Bab 11-2
Kepada seluruh pembacaku yang setia menunggu Ugly Royale,
Dibaca dengan peringatan pada diri sendiri,
Bab 11-2
SIAL.
Alec tak berniat menarik kembali umpatannya. Keadaannya sekarang mungkin tengah menjadi bahan tertawaan para dewa di Nirvana. Malu mengguncang harga dirinya tatkala ia mengingat betapa gagah-berani-mati dirinya membelah malam. Apakah ini ganjaran baginya yang bulat sudah tekadnya menyelamatkan seorang pujaan hati, namun membedil banyak korban impitan krisis finansial (atau cacat psikologis).
Alec mencuri lirik pada sumber bau busuk alkohol di belakangnya. Sebab tak ada kuasa yang cukup mengalihkan perhatian Alec pada lorong batu tanpa ujung di hadapannya. Daripada dilanda jemu akan eksekusi di bawah tanah, Alec lebih tertarik membiarkan dirinya merumuskan seribu cara memutilasi siapapun yang menggerayangi tubuh Thalia. Tubuh yang indah itu, yang hanya patut dihargai oleh sentuhan Alec, yang mesti diperagungkan tiap pria di dunia ini. Tapi mereka menjamah tubuh mana seharusnya menjadi wilayah Alec semata. Salah satu dari mereka harus telungkup minta ampun di bawah kakinya.
Tampaknya, mereka yang ditugaskan menangkap kawanan Alec adalah sekelompok buronan pemalas dengan otak udang. Alec tidak tahu harus merasa bagaimana; ia merasa diremehkan. Namun, ia pula merasa girang. Tangan Alec memang diikat di balik punggung, mata lima buronan Reibeart mencatuk masing-masing gerakan mereka. Tapi ia tahu harus bertindak apa dengan senjata yang tak dilucut habis, dengan mata yang bebas melempar pandang.
Sekarang, apa yang menjadi masalah adalah pengalihan perhatian. Mereka butuh pengalihan perhatian demi menyerang balik. Alec dengan berani menoleh ke belakang. Belum sempat ia melancarkan kontak mata pada Tristan, ia sudah mendapati dirinya dipaksa mencium tanah tambang. Tersungkur. Tangan berlemak seorang buronan menekan tengkuknya, melindas batang hidungnya ke tanah berpasir.
Di antara amarahnya, ia menemukan satu momen tepat, sebuah pengalihan perhatian. Ini adalah pengalihan perhatian. Selagi tawa kelima buronan bergaung dan langkah kawannya berhenti mengetuk tambang, ia perlu mengandalkan kecepatan tangannya. Ia membiarkan bilah pisau yang ia simpan di dalam lengan jaketnya meluncur ke telapaknya. Dengan cekatan ia mengiris ikat tali yang membelenggunya. Tidak ada yang menyadarinya. Sempurna.
Satu.
“Tidak kusangka kau terobsesi bau tanah sebegitu dalamnya, Reyes.” Suara di atasnya meledek dan terus menghina. Diiringi dengan gelak khas bandit di opera manapun. Pemain opera memang merekayasa peran, namun tampaknya tak merekayasa realitas tawa. Mari kita lihat sampai hitungan ke berapa kau tertawa; sampai hitungan ke berapa sebelum kau melolong minta tolong sebab kejantananmu (yang mungil itu) dihujam pisau, batin Alec.
Dua.
Tali terurai, Alec bebas membuat air mata berderai.
Tiga.
Jikalau kau membekap mulut kami sebelum satu, maka kejantananmu mati dalam tiga, pikir Alec. Mengayun kencang tangannya ke belakang, tampaknya Alec berhasil mengenai sasaran. Tawa mencela yang lalu telah beralih pada kekuasaan jerit histeris. Si buronan tersungkur, wajahnya ungu. Tanpa ragu Alec meraih pistol yang jatuh di samping pinggang buronan ungu. Alec tidak kehilangan keseimbangannya sekalipun bangkit gesit. Ia menginginkan keselamatan Thalia dan apa yang ia kehendaki patut dipenuhi.
