🐩 Doyoung - Berlin (02)

Goes to Berlin
Part 02

_Berlin_

"Seira," panggil Doyoung saat mereka telah berada didalam pesawat sejak 3 menit yang lalu.

Seira yang sedang mengunyah permen karet hanya memalingkan wajahnya dari jalanan lebar untuk para pesawat.

"Kita akan lama berada dipesawat. Kamu tahu kan?" Tanya Doyoung yang mengawali percakapan mereka.

"Aku tahu. Ada transit?" Tanya Seira yang terus mengunyah permen karet tersebut.

Doyoung mengangguk, "Di Hongkong. Overnight Layover." Jelas Doyoung yang membuat Seira mengangguk paham.

"Young, aku penasaran satu hal daripada kamu memikirkan kita hendak kemana nanti." Kata Seira yang hendak dijawab oleh Doyoung namun tak jadi.

"Diharap kepada seluruh penumpang Chatay Pasific untuk mengeratkan sabuk anda."

Doyoung hanya memberikan senyum yang langsung dipahami oleh Seira. Doyoung akan menjawab nanti setelah mereka terbang.

Pesawat jalan dengan pelan disertai suara bising yang kencang, tak heran kenapa para petugas disana memakai headphone khusus. Setelah merasa siap, pesawat naik dengan perlahan hingga terbang diatas awan dengan pelan.

"Apa itu?" Tanya Doyoung saat merasa semuanya sudah kembali stabil.

"Berapa harga tiketnya?"

"Heum... tiga hari yang aku pesan tiket ini juga sengaja aku pilih yang kelas ekonomi biar kamu tidak bawel," jawab Doyoung dengan penjelasan rinci.

"Dengan satu transit di Hongkong nanti, dan pemberhentian sebentar di Vienna International Airport, senilai enambelas juta per orang. Kita akan berada dipesawat dua hari, Seira." Tutup Doyoung dengan nada lembut dan sambil merapikan surai rambut Seira.

"Apa tidak kemahalan?" Tanya Seira dengan bibir yang dimanyunkan.

Doyoung tersenyum, "Tidak ada yang mahal kalau disangkutkan dengan Kim Seira." Kata Doyoung yang dibalas dengan pukulan kecil Seira.

"Gombal." Kata Seira yang lalu kembali melihat kapas putih yang bertebaran di langit.

_Berlin_

Doyoung tersenyum kecil saat melihat bibir kecil milik Seira terus bergerak-gerak kecil entah kenapa. Rasanya lucu saat melihat Seira begitu setelah transit di Hongkong tadi.

"To all our passengers, please fasten your seatlbelt."

Doyoung langsung mengeratkan sabuk miliknya dan juga milik Seira, karna, ia tak tega membangunkan malaikat miliknya ini.

Pesawat tersebut perlahan memiringkan badannya untuk segera melandas di Berlin Tegel Airport setelah 36 jam perjalanan kemari.

"Seira, irreona..." kata Doyoung setelah melepaskan sabuk mereka  menepuk-nepuk pelan pipi tirus milik Seira.

Seira hanya mengerjap-ngerjap matanya dengan imut, "Sudah sampai ya?" Tanya Seira dengan nada serak khas bangun tidur. Doyoing mengangguk dan mengambil barang milik mereka. Seira baru bangun tidur, Doyoung tak sampai hati meminta Seira mengangkat barang tersebut.

Mereka turun dari pesawat dan melalui berbagai proses agar dapat keluar dari bandara tersebut.

"Eh, sudah malam ya?" Tanya Seira  setelah matanya terbuka lebar, soalnya dari keluar dari pesawat sampai keluar dari bandara, matanya masih belum bisa terbuka sempurna.

"Iya... makanya sekarang, kita tidur dulu di hotel." Kata Doyoung yang mendekati sebuah bus mini yang terparkir didepan bandara.

"Eoh? Ini langsung ke hotel?" Tanya Seira dengan tatapan bingung.

Doyoung mengangguk, "Tentu saja. Setidaknya bawaan ini disimpan ditempat yang aman, baru kita jalan-jalan." Kata Doyoung sambil mengangkat bagpack Seira dan menunjuk koper mereka.

Seira duduk didalam bus dan mengambil tempat dekat dengan kaca, ia antusias terbang ke Berlin daritadi. Apalagi dengan Doyoung.

Jalanan kota masih ramai padahal sudah jam sepuluh malam. Seira sih mengalami yang namanya jetlag. Dia tahan terus daritadi, bagaimana lagi, kalau terus tidur kapan jalan-jalannya? Tengah malam?

"Tidur saja, Seira. Sampai ditujuan akan aku bangunkan." Kata Doyoung sambil meletakkan kepala Seira diatas pundaknya. Menepuk kepala Seira dengan pelan, dan bahkan Doyoung humming lagu lullaby untuk pengantar tidur kekasihnya ini.

