Bab 12-2

Kepada seluruh pembacaku yang setia menunggu Ugly Royale, 

Kata 'memasak' yang nanti ditemukan di bab ini berasal dari kata dasar 'pasak'



Bab 12-2

            Seolah usai menempuh lintasan paling muram dalam mimpi buruknya, Tristan sama sekali tidak tergoda untuk menoleh ke belakang. Deru amarah yang merecoki hatinya membangkang, tidak mudah diredam. Tidak mudah ditaklukan. Amarah teramat dahsyat berporos pada perasaan Tristan sendiri. Kenyataannya sebening kaca, tidakkah Tristan jera? Menyimpan cinta bagi Thalia itu percuma.

            Ketika mendapati pintu kamar Thalia terbuka, Tristan berubah waspada. Tristan tak akan membiarkan satu bahaya menjamah wanita itu lagi. Tidak akan. Tangannya kukuh menggenggam pedang, siap menebas orang. Siapapun itu yang mengancam keamanan Thalia, Tristan tak akan merasa enggan memotong kepalanya. Eksekusi mati.

            Barulah Tristan hendak melabrak kayu tebal pintu itu, bencana datang disuguh oleh kesialan hidup. Alec berada di atas Thalia. Pintu tidak membiarkan Tristan mengetahui lebih jauh. Namun, bukan berarti pendengarannya mampu berdusta. Suara kecup, geraman, gigitan, belaian, dan desahan. Desahan Thalia.

            Sesuatu dalam diri Tristan menegang. Gairahnya mengamuk bebas. Mendambakan pelepasan leluasa luas yang tak akan bisa dipuaskan. Mendambakan Thalia, memasukinya dan dipenjara dalam relung itu selama-lamanya. Namun, kemudian, Tristan menyadarkan diri sendiri. Tak sepantasnya ia bergairah di saat Alec—bajingan itu, seharusnya Tristan memutus jiwanya pagi tadi tatkala Alec terlelap (Baginda Bartholomeu IV menghadiahkannya tempat peristirahatan seusai perjalanan yang sangat melelahkan)—mencumbu Thalia, cintanya.

            Mengingat siapa yang membuat Thalia bergairah tidak lain ialah pria selain dirinya, mendatangkan gelombang rasa mual ke sekujur tubuhnya. Jantungnya berhenti berdenyut, menguarkan sesak memenuhi relung dadanya. Dengan kalap, Tristan menyarungkan kembali pedangnya secepat kilat. Ia bahkan tidak menyadari kakinya mengambil tiga langkah sebelum satu detak jantungnya.

            Tiap jengkal nadinya seakan membutuhkan penopang demi mengalirkan darah, demi melancarkan hidup Tristan. Sembari berjalan, Tristan takut memikirkan kemungkinan hatinya kelak runtuh bersamaan dengan seutas benang rapuh yang menggantungnya pada harapan. Harapan bahwasanya Thalia menyimpan rasa padanya; ia tahu itu benar.

            Tristan bahkan tidak bisa melupakan percikan gairah di mata Thalia ketika Tristan mengelus sisi wajahnya. Setipis apapun rasa itu, Thalia pasti menyadari kejang yang mengalir di antara keduanya. Rona pada pipinya kala itu mengindikasikan satu hal. Degup jantungnya cepat sebagaimana darah berdesir kencang tanpa ampun di pembuluh Tristan. Satu sentuhan, hanya itu yang Tristan butuhkan, untuk meyakinkan dirinya bahwa tersedia tempat, meski teramat kecil, di hati Thalia.

            Tapi, ia merasa dipermainkan. Dipermainkan dunia, sepertinya. Mengapa dunia tidak mengizinkannya membangun keyakinan itu sedikit lebih lama? Mengapa dunia menghancurkannya tiba-tiba? Menumbangnya di depan matanya. Melipurnya di antara celah pintu itu. Mungkin seharusnya Tristan tidak pernah mengintip. Mungkin, seharusnya Tristan tidak pernah mencintai Thalia.

            Sebab, Thalia mencintai Alec. Dan Tristan hanyalah pria yang mengamati dari jauh wanitanya dibuai pria lain. Tristan tak mampu mendekat. Mendekat hanya mendatangkan jarak yang bahkan lebih lebar lagi. Paradoks itu terasa lucu, entah bagaimana. Nasibnya memang mendatangkan sebuah kabar yang hambar.

            Hambar, ulang Tristan dalam hati.

            Mungkin ia butuh pengalihan perhatian. Sebuah pelepasan.