Meski itu artinya mematikan jiwanya sendiri.
Alec meletuskan peluru tiga kali. Masing-masing untuk satu kepala. Darah muncrat, menyiprat dalam warna pekat. Buronan yang terakhir berusaha kabur. Lari ke kegelapan lorong, hendak melaporkan bencana buruk pada buronan lain yang bertugas menjaga lift dari bawah sana. Namun, dengan mudah Alec menyaingi larinya, seringan bulu Alec membanting tubuh itu ke tanah.
Tangan Alec menekan pistol ke pelipis pria di bawahnya. Pria itu menggigil ketakutan, seolah-olah ia sedang berhadap muka dengan dewa setan es—atau semacamnya.
“Hendak lari? Kau seharusnya bersyukur aku tidak mengebirimu.” Alec mengangkat tubuh pria itu hingga berdiri. Codet di wajahnya menyiratkan ketangguhan atau mungkin kekecutan. Melihat penyerahan diri yang begitu mudah, Alec mencoret kemungkinan pertama.
Bayang-bayang tinggi di hadapannya menyingkap tubuh empat manusia yang bugar dan siap mengabdikan nyawa bagi putri. Tristan dan ketiga tentara Reibeart maju mendekat.
“Tadi itu gila,” mulai Tristan.
Alec mengangkat bahu, senapannya masih teracung di permukaan pelipis pria di depannya. “Tiap detik yang kita habiskan sama dengan sebuah sayatan di tubuh putrimu. Aku tidak punya pilihan lain,” ujar Alec. Matanya memicing curiga pada empat pasang tangan yang bebas. “Jangan bilang kau gunakan pisau terkutuk itu.”
Tristan menggeleng, balik membalas kecurigaan mata Alec. “Kami menggunakan pisau Aiden.” Tristan mengedikkan kepalanya pada sosok penakut di depan Alec. “Mau kau apakan dia?”
“Kau akan lihat nanti.”
Mereka pun berjalan menembus tambang, kian dalam.
***
Pada satu titik—titik terakhir, tepatnya—usai ribuan belokan kanan dan kiri, sebuah lift kini berdiri di hadapan Tristan. Lift usang, namun kinerjanya tak kalah dengan lift serupa yang masih baru. Bau besi menguar dari bingkai lift. Bau yang nyaris menyamai darah; sama-sama ‘besi’. Darah.
Terbersit puluhan serpih mimpi yang menghantuinya semalam. Mimpi yang mana tak persis sama namun berkesinambungan. Mimpi di mana Thalia duduk, kedua pergelangan kaki dan tangannya terikat besi. Erat dan mustahil mengelak. Darah melumuri tubuhnya. Seolah mengancam akan memakan. Tristan mengusir firasat buruk itu jauh-jauh. Ia hanya dapat berharap Thalia seutuh sebagaimana terakhir kali mereka berpandang.
“Tu-turunkan liftnya. Aku membawa para tahanan,” ujar si buronan pada pipa di dekat lift yang menghantar suaranya ke bawah sana. Mereka masuk dan lift mulai bergerak turun. Seakan-akan dunia runtuh perlahan, tanpa siasat, tanpa syarat.
“Jadi ini maksudmu, Reyes? Lift ini hanya bisa bekerja dari bawah?” Tristan tersenyum dan menepuk bahu Alec. “Kau menguasai medan, Reyes.”
Alec tidak menjawab, namun Tristan menangkap seberkas rasa bersalah dan murka di tiap kedut wajahnya yang sedari tadi mengeras. Tristan bertanya-tanya, seberapa seringkah Alec mengunjungi tempat penyiksaan yang terkutuk ini?
Suara tangan yang mempererat pegangannya bernyanyi mengiringi derit lembut lift usang. Tristan mendapati moncong pistol dengan sadis mengapit pelipis si buronan. Helaan napas berat menyelip di antara mulut Tristan, pasrah. Alec tidak akan membiarkan pria ini hidup.
