3. Indah
'Dangdut'
Satu kata. Satu arti. Beribu imajinasi. Muntah-muntah adalah pilihan bagi siapapun yang berkiblat pada musik-musik dengan goyangan penuh lenggokan tidak erotis serta gaya musik yang santai tanpa teriakan-teriakan pemecah gendang telinga. Masih untung pilihannya bukan muntah atau buang air besar di wc umum yang pesingnya ampun-ampunan. Atau mungkin mengucurkan air seni di semak-semak yang tidak rimbun.
Lagipula, siapa sih yang masih melakukan kebiasaan makhluk jaman batu begitu? Di era modern yang bahkan toilet pun bisa menyadari kapan kebutuhan serta momentumnya untuk bercengkrama dengan bokong manusia, ilalang sudah tampak nista. Nista karena kuno. Nista karena ilalang menggeli-geli saat dipegang-pegang oleh angin.
Ilalang memang sekedar tumbuhan, tapi bukan berarti dia tak punya nafsu. Mungkin saja ilmuwan-ilmuwan yang mengaku paling pintar sejagad raya, atau ahli tumbuhan yang bercinta dengan pohon saking memelasnya karena manusia tidak berbentuk seperti tumbuhan; mereka yang mengenal alam dengan sebenar-benarnya, akan mengemukakan teori itu nanti kapan-kapan.
Apa sih yang dia cocotkan? Ini semua karena satu kata hina yang baru saja dia baca di layar ponselnya. Teman chatting yang dia kira amat-sangat-super keren itu rupa-rupanya berpikir kalau dia juga bisa dihinakan dengan genre musik yang, jujur, tak pernah ingin dia ketahui. Bahkan kalau bisa, dia akan suka rela menjadi bagian dari pasukan pemusnah musik Dangdut yang mulai menjalar ke mana-mana. Seperti tanaman menjalar.
Tunggu, sekarang dia malah terdengar seperti orang-orang yang akan melamar bunga lantaran ke-jones-an mereka yang sudah mencapai tingkat akut. Tidak, dia masih manusia-sepertinya. Dan selayaknya manusia biasa pada umumnya, sudah tentu dia ingin menikah dengan sesama manusia. Yang masih satu spesies saja rumit luar biasa, apa lagi yang beda spesies.
Aneh. Memangnya sejak kapan dia memikirkan tentang para pecinta botani? Menggelengkan kepala untuk mengusir nyamuk tak kasat mata yang melepas sekrup otaknya sampai-sampai dia menjadi lebih gila seperti ini, perhatiannya kembali tertuju kepada layar ponsel yang menggelap karena kelam. Detik ini, hanya detik ini saja, dia akan mengakui ke-jones-annya yang memang akut kuadrat. Berharap pada orang yang tak pernah memandangnya sebagai prospek, kenapa tidak loncat dari tebing dengan keyakinan akan selamat saja, sekalian?
Eh, tapi dia memang sudah loncat dari tebing. Dan selamat. Tidak, terperosok mungkin lebih tepat. Gara-gara teman sekelas sialannya yang berhasil membujuk dia untuk memilih jalan alternatif dengan iming-iming pemandangan indah luar biasa. Siapa yang sialan, sekarang, teman sekelasnya atau dia? Hanya karena dorongan luar biasa untuk mengabadikan kesempurnaan alam, dia sekarang terperosok di dalam celah bebatuan tajam dengan cairan merah mengucur dari kakinya. Kamera kebanggannya sudah tidak terselamatkan lagi.
Dua jam dia sudah berada di sini, hanya memandangi layar ponsel yang tak dapat menangkap sececer sinyal pun, merindu melalui sejarah percakapannya dengan teman-ralat, orang yang dia suka tapi hanya menganggapnya teman-satu sekolahnya. Suaranya sudah habis dan dia mulai lemas karena kekurangan darah. Belum lagi hujan lebat yang membuatnya menggigil kedinginan. Bodohnya lagi, dia hanya membawa sebotol besar air mineral dan beberapa makanan kaleng.
