Chapter 9
Pertengkaran diantara mereka seakan menguap tidak berbekas, bahkan Noelle berani yakin bahwa amarah tidak lagi ada diantara hubungan mereka berdua. Namun diam-diam Noelle takut Anthony akan kembali marah kepadanya seperti sebelumnya. Sehingga Noelle tidak berani melakukan hal yang tidak diinginkan Anthony.
Contohnya seperti sekarang, Anthony memaksanya untuk menghadiri pesta bisnis keluarganya, walaupun tidak ingin dan bahkan bisa dibilang Noelle sangat membenci tempat seperti ini, namun ia tidak berani mengatakannya kepada Anthony.
Apa cinta benar-benar membuat kepalanya menjadi bodoh dan tidak berdaya seperti ini?
2 hari sebelumnya Anthony memberikannya gaun berwarna lembayung yang kontras dengan kulitnya yang putih, gaun cantik dengan belahan pada bagian kaki dan menonjolkan keindahan tubuhnya—yah, walaupun tubuhnya tidaklah terlalu indah sebenarnya.
Entah mengapa, penampilan yang paling sederhana yang bisa ditunjukkannya apalagi saat pesta besar seperti ini malah membuat Anthony menganggapnya yang paling memukau. Sejujurnya sampai sekarang Noelle diam-diam bertanya pada diri sendiri apa Anthony memiliki sakit mata kronis sehingga bisa melihatnya menjadi gadis yang paling menawan?
Noelle berjalan dengan heels tingginya dan membuatnya goyah sesaat, namun Anthony selalu memegang pinggulnya dan membuatnya berjalan dengan pelan, "Tony, can I ask you something?" Tanya Noelle kemudian sambil melihat betapa tampannya pria itu dalam setelan suit and tie-nya.
"hm?"
"apa kau—"
Seakan merasa dipanggil, Anthony menoleh kearah Noelle dan tersenyum. Senyuman yang selalu bisa membuat Noelle meleleh. "kau mau tanya apa?"
"..bisakah kau berhenti tersenyum sebentar saja Tony? Kalau kau terus melakukan itu, aku akan susah fokus pada inti pembicaraan yang akan aku lakukan.."
Anthony tertawa terbahak-bahak dan membuat beberapa pasangan menatap kearah mereka, yang kemudian disikut oleh Noelle untuk membuatnya berhenti tertawa
"Maaf, aku sama sekali tidak menyangka—" Anthony berpura-pura berdeham sebelum melanjutkan ucapannya, "aku tidak pernah menyangka kalau senyumanku sangat menawan, sayang.."
"aku tidak pernah bilang senyumanmu menawan!" sanggah Noelle dan semburan panas menjalar ditelinganya
Kemudian Anthony memberikannya satu ciuman tepat diujung hidungnya dan membuatnya memekik. "Hey kalian berdua, ini tempat umum. Seharusnya kalian mencari tempat untuk bermesraan"
Anthony tersenyum lebar menatap orang yang mengatakan itu kepadanya, sedangkan Noelle hanya mematung saat menyadari ada yang menatap mereka. "Hey Mom, Dad..!" sapa Anthony dengan riang, sangat berbeda dengan suasana hati Noelle sekarang
"Tony, kau seharusnya malu.." ujar seorang wanita dengan rambut blonde terangnya dan mata hijaunya yang sangat menawan. Dan wanita itu menatap Noelle dengan tatapan kasihan, "lihat gadis malang ini, dia sangat terkejut dengan perbuatanmu!"
Lalu wanita itu mengecup kedua pipi Noelle dan menyapanya, "Hey, Aku Sophia ibu dari Anthony, senang bertemu denganmu Noelle"
"Anda—Anda mengetahuiku?"
"Oh tentu saja, anak itu membicarakanmu setiap waktu.." Sophia tertawa terbahak-bahak dan mengacuhkan protes Anthony yang menggeram karena malu.
Noelle menatap Anthony sekilas dan menyadari bahwa ibu Anthony baru saja membuka salah satu rahasia yang pastinya akan dijaga oleh Anthony dengan sangat baik. Melihat pria itu baru saja mengeluarkan semburat merah dikedua wajahnya. Hal itu, membuat Noelle tersenyum lebar
"hentikan senyumanmu itu, Elle.." tegur Anthony sambil mendesah
Pria tinggi yang tingginya bahkan hampir sama dengan Anthony berjalan memeluk pinggang Sophia dan tersenyum. Noelle yakin itu adalah ayah Anthony, karena pria itu terlihat sangat mirip dengan Anthony. Dari cara pria itu berjalan, tersenyum, dan bahkan bola matanya yang berwarna biru terang itu benar-benar terlihat sama!