Menyadari kenyataan bahwa ruangan di sekitarnya bertambah gelap dan lembab, detak jantung Tristan berdenyut kencang dan tidak konstan. Peluh membasahi tengkuk dan tangan mana yang pernah berbuat tabu. Tristan menahan gentar. Tapi, ketika ia menoleh ke samping, mata jelinya mengungkap getar-getar yang nyaris tak kasat mata pada tubuh Alec.
Alec pula gemetar. Apakah yang akan dihadapi mereka berlima seburuk itu?
Pintu lift membuka. Kelopak mata Tristan belum sempat berkedip, Alec, dengan ketangkasan dan keganasannya, melempar tubuh si buronan ke samping kanan. Kepalan tangan kirinya menghantam seseorang di kiri. Bunyi gemeretak tulang menusuk genderang telinganya, melabraknya ke kenyataan.
Alec membalik punggung, selihai angin mengembus dedaunan. Tangannya menyingsing, pistol itu terancung ke kanan; ke dinding di mana si buronan dilempar. Dua buah peluru meluncur dalam sejurus detik. Tiga kematian dalam tangan seorang representatif keluarga musuh rezim Reibeart. Entah mengapa, Tristan merasa lega Alec, setidaknya dalam misi penyelamatan ini, tidak di sisi bertentangan dengan prajurit Reibeart.
Kalau tidak, Tristan tidak tahu siapa yang akan tumbang terlebih dahulu.
Jemari panjan Alec mengindikasikan mereka untuk keluar dari lift. Aman. Mengamati Alec, Tristan tahu bahwa ada ini dalam diri Alec; sebuah perasaan membara yang membakar segala kasihan dan menghanguskan pertahanan. Sebuah perasaan menghancurkan yang siap mengorbankan dirinya sendiri kapan pun dibutuhkan. Demi Thalia, demi keselamatan seorang wanita yang belum begitu lama ia kenal. Demi perasaan yang bergejolak di tiap inci tubuhnya, di satu inti hatinya. Bahwa ia akan menyelamatkan Thalia, bagaimana pun caranya.
“Kalian semua lihat, di sini adalah tantangan sebenarnya.” Suara Alec parau namun persisten. Sarat amarah dan pengendalian diri.
Di hadapan Tristan, terbentang ribuan pintu di kedua sisi dinding. Pandangan Tristan tidak bisa menemukan ujung dari kegilaan ini. Apa yang ada di jauh sana ialah ribuan pintu membaur dalam kegelapan. Lorong ini mengingatkan Tristan pada dua cermin yang saling dihadapkan. Pintu yang terus muncul. Menanti dibuka. Menanti mangsa. Memerangkap jiwa.
“Aiden, kau tinggal di sini. Jaga lift. Jangan biarkan lalat lain masuk,” pinta Tristan pada salah satu prajurit. Berambut pirang, bermata gelap. Namun, tidak ada yang bisa menandingi kegelapan di depan sana. Lorong yang menuju entah ke mana dengan penerangan redup dari puluhan obor.
Alec menguak banyak senjata dari balik jaketnya. Apakah itu kantong dimensi, Tristan tak berniat bertanya. “Kita akan membukanya satu per satu. Bagaimana pun caranya, Thalia harus selamat.”
Selamat datang seribu pintu.
***
Libasan dingin air menghantam buka kelopak mata Thalia. Menuruni seluk lekuk dan tulang Thalia yang terpapar. Nyaris telanjang bulat dan tidak berdaya, di bawah penjara calon ibu mertua yang busuk. Yang lapuk. Sekujur tubuhnya terasa perih dan bengkak dan dingin. Bibir keringnya—pecah-pecah—mengais air yang mengabaikan haus kerongkongannya. Kondisinya saat ini terlampau buruk.
Apa yang akan Alec pikirkan jika pria itu melihatnya sekarang?