***                                              

            Penyiksaan. Interogasi.

            Tristan diberi kehormatan untuk menginterogasi Naumann. Namun, ia tahu apa yang akan dilakukannya bukan hanya sekedar bertanya. Ia akan memukul, menendang, dan menyayat, memotong anggota tubuh, kalau perlu. Dendam mendekam di hati Tristan sejak dirinya bertemu langsung dengan Naumann. Sekarang semuanya begitu pasti. Tristan memang ingin menumpahkan berbagai siksaan kejam, tidak bisa dibandingkan dengan kejahatan yang dilakukan Naumann selama ini.

            Naumann ditahan di Chyrus, penjara yang terisolasi di bagian paling kelam Gemma. Pria itu beruntung kepalanya tidak langsung putus dini hari tadi. Perintah Baginda Bartholomeu IV. Padahal, kala itu, Tristan tidak segan menancapkan anak panahnya tepat di jantungnya. Menghalau aliran darahnya. Namun, sebagai abdi Reibeart yang baik, Tristan terpaksa mematuhi perintah atasannya.

            Mungkin Raja hendak menonton langsung kematian seorang pria yang menculik putrinya. Putri tersayangnya, yang cantik dan manis, Thalia. Napas Tristan tercekat melafalkan nama itu. Cepat-cepat Tristan menggugurkan sekelebat memori akan senyum Thalia. Senyum sepuluh tahun lalu. Yang masih bersembunyi di balik usang gaun dan kusut rambutnya. Yang jelitanya hanya Tristan tahu.

            Yang masih milik Tristan, sepenuhnya, seutuhnya.

            Menjejakkan kaki ke dalam pagar besi, lebih tinggi dari mercusuar yang ada di dalamnya, Tristan memperhatikan lingkungan bersih penjara. Raja memerintahkan orang-orang mengecat dinding penjara setahun sekali. Tetapi, darah seolah tumbuh dan merambat, berceceran di dinding-dinding putih penjara.

Wajar saja. Toh, ini adalah penjara khusus buronan kelas kakap yang diminta mati oleh petinggi kerajaan. Upaya memenjarakan mereka pasti sesusah menenangkan kejantanan pria yang kerap kali bereaksi memandang tubuh molek nan seksi milik Anastasia—

Anastasia.

Jika berhak merasai kehidupan, jubah abu-abu yang dikenakannya pasti akan merasa sia-sia. Jubah usang kasar itu tidak cukup mengasingkan lekuk tubuhnya yang menonjol. Wajah cantiknya menoleh ke kanan ke kiri, ke sana kemari, mengincar keamanan. Bibirnya merah, merekah sempurna, membelah indah, menghirup napas. Pipinya merona; sepanjang pengetahuan Tristan, wanita itu tidak mudah puas atau malu. Anastasia jelas tidak malu menatap Tristan tepat di mata. Wanita itu pasti tergesa-gesa seusai lari.

Dari apa?

Langkah Tristan memakan jarak besar-besar. Sebelum Anastasia sempat berbelok di sudut bangunan, Tristan meraih lengannya. Wanita itu tidak terkejut melihat Tristan. Anastasia bergeming, menggigit bibirnya, Tristan kira itu ekspresi kengerian. Namun, belati yang tersampir di tangan sebelahnya teracung. Dengan sigap Tristan menghindar.

Wanita ini punya nyali, pikir Tristan. Anastasia terus menebas, cekatan. Tristan mengamati merah yang menguar di sekitar belatinya. Offensive Zahl, dan wanita itu menggunakan Zahlnya dengan cermat. Tristan tak lagi dapat meneruskan kekagumannya tatkala Anastasia menggunakan kesempatan kecil itu untuk berbelok dan berlari.

Larinya cepat, namun tak cukup cepat bagi Tristan. Semudah menjentikkan jari, lengan Tristan menghadang jalannya di satu sisi, kemudian di sisi yang lain. Anastasia meronta, meski begitu, ia tidak kehilangan akal. Anastasia merunduk dan hendak lari melalui celah di antara lengannya ketika Tristan merapatkan tubuh besarnya kepada wanita itu. Seketika lembut tubuhnya memetik gairah Tristan.

Tristan harus menyingkirkan hasrat dari suaranya sebelum berkata, dengan parau—sial, “Kau tidak bisa lari.”

“Di saat kau bergairah padaku? Aku bisa menggodamu lebih dari ini, Sir Schiffer.” Mata birunya berkilat mengancam. Anastasia menggesek pinggulnya dengan milik Tristan. Dan benar apa ucapnya, Tristan memang bergairah serta tergoda.

