Bab 13-1
Kepada seluruh pembacaku yang setia menunggu Ugly Royale,
Bab 13-1
Mimpi buruk terus menerobos waktu tidur Thalia. Hitam di balik kelopak matanya mendekam kian legam. Hitam yang menyesatkan Thalia dalam jurang dalam. Jatuh, jatuh, jatuh, semakin jauh. Padahal sudah dua kali saraf Thalia berguncang akibat pengalaman terjun ini. Namun, bahkan kini, Thalia tak sanggup membasmi ngeri yang mana berdengkung, meremas pacuan jantungnya, berkali-kali.
Jantungnya berdetak nyeri sementara dadanya seakan menciut. Napasnya terengah-engah takut. Ia menabrak lantai, keras. Tapi badannya tak merasakan sakit apapun. Mungkin takut menguasainya terlampau besar sampai-sampai ia tak menyadari sakit yang meradang. Bangkit dari tempatnya berbaring tidak berdaya, ia menoleh ke kanan dan kiri. Sekelilingnya hanyalah dataran yang dilingkupi hitam.
Dua malam yang lalu adalah Tristan. Semalam adalah ayahnya. Malam ini—Thalia hanya dapat memohon pada dewa menjauhkan yang terburuk darinya.
Lalu, sebuah singgasana besi yang berkarat perlahan timbul di tengah-tengah dataran. Sebuah bayangan berdiri mengancam di baliknya. Matanya merah dadu, tangannya mengacungkan bilah pisau pada seseorang yang duduk di atas singgasana. Lehernya tergorok, merah darahnya membuat warna bibirnya terkesan pucat. Kedua mata emasnya mencelak, tidak berkedip, tidak mengindikasikan kehidupan. Rambut hitamnya tersanggul rapi, dan itu, Thalia kira adalah hal yang paling mengerikan.
Sebelum Thalia menyadari bahwa ia memandangi dirinya sendiri.
“Thalia!” seru Alec, mengguncang pundaknya. Bulan terang menyinari profil sempurnanya. Cengkeraman pria itu pada pundaknya teramat keras. Thalia tidak bisa memastikan apakah tindakannya ialah niatan jahat atau takut kehilangan. Mungkin yang kedua.
Kedua lengan Thalia seolah bergerak sendiri, terangkat maju ke kehadiran tubuh Alec yang besar dan kokoh. Memeluk dan mencoba merengkuh keutuhan Alec dengan segala yang ia punya. Segala yang ia kenal. Yang kini segalanya perlahan berpisah dan menjauh, pergi entah ke mana.
Alec mengangkat bobot tubuhnya dari Thalia, perlahan. Ketika mata abu-abunya menelusuri labirin tragedi di emasnya. “Aku datang karena mendengar jeritanmu tadi.” Jari telunjuknya merapikan helaian hitam rambut Thalia. “Apakah kau sudah merasa tenang?”
“Aku rindu rumah,” bisik Thalia, “aku tidak bisa tidur di sini.” Rumah. Sudah nyaris seminggu Thalia diperintahkan ayahnya untuk tinggal di kastil pinggir desa sementara. Seusai pemakaman pamannya, Bartholomeu IV menyuruh beberapa pelayan mengemasi barang-barang Thalia. Demi keamanan, katanya, dan Alec juga akan di sana menemanimu.
Wajah Alec tampak lelah tatkala kata ‘rumah’ dilafalkan lidah Thalia. Kilat abu-abu matanya berubah redup. “Aku tahu. Tapi di sini aman bagimu Thalia. Sedang terjadi pergolakkan di ibukota dan beberapa kota lainnya. Ayahmu tidak mau kau terluka atau tertimpa musibah buruk, lagi. Begitu pula aku. Sudah cukup sekali bagiku melihatmu dilecehkan. Kau terlalu berharga untuk disentuh oleh sembarang orang. Terlalu berharga.”
Aroma tubuh Alec yang meresap ke dalam penciumannya menghalau jajahan rasa takut. Jemari Thalia menari di sepanjang tulang punggungnya. Kemudian, menelusuri rahang kuatnya. Napas yang diembuskan Alec beralih lebih berat. Lebih berat, serta lebih panas. Thalia tahu, hanya butuh satu gerakan dan bibir pria itu akan merampungkan hasrat yang mendadak muncul di permukaan bibir Thalia.
