31 | Fakta Mengejutkan
"MEREKA maksa banget buat ikut pas gue bilang mau jengukin lo. Maaf, ya?" Nura menyimpan satu parsel buah-buahan di atas nakas sebelum melirik kedua keluarganya, Nuryani dan Yara. Lantas gadis imut itu melempar fokus ke arah Sahal dengan tatap mohon maklum.
"Iya, enggak apa-apa." Sahal tersenyum canggung. Hanya berharap Aryan disibukkan oleh pekerjannya-seperti biasanya-dan tak datang ke rumah sakit hari ini. Bukan apa-apa, Sahal hanya tak siap menanggung malu seandainya Aryan tiba-tiba mengamuk di hadapan Nuryani dan Yara saat tahu kalau ada orang lain setelah Nura yang berhubungan dekat dengannya.
"Lagian, Teteh tuh ada-ada aja. Masa dia bilang bisa gawat kalau ayah Kak Sahal tahu kita jengukin Kak Sahal." Yara melirik Nura, mencibir. "Emangnya ayah Kak Sahal itu monster apa?"
Nura dan Sahal saling melempar pandang. Sama-sama tersenyum kecut.
"Ibu perhatiin kamu ini sering banget sakit sih, Nak. Harusnya kalau tahu gampang sakit, jangan suka maksain diri," nasihat Nuryani lembut.
Senyum tipis Sahal tersemat. Seandainya bisa, ia pun ingin berlaku demikian. Namun, tiada daya yang ia punya. Hidupnya sudah diatur sepenuhnya oleh Aryan. Untuk menghirup udara kebebasan pun rasanya adalah hal tersulit dalam hidup Sahal.
Setelah tahu bagaiman sulitnya kehidupan Sahal, Nura pun hanya bisa tertunduk lesu. Turut merasa prihatin dan juga terpukul.
"Bu, kita enggak bisa lama-lama di sini. Sahal perlu istirahat. Ayo, pulang!" Tiba-tiba saja nura merasa khawatir saat Sahal melirik jam yang menempel di dinding bagian barat ruang rawat VIP itu.
"Kamu ini! Kita juga baru datang, ngobrol-ngobrol dikit enggak apa-apa kali. Emangnya kamu enggak kangen apa sama pacarnya?"
Sementara Yara mendadak cemberut, pipi Nura merona. Ia mendesis kecil tatkala Sahal menatapnya dengan pandangan loh, kok nyokap lo tahu kita pacaran?
"Ish, ibu ini apaan, sih? Pokoknya, ayo, kita pulang! Nanti keburu ada yang kebakaran tuh." Nura menoleh ke arah Yara sekilas. Padahal, saking panasnya pipinya sekarang, Nura merasa kalau ia yang akan terbakar. Cepat, Nura meraih tangan Nuryani, menariknya untuk segera beranjak.
"Kamu cepet sembuh ya, Nak. Udah lama juga kamu enggak main ke rumah butut ibu. Nanti ka-"
"Bu, ayo!"
"Iya ... iya ...." Nuryani sempatkan untuk mengusap kepala Sahal sebelum tubuhnya ditarik paksa oleh Nura. Ia memberi isyarat kepada Yara untuk segera ikut keluar juga. Namun, gadis kecil itu justru sibuk berbicara dengan si pasien.
"Kak Sahal ...." Yara memberi isyarat kepada Sahal agar mendekatkan kepalanya sejajar dengan mulut kecilnya, seperti hendak membisiki sesuatu.
"Ada apa, Yara?"
"Aku doain Kakak Ganteng cepet sembuh dan cepet putus sama Teh Nura." Bersamaan dengan itu, kecup ringan Yara tempelkan di pipi pucat Sahal. Tak hanya Sahal, Nuryani dan Nura pun terkejut melihatnya. Nura melotot kontan ke arah si Adik.
"Yara ... itu enggak sopan!" Nuryani menegur, selagi menarik Yara menjauh dari Sahal. "Maaf ya, Nak Sahal."
Sahal lagi-lagi hanya bisa tersenyum. Sementara itu Nura membuka pintu ruangan dan terkejut kala netranya menangkap objek pria dengan tubuh tegap yang sedari awal tak Nura dan Sahal harapkan kehadirannya berdiri di depan pintu sana. Jantung Nura nyaris meledak sebelum kemudian ia sadar tatap Aryan terpusat sepenuhnya ke arah salah satu orang di ruangan itu.
***
"Nuryani?"
