6. Man VS Cat!


"Dasar kucing garong. Balikin, balikin ayam gue!" teriakku sambil ngos-ngosan bawa sapu, rencananya sih mau buat menjitak si kucing.

Meja, kursi, tong sampah, rak sepatu, pel-pelan, semuanya itu sudah aku obrak-abrik gara-gara si kucing bajak laut itu larinya kuenceng banget. Masuk ke kolong meja lah, ngumpet di bawah kursi lah, akhir-akhiran dia ngumpet di belakang tong sampah.

Eh, ternyata dia sudah makan habis setengah. Gila, padahal itu ayam gede banget, pikirku tadi si kucing nggak bakalan kuat makan sendirian. Ayam sebesar itu pantasnya buat sekeluarga, suaminya sama lima anaknya misalnya, ternyata tulangnya pun di kunyah juga. Ckck, jangan-jangan si kucing buka puasa?

Sudah tengah malam, nggak ada tukang nasgor lewat lagi, mana cacing-cacing di perut lagi pada musyawaroh mau makan, pokokya besok-besok pintu rumah harus di kunci semua!

Jangankan cuma kucing, kuman pun nggak boleh masuk mengganggu acara makanku!

Oke fix, malam ini terpaksa harus makan makanan paling praktis di seluruh dunia, nasi doang-pasang muka sekarat.

Pagi-pagi sekali, Mom sudah grusak-grusuk di dapur, seperti biasanya, hobinya memasak memang nggak bisa dilepaskan-ya iyalah namanya juga ibu rumah tangga hahaha. Tapi terkadang yang membuatku menggeleng heran adalah, Mom suka meracik resep yang aneh-aneh. Misalkan nih, telor mata sapi dikasih bubuk coklat, tumis kangkung dicampur keju dan nata de coco, ayam goreng ditambahi selai kacang. Tapi jangan salah, rasanya mantap banget lho.

"Ma, liat tuh si Dodo pagi-pagi udah mainan kucing. Dielus-elus, diciumin, dimandiin juga, apa nggak bahaya?"

Kebetulan Mom lagi masak ayam, bau sedapnya itu lho sampe tembus telinga. Alhamdulillah ya Alloh Fried Chicken semalam Engkau ganti dengan ayam kecap sangrai plus sambel mentimun, oseng kangkung panggang, juga ada gorengan tempe berbumbu kari, beuhh.

"Sebenernya bahaya sih, Mama punya temen arisan yang kaya raya, nah dia itu dulunya suka banget sama kucing, sampe nggak bisa dipisahkan," katanya masih sambil sibuk memasak.

"Hah, mainan kucing bisa jadi kaya raya? Bukan bahaya dong kalau gitu."

Aku mengambil gorengan tempe yang sudah siap di piring, mumpung masih anget, kriuk-kriuk pas dikunyah, dan ada rasa karinya-OMG enak banget. Lalu Mom menjawab, "Ya. Tapi ada lagi, selain kaya, badanya juga seger, langsing, masih kelihatan muda banget, padahal umurnya sudah empat puluh tahun lebih lho."

Aku melongo.

"Itu kucing atau vitamin E sih?"

Sambil memasukan tempe yang sudah dilumuri tepung, Mom bilang, "Namanya juga orang kaya, sering pedikyur menikyur gitu Wan, suka fitness juga."

Plakk!

Aku menampar pipiku pakai gorengan. Momku kadang begini, nggak jelas kalau ngomong, muter-muter kayak obat nyamuk. "Lha terus hubungannya apa dong, katanya tadi bahaya kalau mainan kucing, kok malah jadi kaya raya dan pedikyur menikyur?"

"Ya itu dia, sudah bertahun-tahun menikah tapi dia belum punya anak, Wan."

Gorengan di mulutku muncrat semua. "Astaghfirulloh hal azim!"

Aku langsung lari keluar rumah menuju adik gendut unyu-unyuku di teras, dan betapa kagetnya ketika jari si Dodo sedang diemut-emut kucing yang semalem nyolong ayamku. Karena aku kakak yang baik dan peduli, akhirnya kutarik kucing berbulu kuning itu dari tangan si Dodo, lalu kulempar ke rumah sebelah-rumah bu Mirna yang galak, suka marah-marah kalau aku salah buang sampah.

Tangan Dodo juga langsung aku cuci pakai sabun Dentol, alkohol level tujuh belas, Baygon, kapur barus, terakhir aku olesi balsem biar bakteri-bakteri jadi mumi semua. Memangnya aku mau membiarkan si Dodo jadi korban penyakit kucing?

Habis itu, si Dodo nangis keras banget saking nggak tega soulmate-nya aku buang. "Cup, cup, Dodo ganteng, nih kaka bawa boneka barbie, la laa la... si barbie pergi ke pasar, la laa la... si barbie naik onta."

Bukannya diam malah nangisnya tambah keras, kata tetangga sih kalau Dodo nangis maka orang sekomplek denger semua. Bu Mirna cerewet, Pak RT alay, satpam Sakh Rung Kan dan anjing-anjing tetangga pernah komplain pas dulu Dodo nangis minta dibeliin robot Iron Man.

Dan benar-benar nggak kusangka, besoknya Dodo mendadak sakit keras, tubuhnya demam tinggi dan melemah di kasur. Aku jadi terharu melihat adikku satu-satunya sedang mengalami penderitaan begitu, meskipun biasanya aku suka ngerjain dia sih kalau lagi bete, buburnya tak makan lah, sepeda ontelnya aku umpetin lah, tak plorotin celananya lah, maklum, umur lima tahun lagi lucu-lucunya sih.