Satu gerakan—
Alec beringsut menjauh. Ketika bobot tubuhnya terangkat, Thalia merasa amat kosong. Seolah sebagian dirinya menghilang menyaksikan kaki pria itu menapak karpet. Punggungnya terpampang, Thalia bahkan tak tahu kapan pria itu membalikkan badannya. Namun, yang pasti, Thalia tidak ingin pria itu pergi.
“Jangan pergi,” mohon Thalia. “Tidur di sisiku.”
Terdengar langkah kakinya mengitari ranjang sebelum sebuah derit kayu ranjang. Thalia berusaha menyembunyikan kembang senyumnya. Mencoba menahan gelinya ketika napas Alec menyentuh bagian sensitif lehernya. Berjuang membendung rasa girang saat tangan kekarnya melingkari pinggang Thalia.
Suara parau Alec merasuki genderang telinga Thalia. “Apakah kira-kira dengan ini kau bisa tertidur?”
Thalia tidak menjawab, otaknya terlalu lelah untuk berpikir. Alec mengecup punggungnya. Sejurus kemudian, keduanya terlelap dalam satu irama napas konstan.
***
Thalia hendak menggoreskan pensil pada buku sketsanya ketika ribuan rasa jenuh menerjangnya. Menutup buku sketsanya, pandangannya terarah pada merah rerumputan dan biru langit yang terperangkap dalam bingkai jendela di kamarnya. Ia ingat sebagaimana benaknya menghapal uraian bau darah, dahulu dirinya dan Bartholomeu IV sering berlibur di sini.
Kastil ini sesungguhnya dipersembahkan kepada Ratu Allegra of Seymour, ibu Thalia. Sosok periang yang mencintai kesegaran alam. Pengasuh Thalia, yang tua baya, dulu sering mengisahkan seberat apa perjuangan ayahnya demi mendapatkan hati Allegra—seorang bangsawan yang berpikiran bebas. Perjuangan dua belas tahun itu akhirnya tergenapi ketika Allegra menerima lamaran romantis Bartholomeu IV yang disertai kastil indah.
Thalia tidak heran. Sebagai pencinta alam, ibunya pasti menyukai kastil ini. Sebuah rumah kaca dengan berbagai jenis bibit bunga dan tanaman, diimpor dari luar negeri. Lingkungan yang teramat asri dan damai. Tak banyak orang di sekitar sini, sebuah wilayah yang bernama Allegra (dinamakan demikian sebab kala itu, Bartholomeu dimabuk cinta). Dengan danau di utara sana.
Benar. Sebuah danau kecil yang airnya jernih. Thalia menutup buku sketsanya dan bergegas—nyaris lari membawa buku tebal itu—keluar kastil. Beberapa pelayan berwajah teduh bertanya dengan sopan ke mana gerangan dirinya hendak pergi. Namun, pelayan berparas masam hanya berjalan bungkuk melewatinya, berkomat-kamit mengenai kotor injakan Thalia pada lantai. Thalia mengabaikan keduanya meski dalam hati ia mengutuk kategori terakhir.
Udara segar rerumputan pagi hari menyeruak ke dalam hidungnya. Memenuhi relung paru-parunya yang terasa hampa. Angin musim gugur merecoki gelungan rapi rambutnya, menendang keluar beberapa helai rambutnya. Di sisi wajah maupun di lehernya. Aku pasti terlihat sungguh berantakan.
Tapi, Thalia terus berjalan lurus penuh tekad. Matanya sesekali memandangi sekeliling. Mengamati keindahan musim gugur yang datang entah dari mana. Suara renyah injakannya pada daun gugur menghibur gendang telinganya. Tanpa disadari, langkahnya telah terlalu jauh memijak ke dalam hutan serba-merah ini.
Nostalgia kembali mengayun dalam benaknya. Dulu, ayahnya sering sekali mengajak Thalia bermain di danau setiap musim panas. Ia ingat pohon di sana. Ia juga ingat pohon di sampingnya. Ia pula ingat bangkai kucing yang mereka temukan di bagian tanah sebelah sana. Dan ia ingat, kini, dirinya telah berada tak jauh dari cekungan air yang menyimpan banyak kenangan.