Tidak, pikir Thalia di antara amarah. Alec mustahil tidak tahu Lady Marilyn—ibunya, mengurung Thalia di bawah tanah. Alec pasti tahu. Dan ke mana pria itu selama Thalia dipermalukan, ditampar, dan dilecehkan di penjara lembab ini? Apakah Alec tidak mengkhawatirkannya? Tidak menyukainya? Tidakkah Alec merindukannya? Apa yang pasti adalah fakta bahwasanya Alec tidak mencintai Thalia.
Selama bersembunyi dalam keheningan tatkala dirinya dilecehkan suruhan Marilyn ini, Thalia akhirnya mengakui fakta tersebut. Alec tidak mencintaimu. Pria itu tidak akan mendekap jiwamu dengan jiwanya. Pria itu tidak akan menyentuh bibirmu dengan kasih. Pria itu hanya mengeksploitasi dirimu demi sebuah pemuasan gairah. Thalia menelan getir yang mengambang di pangkal lidahnya.
Betapa Thalia memohon pada dewa, dalam setiap detik yang telah ia habiskan di sini, ia
inginkan pertolongan. Dari Tristan. Ayah. Atau Alec. Alec selalu menolongnya, menyelamatkannya. Tidak terhitung berapa kali Thalia terperosok dalam bahaya dan pula Alec setiap kali mengangkatnya dari ancaman jiwa. Tapi, kali ini, manakah pria itu? Bermata abu-abu dan berambut cokelat?
Dagunya terangkat oleh dua buah jari kasar. Mata Thalia naik perlahan, menancapkan pandangan pada pria di hadapannya. Naumann. Napas Thalia tercekat. Kakinya menendang tanah berupaya mencari jalan keluar. Punggungnya jatuh ke belakang, keringatnya menempel dengan kursi. Tangannya mengepal semakin erat, menggenggam tiada. Atau mungkin, menjaga inti hidupnya.
Sebelum ini Naumann tidak pernah mendekat lebih dari satu meter. Pria itu selalu melangkah jauh jikalau kawannya melecehkan Thalia. Naumann tidak melarang mereka menjamah tubuh Thalia; tapi ia tidak ikut berkerumun mengecup rambut hitam Thalia. Tubuh besar hitam itu acap kali berdiri samping pintu, mengawasi Thalia dengan waspada.
Thalia berasumsi, entah bagaimana, Naumann merupa semacam ketua atau pemimpin di dunia kriminal. Mungkin disebabkan oleh pembawaannya. Mungkin juga oleh karismanya saat mengaungkan perintah. Tidak ada yang menolak perintahnya. Perintahnya adalah garis antara hidup mati. Kau melaksanakan, hidup. Kau mengabaikan—
Mati.
Nauman menyusuri pipinya yang lecet, berhenti pada ujung untai berantakan rambutnya. Pria itu merunduk cukup dekat sampai-sampai Thalia mampu membaui tembakau di mulutnya. Bibirnya mencium rambut Thalia. “Tatap aku,” katanya.
Thalia memalingkan wajahnya ke kanan, menghindari Naumann. Benarkah perintahnya merupakan garis antara hidup dan mati? Biarkan Thalia menantangnya.
Tangan Naumann mencengkeram rahangnya, membawa muka Thalia semakin dekat dengan hidung bengkok pria itu. “Aku tidak mudah menyerah, Putri. Kau lari, kukejar. Kau memalingkan wajahmu, kucengkeram rahangmu.”
Menyentakkan kepala dari cengkeraman Naumann, Thalia berusaha menendang pria itu menjauh. Sesuatu yang selama ini berhasil menjauhkan pria-pria biadab ini. Namun, setangkas predator yang telah mengawasi dari jauh, Naumann menggapai betisnya. Nyaris meremukkannya, berhenti ketika Thalia takut berkutik.
Naumann berlutut di hadapannya. Mencium tempurung lututnya yang kotor. Thalia menahan godaan untuk tidak meludahinya. Thalia cukup pintar untuk mengetahui lebih baik Naumann menyentuhnya. Thalia mengarahkan fokus pada lima lelaki yang berjudi di depan pintu. Meja besi itu menahan pintu, satu-satunya jalan keluar dari penjara ini.