Anehnya, si Dodo juga suka menggigau. "Kucingnya mana kak Lidwan, Dodo mau kejal-kejalan sama kucing." Di dalam hati aku gemas, ini semua pasti gara-gara si kucing bandit itu!

Aku mulai penasaran dengan kucing serta seluk beluknya. Pepatah mengatakan bahwa untuk mengalahkan musuh, kita harus benar-benar mengenalnya. Seperti dari manakah asal kucing? Mereka punya marga apa saja? Dan penyakit apa saja yang di sebabkan oleh kucing? Mbah Google insya Alloh bisa menjawab.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa kucing itu bukan berasal dari planet bumi, namun dari surga sana, aneh. Aku juga baru mengerti bahwa kucing itu banyak sekali jenisnya, ada kucing persia, kucing anggora, kucing tiffany, kucing siam, kucing garong, dan sebagainya. Kucing juga memiliki kuku yang selalu tumbuh sehingga itulah yang menyebabkan ia suka mencakar-cakar benda seperti kayu, selain untuk mengasah kukunya. Dan katanya, dulu kucing merupakan hewan yang disucikan pada masa kerajaan mesir kuno, ah ini sih bullshit banget, buktinya kucing masa kini hidup di kolong jembatan, di kardus-kardus, di comberan juga, sering di tendang-tendang. Kucing juga bisa menyebabkan berbagai penyakit yang sangat berbahaya, seperti cacingan, rabies, diare, kurapan, dan yang paling parah dan rentan buat perempuan, mandul forever-Toksoplasmosis!

Malam ini aku sudah menyiapkan sepotong paha ayam buat kujadikan umpan, kuletakan di atas meja, aku taburi merica bubuk biar nanti si kucing bersin-bersin pas mengendus-endus. Pintu belakang rumah aku buka lebar-lebar. Biasanya kucing kuning itu muncul dari situ.

Satu menit, dua menit, setengah jam, satu jam kemudian barulah si kucing itu nongol, hidungnya kempas-kempis mendeteksi mangsa empuk yang sudah aku siapkan di atas meja. Beberapa detik ia seperti mengamati keadaan sekitar, nggak sadar kalau aku bersembunyi di belakang pintu. Hihihi... serasa jadi pemburu hewan liar kayak di tivi-tivi.

Hap, si kucing loncat ke kursi. Hap, si kucing kini sudah di atas meja makan, menggigit ayam itu, tapi kok nggak bersin-bersin ya? Ah bodo amat yang penting jebakanku berhasil. Pintu langsung kututup, pintu dapur menuju ke ruang tengah juga sudah aku tutup. Aku sudah siap bersenjatakan pel-pelan, semangat empat lima.

"Maaannn versus Caaaattt!" seruku sambil mengangkat pel-pelan, tubuhku serasa dirasuki arwah pahlawan-pahlawan hebat yang melawan penjajah dari Belanda. Aku pun mulai beraksi dengan adegan slow motion setiap kali memukul pakai pelan.

Brakkk...

Meja kutabok, gelas-gelas plastik dan beberapa sendok-garpu berjatuhan, tapi si kucing berhasil lolos.

Brakkk...

Aku memukul tempat pel-pelan sama ember namun si kucing lari ke kolong rak piring. Aku sodok-sodok pakai ujung pel-pelan sampai dia lari secepat jaguar ke belakang mesin cuci. Brakk... brukk... brakk... brukk... klontangg... klontangg... jederrr... gubraakkk!!!

Ah dasar pikun! Jendela yang belum sempat kututup akhirnya jadi tempat kabur si kucing kan!

Tapi dendamku sudah membara, berbekal beberapa kaleng susu bekas sebagai granat, aku mengejar si kucing keluar rumah. Kami berdua kejar-kejaran di jalanan, sesekali kulempar satu buah kaleng ke arah si kucing tapi meleset terus.

Melihat aksiku ini, pak satpam yang sedang jaga malam langsung berkomentar, "Woy, udah malem jangan pacaran! Kejar-kejaran lagi, kaya di film India aja."

Maklum, dia fanatik Bolywood sih, namanya aja mirip Sakh Rukh Kan.

Tapi sialnya senjataku cuma tersisa satu. Akhirnya aku memantapkan hati, kugenggam kaleng susu itu seerat-eratnya, aku ambil ancang-ancang membidik si kucing, mataku terfokus melihat buntut kucing yang goyang-goyang.

"Bismillahirohmaniroheeem!"

Plang!

"Meawwwww!"

Yess kena kakinya. Si kucing kini sok pincang, larinya semakin melambat dan kaki kiri belakangnya agak di angkat-angkat. Sok tragis, tapi aku nggak akan iba, ayamku sudah sering dicopet, Dodo juga berpotensi terkena penyakit berbahaya gara-gara dia.

Kucing itu masuk ke sebuah pos kamling yang setahuku sih sudah nggak terpakai. Ada sebuah kardus bekas, dia mengemulkan badanya di situ, kakinya berdarah-darah, lukanya pun lumayan lebar. Ayam yang tadi dia bawa hilang entah kemana, mungkin jatuh di tengah jalan atau di dapur. Dan yang membuatku sangat terkejut, delapan anaknya yang masih imut-imut berebut menghisap puting susunya.

Si kucing memelas, suaranya serak dan terputus-putus, lalu menyapaku.

"Mea...aaaa...auwww."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top