Satu langkah yang kemudian disusul dengan dua dan tiga, Thalia menyingkap semak belukar yang menghalangi pandangannya. Jantung Thalia seolah merosot saat punggung pahatan dewa itu menjulang dari air danau. Buku sketsa pada tangannya terabaikan begitu saja, pegangannnya melonggar. Matanya membelalak dan tidak mampu berkedip. Bukan hanya karena ia terkejut—namun ia pula terkesima.
Astaga. Satu kata untuk mendeskripsikannya adalah—astaga. Punggung Alec memenuhi pandangannya. Banyak bekas luka yang entah pria itu dapat dari mana. Bau tanah yang diciprat air danau meruap dan dalam angan-angan Thalia, ia membayangkan tubuhnya serta Alec berbaring di sana. Bersama-sama, bersatu, berdekapan, berciuman. Sukar menjaga benaknya agar tetap terarah pada hal lain ketika punggung seksi itu tak menyadari dirinya di baliknya.
Thalia mengulum bibirnya rapat-rapat, entah mengapa tak ingin Alec mengetahui keberadaannya di belakangnya. Entah mengapa, Thalia ingin menyaksikan punggung kekar itu sendirian—tanpa gangguan. Mengagguminya sendirian. Serakah, memang. Tapi kulit keemasan pria itu menggelitik bagian terdalam hati Thalia. Otot-otot yang berkedut sesekali mengirimkan getaran menggirangkan bagai tabuhan selaput gendang. Pundaknya lebar dan pipinya jadi memerah memikirkan telah berapa kali kepalanya bersandar di atas kenyamanan jantan itu.
Tubuh itu mendadak berbalik. Dengan cekatan Thalia bersembunyi di balik semak, menjauhi pantauan mata Alec.Thalia merasa geli, ia berlaku seperti seorang penguntit. Padahal apa yang ia lihat hanyalah punggung Alec. Yah, baiklah, punggung yang teramat seksi. Thalia menyadari, sebelumnya ia tak pernah melihat kulit telanjang pria itu. Ia sering membayangkannya, memimpikannya, tapi tak pernah melihat langsung. Apalagi menyentuhnya. Dan kini, pria itu telanjang, beberapa langkah jauhnya. Thalia bisa saja memanjangkan lengannya tadi dan meraba punggung keras itu—
“Thalia?” tanya Alec. Masih di dalam air, sepertinya. Syukurlah. “Kau di sana. Keluarlah.”
Thalia diam, tak berniat menjawab. Thalia curiga nanti Alec menganggap dirinya mesum, penguntit atau—
“Aku bersumpah padamu Thalia, jika dalam hitungan kesepuluh kau tidak menampakkan dirimu, aku akan datang menghampirimu bulat-bulat.” Suara kecipak air menegaskan ancamannya.
Thalia masih berteguh dalam duduknya. Ancaman kecil itu tidak akan meruntuhkan niatnya. Yah meskipun mendapati tubuh telanjang Alec di hadapannya adalah hal paling memalukan—
Suara jatuh air membuat Thalia tersentak. Alec serius. Langkah pria itu terdengar mendekat sementara darah dalam kulitnya berdentam penuh antisipasi dan—malu.
“Diam di tempat, Alec!” pinta Thalia nyaris menjerit.
Entah mengapa Thalia mampu mendengar senyum miring pada perkataannya. “Seperti yang kau inginkan, Putri.”
“Dan masuk ke danau,” ujar Thalia tegas.
Alec tidak menjawab, namun suara kecipak jelas terdengar. Bagus.
Merrenggut buku sketsanya dari tanah, Thalia berdiri penuh pertimbangan. Apakah sebaiknya Thalia lari menjauh atau mendekati tubuh—
“Kemarilah, Sayang.”
Satu kalimat dan itu cukup membuat Thalia memutar tubuhnya. Menyingkap semak-semak dan mendekati sosok pria yang menghantui detak-detak jantungnya. Thalia merasa langkah canggung dan jelek itu kembali seiring pipinya yang kian panas dibakar gairah. Gairah. Punggung itu tanpa berusaha dibuat menggoda sekalipun telah menyulut api hasrat di bagian bawah tubuhnya.
Tatapan Thalia menilik dada bidang milik pria itu. Tetesan air yang mengalir membentuk bulir bulir menggairahkan di tempat-tempat penuh provokasi. Bayangan berkabut menguap di benak Thalia. Menghitung berapa kali sudah payudara kecilnya bergesekkan dengan dada erotis itu. Beberapa detik kemudian, setelah berdiri diam di sana bergeming, Thalia menyadari mata Alec memoroskan fokusnya pada buku sketsa di tangan kanan Thalia.