“Kau tahu kenapa aku membangunkanmu pada pukul satu pagi, Putri?” Naumann akhirnya berkata. Jemarinya bermain dengan telapak tangan Thalia.
Thalia menggelengkan kepala. Tenggorokannya terlalu perih untuk berkata. Ia butuh air. Setidaknya otaknya tidak lelah berpikir.
“Mereka datang,” jawab Naumann. Seringaian jahat merambat ke kilat mata cokelatnya. Garis samar-samar di sudut matanya kian jelas. “Mangsa utama telah datang. Kau harus melihatnya mati.”
Bukan aku tujuan utama kalian?Kenapa aku harus melihat seseorang mati?
Naumann menjepit dagu Thalia dengan ibu jari dan telunjuk. “Jangan heran, Putri. Dan jangan pula berkecil hati. Kau termasuk dalam santapan utamanya. Tapi sebelum itu, ada pertunjukan utama. Pertunjukan sebelum santapan, bagaimana menurutmu?”
Bulu kuduk Thalia meremang.
“Tampaknya kau tidak menyukainya.”
Thalia menggeleng. Tulang lehernya seakan-akan hendak putus. Ia terlalu banyak menggeleng. Akhirnya, didorong dengan rasa penasaran yang merembes, Thalia mencoba berkata. Namun, suaranya seolah menyatu dengan hening abadi. Tenggorokannya masih sakit, ia tidak yakin ia mampu berbicara. Jadi, mulutnya membentuk kata; siapa?
Naumann mengangkat alisnya. “Dua hari di bawah tanah rupanya menumpulkan otakmu.” Seringai pembunuh berantai mengembang di wajahnya. “Siapa? Tentu saja, priamu Alec of Reyes. Dan seorang yang tak kami harapkan, pengawalmu, Putri, Tristan Schiffer.”
Pada detik Naumann mengucapkan nama Alec, jantungnya berhenti berdetak. Dan pada saat nama Tristan terlintas dari mulutnya, dunia seolah retak. Kepalan tangannya telah terurai, kelima jarinya gemetar. Gentar akan takdir yang tak lagi kabur. Darah dua pria yang—yang ia sayang—terancam melebur. Di dalam tangan kriminal bayaran.
Air mulai meruap di sekitar matanya. Mulutnya megap-megap, tak lagi mencari air, tapi harapan. Sekarang semuanya akan hancur. Tidak ada lagi debaran hangat bersama Tristan. Tak ada lagi gairah dalam kabut mata Alec.
Hancur.
“Terlalu banyak kesalahan,” ujar Naumann tiba-tiba. Membangunkan Thalia yang dirundung jalan buntu. Thalia sempat berpikir Naumann hendak menghiburnya. Namun, apa yang Thalia temukan dalam wajah Naumann hanyalah hasrat akan darah. Terimakasih, Pembunuh, kau sangat membantu. Bagaimana kalau bunuh aku sekarang daripada menyaksikan dua pria itu mati?
“Alec-mu terlalu banyak membuat kesalahan. Satu sampai sepuluh bahkan tidak bisa menampung perbuatan apa saja yang telah menyinggung kekuasaan ibunya. Namun di atas itu semua, yang perlu kau ketahui, putriku, adalah satu hal,” kata Naumann. “Ia mengkhianati keluarganya sendiri demi dirimu. Kau tidak tahu betapa tergila-gilanya ia padamu. Menampik ibunya menjauh. Kau bisa bayangkan itu? Semuanya demi Thalia Ersa of Seymour.”
Bibir Thalia gemetar antara senang dan sedih dan cemas. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia sudah cukup senang seseorang melihat cahaya itu dalam mata Alec. Cahaya sarat hasrat yang bergelimang di mata kelabu Alec. Pria itu masih bermuka dua; ia berusaha mengelabui keluarganya. Namun, tidak ada yang membuat Thalia lebih bahagia daripada fakta bahwa pria itu datang.