Tangan Tristan turun untuk menghentikan gerakan erotis itu.

“Lihat betapa mudahnya kau menurunkan tanganmu. Lepaskan,” pinta Anastasia. Meski begitu, Anastasia tidak bergerak menghindar. Wanita itu samar-samar beringsut maju, menekan intim. Sementara Tristan memperat pegangannya. Apakah ini mengindikasikan sebuah kenyamanan? Bahwa wanita di hadapannya ini juga menginginkan apa yang sedang bergemuruh di hatinya. Pelampiasan.

Entah bagaimana tubuh Tristan melembut. Anastasia seolah—sempurna bagi dirinya. Thalia tidak pernah terasa pas dalam dekapan tubuhnya, wanita itu kecil dan rapuh. Namun, Anastasia tinggi, liat, dan kuat. Dekapannya pasti akan terasa penuh, cacat hampa. Sembari meneliti sudut dagunya yang naik angkuh, Tristan bertanya-tanya apa rasanya mencucup kulit lembut di sana.

Tristan memulai, “Kalau yang kaucari adalah si Reyes, pria itu tidak ada di sini.”

Mata Anastasia menyipit, antara rindu dan kesal. “Aku tidak mencarinya,” kata Anastasia. “Sekarang, lepaskan, Sir Schiffer.”

Telapak Anastasia merambat ke atas punggung tangan Tristan. Menikmati kehangatan tangannya yang menakjubkan. Benar, memang terasa pas. Tristan menggenggam tangannya itu, mengelusnya tiap detik, membawanya ke sisi wajah Anastasia. Kulitnya seputih susu dan cerah. Bulu mata gelapnya panjang, mencium pipi tiap kali kelopak matanya menutup—berkedip.

Ya Tuhan, Tristan tidak berkedip mengamatinya.

            Tapi, hanya sampai sana Tristan menyadari fakta menggelikan itu. Kasar pada lengan Anastasia memaku perhatian Tristan pada tangannya. Luka sayatan yang agak dalam serta terlihat teramat sadis, mengukir buruk kulit putihnya. Melihat ini, Tristan terkenang akan sekujur lengan Alec yang dipenuhi luka. Luka lama dan baru.

            Tristan mengangkat sebelah tangan Anastasia. Luka-luka yang serupa juga tertoreh di permukaan kulit di sana. Sebersit iba bagai penyakit yang meradang, berdentum di lubuk perasaan Tristan. Jantungnya berdetak agak lama dan berat dan menyakitkan. Tristan tidak tahu bagaimana ia menggenapkan keyakinan ini. Namun, ia tahu, ini adalah sebuah hukuman. Hukuman atas perbuatan keliru yang dilakukannya.

            “Cukup.” Anastasia menyentak kedua tangannya dari pegangan hati-hati Tristan. Tristan terlalu takut menyakitinya lebih jauh. Entah bagaimana ia telah melupakan kekesalannya ketika kali pertama bertemu dengan hak sepatu wanita ini. Saat itu Anastasia tampak mencurigakan. Tristan hanya menjalani kewajibannya saja. Dan atas kelancangan Tristan menyentuh lengannya sembarangan, sepatu hak Anastasia menghantamnya.

            Tristan kembali menemukan kedua tangan Anastasia. Sebut saja ia bajingan, Tristan tidak akan peduli. Memang benar Tristan hendak merasakan kesempurnaan tubuh mereka yang saling menerima. Tapi, Tristan pula mencari jawaban atas pertanyaan yang mengganggu pikirannya. Alec menerima hukuman dan Tristan mengerti Reyes membenci Seymour. Sedangkan, Alec menyelamatkan seorang Seymour, berkali-kali. Tristan mengerti.

            Tapi apa yang dilakukan seorang wanita cantik seperti Anastasia? Tak bisakah dirinya lari dari hukuman itu? Sebagaimana dirinya tak kehilangan akal berupaya lari dari penjara tubuh Tristan.

            “Ini,” ujar Tristan mengelus lukanya perlahan dan hati-hati, ia tak akan menyakiti Anastasia, “jelaskan padaku apa ini.”

            Wajahnya tampak bengis, suaranya terdengar sadis. Namun, tangannya tak beranjak dari elusan lembut itu. “Itu luka.”

            “Apa yang menyebabkan luka ini, kalau aku boleh tahu?” Tristan berbisik lirih.

