Chapter 3 : As You Know...


"Sekarang," ujar Pak Yoyo, "kita akan mulai dengan pelajaran yang paling dasar sekali, 'Sejarah Tropeca'." Pak Yoyo menjentikkan tangan. Super Crystalium Blackboard—papan tulis elektonik kristal yang biasa kami gunakan—mencair, lalu merubah dirinya menjadi papan tulis kuno, yang berwarna hitam dan masih menggunakan kapur itu.

Keluhan siswa menggema dalam kelas. Jane yang duduk di barisan depan langsung memasang masker, diikuti beberapa siswa yang alergi debu sepertinya. Satu siswi yang namanya tidak kukenal bahkan memasang masker wajah.

Aku dengan tenang membuka jendela dan membiarkan angin masuk.

"Pak, kita telah disuguhi sejarah Tropeca dari SD. Mengapa harus dipelajari lagi?" tanya Shotaro. "Bukannya sekarang jadwal Matematika, bab..."—Shotaro memeriksa datapadnya—"Statistik Probabilitas?"

"Jangan membantahnya, bodoh!" bisikku. "Kau mau dikirim ke sarang hiu lagi?"

Shotaro memutar kepalanya padaku, balas berbisik, "Kau belum tau? Klub Kelautan telah mengganti Hiu itu dengan T-Shark, ikan ganas bertubuh hiu berkepala T-Rex yang merupakan hasil percobaan genetik gagal oleh kelas Biologi Masa Depan."

Aku tahu T-Shark itu apa, mengapa Shotaro malah menjelaskannya?

"Jadi?" bisikku.

"Dulu aku terkenal karena selamat dari Hiu, bagaimana jadinya kalau aku selamat dari makhluk itu? Pastinya akan lebih ... terkenal, kan?" Shotaro tersenyum.

Ampun! Bagaimana aku bisa berteman baik dengan pencari mati sepertimu?

Kembali ke Pak Yoyo dan pelajaran Matematika yang kacau....

"Kamu!" tunjuk Pak Yoyo pada Jane. "Menurutmu, berapa probabilitas kita akan belajar Statistik Probabilitas sekarang?"

Jane menjawab lemah, "Dengan semangat Bapak yang ingin menceritakan sejarah, kemungkinan kita mempelajarinya hampir mendekati nol."

Pak Yoyo beralih memandang Shotaro dengan senyum meremehkan. "Lihat! Temanmu bisa menghitung probabilitas apakah kita akan belajar atau tidak. Jadi, materi hari ini saya anggap berhasil."

Shotaro berdecak.

"PR untuk kalian berdua, karena berbisik-bisik di kelas saya," tunjuk Pak Yoyo padaku dan Shotaro, "serta untuk Alexius dan ... siapa-namanya-yang-saya-usir tadi."

Oh, hari ini semakin bagus dan lebih bagus lagi.

"Soalnya: 'Alexius, Iqbal, Siswa Generik 01 dan Shotaro pergi ke bulan naik roket Apollo 1.100 pada tanggal 12 September 2XXX pukul 17.00. Alexius memakai kaos hitam dengan massa tubuh 75 kg, Iqbal kaos biru dengan massa 65 kg, Siswa Generik 01 kaos hijau dengan massa 72 kg, dan Shotaro berkaos putih dengan massa 68 kg. Suhu udara 28 derajat dan kelembaban 80 persen. Mereka bertemu pramugari roket yang baru saja minum kopi dengan kafein 90 mg. Pramugari tersebut baru lulus dari sekolah, dan ini merupakan pengalaman pertamanya naik roket.

"Sekarang, hitung berapa probabilitas si pramugari kencan dengan masing-masing anak nakal itu!' Kirim jawabannya sebelum pukul 12 malam besok!"

Hah? Bagaimana kami bisa menghitungnya? Variabel-variabelnya sama sekali tidak berhubungan.

Datapad-ku berbunyi, menandakan kalau PR itu telah masuk database dan disetujui oleh PECA, Artificial Intelligence Academy. Penghitung mundur di smarterphone-ku juga mulai berjalan otomatis, dengan pesan '39 Jam 21 Menit Sebelum Deadline PR'.

Aku dan Shotaro sama-sama memberi tatapan memelas pada Jane.

Jane mendesah, lalu bicara dalam kepala kami, "Dengan soal seperti itu, kalian memerlukan anak-anak dari kelas ... Divinasi, Astrologi Lanjutan, Psikologi Warna, dll, dan juga anak klub Pecinta Roket serta Coffee Ceremony. Aku akan bantu mengumpulkan mereka."

Sebenarnya aku berharap kalau Jane yang menyelesaikan PR ini, kami tinggal menyalin pekerjaannya. Cuma harapan.

"Kau tahu, Jane, ada waktu di mana aku sangat ingin menciummu. Sekarang termasuk waktu itu," ujar Shotaro.