"Kau seharusnya tidak menggoda gadis Tony, sayang.." ucap pria itu sambil mengecup ringan pipi Sophia
Sophia hanya terkekeh dan mencium pria itu sekilas, "apalagi yang bisa membuatku bahagia selain melihat Tony jatuh cinta?"
"Oh come on, kalian baru saja mengguruiku untuk bersikap sopan didepan umum, dan kalian sendiri yang melanggarnya?" Anthony mendesah dan menarik tanganku, "ayo Elle, kita masuk kedalam. Lupakan saja mengenai keberadaan kedua pasangan menyebalkan itu"
"Hey, Tony.. Apa tidak apa-apa meninggalkan kedua orangtuamu?"
"lupakan mereka, Kalau mereka sudah begitu pasti memerlukan waktu yang sangat lama bagi mereka untuk masuk" ucap Anthony acuh dan menarik Noelle masuk kedalam Ballroom.
Dan astaga, memang ini pertama kalinya Noelle melihat Ballroom, tapi ini terlalu megah hanya untuk ukuran pesta bisnis bukan? Piring, lampu dan gelas Kristal disekeliling ruangan, sedangkan ditengah ruangan telah disiapkan beberapa gelas sampagne kristal yang disusun dengan berbagai model sampanye diletakkan disampingnya.
"..this.. amazing" gumam Noelle saat melihat kesekeliling ruangan dan menurutnya Anthony juga sangat mengagumkan karena pria itu sepertinya biasa dengan keadaan ini semua
Anthony tersenyum dan berbisik ditelinganya yang langsung membuatnya merah padam seperti kepiting rebus, "Ballroom yang akan kita gunakan saat menikah nanti akan 2x lipat lebih besar dari ini..."
Sial, pria itu selalu tahu bagaimana membuat ketegangannya menghilang. Bahkan melontarkan lelucon yang garing seperti itu!
Noelle POV
Sekarang mau tidak mau Noelle menyadari betapa besar kekuasaan dan kekayaan Anthony, karena hanya dengan pria itu masuk kedalam ruangan beberapa rekan bisnis ayahnya mulai berjejer untuk menyapa Anthony yang sebenarnya hanya datang untuk menikmati pesta bukannya bisnis.
Namun beberapa kabar mengenai Anthony yang akan meneruskan usaha ayahnya telah tersebar luas sehingga itu sangat mengganggu Anthony—aku dapat mengatakan hal itu setelah melihat kerutan diwajah Anthony yang ditunjukkannya saat rekan bisnis ayahnya pergi menjauhinya
"..kau lelah?" Tanyaku sambil tersenyum menenangkan.
Anthony menghembuskan nafas dan hampir saja melonggarkan ikatan dasinya yang jelas saja tidak akan terlihat sopan didepan para tamu, "Don't do it! You'll ruin everything, Tony..."
"Aku sangat lelah, Elle. Aku membawamu kesini bukan untuk memperlihatkanmu rekan kerja ayahku yang menyebalkan. Aku hanya.." Anthony mengacak rambutnya dan mendesah saat tidak menemukan kata-kata yang tepat, "sudahlah!"
Aku tersenyum dan mengelus tangannya yang bebas dengan kedua tanganku. "Pesta ini luar biasa, Tony. Aku tidak pernah menghadiri pesta macam ini sebelumnya dan aku sama sekali tidak bosan saat melihatmu dengan para rekan kerja ayahmu itu"
"Tapi..."
"Aku lapar" ucapku memotong protes Anthony dan menatap meja yang telah disiapkan beberapa cake untuk cemilan, "dan aku melihat cheese cake didepan sana Tony.."
Anthony tersenyum miring seakan mengetahui maksudku, "nampaknya ini maksudnya aku harus menemanimu?"
"tentu saja...!"