            Anastasia hanya memalingkan wajahnya ke kanan. Maniknya memusatkan perhatian pada satu titik. Tetapi, wajahnya tetap tenang dan terkendali. Seolah-olah ia tidak melihat apapun, hanya bermaksud mengalihkan fokus. Wanita ini cukup berbahaya, pikir Tristan.

            “Kau sudah menahanku cukup lama, Sir.” Anastasia tersenyum lemah. “Aku memiliki urusan di berbagai tempat. Dan aku tidak bisa berlama-lama di sini, permisi.”

            Lagi, tangannya tidak beranjak. Tristan mengangkat sebelah alisnya. “Kau yakin kau ingin pergi?”

            “Ya,” ucapnya tanpa basa-basi. Mukanya pucat, matanya merah dan bibirnya terulum menjadi satu garis yang anehnya, menyedihkan. “Lepaskan aku.”

            “Jawab aku, Miss. Ada apa dengan segala luka di tanganmu? Dan urusan apa yang mengharuskanmu datang ke tempat sebejat ini?” Tristan menggeram. Kehilangan kesabaran merupakan satu hal buruk. Ia mengembuskan napasnya keluar dan masuk. Ia tidak akan menambah hal buruk lainnya dengan mengamuk.

            Anastasia menyentak tangannya cepat dari genggaman Tristan. Menyelinap dari bawah lengan Tristan. Tristan menangkap sebelah lengannya, tangkas. Ia tidak akan membiarkan jawaban atas semua itu menggantung di bibirnya yang gemetar. Wanita itu, sesungguhnya, siap mengutarakan segalanya. Sedikit dorongan—

            “Aku tidak akan menyakitimu, Anastasia,” ujar Tristan lembut dan perlahan. Perlahan merambat ke tiap syaraf paling dalam, yang merasai tekanan. Dan syaraf itu tidak bereaksi apapun. Suaranya tanpa tekanan, murni perlahan. Murni mencari jawaban dengan lembut.

            Bibir Anastasia mengatup, membuka, bergetar. Lidahnya acap kali terangkat, membelai langit-langit mulutnya. Tristan menegang membayangkan lidah lincah itu di dalam mulutnya. Menghancurkan pertahanan dirinya. Meranggaskan perasaannya pada Thalia. Ya, wanita ini mampu. Tristan yakin akan hal tersebut.

            Mata yang merah sekaligus pucat itu, pada akhirnya, meruntuhkan pertahanannya. Setetes tangis mengalir di sudut mata kiri Anastasia. Bibirnya mengembang, tersenyum. Sedangkan matanya berjerih payah membendung sedih segala nelangsa. Tangan itu mengepal; sebuah tekad yang telah lama dilafal.

            “Kalau kau tidak melepasku, kau akan menyakitiku, Tristan.” Serak. Berbagai perasaan tercampur aduk di antara relung tenggorokannya. Menyumbatnya, memusnahkan kekuatan yang pernah ada di sana. Tidak. Kekuatan itu tidak pernah hilang. Dan kini, Tristan tidak bisa lebih yakin lagi, bahwa Anastasia setegar singa betina yang menjaga anaknya. Menjaga sumpahnya, mungkin, batin Tristan.

            Mau tidak mau, Tristan melepas lengannya. Jawaban itu luput ditelan garis horizon. Kian menjauh dan mengecil. Tidak akan menyakiti. Persetan, tapi apa daya?

           

            ***

           

            Pintu besi itu menutup, mengirimkan suara bedebam agung ke genderang telinga Tristan. Setelah mengusir dua serdadu yang menjalankan kewajiban mereka dengan teramat baik, akhirnya mereka berdua mendapat kesempatan untuk berbicara hanya berdua. Tatap muka, empat mata. Interogasi dan siksaan.

            Beberapa kali Tristan mengurung godaan untuk menyiksanya. Melihat luka di tangan Anastasia sungguh mempengaruhinya. Ia tidak pernah takut membunuh, tentu saja. Bahkan ketika Thalia terluka sebagaimana dini hari tadi, nyali serta tekadnya demi darah tidak pernah berkurang. Namun, ketika hatinya serasa dihujam ribuan serpih es tajam, melihat sedih dan pengakuan samar dalam mata Anastasia, nyali yang dibanggakan Tristan selama ini sirna begitu saja.

            Tristan mengaitkan pedang di sebelah tangannya. Ia ingin dipandang sebagai pria yang mengintimidasi—setidaknya oleh Naumann. Naumann duduk di tengah-tengah ruangan, kesakitan dan sepertinya kelaparan. Tidak ada satu petugas pun yang akan menghidangkan makanan tepat waktu di penjara terisolasi, kepada puluh buronan kelas kakap di sini. Maksud mereka; kalau kau mati, mati saja.