Aku langsung memberi Shotaro pandangan membunuh paling seram yang bisa kubuat (tapi karena aku punya wajah yang tidak menyeramkan, pandangan itu malah hanya akan membuat balita tertawa keras, dan orang dewasa tertawa lebih keras lagi). Shotaro, mungkin atas dasar solidaritas, menciut dan angkat tangan.

"Maaf, bro."

Jane tertawa pelan melihat ekspresiku.

"Di mana saya tadi? Oh, ya. Sejarah Grandia," gumam Pak Yoyo.

"Sejarah Tropeca, Pak," sahut Oli.

"Masayuki, turunkan tanganmu! Kita tidak dalam sesi tanya jawab!" kata Pak Yoyo keras pada Shotaro.

Hubungan telepati kami bertiga langsung terputus.

Pak Yoyo berdiri, membuka buku Statistik, berhenti di sebuah halaman, manggut-manggut, dan mulai bercerita:

"Tahun 20XX, di Bumi seorang ilmuwan bernama Prof. Pulan menemukan sebuah elemen baru di Tabel Periodik Unsur. Unsur yang dinamakannya Impossibleium, atau lebih terkenal dengan nama 400-Imp. Mempunyai nomor atom 400, tapi Unsur ini malah 400 kali lebih ringan daripada atom hidrogen. Tidak mempunyai bentuk tetap di suhu ruangan, kadang gas, kadang cair, kadang padat. Tidak beracun, tidak mengalami peluruhan radioaktif, dan 1 mikrogram saja mempunyai energi yang mampu membuat bom hidrogen tampak seperti tungau."

Aku menguap. Impossibleium. Sebelum masuk Sekolah Dasar, kepala anak-anak Grandia—setidaknya yang manusia—telah diisi dengan kisah ini. Apa Pak Yoyo bercerita pada Auriel dan Thramotir? Di kelas, cuma mereka berdua yang bukan manusia, jadi mungkin tidak tahu dengan Impossibleium.

Aku perlu menambahkan kalau setiap ras mempunyai versi yang berbeda tentang sejarah Grandia, terutama tentang makhluk apa yang datang ke planet ini pertama kali. Elf, misalnya, percaya kalau mereka tercipta dari cahaya bulan dan merupakan makhluk pertama. Klaim yang langsung disanggah oleh ras-ras lain. Tiap ras percaya kalau mereka lah yang terlebih dahulu menginjak kaki di Grandia.

Perdebatan ini semakin diperburuk saat memasuki Sekolah Menengah Persatu. Tiap ras mempunyai SD masing-masing, namun saat SMP mereka mulai berbaur, dan sesuai nama sekolahnya, bersatu dalam sebuah komunitas. Adu hantam antar bocah manusia, dwarf, dan alien dalam memperdebatkan asal-usul eksistensi mereka bukan merupakan hal yang aneh lagi di masa SMP.

Yang diceritakan Pak Yoyo sekarang merupakan versi manusia.

"Singkat cerita, banyak negara bersengketa merebutkan 400-Imp dan sumbernya. Muak dengan perang, seorang maniak bodoh berpikir kalau ini merupakan saat yang tepat untuk menghentikan konflik bersenjata, sekaligus menguji Bom Impossibleium-nya. Satu gram Bom Impossibleium diturunkan di setiap benua, daaan...." Pak Yoyo merentangkan tangannya dramatis. "With great power, comes great KABOOM!!"

Para siswa tidak ada yang bereaksi. Seperti yang telah kukatakan, cerita ini telah kami dengar ribuan kali. Pak Yoyo sama sekali tidak punya alasan untuk menceritakannya. Aku mulai curiga kalau dia senang mendengar suaranya sendiri.

"Pemboman itu sukses membuat membuat peradaban Bumi hancur; 80% penduduk Bumi mati—termasuk si pembuat bom, dan pemerintahan pun tumbang. Pada akhirnya, mereka-mereka yang selamat membentuk sebuah pemerintahan baru yang menguasai seluruh Bumi dan mulai memperbaikinya kembali. Bumi sedikit membaik, dan setelah puluhan tahun mulai ramah kehidupan. Utopia ini—atau Dystopia, tergantung siapa yang kau percaya—menemukan kembali Impossibleium, kali ini digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. 400-Imp membuat banyak hal yang mustahil menjadi mungkin, seperti 'Pesawat-yang-Lebih-Cepat-daripada-Cahaya' dan 'Anti-Gravitasi'. Tidak puas tinggal di Bumi, manusia mulai membangun kota di Bulan, Mars, di bulan-bulan Jupiter dan Saturnus, membuat koloni di luar angkasa, dan mulai terraforming ke luar Tata Surya."

