Bab 11-1
BAB 11-1
MATAHARI luruh seolah dipanah runtuh kuasa dewi malam. Reibeart berserah pada kelam, jubah segala keji dan jahat dan kejam. Sepasukan bintang menyebar tak tentu, redup maupun terang. Embusan angin menelisik rerumputan, melayang bersama rerumputan. Tarian kuno pepohonan bergemerisik dan mengancam; jangan usik keheningan malam.
Tapi, Alec mengusik hening.
Mulanya, upaya melarikan diri dari kastil berjalan mulus. Namun, sesampainya di lorong, salah seorang penjaga mencegatnya. Tanpa berpikir dua kali, Alec meluncurkan tiga tinju. Satu di masing-masing pipinya dan yang terakhir di bawah dagu. Riuh kelontang senjata berkumandang ke pelosok terjauh lorong. Belasan penjaga lain mendekat. Alec segera melompat dari jendela. Mereka tak menemukan siapapun selain setubuh penjaga pingsan.
“Reyes.” Tristan menyodori sebuah pistol.
Alec menerima dan menyelipkannya ke balik jaketnya.
“Kalau kau butuh lebih banyak senjata,” kata Tristan, mengacungkan ibu jarinya ke belakang pundak, “kau bisa minta kepada mereka.”
Aku tidak suka meminta, batin Alec sembari memalingkan kepala pada tiga orang prajurit kerajaan. Dalam balutan baju hitam terusan elastis, mereka bersiap-siap menghadap misi penyelamatan sang putri.
“Kau yakin mereka menyekap Thalia di sini, Reyes?” Mata Tristan terarah lurus ke depan, ke arah tambang yang ketat dijaga oleh berandalan Lane End.
“Jangan ragukan aku, Tuan Pengawal.” Alec menoleh kepada Tristan dan mendapati wajah pria di sampingnya kian tirus, kian kurus.
Alec menyadari perubahan tajam pada Tristan. Alec mampu mafhum atas lingkaran legam di bawah matanya ataupun kulit pucatnya. Meski barulah sehari berlari semenjak Tristan datang ke ruang kerjanya, Alec tahu pria ini tidak tidur seharian. Tristan adalah pengawal Thalia. Dan tanggung jawabnya ialah Thalia. Wajar saja seorang pengawal tak bisa beristirahat dengan tenang mengetahui tanggung jawabnya menghilang begitu saja. (Dan ini tidak terjadi sekali dua kali, melainkan sering sekali).
Namun, siapa Thalia bagi Alec? Segala hal yang berakibat pada Alec terasa sungguh tak wajar. Alec tahu dirinya menyukai Thalia dan tahu bahwa tanpa perempuan manis itu, Alec tak yakin hidupnya akan sama. Tetapi, wajarkah baginya berguling ke kanan-kiri, menghancurkan tatanan rapi kasur, mengkhawatirkan Thalia? Seharusnya, ia bisa saja mengatupkan kelopak mata dan memaksakan diri menjelajahi dunia mimpi. Namun, apa yang tersembunyi di balik kelopak matanya tak lain adalah Thalia.
Ini sudah berlangsung nyaris sebulan. Semenjak Alec menjadi tahanan rumah selama—selama ibunya inginkan (atau raja hendaki). Tiap pecutan dan ganjaran yang ibunya limpahkan selalu menjatuhkannya ke alam bawah sadar. Dan di sana, di tempat paling tersembunyi dalam otaknya, ia bertemu Thalia. Tidak pernah hitam putih, tiap kali warna-warni. Bibir merahnya. Rambut hitamnya. Leher putihnya. Alec tak akan pernah menikmati istirahat tenang apabila wanita itu jauh darinya. Alec ingin menyudahi rindunya.
Begitu ingin sampai-sampai ia rela menjejaki permainan ibunya. Ini adalah bagian dari hukumannya karena ia pernah berkhianat, Alec yakin itu. Marilyn sengaja mengumbar sebuah informasi penting mengenai kesepakatannya dengan Naumann, seusai makan malam bersama Thalia, di ruang kerjanya. Setelah insiden meninggalnya keluarga angkat raja, Alec tak bisa lebih yakin lagi bahwasanya Marilyn hendak melenyapkan keluarga inti Seymour sekaligus menjebak Alec dalam kriminalitas yang tak pernah dilakukannya.