"kalau begitu mari my lady.." ucap Anthony sambil memberikan sebelah tangannya sambil sedikit menunduk. Dan ini benar-benar konyol, dengan segala tingkah laku Anthony yang berpura-pura menganggapku sebagai princess. Namun aku menerima uluran tangannya sambil terkekeh
"konyol!"
Kemudian kami berjalan kearah seberang untuk mendapatkan cemilanku yang tidak bisa kutolak, dan mendadak aku menghentikan langkahku saat melihat seseorang menghampiri kami. Bahkan Anthony yang biasanya tidak peka rasanya sangat tahu apa maksudku menghentikan langkah dengan tiba-tiba. Anthony bahkan menatap kearah tempat yang sedang kutatap
**
Seorang pria tua berpenampilan sederhana namun masih memancarkan ketegasan diseluruh gerakannya, mendatangiku sambil tersenyum kecil, "Elle..! Ayah sama sekali tidak menyangka kau akan berada disini.."
Noelle terdiam dan Anthony menatap Noelle dengan wajah yang tidak bisa ditebak
"Senang melihatmu disini sayang, seharusnya kau mengatakan pada ayah jadi kita bisa datang bersama" Pria itu hendak memeluk Noelle sehingga Noelle memutuskan untuk memundurkan langkahnya dan menggeleng tidak percaya
"Elle.." Anthony menyadari kalau Noelle hampir saja kehilangan seluruh kendali dirinya, sangat berbeda dengan gadis yang dikenalnya selama ini. Kali ini bahkan Noelle tanpa sadar telah melepaskan pegangan tangannya pada Anthony
Noelle menelan ludahnya dan tersenyum sinis, "..aku tidak percaya bisa bertemu denganmu disini..." saat melihat nada terkejut dari pria tua itu, Noelle bahkan tidak mau lagi menatap pria itu sehingga ia memilih untuk memegang kedua tangannya dibelakang punggungnya dan tersenyum lebar, "senang bertemu dengan anda disini Mr. Lincoln, tapi maaf saya harus memohon diri untuk pergi karena beberapa urusan. Saya harap dapat bertemu dengan anda dilain waktu.."
Lalu Noelle berjalan cepat meninggalkan Mr. Lincoln—dan bahkan Anthony
Dan Anthony menatap kepergian kekasihnya dengan tatapan tidak percaya. Namun kemudian menatap Mr. Lincoln yang menatapnya dengan sedih. "sepertinya dia sama sekali tidak ingin bertemu denganku"
"nampaknya begitu kalau anda sendiri sudah sadar, Mr. Lincoln.."
Mr. Lincoln tersenyum kecil, "anak itu sudah besar dan sangat mirip dengan ibunya.."
Melihat Mr. Lincoln yang masih menatap kepergian Noelle dengan sedih. Bahkan tatapannya seakan terasa sangat nyata, itu tidak bisa membuat Anthony mengacuhkannya begitu saja walaupun ia sangat ingin mengejar Noelle sekarang juga, karena pasti gadis itu sedang berada disuatu tempat untuk menahan tangisnya. Namun alih-alih mengejar Noelle, Anthony mengajukan pertanyaan yang selalu berada dipikirannya, "kenapa anda melukainya dengan begitu dalam kalau anda sendiri sepertinya sangat menyayanginya?"
"aku sama sekali tidak bermaksud untuk melukainya!" Mr. Lincoln menatap kearah Anthony dengan geram. "ini semua adalah kesalahanku sendiri memang, tapi aku sama sekali tidak ingin menyakitinya. Baik Elle maupun ibunya!"
"begitu...?"
"ya seperti itulah" kemudian Mr. Lincoln tersenyum lebar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "apa yang sudah kukatakan kepadamu, anak muda. Ini sama sekali bukan urusanmu, tapi tampaknya Elle sangat menyukaimu.."
Anthony tersenyum lebar mendengar penuturan itu, "menurut anda begitu?"
"aku harap kau bisa membahagiakannya, kalau sampai kau menyakitinya aku pasti akan membalasmu. Bagaimanapun aku adalah ayahnya. Karena aku tidak bisa membahagiakannya, aku harap kau bisa"
Kali ini Anthony meringis
"..sayangnya aku sudah sering membuatnya menangis dan itu artinya aku sering melukainya" gumam Anthony pelan dan berharap Mr. Lincoln tidak mendengar ucapannya, Anthony pun tersenyum lebar dan memperlihatkan sederetan gigi putihnya,"kau tenang saja Mr. Lincoln, aku sangat mencintainya dan akan menjaganya!"