Pria itu di sini. Pria itu akan menyelamatkannya. Dan Alec tak pernah gagal. Obor di sisi dinding seolah membakar pipi Thalia. Semburat merah merona di kedua pipinya. Hidup berkumpul kembali. Napas kembali berembus konstan dari paru-parunya. Tangan Naumann yang menelusuri Thalia tak lagi membuatnya ngeri. Alec di sini. Itu cukup.
“Dan di sini adalah panggung terakhir hidupnya. Di tanganku, sutradara paling cakap di dunia. Sutradara skenario pembunuhan berencana.” Naumann terbahak-bahak. Kelima pria yang di meja judi sempat terkejut, namun tawa mereka mulai meleleh bersama. Melakur.
Naumann membuka satu per satu besi yang membelenggunya sembari menoleh ke belakang sesekali, ke meja judi. “Mari kita bertaruh, Putri.”
Kedua belenggu kakinya telah terbuka. Kulitnya menyambut baik aliran angin yang menari. “Mari bertaruh siapa yang akan menyerah lebih dulu. Aku atau Alec-mu,” kata Naumann, “dan sebagai gantinya jika aku menang, aku akan memberimu kematian yang cepat tanpa siksa-menyiksa terlebih dahulu.”
Thalia membuka mulut mengeluarkan suara yang ia dapatkan entah dari mana. Dari harapan, mungkin. “Aku bertaruh pada dirimu. Kau akan menyerah terlebih dahulu. Alec—ia selalu berhasil menolongku.”
Naumann membuka besi terakhir sambil tertawa kecil. “Akan kupastikan Alec-mu mati.”
Lalu secepat kilat Naumann membawa Thalia berdiri. Suara bedebam benda berat terpantul ke dinding. Namun, Thalia belum sempat memusatkan fokusnya ketika Naumann menempelkan pisau ke lehernya dari belakang.
“DIAM DI TEMPAT,” raung Naumann. Pisaunya makin erat, hendak mengerat leher Thalia.
Pintu besi itu membuka pada sudut yang mengkhawatirkan. Di antara debu-debu yang berkepul dan membubung di ruangan apak ini, dua sosok tubuh tinggi besar ditangkap mata Thalia. Perlu beberapa detik sebelum debu kembali menyatu dengan tanah, memberi jalan bagi pandangan Thalia untuk menatap. Alec, dengan jaket hitamnya yang seutuhnya berantakan. Tristan dengan terusan elastis yang melekat di tubuhnya. Keduanya memaparkan ekspresi mengerikan. Seolah-olah mereka melihat hantu.
“Kedua priamu, Putriku, telah datang.” Sebelah tangan Naumann merambat meraih tangan kiri Thalia dan menciumnya dalam-dalam.
Jilatan api murka menggila begitu saja dalam mata Alec. Kelabu dan panas dan penuh hasrat membunuh. Rahangnya keras, sekeras kursi yang selama ini Thalia duduki. Keringat yang mengucur di wajahnya hanya menambahkan kesan liar pada aura di sekeliling Alec. Urat lengannya yang tebal, menegang. Darah di dalam pembuluhnya tampak hendak meledak.
Kaki panjang Alec tanpa takut melangkah maju.
“Diam di tempat.” Naumann menjambak rambut Thalia tanpa ampun. Thalia meneriak sakit. Dan Alec berhenti di tempat, wajahnya pucat. Bibirnya membuka hendak berkata, namun urung.
Tapi kemudian, apa yang terjadi di luar perkiraan Thalia.
“Persetan dengan perintahmu, aku akan maju!” Alec melemparkan pisaunya, lurus dan mantap, ke wajah Naumann. Secercah harapan darah akan menyembur hancur begitu saja.
Naumann mengelak dengan mudah. Kelima kawannya yang roboh tadi, segera bangkit dan mengunci segala gerakan Tristan dan Alec dalam dekapan kasar lengan mereka. Alec meraung-raung tidak jelas. Tristan mencoba mengelak dari tangan-tangan itu. Gagal.