            Toh, mereka tidak akan bisa kabur. Mereka terpasa menghadap ajal di sel masing-masing. Atau, bertemu mati di sebuah eksekusi umum. Tristan sungguh tak sabar menanti hari di mana kejahatan Naumann akan berakhir. Tristan begitu yakin bahwa dirinya akan menjadi salah seorang penembak dalam gugusan eksekusi mati itu.

            Kepala Naumann tertunduk, pasrah akan hidup, mungkin. Kedua tangan dan kakinya dibelenggu dengan rantai nyaris abadi di dunia, rantai Waisenburg. Hanya dengan darah yang membelenggu rantai itu akan membuka. Tristan tidak tahu siapa yang mendapat kehormatan mengukung tungkai Naumann. Yang pasti, itu bukan dirinya. Tristan telah memperoleh agak sedikit banyak kehormatan. Mereka tak akan membiarkan Tristan memonopoli yang satu ini pula.

            Simbah darah melekat di lengan kursi besi yang terkesan sadis. Darah Naumann, entah bagaimana Tristan yakin. Tubuh pria itu yang lunglai dan wajah pias pria itu membuktikan segalanya. Seseorang memukulnya, mungkin, dan darah keluar bercecer dari mulutnya. Membasahi kursi. Seseorang telah menyiksanya terlebih dahulu. Tristan merasa tersaingi.

            Mendadak saja, kepala itu mendongak. Namun, tidak ada darah menggumpal di sekitar mulutnya. Perasaan kecewa menyerbu bagai dinamit yang meranggaskan segala senang. Dugaannya salah. Darah apa itu?

            “Tuan Pengawal,” mulai Naumann. Masih menemukan suaranya di antara penjara menyeramkan ini.

            “Kau tidak berhak mengeluarkan pernyataan selain untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku.”

            “Menginterogasiku,” dengusnya, “dan kau hanya berdiri di sana sedari tadi. Memperhatikanku bagai itik sinting.”

            Gagang pedang Tristan mengancang-ancang. Sejurus kemudian, Tristan menghantam sisi kepalanya. Naumann tidak berkutik. Malah sebuah senyum miring terkembang di mulutnya yang kering. Mata cokelat gelapnya membesar seolah siap berubah jadi siluman serigala paling mengerikan. Urat di lehernya mengembang dan mengeras, mencium permukaan kulitnya. Pengendalian dirinya nyaris sempurna.

            “Dimulai dari pertanyaan yang sederhana meski tanganku gatal membunuhmu—sebutkan nama aslimu.” Sesungguhnya Tristan tahu siapa pria ini. Saat dirinya masih kecil, mengunci diri di Kediaman Schiffer, pria ini pernah datang beberapa kali. Wajahnya saat itu masih segar dan cerah dan bersih; ciri khas bangsawan terpandang. Tahu-tahu saja, reputasi Naumann sebagai pembunuh bayaran melejit, pesat, pelik. Dunia gelap menganggapnya sosok yang amat tersohor.

            Tidak seperti dugaan Tristan (lagi), Naumann menjawab jujur, “Sir Andrew Wade Rayne.”

            “Umur.”

            “Empat puluh tiga.”

            “Nama ayah.”

            “Lord Robert William Rayne.”

            “Apakah kau yang membunuh Lord Rayne?”

            “Ya,” ucapnya getir.

            “Mengapa?”

            “Kakak laki-lakiku, Adrien Wilson Rayne berjanji akan memberiku tunjangan ketika gelar Robert jatuh ke tangannya.”

            Tristan mengernyitkan dahinya. “Menurut informasi yang kubaca, kau memiliki sebuah estat kecil di barat daya, dekat lautan. Apakah itu tidak cukup?”

            Tiba-tiba saja, Naumann mengalihkan pembicaraan. Sebuah topik yang menyinggung hati Tristan sendiri. Hatinya begitu sesak, seolah ditendang akal sehatnya, ketika pertanyaan itu terlontar dari bibir Naumann.

            “Kau mencintainya, bukan?”

            Tristan harus mengatur irama napas serta detak jantungnya sebelum merespon dengan tegas, “Kau mengalihkan pembicaraan. Di sini aku yang bertanya—“ Tristan mengacungkan ujung bilah pedangnya ke leher tebal Naumann, “kau menjawab.”