Jelas pria itu tidak merasa tertarik mengamati gaun polosnya. Atau rambutnya yang berantakan. Andai saja ia telanjang—
“Duduk di tanah dekatku,” ujarnya sembari mendekatkan tubuh ke pinggiran danau.
Dengan cepat gairah itu sirna. Alisnya merrenggut—Thalia sendiri tak tahu artinya apa. Namun, jantungnya berdetak kian cepat. Bukan karena debaran menyenangkan melainkan oleh memori traumatis. Selama ini ia menghindari genangan air yang mampu menenggelaminya. Ia pernah bersumpah pada dirinya sendiri tak akan lagi tertipu dan terperangkap oleh pria bermuka dua. Seperti Alec.
Hening, tak ada suara selain gemerisik dedaunan hutan. Dan samar bulir peluh di punggung dan dahinya. Padahal kini musim gugur yang membuat tulangnya menggigil. Ia tak habis pikir keringat akan membasahi tubuhnya. Membasahi tubuhnya akan kenangan yang nyaris menghancurkan keyakinannya.
Keyakinannya bahwa pasti ada pria, meski ia cacat atau tak sempurna, yang mampu mencintai Thalia tanpa menghitung keuntungan apa, kelak diraupnya. Seperti, kekuasaan dan gelar. Uang dan tanah. Kastil dan perhiasan.
Tapi, pria itu menggoyahkannya.
Pada akhirnya, di antara tekanan dan paksaan, Thalia mengambil beberapa langkah—tak terlalu dekat dengan danau—lalu, duduk.
Tangan Alec terjulur dari bawah permukaan danau, meraih jemari Thalia. Perlahan, ia meremasnya dan menggodanya untuk turun ke bawah. Namun Thalia menolak, menggeleng. Kekecewaan menyerbak di paras tampannya dan Thalia merasa serba salah. Hanya mengapung bersamanya. Lagipula dulunya ia mahir berenang. Dulunya. Kini, ia takut—
Alec menyerah pasrah. Meski tampak kesal, suaranya selembut dan sejernih nyanyian malaikat ketika bertanya, “Kau takut pada air. Itu sebabnya kau enggan berenang bersamaku. Ada apa sebenarnya?”
Bibir Thalia bergetar ragu saat menjawab, “ Sesuatu.”
Tubuh Alec tersingkap sedikit dari air. Perutnya keras dan terstruktur rapi nan kokoh. Biceps-nya tertata sempurna dan kencang. Apalagi yang bisa diharapkan dari Alec? Fisiknya sempurna. Dan kesempurnaan itu bahkan lebih indah lagi kala sikunya bertumpu pada tanah. Wajahnya sejajar dengan milik Thalia. Pada jarak sedekat ini, Thalia mampu menelusuri detail konkret pada mata Alec yang nyaris ia abaikan. Perubahan warna matanya. Kini ia berubah kebiruan. Penasaran, mungkin?
Bibirnya mengecup bibir Thalia, sekali, dengan gemas. Ia memiringkan kepalanya sebelum mengulum bibirnya agresif, kasar, dan tak sabaran. Thalia mencondongkan wajahnya ke depan untuk menikmati lebih banyak apa yang telah ditawarkan Alec padanya. Sebuah ciuman. Ah, sebuah penaklukan. Alec membiarkan Thalia menaklukan dirinya.
Thalia menumpukan lututnya pada tanah dan beringsut pada kehadiran Alec yang basah dan menggoda. Seiring uluman bibir yang memabukkannya, Thalia berusaha memusnahkan bentangan jarak di antara mereka. Kian merunduk dan membungkuk, Thalia meresapi esensi bibirnya yang tak habis direguknya.
Dada pria itu kini menempati perut Thalia dengan sempurna. Tangannya berkeliaran menyusuri kancing gaun Thalia di belakang sebelum turun ke bawah, menangkup bokongnya. Mengelusnya beberapa kali dan setelahnya menyingkap satu persatu lapisan kain yang membungkus kulit halus Thalia. Tangannya berhenti di sana, membeku, sementara napas keduanya berubah berat dan panas dan lembab dan menggairahkan.