Kemudian Anthony membungkuk kecil sebelum pergi mengejar Noelle yang kini entah berada dimana.
**
Noelle benar-benar tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Demi Tuhan, apa yang dapat membuatnya bertemu dengan orang yang sangat dibencinya itu? Memang, Noelle sadar bahwa ayahnya memiliki beberapa bisnis yang besar yang mungkin bisa disamakan dengan keluarga Anthony. Tapi Noelle tidak mempercayai penglihatannya sendiri kalau ia memang harus bertemu dengan ayahnya disini. Ditempat ini..
"..aku sepertinya memang benar-benar sial" gumamnya sambil menaikkan kaki dan memeluk lututnya itu.
Dan kemudian Noelle sadar, ia berada ditengah-tengah taman maze yang berada tepat dibelakang hotel yang begitu besar. Menyadari dirinya hilang, Noelle sama sekali tidak merasa takut melainkan bersyukur. Itu artinya ia tidak akan bertemu dengan siapapun dalam kondisi seperti ini.
Tapi pikiran keduanya membuatnya meringis. Noelle mengingat kenyataan bahwa ia meninggalkan Anthony dengan ayahnya di ballroom. Apakah Anthony akan menanyakan sesuatu padanya? Atau marah karena ia meninggalkannya? Entahlah..
Dalam pikirannya yang kalut antara ingin menangis dan kembali pada Anthony, mendadak Noelle mendengar suara yang membuatnya kembali ke dunia nyata. "ternyata disini kau menyembunyikan diri, sayang.."
Noelle mengangkat kepalanya yang sedari tadi ditundukkan dilututnya. "..Tony..." gumamnya pelan saat melihat orang yang sangat ingin dilihatnya berada tepat didepannya. Kini Anthony tidak serapi sebelumnya. Rambut pirang yang berantakan, dasi hitam yang dikenakan pria itu sebelumnya kini telah dikendorkan 1 ikatan, nafasnya memburu seperti habis berlari.
"kau kenapa?" Tanya Noelle dan bangkit dari tempat duduknya saat melihat keadaan Anthony yang kacau.
Namun tawa Anthony menghentikan langkahnya, Anthony mendekat dan menarik Noelle kedalam pelukannya. Kemudian menciumnya dalam 1 ciuman yang keras dan menghela nafas lega. "syukurlah aku menemukanmu"
"kau mencariku?"
Anthony menatap mata Noelle dan mengelus kedua wajah gadis itu dengan jemarinya, "kau pergi begitu saja. Apa kau tahu sudah berapa lama kau menghilang dan aku bahkan tidak dapat menemukanmu dimana-mana?"
"..i'm sorry.."
"don't do it again, Elle.. Kau membuatku terkena serangan jantung!" Anthony menggerutu sambil menarik Noelle kedalam pelukannya dan menghirup aroma gadis itu serta merasa lega.
Rasa bersalah merasuki hati Noelle, ia pun membalas pelukan Anthony dan hampir menangis. Entah apa yang membuatnya menangis, namun dipeluk Anthony dengan begitu eratnya—satu-satunya yang sangat diinginkannya setelah kejadian yang benar-benar merusak harinya, membuatnya menumpahkan air mata. "..I'm sorry, Tony. I just.. I cant thinking clearly.."
"it's okay, Elle. Just don't do it again. Don't go anywhere without me.." Anthony melepaskan pelukannya dan mengulurkan tangannya membiarkan jemarinya menghapus butir-butir air mata Elle.
Anthony tahu betapa kacaunya Noelle sekarang. Gadis itu benar-benar tidak suka melihat ayahnya, setidaknya sebenarnya Anthony tahu mengapa Noelle melakukan hal itu, hanya saja Anthony tidak suka menyadari kenyataan bahwa gadis itu benar-benar terganggu secara mental hanya dengan kehadiran pria tua itu.
Namun alih-alih menanyakan hal itu kepada Noelle, Anthony membawa Noelle kembali duduk dengan tetap memeluk gadis itu kedalam pelukannya. Anthony menenangkan Noelle dengan tindakan-tindakan kecil seperti mencium puncak kepala Elle, mengelus pundak dan tangan gadis itu sembari membiarkan Noelle melampiaskan kekesalan serta kesedihannya
"maafkan aku, aku tidak menyangka kehadirannya akan membuatmu begitu sedih.."