            Naumann memamerkan giginya yang putih dan agak berantakan. Menyodori lehernya kepada Tristan, menantang. “Kau mencintainya, aku bersumpah melihat mata hijaumu lelah hidup memandang putri itu di dekapan Reyes.”

            Darah keluar dari celah irisan Tristan. Tristan terus mengiris menunggu Naumann meringis. Tapi, pria itu tidak kunjung mendesah sakit. Baginya ini sekedar pedih yang kelak terobati. “Apa urusanmu dengan semua itu Naumann?”

            “Coba kau pikir; mengapa aku membunuh ayahku demi sebuah jaminan. Mengapa aku membunuh kakakku setelahnya.” Naumann terengah-engah. Irisan itu, akhirnya, menyakitinya.

            “Sebab kau psikopat gila?” Tristan menyarungkan kembali pedangnya. Ia akan mengiris perlahan. Menyiksanya lambat-lambat.

            Naumann menjawab, “Wanita. Seorang wanita, sesungguhnya, Sir Schiffer.”

            Tristan menegang. Naumann tersenyum girang memandang tubuh Tristan yang mendadak kaku. Tidak berkutik bagai karang yang terempas ombak. Bukan, batin Tristan. Lebih tepatnya, ia adalah gelas yang jatuh perlahan ke lantai. Menyerpih dan tak bisa berbuat apapun. Lumpuh, diam, dan serpihnya tersebar. Entah ke mana.

            “Aku mencintainya,” ucap Naumann, “amat mencintainya. Dia seorang wanita jelita, seiras putrimu; rambut hitam, mata cokelat, bibir merona, dan pipi sewarna jambu. Mungkin itu sebabnya aku berlagak sedikit lembut di hadapan putrimu.”

            Memori dini hari tadi berkelebat di benaknya. Spontan, suara besi itu kembali merajai ruangan. Tristan keluarkan pedangnya lagi, memasak kaki Naumann tanpa ampun. Begitu dalam, ujung pedangnya menyentuh lantai besi. Naumann menjerit histeris seolah dirasuki setan. Di antara jeritannya, ia mendesis. Tristan meraung, “Kau melecehkannya, brengsek! Kau menyentuhnya! M.E.N.Y.E.N.T.U.H.N.Y.A.”

            Pedang itu dibiarkan Tristan tetap bersangkar di kakinya. Wajahnya memerah dan nadinya tampak seolah akan meledak dan menghamburkan aliran darah. Menahan rasa sakit itu terasa kejam, pikir Tristan, toh, ini setimpal dengan segala perbuatan jahanam yang pernah ia lakukan. Naumann meneruskan perkataannya, “Ia temanku sejak kecil. Maniknya senantiasa tersenyum manis padaku. Ia bersikap terlampau baik padaku dan terkadang, juga menggoda. Kukira ia mencintaiku. Aku hendak menikahinya—itu mengapa aku membutuhkan tunjangan lebih banyak—aku ingin menghadiahinya pernikahan yang teramat layak.

            “Estat kecil yang kausebut itu, hanyalah bagian kecil dari pencitraan Robert. Robert tidak pernah menganggapku anaknya—aku anak haram. Estat itu tidak pernah ada. Aku luntang-lantung dibuatnya, asal kau tahu.”

            Kata itu merunjam hati Tristan. Anak haram. Apakah Naumann tahu fakta itu: bahwa Tristan adalah anak haram Schiffer. Dan selama ini Tristan bersembunyi di bawah bayang-bayang keluarga sembari mengubur identitasnya begitu dalam. Menghindari ibunya di Kastil Seymour demi sebuah tujuan. Agar rahasia itu terjaga rapat serta ketat.

             “Setelah membunuh jambangan itu, aku memperoleh sejumlah uang yang bukan main banyaknya. Namun, cinta yang kupercayai selama ini, hilang begitu saja. Paras Adrien memang tampan. Wanita terlena di hadapannya. Kusangka wanita satu ini berbeda; ia akan menolak Adrien seandainya kakakku itu melamar. Tapi, ia menerimanya. Wanita itu menerimanya. Lalu, selama ini apa yang aku perjuangkan? Persetan dengan cinta. Ia berlaku baik padaku, tersenyum, dan seringkali memberikanku kecupan, namun ia tidaklah berbeda dengan yang lainnya. Ia mengerlingkan harapan dan mengembusnya di detik selanjutnya.