"Tidak mau. Kalau begini, jetlag aku tidak akan bisa pergi." Kata Seira yang senantiasa membuka mata dan menatap lurus kedepan.

Doyoung tersenyum, "Kalau begitu, bagaimana kalau kita pikirkan besok pagi kita mau kemana?" Tanya Doyoung sambil menampilkan kedua gigi depan kelincinya.

"Heum... Dekat-dekat daerah hotel ada yang bisa dikunjungi?"

Doyoung mengangkat bahunya, "Akan aku tanyakan nanti." Kata Doyoung setelah itu bus mini berhenti didepan hotel.

"Eoh? Kita sudah sampai?" Tanya Seira yang mengangkat kepalanya dan menatap sekitar.

Doyoung mengangguk dan mengajak Seira keluar dari bus mini lalu pria itu mengambil bawaan mereka berdua.

Seira tidak bisa untuk tidak menganga, ia merasa kalau ia sedang bermimpi. Bagaimana bisa ia menapak kaki di Berlin, daerah kota yang ia impikan sejak kecil? Belum lagi hotel didepannya.

Seira tidak sadar kalau Doyoung hanya menatapnya tanpa memanggil. Lucu melihat ekspresi kekasihnya yang membuka mulut tanpa berniat menutupnya.

Mungkin... Doyoung memilih pilihan yang bagus untuk mengajak Seira ke kota impiannya.

"Ayo masuk." Kata Doyoung dan menggandeng tangan kanan Seira. Bawaan mereka sudah dibawa oleh salah satu petugas disana.

"Kamu tunggu sebentar ya... aku harus check-in sebelum kamu bisa tidur diatas kasur." Kata Doyoung yang meninggalkan Seira seorang diri diruangan yang cukup luas untuk seorang Seira.

Seira duduk diatas tempat duduk grand piano yang memikat perhatiannya.

Seira menekan tuts dengan perlahan, saat mendengar suaranya ia celingak-celinguk untuk memastikan tidak ada orang. Siapa yang tahu akan menegurnya?

Ia menekan tuts piano tersebut tanpa berpikir panjang lagi. Memainkan sebuah lagu yang amat ia sukai, River Flows in You. Sebuah lagu instrumental yang dikenal oleh masyarakat luas.

"Kamu... aku cariin dimana-mana rupanya disini." Kata Doyoung dengan wajah khawatir. Seira hanya terkekeh kikuk.

Seira hanya pasrah saat Doyoung menautkan tangan mereka dan membawanya naik tangga disebelah grand piano tersebut, "Kita akan kekamarmu, little princess." Kata Doyoung tanpa menatap Seira sama sekali.

"Kamu?" Tanya Seira.

"Tepat bersebrangan."

"Ini pasti hotel bintang lima iya kan? Dilihat dari fasilitas yang ada saja sudah membuatku tahu. Ini pasti mahal." Celetuk Seira tentu saja menggunakan bahasa Indonesia. Doyoung mengerti kok... kan diajarin Seira.

"Heum... menurutmu empat juta per hari, mahal ya?" Tanya Doyoung yang membuat Seira naik darah hingga ke diubun-ubun.

"Kita berada disini selama empat hari lho. Satu orang sudah harus enambelas juta." Jawab Seira yang membuat Doyoung terkikuk.

"Sebenarnya... kamarmu itu memiliki a large bed. Aku membohongimu sih, tentang kamarku yang berseberangan denganmu." Ngaku Doyoung yang membuat Seira menggembungkan pipinya.

"Sudah kuduga." Kata Seira yang kemudian mereka berhenti di nomor kamar 18.

"Masuk, little princess." Kata Doyoung sambil membuka pintu kamar untuk Seira. Sebuah tingkah romantis skala kecil sih...

Seira tidak bisa untuk tidak mengagumi isi kamar tersebut. Ini terlalu berlebihan untuk dirinya.

Seira langsung menghempaskan dirinya diatas kasur tanpa mengatakan apapun. Doyoung menggeleng maklum, kekasihnya ini pasti lelah.

"Hey... sikat gigi dan ganti bajumu." Kata Doyoung sambil menepuk pelan pipi Seira yang hampir tertidur.

Seira mengerucutkan pipinya, "Iya. Iya..." kata Seira dan bangun lalu segera mengambil baju yang terletak dikopernya yang telah diangkat oleh para petugas hotel, lalu ke kamar mandi.

Selesai dengan ganti baju, Seira langsung berbaring dikasur, Doyoung sih sudah ganti, mungkin saat Seira ganti kali ya.

Doyoung meletakkan ponselnya dimeja nakas sebelahnya, lalu berbaring.

CUP

"Good night, little princess."

Doyoung mengecup pucuk Seira dengan posisi menghadap Doyoung.

"Good night, bunny boy."

Goes to Berlin with
K I M  D O Y O U N G

Will be continue
Part 03

AN
# Yeayyyy diup... bobok bareng nih dengan Doyoung. Walaupun sekasur tapi ujung ke ujung kok.

# Next?

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top