Apa kah ini karma? Dia teringat berapa banyak dia menyumpahi orang-orang agar mengalami kecelakaan sekedar karena kesal. Jangan-jangan ini akumulasi benih-benih karma yang dia sebar seperti dalam ajaran agama? Menyedihkan sekali kalau memang benar. Dia seketika berjanji untuk tak lagi menyumpahi orang-orang dengan catatan kalau dia selamat dari tempat terkutuk ini.
Kalau dia memang selamat.
***
Entah sudah berapa lama dia berdiam di tempat ini, menyemburkan amarah pada dinding bebatuan tempatnya berlindung dari tetes hujan. Dingin memaksanya untuk memeluk diri sendiri, membuatnya semakin merasakan ke-jomblo-annya yang mengenaskan. Di saat seperti ini, akan sangat menyenangkan untuk memiliki seseorang tertentu yang senantiasa mengawatirkan dirinya.
Tapi, memangnya siapa yang mau? Di era modern di mana pem-bully-an sudah umum terjadi, dia sudah bisa dipastikan menjadi korbannya. Pembawaan penakut dan pendiam, tipe introvert tanpa teman, selalu menutup diri dari dunia, dengan keluarga pecah berantakan seperti mangkok kaca pecah karena terbanting ke lantai. Entah ke mana anggota keluarganya sekarang, entah mereka masih hidup atau tidak-eh, kalau tidak hidup, lalu siapa yang dia lihat di malam tahun baru kemarin, arwah kakaknya? Tapi kalau memang arwah, hidupnya berarti sangat menyedihkan, karena arwah kakaknya bahkan mengatainya untuk jadi arwah gentayangan saja.
Teringat arwah, dia malah terpikir adegan di film-film horor yang membuatnya ingin muntah-muntah karena ngeri. Dia tidak pernah menyukai film horor, tapi tak ada seorang pun di dunia ini yang mengetahuinya. Dia, kan, memang tidak pernah menunjukkan kelemahannya pada siapa pun. Tapi memang hantu-hantu di film hororitu mengerikan. Terlebih, film hororyang mengambil latar tempat di hutan-hutan....
Bukannya dia sekarang ada di hutan?
Getar halus di saku celananya membuat dia menjerit-jerit dan berkelonjotan sekuat tenaga. Sadar itu hanya ponsel sialannya, dia pun memaki dengan riang gembira. Kenapa pula ponselnya harus memilih momen ini untuk bergetar? Dasar ponsel idiot, ponsel tidak peka, sama saja dengan kaum lelaki pada umumnya.
Lho, tunggu dulu. Kalau ponselnya bisa bergetar itu, berarti dia, kan, bisa meminta bantuan? Idiot. Segera dia mengecek ponselnya dengan harapan yang sudah melambung sampai ke planet Pluto. Bahagianya dia, seakan sudah memenangkan lotere satu miliar yang keberadaannya seperti mitos belaka. Dia segera menyalakan layar ponselnya sembari menjerit-jerit senang.
Eh, ternyata hanya notifikasi alarm saja. Sial. Masa ponselnya saja mem-php dia? Sungguh jones dirinya ini. Belum lagi ketambahan cipratan air hujan yang sekarang menggerayangi tubuhnya perlahan-lahan. Dia malah merasa sepertikerikil terlupakan yang arti eksistensinya hanya lah untuk dilindas dan dilupakan oleh umat manusia. Penggambaran yang sangat tepat untuk kondisinya saat ini. Tersisih dan terlupakan.
Dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lalu memandang langit. Awan putih pekat menyebar layaknya gumpalan permen kapas yang membuatnya lapar. Dia tidak punya apa-apa selain makanan kaleng yang tidak bisa dibuka dengan tangan. Masa dia harus berevolusi jadi manusia kepiting dulu baru bisa menyantap makanan manusia.Lalu di mana esensi dia sebagai seorang manusia?