Nura hanya bisa mematung tatkala Aryan tiba-tiba memeluk tubuh ibunya, selepas mereka menjauh dari ruang rawat Sahal dan berdiri di salah satu lorong rumah sakit yang lebih sepi.
"Teh, kamu sama Yara pulang duluan." Nuryani berujar, selagi berusaha melepaskan pelukan Aryan. Ia melirik kedua anak gadisnya,memberi isyarat kepada mereka untuk segera pergi. Merasa malu mendapat perlakuan seperti itu di hadapan anak-anaknya.
Nura tak banyak bicara, ia meraih tangan Yara dan segera berlalu. Namun, di ujung lorong Nura berhenti dan menoleh cepat ke arah Yara. "Yara bisa kembali ke ruang Kak Sahal?" Gadis bercepol tinggi itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Teteh lupa kasih buku ini ke Kak sahal." Nura terlalu penasaran dengan apa yang hendak kedua orang dewasa itu bicarakan, tetapi Nura tidak bisa membiarkan Yara mendengarkan pembicaraan itu. Lagi, Nura tidak bisa membiarkan Yara menunggu di tempat lain sehingga menyuruhnya kembali ke ruangan Sahal.
"Tapi, kenapa enggak sama Teteh aja?"
"Ya, kan, biar kamu bisa ketemu lagi sama Kak Sahal, dodol!"
Mendengar alasan Nura, Yara tak lagi melempar protes dan segera merebut buku bersampul krem dalam genggaman Nura. Lantas berjalan cepat ke arah ruangan yang sebelumnya ia kunjungi. Selepas kepergian Yara, Nura merapatkan diri dengan dinding di sampingnya. Mencoba mencuri dengar apa yang tengah ibunya dan ayah Sahal bicarakan.
"Kenapa kamu meninggalkan saya begitu saja, Nur? Saya mencari kamu ke mana-mana selama ini." Aryan meraih bahu Nuryani, meremasnya dengan lembut. Tiada disangka sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, yang hilang belasan tahun lamanya, kembali ia temukan. Pria yang selalu terlihat keras itu terlihat begitu lembut dan rapuh saat ini.
Mata Nuryani berkaca-kaca, apa yang selalu berusaha ia kubur dalam ingatannya, tetapi tak pernah mampu ia lakukan, kini berdiri di hadapannya. Membuat hatinya yang kokoh sebab kepahitan hidup yang dilakoninya, kembali melemah dan tak berdaya. Lagi, sekelebatan kenangan menyakitkan dalam hidupnya mampir dan membuat genangan di balik matanya tak lagi bisa dibendung. Nuryani menangis getir. "Saya tidak pernah berniat meninggalkanmu, Mas. Keadaan yang menampar saya agar sadar diri. Kenyataannya, walaupun kita saling mencintai, tapi keadaan tidak pernah merestui hubungan kita."
"Kamu harusnya bersabar sedikit lebih lama, Nur."
Nuryani menggeleng kuat-kuat. Air matanya semakin merembes lebih banyak. "Saya mungkin bisa bertahan walaupun saya tahu kalau orang tua kamu tak menyukai wanita miskin dan kampungan seperti saya. Tapi, jika harus ada wanita lain, saya benar-benar tidak bisa bertahan untuk itu, Mas."
Sungguh, saat tahu kalau orang tua Aryan menjodohkan Aryan dengan Risti, padahal mereka tahu kalau Aryan sudah menikah dengannya, itu adalah hal terpahit yang pernah Nuryani rasakan. Hatinya robek parah, berdarah, bernanah, hingga nyerinya bahkan selalu terasa ngilu hingga saat ini. Saat itu, Nuryani tidak bisa lagi bertahan sehingga pergi meninggalkan Aryan adalah satu-satunya keputusan yang bisa diambilnya.
Aryan mengepalkan tangannya kontan kala wajah Risti mendadak berkelebat. Satu-satunya hal yang Aryan benci dalam hidupnya. Satu-satunya hal yang Aryan anggap telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya. "Maafkan saya, Nur. Seharusnya saat itu kita pergi bersama saja. Harusnya saya tidak menerima perjodohan itu dan menikahi wanita sialan itu. Maafkan saya, seandainya saya memutuskan untuk tidak bergantung kepada orang tua saya, kita mungkin hidup bahagia bersama saat ini."
"Semuanya udah terjadi, Mas. Seberapa banyak pun seandainya yang kita andaikan, itu hanya andai-andai yang tidak mungkin kita ulangi lagi."