Pada kesempatan yang amat sempit, Thalia mengulur lidahnya membelai lembab bibir pria itu. Seolah bergantung pada Thalia, Alec menurutinya dan memberikan akses lebih pada Thalia. Lidah pria itu datang menyambutnya sembari kedua lengan Thalia memosisikan letaknya pada leher liat Alec. Lidahnya menjelajah keluar dari bibir Thalia. Menjilat pipinya dan membentuk sejalur gairah basah di sepanjang lehernya—
Thalia menegang dan membeku saat menyadari tubuhnya kini mengambang di permukaan air. Pegangannya pada leher Alec berubah jadi cakaran. Sebab kini berpegang saja tak akan cukup. Membutuhkan penekanan dan penancapan agar dirinya dapat keluar dari danau ini hidup-hidup.
Hidup, itu apa yang Thalia ragukan sejenak setelah menyadari dirinya berada dalam danau.
Jantung Thalia berdentam lambat dan mengerikan. Seolah-olah itu bukan jantungnya. Thalia telah lama tak mengenal irama detakan ini. Irama yang sama seperti lima tahun lalu. Saat ia tak mampu bernapas. Tak mampu kembali ke daratan meski kemampuan berenangnya tak lagi diragukan. Sebab seseorang di atas sana menahan kepalanya tetap di dalam air.
“Iblis.” Thalia melingkarkan kakinya ke sekeliling pinggang kokoh Alec. Oh. Ia bergantung pada seseorang yang ia sebut iblis. Hebat. “Kau menggoda dan menipuku, Reyes.” Nadanya merupakan lakuran antara ngeri juga murka.
Alec menyudutkan punggung Thalia pada pinggiran danau yang liat. Lehernya bertumpu pada tanah tempat di mana Alec menggodanya. Kedua tangan Alec berada di sisi tubuh Thalia, memenjaranya antara panas tubuh Alec dan dingin angin musim gugur. Kejantanannya yang telanjang menekan paha Thalia, tapi kali ini, itu semua tak mengusik hasrat Thalia. Mata Alec berkilat perak, telah kembali abu-abu. Pria itu jelas bergairah meski tindakannya meyakinkan Thalia sepenuhnya bahwa ia hendak mengulur gairahnya. Menarik gairahnya masuk ke tempat yang sepantasnya.
“Maaf, aku tak tahu kau sangat takut,” mohon Alec. Bibirnya maju hendak mencicipi apa yang tadi mengusung gairahnya.
“Lebih tepatnya trauma.” Thalia berusaha menggerakkan kakinya. Namun saraf-sarafnya seolah lumpuh; ia tak mampu bergerak selain mencakar punggung Alec. Thalia segera menghentikan cakarannya, mengingat luka-luka mengerikan pada punggung pria itu.
“Beri tahu aku, Thalia.” Kecupannya bermula di sisi pipinya yang kemudian turun ke lehernya, menyentuh titik sensitifnya.
Thalia menyikut wajah Alec menjauh. “Bawa aku kembali. Ini bukan saat yang tepat untuk menggodaku. Dan asal kau tahu aku tidak akan menjawab perintahmu itu—“
Jemari Alec membelai permukaan bibirnya. Segala ucapan dan ketakutannya perlahan memudar. “Kumohon, beritahu aku.”
Thalia menghela napas berat sebelum berkata, “Aku—“
“Kali ini tak ada godaan dan gairah. Hanya ada kau dan aku serta apapun yang ada di antara kita—kepercayaan, mungkin,” ujarnya, “dan kalau kau percaya padaku—beritahu aku. Mengapa kau takut pada air, Thalia?”
“Bawa aku kembali.” Suara Thalia bulat dan sukar pecah.
Alec merapatkan tubuhnya pada Thalia. Suaranya sama tegas sebagaimana milik Thalia. “Bukankah aku pernah mengatakannya? Kau aman bersamaku—dan kini aku sedang mengajarimu agar tidak takut. Aku di sini bersamamu. Aku tak akan membiarkanmu tenggelam. Bukankah peristiwa di Lane End telah menjelaskan segalanya?”
Pertahanan Thalia runtuh dalam rasa aman. Rasa aman—itu adalah apa yang belakangan ini Thalia sadari ada pada diri Alec. Mengapa ia masih juga meragukannya? Sebab ia mengingatkanku pada seseorang yang kukira cinta pertamaku.