Untuk menggenapi misinya itu, Marilyn menyewa Naumann. Marilyn tak pernah takut bahaya selama namanya terjaga bersih dari skandal. Dengan Naumann, rencananya berjalan sungguh mulus. Keluarga inti Seymour tersisa tiga orang; Thalia, Bartholomeu, dan paman pemabuknya, Geoffrey. Tiga lagi dan semuanya akan berakhir. Tiga lagi dan Reyes kembali merajai singgasana.
Dan keresahan dalam hati Alec begitu pasti; bukanlah dirinya yang kelak menduduki singgasana. Segala kejayaan nantinya akan berada di genggaman Marilyn. Sesosok wanita ambisius yang bahkan rela membunuh anaknya sendiri. Alec jadi bertanya-tanya apakah ada ibu yang rela membinasakan putranya demi kekuasaan. Mana mungkin seorang ibu menyiapkan ruang siksa di bawah tambang sebagai tempat eksekusi dirinya?
Tak perlu disangkal lagi. Marilyn pasti menyewa segerombolan buronan kelas kakap bagi sebuah eksekusi istimewa semacam ini. Informasi dari Anastasia Stokes, orang kepercayaannya, telah mengusir tiap kabut yang menghalau fakta. Menurut penyelidikannya, salah seorang pekerja tambang melihat sang putri dipikul masuk ke dalam tambang. Sesekali digerayangi.
Alec memang cemas. Khawatir kalau-kalau atas kesetiaan Anastasia terhadap Alec (bukan Reyes, bukan Seymour, hanya Alec) akan berimbas pada sebuah ganjaran tak ubahnya siksaan neraka. Marilyn tak pernah pandang bulu. Siapapun yang tertangkap berkhianat atau menantang kuasanya, otomatis diceburkan dalam hukuman. Tapi, membayangkan tubuh Thalia dipermainkan buronan yang tak jelas asal muasalnya, membuat jantungnya seakan-akan diperas oleh ratusan tangan tak kasat mata.
Setelah Greyster, Alec berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia harus mempertahankan kesempurnaan tubuh Thalia. Diberitahu bahwa tubuh Thalia digerayangi bajingan (meski dalam kasus ini, Alec tak jauh berbeda dari kata itu; bajingan), sama saja seperti mengingkari janjinya.
Dan di sini bersama pasukan prajurit Reibeart, ia hendak membulatkan janjinya kembali.
Tristan menepuk pundaknya. “Kau siap, Reyes?”
Kedua bahu Alec terangkat pasrah. “Tak pernah ada orang yang betul-betul siap, kau tahu.”
Sebelah alis Tristan mengerut dengan geli. “Benarkah? Aku merasa sangat-sangat-sangat siap Reyes. Siap mati, siap melindungi, siap menyelamatkan.”
Menyelamatkan. Marilyn selalu tahu Alec akan menyelamatkan Thalia. Selalu.
Alec berdiri dan merapatkan punggungnya ke salah satu batang pohon. Baiklah. Mari kita lihat nyawa siapa yang akan raib terlebih dahulu, ibu. Naumann atau milikku. “Dalam hitungan tiga, dua—“
Belum sampai satu, kelima orang itu dibungkam oleh tangan-tangan berbau peluh. []
***
Eng Ing Eng. Selesai sampai sini. Sesungguhnya, sebelum bab ini ditulis ulang (filenya hilang begitu saja di laptop, aku ngga tahu gimana), ceritanya jauh lebih panjang dari ini. Tapi, karena saya pikir.. saya pikir.. saya pikir mungkin akan terlalu panjang.. jadi aku bagi dua. Jadi bab 11-1 dan bab 11-2. maaf telah lama tidak upload, aku terlalu lama dirundung frustasi karena bab 11 yang sebelumya lenyap. dimohon comment dan vote. tanggapan saran dan kritikan benar-benar saya hargai. sebab cerita ini tidak akan pernah lanjut sampai sejauh ini tanpa dukungan kalian. terima kasih banyak.
Lagu yang saya dengarkan selagi menulis (ulang) cerita ini:
1. Photograph - Ed Sheeran
2. Love Runs Out - One Republlic
3. Cannonball (Earthquake) - Showtek & Justin Prime ft. Matthew Koma
4. Love Tough - Jessie Ware
5. Guns and Horses - Ellie Goulding
Buku yang sedang saya baca:
1. 9 dari Nadira, Leila S. Chudori
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top