            “Dendam mendekam di diriku. Tidak perlu dua kali bagiku untuk berpikir. Aku membunuh keduanya tepat di atas ranjang; malam pertama. Aku jijik mendengar erangannya—jijik mendengar desahan Adrien. Di mataku, mereka tak lebih dari dua binatang haram penuh dosa mencoba menyatukan nafsu. Aku juga tak yakin itu adalah kali pertama mereka melakukannya. Memang benar, mereka itu binatang haram.”

            Naumann meringis sementara jemarinya konstan mengetuk lengan kursi. Ketenangan dan kesakitan. Takjub, entah bagaimana, logika pria ini masih berjalan lurus meski kakinya dihujam pedang. Takjub, entah bagaimana, nyali itu memang ada di dalam diri Tristan. Tekad untuk mencacah tubuh Alec jadi ribuan keping daging. Menghanyutkannya beberapa di sungai, menerbangkannya di angkasa, membakarnya di gunung berapi, menjadikannya makanan bagi babi-babi di peternakan.

            Ia tahu perasaan Naumann. Dan ia pun murka karenanya. Ia juga dicampakkan. Bukan, ia tidak dicampakkan. Selama ini Thalia memang tak pernah menaruh perasaan padanya. Tristan hanya selalu mengharapkan lebih. Membual pada diri sendiri bahwa rona pipi itu untuknya. Membual pada diri sendiri bahwa Thalia mencintainya meski setitik.

            Namun, Tristan tidak pernah berkehendak membunuh gadis rapuh itu. Gadis yang siang malam Tristan impikan—jauh atau dekat. Tristan mengasihinya, ia tidak akan pernah membunuhnya. Menyakitinya pun mustahil. Naumann salah—apa yang pria ini rasakan adalah kesalahan.

            “Kau salah. Kau selama ini salah,” ujar Tristan, “kalau kau mencintainya kau akan menjaganya bukan membunuhnya.”

            Desis menyerupai ular terselip keluar dari antara mulut Naumann yang kering. “Tidakkah kau memiliki niatan membunuh pria itu—“

            “Memang, dan kau akan mati. Akan kupastikan itu dengan moncong senapanku sendiri.” Tristan dengan tangkas merenggut pistol dari pinggangnya. Meletuskannya beberapa kali, tepat ke dada Naumann. Mengharapkan sebuah kematian cepat daripada eksekusi lusa nanti. Pria ini terlalu berbahaya untuk dibiarkan lepas. Meski hanya beberapa menit—

            Naumann masih duduk dengan tegas.

            Demi dewa. Peluru itu tidak membunuhnya.

            Tristan gelagapan menembakkan peluru bertubi-tubi ke dadanya. Tapi tak selirik darah pun mengalir dari tubuhnya. Tristan memasukkan peluru baru ke dalam pistolnya. Bidik kepalanya.Tristan meluruskan lengannya dan membidik kepala Naumann. Kematian cepat. Cepat. Namun, Tristan kurang cepat.

            Tiba-tiba saja kedua pergelangan kaki dan tangan Naumann terjuntai bebas. Menarik pedang itu dari kakinya. Darah di kursi itu. Sial, Tristan sudah menduganya. Darah itu pasti milik petugas penjara yang—Anastasia, abdi Reyes. Itu sebab kenapa Anastasia menginjakkan kakinya ke dalam Chyrus. Anastasia hendak membebaskan Naumann. Wanita jalang.

            Tiga peluru meluncur dari moncong pistol Tristan. Naumann mengelak cepat. Seolah-olah dapat melihat garis samar yang menjadi jalur luncur peluru. Tangan kekar Naumann menahan kedua tangan Tristan di balik punggung. Tepat di akhir tulang punggungnya. Tulang tengkorak Tristan seolah nyaris remuk ketika Naumann menghantam kepalanya ke dinding besi penjara. Pedang terulur di leher Tristan, siap menyabet dan memenggal.

            Pintu penjara itu terbuka dan dua petugas penjara masuk. Menenteng pistol di lengan. Namun keduanya tidak berkutik. Idiot. “Tembak dia!” pinta Tristan.

Naumann memelintir pergelangan tangan Tristan. “Keduanya tak lain adalah anjing Reyes, asal kau tahu.”

            Jantungnya merosot. Akhir hidup, mungkin. Sial. Perhatian Tristan teralihkan semenjak Naumann membahas perasaannya. Pria itu sengaja. Betapa mudah fokus Tristan menghambur ketika Thalia merasuki benaknya. Thalia, cintanya. Cintanya yang membawanya ke bibir jurang kematian. Namun, kemudian ada Anastasia. Wanita molek itu. Setidaknya, jika ia diizinkan menghirup udara esok hari, ia bersumpah akan memburu Anastasia sampai mati.