Tapi kepiting memang enak, sih. Apalagi kalau kepiting jumbo yang masih segar.
Aduh, dia malah membayangkan makanan, bukannya mencari jalan keluar dari keterpurukan ini. Iya, ya, kenapa dia tidak ngesot saja sampai atas? Payah sekali dia ini, hanya luka kecil saja, IQ-nya langsung anjlok secara drastis. Dia segera memangggul tasnya yang tergeletak tak berguna dan mengencangkan bebatan di kaki. Sebuah keinginan segera timbul dalam dirinya, kemauan sepele untuk selamat. Dia belum ingin mati di tempat syuting film horor seperti ini.
Hampir seperti ulat bulu sungguhan, dia menggeliat-liat. Bedanya, ulat bulu di atas daun dan batang daun sementara dia ada di atas tanah becek berteman kerikil. Begitu lah nasibnya. Mungkin sebentar lagi dia akan berevolusi jadi kerikil sungguhan, yang bisa mengimitasi manusia. Terdengar tidak buruk juga, sih.
Hujan deras merajam permukaan punggungnya yang tertutup tas ransel. Meski kulit tangannya mulai lecet karena berulang kali tergores bulir kerikil-teman satu umatnya-dia tetap tidak menyerah. Terus-terusan dia ngesot di permukaan tanah walau tahu dia sebenarnya masih bisa berjalan dengan tertatih-tatih. Yah, dia tidak suka hal-hal mainstream, dan dia akan memulai kampanye anti-mainstream dengan cara menggeliat di atas tanah seperti ini.
Jalanan yang dia lalui tampak agak menanjak, tapi dia tidak berhenti merayap di atas tanah. Meski napasnya sudah nyaris putus, dia tetap melanjutkan sikap idealisnya. Semua ini demi kemaslahatan umat manusia. Eh, tapi kan sekarang dia sudah berubah spesies jadi kerikil; untuk apa dia memikirkan nasib spesies lain?
Kucur darah yang berasal dari luka di kakinya menderas dengan semangat empat lima sementara hujan berubah menjadi badai. Berhadapan di situasi seperti itu, lagi-lagi dia galau, antara ingin kembali memulihkan diri menjadi sepenuhnya manusia atau setia dengan kawan-kawan satu spesiesnya yang bertebaran di kerak terluar planet bumi. Dipandangnya sekelompok kerikil yang dia tindih, lalu terisak. Banjir maaf dia ucapkan sembari bangkit lalu tertatih-tatih mencari tempat perlindungan dari kejamnya badai di pegunungan.
Dia berjalan pincang menelusuri jalan setapak yang membawanya lebih ke atas lagi. Terpeleset beberapa kali karena bebatuan licin yang dia injak, tergores karena semak belukar yang tidak dia tahu; semangatnya nyaris pudar, kalau saja dia tidak melihat ceruk lain yang menjanjikan perlindungan.
Kelegaan membanjirinya dengan perasaan halus sementara dia berjalan menuju ceruk itu. Alam seakan mendorongnya pergi karena kuatnya hempasan angin. Dia melepaskan tas punggungnya yang besar dan mengempaskan benda itu asal-asalan sebelum menjatuhkan diri kelelahan.
Dia menyandarkan punggung pada dinding batu kusam sementara memandangi jajaran pepohonan. Alam memang selalu menarik perhatiannya. Cara mereka bekerja yang begitu sistematis membawa keindahan tersendiri yang tidak sanggup dia jabarkan. Keindahan yang lahir karena kesempurnaan. Keindangan yang lahir karena kesempurnaan yang cacat.
Bagaimana tidak cacat? Manusia hadir dan memporak-porandakan alam seenak jidat mereka. Mungkin para pecinta botani kini tengah mengamati alam sembari memaki. Dia dapat membayangkan adegan itu, celaka tiga belas, dia bisa mendengar seruan orang-orang yang hendak kawin dengan tumbuhan, ternyata selama ini kita lah pembunuh mereka!