"Nur ...." Aryan kembali meraih bahu Nuryani. "Kamu pergi dari rumah saat tengah mengandung anak kita. Bagaimana keadaannya? Apa anak itu ... Nura?"
Mata Nuryani terbelalak, tak percaya kalau Aryan sudah mengenal Nura. "Ba-bagaimana kamu bisa ta-"
"Teh, Kak Sahal enggak ada di ruangannya! Terus ruangannya berantakan banget, kayak habis dibobol maling gitu."
Di tempatnya, Nura yang baru saja merasa ditampar dengan kenyataan yang didengarnya, kembali dikejutkan dengan kabar tak mengenakan dari Yara. Suara Yara yang menggelegar lantaran panik, berhasil menarik atensi Nuryani dan Aryan, memutus pembicaraan mereka. Seketika itu, didorong rasa khawatir, Nura melangkah meninggalkan tempatnya.
Aryan ingin melanjutkan pembicaraan. Namun, melihat Nuryani berbalik dan turut mengikuti langkah Nura, Aryan mau tidak mau turut beranjak dan meninggalkan tempatnya.
Ketika langkah mereka berhenti di tempat tujuan, semuanya hanya bisa mematung. Ruangan VIP tempat Sahal dirawat itu, benar-benar berantakan. Tiang infus tergeletak begitu saja, ada ceceran darah di lantai-sepertinya infus itu dicabut paksa dari tangan Sahal. Bantal dan selimut sudah tidak lagi ada di tempat yang seharusnya. Meja dan sofa yang ada di ruangan itu bergeser dan tidak di posisi sebelumnya. Makanan rumah sakit, buah-buahan yang sempat Nura bawa untuk Sahal berserakan di lantai. Dan ...
"Apa yang terjadi?"
... dengan tangan bergetar, Nura meraih gelang tali milik Sahal yang tak sengaja ia injak saat melangkah lebih jauh ke dalam ruangan.
Anak itu! Masih berani kabur lagi, hm?! Aryan membatin dalam hati, berbalik meninggalkan tempatnya. Meninggalkan Nuryani dan Nura juga Yara yang masih mematung di posisinya masing-masing.
***
"RISTI!"
Melodi yang tengah menunggu Virga berganti pakaian, karena rencananya mereka akan pergi ke bioskop sore ini, dibuat terkejut saat seseorang tiba-tiba saja masuk ke dalam rumah pacarnya itu. Tanpa salam dan mengetuk pintu terlebih dahulu, pria itu masuk dan berteriak menyerukan nama salah satu penghuni rumah.
"Om Aryan?" Melodi dibuat kaget tatkala sosok pria seusia ayahnya itu terekam lensa mata. Saat itu, dengan tergopoh-gopoh, Risti keluar dari dapur. Sama terkejutnya saat melihat Aryan berada di rumahnya dengan raut tak ramah di balik wajahnya.
"Mas A-aryan?"
"Di mana kamu sembunyikan anak itu?!" Aryan maju melangkah mendekat ke arah Risti, berdiri sembari mencengkeram kuat lengah si wanita dengan penuh emosi.
"A-apa maksud kamu, Mas? Anak itu siapa?" tanya Risti bingung. Selalu, ketakutan terbesarnya dalam hidup adalah bagaimana melihat kemarahan Aryan. Meski sudah bertahun-tahun lamanya tak lagi melihat wajah itu, tetapi bayang mengerikan Aryan saat tengah dilingkup amarah adalah yang selalu menghantui Risti.
"SAHAL! ANAK SIALAN ITU! DIA KABUR LAGI KE SINI, KAN?!"
"Enggak, Mas. Sahal enggak ada ke sini. Sejak hari itu aku enggak pernah melihatnya lagi."
Mata melodi melebar, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia beringsut mendekat ke arah Risti, menjauhkan Risti dari Aryan. "Aku dari tadi di sini, Om. Sahal enggak ada ke sini." Hati Melodi bertanya-tanya kini. Jika Sahal benar-benar pergi lagi dari rumah, mungkinkah Sahal datang ke rumahnya-seperti sebelumnya? Mendadak, Melodi ingin segera pulang, tetapi ia tidak bisa meninggalkan Risti begitu saja.
"BOHONG!" Aryan mengacungkan telunjuknya tepat di depan muka Melodi. "Atau jangan-jangan, keluarga kamu yang menyembunyikannya. Kalian semua berkonspirasi untuk mengambil satu per satu kekayaan milik Hadi's Group, hah?" selidik Aryan tiba-tiba. Dengan wajah merah padam penuh kemarahan, Aryan menatap Melodi penuh dengan tuduhan.