            Anastasia mengecohnya dengan mudah. Bencana.

            “Wanita itu datang beberapa saat yang lalu beserta kedua orang itu,” mulai Naumann. “Ia suruhan Marilyn—mantan asisten pribadi Alec. Betapa bodohnya serdadu yang menjagaku. Hanya dengan satu ciuman dari Anastasia, pertahanannya runtuh. Wanita itu segera menuangkan darahnya di ruangan ini. Kemudian ia melontarkan padaku rompi anti peluru dan sebuah kabar baru. Wanita itu kuat, tak heran ia berani masuk ke Chyrus sendirian. Kau tidak akan bisa bertahan satu ronde dengannya.”

            “Persetan dengan ronde—“ Tristan menendang Naumann. Pria itu menyingkir. Tapi, itu adalah segala yang Tristan butuhkan. Sepersekian detik yang amat menentukan. Tristan menggigit tangannya sampai darah pria itu menohok lidahnya. Sementara Naumann masih berusaha pulih dari keterkejutannya, Tristan cekatan meraih pedang itu. Berlari ke belakang Naumann dan melabraknya ke dinding. Kali ini Tristan yang menodongkan bilah itu pada lehernya.

            Kedua anjing Reyes menyerbu maju. Namun dengan satu manuver berputar-memukul, kedua pria itu tumbang. Tristan menekan pedang itu lebih dalam ke leher Naumann. Ia PASTI dan AKAN memutus kepalanya.

            “Kau pintar mengantisipasi keadaan, Schiffer,” ujar Naumann kumur-kumur. Ketika berbicara, jakunnya bergetar mengenai kematian itu. Tentu saja ia tidak punya nyali untuk berbicara jelas-jelas. Sebab Tristan menekan keras tanpa ampun.

            Tristan mengepalkan tinju dan menghantam dagunya berkali-kali. Suara retakan dan patahan menghias telinganya. Naumann tidak diam saja—ia melawan. Berkali kali mengelak, menghindar, serta memukul. Tapi Tristan bagai malaikat yang baru saja dibuang dari surga. Kalap, keji, dan mencari dosa.

            “Sebutkan permohonan terakhirmu. Aku tidak akan mensia-siakan kesempatan untuk membunuhmu kali ini.” Tristan mengapit dagu kotak Naumann dengan tangannya, erat. Wajah biru itu menatapnya setengah hati. Setengah hidup.

            “Permohonan terakhir?” dengus Naumann, lalu meludahi wajah Tristan. “Aku mau kau mati—“

            Tristan menghantam kejantanannya. Deru sakit itu sudah pasti mengguyur tubuh Naumann. Wajahnya memerah, mulutnya membendung serapah. Tapi ia masih sembunyi dalam pengendalian dirinya. Ia tak mudah melepas topengnya itu. Khas Reyes. Benar juga. Rayne salah satu pro-Reyes.

            “Kau akan mati terlebih dulu, keparat!” Tristan menghantamkan kepala Naumann ke dinidng besi di belakangnya. Namun, sekeras tekadnya, kepalanya tidak jatuh ke alam bawah sadar.

            “Tidak.” Naumann menyeringai keji. “Kau akan mati, Schiffer.”

            “Apa—“

            “Kau tak akan mengantisipasi apa yang kelak terjadi.”

            Lalu, desing menembus genderan telinga Tristan. Sebelum dapat mempelajari apa yang terjadi, lintasan cahaya melesat di hadapannya. Detik selanjutnya, cahaya itu terburai dengan sadis, nyaris membutakannya. Tanah bergemuruh, langit-langit runtuh. Chyrus meledak.

            “Kau mati, Schiffer.” Suara parau itu satu-satunya hal yang diingatnya.

            Sebelum dunianya menjadi gelap. []

Maaf baru bisa upload--hari-hari sekolah dipenuhi sama tugas tugas setumpuk yang ga ada habis-habisnya. Tapi aku upload tepat seminggu kan? HEHEHE. Terimakasih sudah membaca. Semoga menikmati #eh. dimohon dukungannya berupa vote dan komentar. karena tanpa kalian semua, cerita ini ga akan sampai sini. :}

Lagu yang didengarkan ketika menulis cerita ini:

1. Your Song - Ellie Goulding

2. Hollaback Girl - Gwen Stefani

3. Bite My Tongue - You Me At Six

4. The Bump - Ed Sheeran

Buku yang sedang dibaca: 

Da Vinci Code - Dan Brown :)

Sekian dan terimakasih.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top