Auriel tampak mencatat apa yang dikatakan Pak Yoyo. Ternyata dia memang tidak tahu. Aku jadi penasaran, bagaimana pandangan Elf tentang Grandia. Pengetahuanku selama ini cuma berasal dari rumor dan secondhand information.

"Ternyata, Luar Tata Surya merupakan tempat terlarang bagi manusia, menurut perjanjian yang dibuat Persekutuan Alien dengan manusia kuno 10.000 tahun Sebelum Masehi. Selain itu, peradaban Bumi yang terlalu cepat membuat para Alien tidak suka; mereka menganggap manusia akan mengacaukan semesta, seperti mereka mengacaukan Bumi sebelumnya. Kapal-kapal manusia diarahkan untuk pulang; mereka dilarang untuk keluar dari Tata Surya. Situasi politik dengan Alien pun semakin memanas."

Pak Yoyo mendekati blackboard dan mulai menulis "Impossibleium – Perang Impossible – Kehancuran Besar – Satu Pemerintahan – Teknologi Super Modern – Terraforming – Kontak dengan Alien – ".

"Sementara pemerintah bernegosiasi dengan Alien, sekelompok pemuda-pemudi di Bumi berumur antara 13-18 tahun memberontak, menganggap kalau mereka tinggal di sebuah Dystopia. Poster-poster seperti "Kami lah Pemuda-Pemudi Bumi, Penentang Dystopia" tersebar di mana-mana. Mungkin karena nasib baik atau apa, mereka berhasil menumbangkan pemerintah Bumi." Pak Yoyo mendengus. "Sebuah pemerintahan, yang berkembang dari kehancuran Bumi, dan merupakan pembuat situasi politik paling aman sejak ratusan tahun, ditumbangkan oleh sekumpulan remaja! Membuat kita bertanya-tanya mengapa nenek moyang kita waktu itu sangat tidak kompeten.

"Pemerintahan yang kosong—remaja-remaja itu cuma tahu menumbangkan pemerintah, tapi tidak tahu mengurusnya—membuat administrasi Bumi dengan mudah diambil alih oleh Alien. Singkat cerita, Bumi dan koloninya menjadi bagian dari Perserikatan Dunia-Dunia (PDD). Setelah perdebatan panjang di Planet Lamek, manusia akhirnya diperbolehkan terraforming ke planet-planet yang masih kosong di Bima Sakti, dengan pengawasan Dewan Keamanan PDD pastinya. Salah satu penjelajah manusia menjumpai planet ini, yang kemudian dinamakannya Grandia, atas nama istrinya.

"Daaan, hampir seribu tahun, belasan perang besar, dan empat Dark Lord kemudian, Grandia menjadi seperti sekarang."

Pak Yoyo membungkuk bagai pemain teater.

Auri mengangkat tangan. "Pak, Bapak tidak menceritakan peranan makhluk-makhluk magis dalam cerita Bapak dan bagaimana mereka membuat Grandia semakin layak huni."

"Oh, itu akan saya ceritakan di pertemuan Matematika berikutnya. Sekarang sudah pergantian jam pelajaran."

Masa sih? Aku melihat jam tangan, dan benar, satu jam setengah telah berlalu. Padahal aku yakin cerita Pak Yoyo cuma beberapa menit saja.

Aneh.

Aku melihat depan kelas. Entah bagaimana, Pak Yoyo telah menghilang. Super Crystalium Blackboard juga telah kembali ke bentuk asalnya, sebuah papan kristal transparan.

"Kapan kita belajar Statistik?" keluh Jane mendekatiku sambil melepaskan masker.

"Probabilitasnya nol," sahut Shotaro sama kesal. "Mungkin sampai akhir semester kita akan mendengar sejarah melulu."

Aku cuma tertawa kecil.

"Setelah ini kalian kelas apa?" tanya Jane.

"Mekanika Kuantum," balasku setelah melihat datapad. Aku meringis mengingat siapa yang mengajar itu. "Kau?"

"Aku dan Auri masuk Politik Antar Planet."

Auriel menghampiri Jane. Rambut pirang Elf itu sekarang telah berwarna hitam. Dia tersenyum, lalu mengulurkan tangan padaku. "Auri."

Aku menjabat tangannya. "Al."

Auri mendekat, lalu mencium kedua pipiku. Perkenalan formal ala Elf. Itu artinya Auri menganggapku sebagai teman, bukan lagi kenalan. Aku merasa ... terhormat. Jarang ada Elf yang mau meng-upgrade hubungan mereka dari 'kenalan' menuju 'teman', apalagi terhadap orang yang baru mereka temui.

Mata Jane menemuiku.

"Siapa dia?" tanyaku.

Gadis bermata cokelat gelap itu mengulum senyum. "Teman kecil."

Auri berkenalan dengan Shotaro dan melakukan hal yang sama.

Mungkin hari ini tidak buruk juga. Aku sekarang punya teman baru.    

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top