Gagal. Sekarang mereka menunggu ajal. Tangis mulai mengalir bergulir di pipi Thalia. Ia akan menyaksikan Alec mati.
“Peringatan, Reyes.” Nauman melonggarkan pisaunya, satu tangannya membawa paksa pipi Thalia ke belakang. Mencium Thalia. Mengecup bibirnya berkali-kali sampai Alec kehilangan akal. Alec merangsek maju hanya untuk mendapati dirinya ditahan semakin erat.
“Bagaimana kalau kau menyaksikan hasrat terdalammu disentuh pria lain, Reyes?” Naumann merendahkan kepalanya, bibirnya bermain dengan kulit Thalia yang asam. Lidahnya menjajah leher Thalia ganas. Atas bawah. Thalia menelan ludah sementara air matanya kian deras mengalir.
Ia akan mati dan sebelum mati ia akan diperkosa. Hebat.
Kali ini tidak hanya Alec yang menggila. Namun, usaha Tristan melepaskan diri dari genggaman dua orang yang menjaganya lagi-lagi berakhir pada kata gagal. Thalia tahu apa yang mereka rasakan. Mereka tahu apa yang ingin diselamatkan ada di hadapan. Beberapa langkah dan semua itu menjadi kemenangan mereka. Tetapi, mereka berdiri di bibir jurang. Bahaya bila melangkah lebih jauh.
Dan pecundang bila melangkah mundur.
Naumann tidak berhenti pada leher Thalia. Tangannya yang kasar menangkup payudara Thalia dan meremasnya. Perlahan dan pasti. Pasti mengobarkan amarah Alec dan Tristan ke puncak yang lain. Sebuah puncak di mana apa yang mereka lakukan nantinya adalah memutilasi Naumann menjadi serpihan daging.
Thalia gemetar ketika menyaksikan tangan Naumann turun semakin ke bawah. Tulang punggung Thalia bergelenyar. Es seolah membekukan pembuluh darahnya, menghentikan kinerja otaknya. Ia tak lagi dapat berpikir. Ia hanya dapat menunggu sebelum akhirnya nanti tangan bejat itu menyentuh wilayahnya yang pribadi.
Menanti. Dan menanti—
Alec menerjang maju. Menendang tiga orang yang menahan geraknya sedari tadi. Kemudian, apa yang terjadi selanjutnya bagai kilas balik ingatan yang sangat cepat. Bumi seakan berotasi sepuluh kali lebih cepat. Entah bagaimana Tristan terlepas dari dua pria besar itu dan membantu Alec membinasakan nyawa demi nyawa buronan di sana.
Thalia menyaksikan pembunuhan. Brutal. Thalia tidak bisa melupakan pisau yang ditancapkan Alec di mata salah satu buronan. Raungan serta teriakan histeris berpadu. Alec tidak peduli, tekad di dalam dirinya tak lagi ragu.
Pisau kembali dieratkan pada leher Thalia. Thalia dapat menebak bahwa Naumann pun terenyak. Buronan kelas kakap Reibeart dibantai oleh dua pria bangsawan. Napas Naumann di atas rambut Thalia menderu bagai badai. Thalia tidak lagi mampu menjabarkan rasa senangnya. Sebuah titik balik.
Langkah Alec menggasak, menggertak kehadiran Naumann. Naumann tak lagi lebih dari seekor kutu yang takut pada Alec of Reyes. Alec yang berang Thalia digerayang.
“Di-diam di tempat,” pinta Naumann. Pisau benar-benar mengiris kulit leher Thalia. Thalia meringis mencium amis darah yang tak ubahnnya bau karat belenggu besinya.
Alec tersenyum miring, sedikit sinting dan seutuhnya mengerikan. Pisau di tangannya berputar lihai. Jemarinya yang panjang lecet juga berdarah. Tetapi, Alec bahkan tak merasa sakit sama sekali. Sebab kemenangan mengambang di hadapannya.