Dan seperti yang biasa terjadi dalam film-film sci-fi, para penikmat tumbuhan akan mulai saling membunuh saking gilanya.
Sebenarnya apa yang dia bacot-kan dari tadi? Dia begitu tenggelam dalam pikirannya sampai-sampai tidak menyadari bahwa badai yang mengerikan sudah berlalu. Kini dunia dihujani oleh rintik gerimis menenangkan, dengan udara dingin menggigit hingga ke sumsum tulang. Dia gemetaran, namun senang. Kalau begini dia bisa dengan mudah melanjurkan aksi ngesot-nya yang begitu mendebarkan jiwa. Tanpa pikir panjang, dia meraih tas punggungnya dan kembali merangkak bersama teman-teman satu perjuangan-para kerikil, meski agak tak enak hati karena sempat mengkhianati mereka semua.
Jalanan menanjak yang dia lalui membawanya ke area yang lebih tinggi. Pepohonan semakin merapat di sekelilingnya, seolah mencoba mengurungnya. Seperti penjara yang dibuat oleh alam. Membuatnya kembali teringat dengan salah satu adegan dalam film yang masih laku di bioskop, tentang para vampir yang berkejar-kejaran riang gembira bersama perubah bentuk, di dalam hutan. Dan dia kembali memprotes, dalam hati tentunya-karena kerikil kan tidak punya mulut, bahwa apa yang diklaim oleh industri film soal manusia serigala masa ini itu salah kaprah. Manusia serigala itu berbentuk manusia separuh serigala, bukannya manusia yang bisa berubah bentuk sebagai serigala. Pikirannya penuh dengan cacian serta makian tertuju pada industri film sampai dia mendongakkan kepala.
Dia sampai di atas tebing.
Kabut tipis menggantung di udara sewaktu dia memutuskan untuk berdiri, melupakan rasa nasionalismenya kepada spesies kerikil untuk sementara waktu saja. Wajahnya bercahaya oleh rasa ketidakpercayaan sewaktu dia melihat pemandangan yang terhampar di depannya.
Betapa indahnya.
Langit di ufuk barat berkilau kejingga-jinggan oleh pantulan cahaya matahari pada gumpalan awan tebal di ujung sana. Kabut tipis yang menggantung tak dapat menghalangi berkas-berkas cahaya kemerahan hingga dia harus mengangkat tangan untuk menghalangi sinarnya. Dia menahan napas, menyesap keindahan yang tiada tara dan tak pernah terpikir olehnya. Lihatlah! Pepohonan berkilau oleh pantulan jingga dari bulir-bulir badai hujan yang mendera. Seakan dia berada di tengah hamparan bohlam fana, yang akan segera menghilang sewaktu matahari terbenam.
Lalu dia mulai mencari-cari kamera untuk mengabadikan momentum ini.
Sebelum tersadar, jika kameranya tertinggal di ceruk pertama dengan lensa yang rusak karena terbentur bebatuan.
Di titik itu, dia menangis. Tersedu-sedu. Perasaannya menggeliat-liat menyerupai cacing tanah yang menciptakan humus. Dia menjatuhkan diri ke atas haparan kawan-kawannya yang setia. Merasakan para kerikil bersedih bersamanya, meratapi nasib yang tak pernah baik, kegagalan sewaktu menemukan keindahan. Dia menggelepar-gelepar, mengentakkan kakinya kuat-kuat, sebelum terengah-engah dengan darah yang mengucur deras dari luka di pergelangan kaki.
Jika memang begini akhirnya, dia tak peduli. Setidaknya, pemandangan indah ini akan menemaninya hingga ajal menjemput. Seperti mimpinya selama ini, untuk mati setelah menjemput keindahan alam.
Kali ini, dia menyunggingkan senyum lebar. Senyum lebar yang amat damai.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top