Mulut Thalia membuka. “Namanya Cain Abernathy. Dua tahun lebih tua, usiaku tiga belas saat itu. Ia lima belas. Pria itu—“
“—membuatmu terlena dan jatuh dalam perangkapnya yang kaupikir cinta,” lanjut Alec. Mata Alec membesar digelung rasa bersalah. Raut wajahnya mengeras, entah apa yang dipikirkannya. Angin yang menerpa tubuh Thalia mendadak berubah kejam. Dengan sadis mengirimkan serbuan gigil ke tiap sarafnya.
“Maaf. Seharusnya aku tahu itu. Maaf.” Alec memeluk Thalia erat-erat. Dalam dekapannya itu, kehangatan menjalar perlahan. Dingin angin tak lagi mengusiknya. Langit yang tiba-tiba gelap tak juga mengalihkan perhatiannya. Alec mencurahkan segalanya pada Thalia—rasa sayang, aman, dan segalanya. Segalanya. Tapi sebuah ketidakyakinan masih bergemuruh dalam hati Thalia. Ia tak bisa—demi dewa, mengapa Thalia meragukannya?
“Kau tahu,” Thalia berucap tak percaya. Dalam dirinya berkecamuk perasaan antara meninggalkan dan menikmati dekapannya. Berseteru sampai-sampai Thalia tak mampu mengendalikan dirinya sendiri; tak bisa mengembalikan akal sehatnya. Meski begitu, ia tahu dengan pasti, Cain ada hubungannya dengan Alec.
Thalia tahu Cain sepupu Alec. Tapi ada sesuatu yang lain. Mengganggu benak Thalia dan satu-satunya hal yang membuat Thalia tetap diam dalam pelukannya di sana. Meragu dan meragu dan meragu. Menanti jawaban. Bukan. Ia menanti saat di mana nanti segala hal yang dicurahkan Alec hanyalah debu berlalu bagi Thalia. Semudah itukah?
Jakun Alec bergerak susah payah. Ludahnya ditelan seolah itu batu. Suara berdeguk langit seakan memaksanya berbicara, “Aku ingat. Kami bertaruh. Bertaruh menenggelamkanmu—astaga aku tak percaya aku bahkan pernah—“
Tangan Thalia melayang, mengenai tepat pipi Alec dan segera membuatnya merah karena nyeri. Alec tak menggeram, ia hening dalam diamnya. Bergeming. Sampai-sampai Thalia takut pria itu akan tenggelam. Astaga, takut? Biarkan saja pria itu tenggelam sampai mati di bawah. Mengendap, digerogoti apapun yang ada di sana.
Cekatan, Thalia naik ke tanah. Demi dewa, untung baginya, kakinya tak lagi terasa lumpuh meski ngilu. Gaun basahnya memperlambat gerakannya. Kesempatan itu dipergunakan Alec dengan cukup baik. Alec meraih pergelangan tangannya dan menghentikan segala gerakannya.
Dan terimakasih, telapak tangan pria itu tergelincir saat hendak membawa Thalia mendekat. Memberi penjelasan mungkin. Makan saja penjelasanmu. Kau pernah bertaruh membunuhku—kau selalu begitu, pikir Thalia. Kemudian, langkah kakinya membawanya entah ke mana. Yang pasti menjauhi Alec—pembunuh itu.
Apakah darah tak cukup mengerikan bagi Alec?
Teriakan Alec memanggil nama Thalia menusuk gendang telinganya. Seakan dikejar setan, Thalia memacu langkahnya cepat. Kali ini, entah mengapa, namanya terdengar bagai sumpah serapah saat dilafalkan Alec. Apakah senandung antara sayang dan gairah itu telah sirna dari pita suaranya? Ataukah selama ini hanya Thalia yang membayangkan pria itu menyayanginya?
Hujan jatuh bagai beban dunia pada dirinya. Deras menderu, kepala dan punggungnya seolah dihujam ratusan anak panah. Apakah ini rasanya dieksekusi mati? Darah kembali membayang di sudut benaknya. Di sudut matanya. Di sudut jiwanya. Tubuh Thalia sekejap menggigil. Dinginnya menggigit dan—
Thalia terperanjat, kemudian menjerit saat sebuah kilat menyambar pohon tak jauh dari sini. Bau hangusnya menusuk penciuman Thalia. Api. Demi dewa apakah ia harus mati terbakar sekarang setelah menjadi barang taruhan anak-anak tak tahu diri? Thalia menjauh dari bau hangus dan mengarahkan langkah ke barat sementara mendekap buku sketsanya erat-erat. Menjaganya tidak basah walaupun Thalia tahu itu percuma.