Sejurus kemudian pisau itu meluncur bengis ke punggung tangan Naumann. Sesegera mungkin setelah leher Thalia terbebas dari pisau, Thalia berlari ke dalam dekapan Alec. Mengistirahatkan kepalanya di dada bidang Alec yang tak tentu naik turunnya sementara Naumann memekik tak karuan. Alec mencium ubun-ubun Thalia dan Thalia tahu, Alec kembali menyelamatkannya.
“Satu hal yang tidak kau ketahui, Naumann. Tidakkah kau pernah bertanya-tanya mengapa kau gentar menghadapku, gemetar bahkan saat sedang berunding denganku?” Alec meringis. “Kau hanyalah makhluk lemah. Segala kebejatan yang kau agungkan itu tidak sebanding dengan murkaku akan pelecehanmu terhadapnya.” Alec membuka jaketnya dan membungkus tubuh Thalia.
“Jangan pernah berani mengancamku, bajingan,” ujar Naumann ringkih. “Marilyn akan mengirim pasukan—ia akan mengirim pa—“
Lalu desing anak panah melesat tepat di dekat daun telinganya. Awalnya satu, kemudian dua, tiga, sebelas—ribuan. Thalia menengok ke balik bahu Alec dan mendapati wajah murung itu bersiaga dengan pemanah terbaik Reibeart. Tristan. Sejak kapan pria itu berdiri di ambang pintu?
“Kau pikir aku akan takut dengan itu, Reyes?” Naumann menggertakan giginya.
“Kau pikir aku tidak tahu kau takut mati?” Mata Alec mencelak kejam pada Naumann. “Arahkan dekat jantungnya.”
Dan sebuah anak panah menghujam dadanya. Tidak tepat mengenai jantungnya, namun Thalia tahu betapa berbahayanya bermain-main dengan anak panah Reibeart. Anak panah terbaik di dunia. Sebuah ancaman bagi kehidupan Naumann.
Alec kembali mendekap tubuh Thalia. Hangat, penuh cinta, dan perlindungan. Erat, Alec tak akan melepasnya lagi. “Aku tidak suka diperintah, Naumann. Sekarang bagaimana jika aku memerintahkanmu untuk menyerah?”
“Pas—“ Naumann mencoba berbicara, namun darah menyembur keluar dari mulutnya.
“Pasukan di timur sudah lumpuh sebelum kau tahu. Mereka semua telah dihujam masuk ke dalam penjara, Naumann. Apa yang bisa kau lakukan sekarang?” Nada suara Tristan stabil, namun pada sebagian kecil terdengar getir.
“Tidak—“
“Angkat tanganmu, kau bertaruh padaku,” ucap Thalia lantang. Ia bahkan tak yakin dari mana suaranya berasal setelah—setelah semua ini.
Tangan itu perlahan berusaha mengangkat. Wajah Naumann mengerut pedih penuh kekalahan dan kebencian. Dagunya bersimbah darah. Akhirnya, ketika kedua lengan bejat itu menggapai suatu tak kasat mata di udara, Thalia tahu.
Ia menyerah.
Ia menyerah dan menggapai eksekusi mati di antara udara bawah tanah. []
***
Baiklah, sampai di sini ceritanya. Agak panjang, ya? Iya. Sebenernya ini mau dibagi menjadi dua. Namun, hitung-hitung karena aku udah lama ga update, jadinya aku gabung aja deh. hehehe. Maaf ya baru bisa upload soalnya banyak halangan berupa tugas sekolah.. dan hari-hari pertama sekolah itu.... hehe... makasih ya yang udah komentar di bab sebelumnya dan minta lanjut. aku seneng banget :). semoga aja bab ini bisa memuaskan kalian. dimohon votenya dan komentar atau tanggapan, saran dan kritikan. karena tanpa kalian, cerita ini tak akan sampai sejauh ini.
Saya tahu ini telat, tapi selamat berpuasa :)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top