Noelle tidak menjawabnya.
Beberapa menit berlalu, hingga akhirnya Noelle memberitahu Anthony mengenai apa yang dipikirkannya, "..I don't hate him, Tony.."
"..So, why?"
Noelle melepaskan pelukannya dari Anthony dan menatap sederetan bunga lily berada 3 meter didepannya, matanya menatap kosong kearah bunga itu, "..kalau aku memaafkan pria itu, apa yang tersisa dari ibuku? Pria itu meninggalkannya walaupun begitu mencintainya.."
"Noelle.."
"Aku tahu semuanya Tony. Aku tahu dan begitu menyadarinya, serta membencinya karena kenyataan itu.."
Kemudian Noelle menatap Anthony dengan mata dipenuhi dengan kesedihan. "..kalau memang mustahil baginya membahagiakan ibuku, setidaknya ia harus berada disampingnya saat ia begitu merasa kesepian. Aku begitu membenci kenyataan bahwa pria itu mencintai ibuku namun tidak dapat melakukan apapun.."
Anthony menarik tangan Elle dan mengelusnya pelan sebelum mengemukakan pendapatnya sendiri, "..ada suatu ketika saat kami sebagai pria tidak dapat melakukan apapun untuk wanita yang kita cintai dan saat kami mengetahui hal itu" Anthony menarik nafasnya, "..itu adalah hukuman terberat yang akan kami rasakan seumur hidup, Elle.."
Itu Benar. Anthony tidak berbohong tentang hal itu, saat terakhir kali ia melakukan tindakan yang membuat Noelle menangis dan bahkan menghindarinya, Anthony merasa dunia sedang menghukumnya. Begitu banyak perasaan bersalah yang sampai hari ini dirasakannya, bahkan walaupun Noelle tidak lagi menghindarinya. Perasaan itu akan selalu ada dan Anthony yakin ayah Noelle juga merasakan hal itu
Noelle menggeleng-gelengkan kepalanya, "...tidak mungkin.."
"ada sesuatu yang akan selalu terjadi bahkan saat orang-orang mengatakan tidak mungkin sayang.." Anthony kemudian menyadari bahwa Noelle telah menghilang selama 2 jam dan bahkan cairan belum menetes ditenggorokan gadis itu. "..aku akan meninggalkanmu sebentar, bisa?"
"tentu saja. Apa ada masalah?"
"tentu saja masalah. Kau sudah menghilang selama 2 jam dan belum meminum apapun bukan? Bahkan kau belum makan. Aku akan mengambil minuman dan beberapa makanan kecil untuk perutmu"
Noelle menarik ujung jas Anthony,"..I don't need that, Tony. Stay with me, please?"
"aku hanya sebentar, kau membutuhkan itu. Aku tidak ingin kau sakit nanti. Jangan pergi kemana-kemana, you understand?"
"Tony.."
"be good girl.." Anthony mengecup ujung kepala Noelle sebelum berjalan kembali kedalam ballroom untuk mengambil apa yang bisa dibawanya.
Noelle menghela nafas panjang dan menatap ke langit sebelum akhirnya berpikir bahwa ia tidak membutuhkan apapun selain Anthony disisinya. Noelle masih mengingat begitu banyak rasa sakit yang dirasakannya saat Anthony berlaku kasar padanya, namun saat Anthony berlaku dengan begitu manis padanya..
"..rasa sakit itu akan berubah menjadi rasa manis.." gumam Noelle pelan dan menutup mata, membiarkan semilir angin malam membelai kulitnya yang terasa sejuk.
"sepertinya kau sedang berada dalam pikiranmu lagi, Elle.."
Noelle menatap suara yang memanggil namanya, jelas itu bukan suara Anthony. Kemudian menyadari pria yang kini berada 2 meter jauhnya dari tempatnya duduk. Bulu tubuhnya meremang saat menyadari pria itu adalah pria yang sama dengan orang yang membuatnya hampir kehilangan Anthony beberapa waktu yang lalu.
"..Hamilton.."
**
Heyhoo.. aku berniat untuk selesein cerita ini secepatnya karena one or two chapter again will be a last chapter. Any request? hihi...
thanks for all readers.
-Nathalie-
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top