Hujan bagai ribuan tirai tipis yang membentang dari langit. Thalia tak bisa melihat apapun di hadapannya. Hanya sedikit merah dan serbuan angin dan hujan yang kejam itu. Thalia bahkan tak lagi dapat mengandalkan ingatannya. Semua jalan yang ada disembunyikan tirai tipis sadis ini.
Thalia bersandar pada sebuah pohon. Mencoba bertahan dari serangan angin dan beristirahat. Dihujam hujan tidaklah mengerikan bagi Thalia. Namun, kehilangan arah serta melawan badai—itu mengerikan. Entah mengapa sekelilingnya berubah mengerikan. Tiba-tiba saja ia mengetahui bahwa tunangannya pernah bertaruh membunuhnya. Tiba-tiba saja badai datang menghancurkan pandangannya. Tiba-tiba saja ia kehilangan arah.
Apakah ada yang lebih buruk dari ini?
“THALIA!”
Tak barang sedetik bagi Thalia untuk melompat, menghindari dari suara yang mencari-carinya. Sejurus kemudian, sebuah kilat menyambar pohon yang menjadi sandaran punggungnya barusan. Api berkobar di dahan paling atas, namun menghilang cepat.
Air hujan memusnahkan api sementara sesosok pria membayang di balik pohon itu, berlari-lari. Dadanya naik turun tak teratur. Wajahnya seolah baru saja menyaksikan hal paling mengerikan dalam hidupnya. Matanya membelalak begitu lebar—cemas dan takut—Thalia bahkan yakin bola mata itu akan keluar jika pria itu tak juga berkedip.
Alec mendekati Thalia dan mengangkatnya. Pria itu mengenakan kemeja dan celana hitam yang keduanya basah kuyup. Dada bidangnya tercetak teramat lekat. Naik turun dengan sinting. Kemudian, Alec memeluk Thalia dan berbisik,
“Sial, Thalia. Apakah kau mencari mati?”
Tidak. Aku menghindarimu.
Alec mengecup gigil pada rahang Thalia sebelum mendekapnya erat-erat sembari berjalan maju, melawan angin yang menyerbu. “Kudaku ada di pohon di timur laut—kurasa kalau kita memacu—“
Bibir Thalia bergetar sakit saat mencoba berkata. Pada mulanya, suaranya tak mau keluar, bisu. Tenggorokannya tercekat dan napasnya tersendat-sendat. Alec mengeratkan lengannya pada tubuh Thalia. Tak ingin tergelincir seperti yang terakhir kali. Membiarkan apa yang disayangnya terselip keluar begitu saja. Degup jantung Alec berpacu kencang. Jadi, ini adalah detak jantung seorang pria yang mencariku di tengah badai. Perasaan lega menyeruak ke sudut-sudut hati Thalia yang sedari tadi menjerit sesak. Thalia menghirup napas perlahan dan mengembuskannya.
“Ada pondok kecil dekat sini,” ujarnya pada Alec, tersendat-sendat serta tak jelas. “Kurasa di barat.”
Pria itu mengangguk.[]
Sampai di sini aja ceritanya. Pertama-tama mau terima kasih sama kak @elziee @AngelWhiten @Anitafitriyash yang udah mewarnai boks komentar di bab 12-3 :v. Terima kasih buat @alitmas yang mau jadi temen baru aku di bbm yang super bawel dan banyak tanya. selamat buat kak @radha_mhrn yang udah jadi komentator pertama, anda mendapat hadiah berupa dedicate :p hehek. makasih buat kak @endahend @kyuzha yang setia komentar di setiap bab, memberi masukan dan kadang-kadang keluaran.. #plak. pokok e makasih buat kalian semua orang orang imud yang ga kalah cemungudh.. semoga aja bab ini ga mengecewakan.
dan omong omong, pas satu minggu kan? :p
Lagu yang didengarkan ketika menulis cerita ini:
Where We Left Off – Hunter Hayes
Cheers – Rihanna
Our Last Night – Better Than Erza
Bang-Bang – Knaan ft Adam Levine
Harder to Breathe – Maroon 5
Buku yang lagi dibaca:
Mata yang Enak Dipandang by Ahmad Tohari
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top