"Kenapa Om berpikir sepicik itu?" Air mata melodi menetes, menatap Aryan dengan penuh kekecewaan. Hubungan keluarganya dengan keluarga Sahal sudah lebih dari sekadar partner bisnis, tetapi Melodi tak sangka Aryan bisa berpikir seperti itu terhadap keluarganya.
Virga belum sepenuhnya rapi saat mendengar keributan di lantai bawah. Khawatir, ia segera turun dari tangga dengan langkah cepat. Begitu tahu apa yang sedang terjadi, langsung saja ia mengambil posisi berhadapan dengan Aryan, menyembunyikan Melodi dan Risti di balik punggungnya. Karena Roman tidak ada di rumah, Virga pikir ia yang harus melakukan hal itu-melindungi apa yang memang mestinya ia lindungi.
"Maaf, Om. Kenapa Om enggak coba cari sendiri saja? Kalau Sahal benar-benar ada di rumah ini, Om boleh bawa dia balik. Tapi, kalau ternyata kami enggak terbukti sembunyiin Sahal, Om harus minta maaf sama Mama saya."
Kadang, ada beberapa hal yang membuat Melodi berpikir kenapa Nura pernah jatuh dengan dalam ke dalam pesona Virga. Kenyataannya, apa yang sosok itu lakukan memang selalu membuat orang lain terpesona. Bagaimana cara Virga menghadapi Aryan, bahkan membuat Melodi merasa tak menyesal berhasil move on dari Sahal.
Aryan terlihat berdecak. Menatap Virga dengan sengit. "Minta maaf? Sama Mama kamu? Sampai dunia ini hancur sehancur-hancurnya pun, saya tidak sudi meminta maaf kepada wanita sialan ini!" Tunjuk Aryan tepat di depan muka Risti.
Virga belajar satu hal dari perkelahiannya dengan Sahal waktu itu. Cara Roman, ayahnya menyelesaikan masalah adalah bukan dengan adu mulut, atau bahkan adu pukul. Segala sesuatu pasti bisa dilakukan dengan lebih bijak seandainya ...
"Kalau gitu, biar kami yang memaafkan Om terlebih dahulu."
... disertai dengan hati yang lapang.
Jujur, Aryan merasa malu dan tertohok dengan apa yang Virga lakukan. Ingin ia menyerang anak laki-laki seusia Sahal itu. Namun, melihat tenang tanpa gentar di wajah anak itu membuat Aryan akhirnya balik kanan. Pergi meninggalkan tempatnya.
Selepas Aryan menghilang di balik pintu rumah yang dibanting dengan kasar, tubuh Risti merosot ke lantai. Berulang kali nama Sahal terlafal dari mulutnya. Mendadak hatinya nyeri luar biasa setiap kali membayangkan penderitaan apa yang Sahal terima sehingga kembali memutuskan untuk pergi dari rumah itu.
"Ma ..." Virga berlutut di sisi Risti, membawa tubuh itu dalam rangkulannya.
"Sahal ... bagaimana keadaannya? Kenapa perasaan Mama bilang kalau hal buruk terjadi padanya?" Risti meremas dadanya sendiri. Merasa sesak tatkala wajah Sahal tiba-tiba membingkai dalam ingatannya. "Selama jauh dari Mama ... anak itu, Sahal-nya Mama, pasti menderita. Oh, Tuhan ... Mama nyesel enggak bisa menjaganya dengan baik."
"Vir, gue ... balik dulu ya? Siapa tahu Sahal dateng ke rumah gue," tukas Melodi. Begitu mendapat anggukan setuju dari Virga, Melodi hendak bergegas melangkah. Namun, dering ponselnya, kembali menahan pergerakannya.
Panggilan dari Nura ...
***
Bersambung
Bandung, 27 Januari 2022
Hallo, long time no see ... 😆
Apa kabar semua reader setianya Sahal Hadi?
Semoga baik-baik saja.
Tapi,
bagaimana kalau Sahal tidak baik-baik saja ...
Tak seperti kamu? #sing
Btw, aku mau pindahin cerita ini ke Innovel gegara aku punya akun innovel tapi enggak diisi satu pun cerita. 😂
Ini mungkin chapter terakhir yang aku publish di sini. Kalau penasaran sama kelanjutannya, kalian nanti main-main lah ke lapak Innovel aku.
Makasih.
Tinggalkan vote sama komen yaaa ... Siapa tahu aja komentar kalian bikin aku yang labil ini bisa tetap bertahan di sini.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top