuh ayahnya. Membunuh.
Ibuku bertekad memusnahkan keluargamu.
Rasa sesak menyiksa jantung Thalia. Memacu denyutnya, menyakitkan. Apa kau membantu ibumu, Alec? batin Thalia.
Thalia menggelengkan kepalanya pada Alec. Matanya memelas, berkaca-kaca, memohon penuh pengamunan. Jangan bunuh ayahku. Gemeretak bunyi senjata terangkat berkumandang dari balik pundak Thalia. Thalia bisa membayangkan belasan bidikan pada tubuh Alec. Yang siap meletus kapanpun Alec melancarkan pelurunya. Thalia memandangi senyum ayahnya, begitu damai dan tentram. Seolah siap menghadapi segala ini.
Thalia akan kehilangan ayah dan kekasihnya sekaligus.
Menggelengkan kepalanya, Thalia masih berharap Alec akan menurunkan bidikannya. Tangannya beringsut turun—Thalia nyaris menangis kegirangan. Namun, detik selanjutnya, dunia seolah menghancurkan segala harapan dan doanya. Alec menarik pelatuk. Bunyi letusan melumpuhkan gerakan semua orang yang hening dalam ketidakpercayaan.
Darah Bartholomeu terciprat. Mengenai mahkota mawar Thalia. Menodai gaun serba putihnya. Darah. Di mana-mana.
Sekejap kemudian, peluru bertabrakan sana-sini. Beberapa prajurit berusaha menumbangkan Alec yang berdiri di atlar. Namun, gerakan itu berhenti pada hitungan kedua. Thalia mendapati segerombolan pasukan berbaju hitam yang menerobos masuk ke dalam kapel. Para pemberontak.
Thalia berjongkok dan menunduk menatap lantai. Ini akhirnya. Akhir baginya. Secepat inikah? Kedua tangan Thalia melindungi kepalanya, bibirnya bergetar tak karuan. Matanya begitu pedih hendak mengeluarkan tangis, namun tak lagi ada air mata yang tersisa. Jeritan dan lolongan milik orang-orang yang ia kenal seolah mengulitinya. Mengupas lapisan demi lapisan yang menyembunyikan dagingnya.
Thalia seakan telanjang di hadapan mereka semua. Siap ditembak mati.
Gemerisik pistol terdengar begitu dekat dengan sumber kehidupannya. Dengan berat, Thalia memaksakan matanya mengangkat. Melihat Alec menodongkan pistol itu pada Thalia. Matanya beku, keras, dan kokoh. Di mana mata yang memandanginya dengan gairah dan cinta?
Thalia menggelengkan kepalanya. Mendapati Alec tak bereaksi sedikit pun, Thalia kembali menunduk dan mengapit sisi kepalanya dengan lutut. Ini akhir hayatnya. Akhir hidupnnya. Akhir dari ceritanya. Hanya sampai sini. Setelah ia mati, akan banyak yang terjadi. Namun, ia tak akan pernah jadi bagian dari kronologi kejadian itu. Sebab ia telah mati. Dan tak akan hidup kembali.
Bahkan ia belum sempat mengucapkan selamat tinggal pada Alec.
Thalia mengingat suara letusan itu. Yang menentukan segalanya. Sebelum pikirannya dikuasai oleh ketakutan mendalam. Begitu dalam hingga rasanya begitu sesak dan sempit di antara kekelaman benaknya. Ia tersesat entah di mana. Tak tahu di mana arah ia datang. Tak tahu ke mana ia harusnya pergi.
Tapi, ia masih merasakan dadanya yang naik dan turun. Suara-suara menggelegar yang menggedor kesadarannya sembari berseru dan berteriak untuk melindunginya.
“BAWA TUAN PUTRI PERGI!”
“JANGAN BIARKAN SEYMOUR PERGI!”
“TEMBAK SIAPAPUN YANG MENGHALANGI!”
“TEMBAK LUTUT PRAJURIT ITU! IA TELAH MENEMBAK TANGAN TUAN!”
“TUAN PUTRI BANGUNLAH!”
Thalia membuka matanya perlahan. Bagai tirai yang ditarik buka, lambat dan pasti. Ia belum mati. Seseorang menarik lengannya susah payah. Berusaha mengangkatnya pergi. Putus asa, segera saja ia dipanggul ke atas bahu bidang. Bau keringat, darah, dan besi menyerbu penciumannnya.
Tirai yang membuka itu, kembali turun, cepat. Bahkan dalam penutup yang begitu singkat, Thalia sempat mengintip sosok kokoh itu berdiri tegap. Melawan banyak prajurit, dibantu oleh para pemberontak. Pistolnya kembali teracung pada Thalia.
“CEPAT BAWA TUAN PUTRI PERGI!” Entah siapa yang menyerukannya. Thalia hanyut dibawa ketidaksadaran.[]
HAIII. SELESAI SAMPAI SINI. Oke, jadi, bentar lagi udah mau tamat. . . . . perasaan saya… menyakitkan #duak. Makasih ya yang udah mau baca dan maaf atas segala kekurangan di bab ini. mohon dukungan berupa voment nya ^_^ jangan lupa ya authornya dimodusin #duak. Ehiya. Ini adalah nama pemenang di bab sebelumnya:
Komentator Pertama: Radha_mhrn
Voter Pertama: Radha_mhrn
Komentar Terbanyak: Queerara
Bab ini didedikasikan kepada DianitaDiansyah yang sudah berhasil menamatkan salah satu ceritanya: Contramande Wife :----)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top