26 | Penderitaan yang Tak Usai

SAHAL merasa tidak enak badan sejak pagi tadi. Kepalanya pusing, tenggorokannya sakit, dan perutnya sedikit mual. Selain diserang demam, Sahal pikir lambungnya mulai bermasalah. Kesepakatan yang ia buat dengan Aryan, membuat ia sedikit stres dan pola makannya menjadi sangat berantakan.

"Papa izinkan kamu tetap bersekolah di Hansa. Papa juga tidak akan menyuruh kamu membawa Hadi's Mall kembali. Tapi, taati aturan di rumah ini, jangan sibuk melakukan hal-hal lain, jangan berteman dengan siapa pun dan fokuslah belajar."

Sahal merasa tidak diberi kesempatan untuk beristirahat setiap kali kata-kata Aryan berputar dalam kepalanya.

"Ada les privat beberapa menit lagi, tapi gue ngantuk banget," keluh Sahal selagi membiarkan tempat tidur menarik tubuh lelahnya. Seragam SMA Hansa bahkan masih melekat, tetapi mata Sahal sangat sulit diajak kompromi. Suara detik jam di dinding ruangan, terasa semakin meninabobokan dirinya. Tak perlu waktu lama, sadar Sahal terenggut dalam lautan mimpi.

Dalam mimpinya, Sahal melihat Nura datang menghampirinya. Memeluknya dengan erat seraya membisikkan kata, "enggak apa-apa, semuanya bakal baik-baik saja, Sahal". Bahkan di dunia mimpi saja, gadis itu tampak mengagumkan dalam pandangan Sahal. Sejuk seperti udara, dan hangat seperti mentari pagi.

Jika diingat lagi, satu minggu selepas ia kembali ke sekolah, tak ada hal berarti yang terjadi antara ia dan Nura. Kekhawatiran akan ancaman si Ayah, membuat Sahal selalu dilanda resah. Sebabnya, setiap kali Nura mengajaknya jalan-jalan selepas sekolah, atau bahkan mengajaknya pulang bersama untuk kemudian berkunjung ke rumah Risti selalu Sahal tolak dengan alasan ia tak punya waktu untuk itu--karena Faktanya memang demikian.

"Aden ... bangun!"

Suara dan guncang di tubuhnya itu begitu lembut. Namun, itu adalah sesuatu yang amat sensitif untuk Sahal. Tak perlu banyak waktu, Sahal membuka mata. Ia masih ada dalam posisi yang sama, dan wajah Yeni-salah satu pelayan di rumah mewahnya-memenuhi bola matanya saat ia terbangun.

"Ditunggu sama Tuan Besar di ruangannya, Den." Yeni menunduk, tergurat raut penuh rasa bersalah di balik wajah wanita dua puluh lima tahunan itu.

Mendengar hal itu, Sahal refleks mengangkat tubuhnya. "Jam berapa ini?!" pekik Sahal nyaris tertahan. Ia meringis kecil tatkala rasa nyeri terasa menusuk ulu hatinya. Pening yang sejak pagi menemani, pun melengkapi penderitaan.

"Pukul setengah tujuh, Den. Tadi tutor Bahasa Inggris dateng, tapi karena Den Sahal keliatannya lagi sakit, semua pelayan enggak ada yang tega bangunin. Kami pikir, itu enggak apa-apa karena dari yang kami dengar, Tuan enggak pulang cepet soalnya mau jemput Oma Titi di bandara. Tapi, ternyata sebelum jam enam, Tuan udah pulang."

Mendengar penjelasan panjang Yeni, kepala Sahal semakin berdenyut. Ia bahkan merasa baru saja terpejam, tetapi tenyata nyaris tiga jam lautan mimpi menenggelamkannya. Saking capeknya ...

"Yaudah, Den. Saya keluar dulu. Oya, tapi tadi kata Bi Susi, sebelum nemuin Tuan Besar, Den Sahal mending mandi terus makan dulu. Bi Susi udah nyiapin air angetnya." Angguk kecil yang Sahal layangkan kemudian menjadi pemutus interaksinya dengan si Tuan Muda.

Yeni baru tiga bulan ini kerja di kediaman keluarga Hadi. Selama tiga bulan sebelum Sahal kembali, Yeni pernah bertanya-tanya kenapa putra tuannya itu memilih kabur dari rumah, padahal semua fasilitas yang ada di rumah super super super mewah ini harusnya cukup membawa kebahagian untuk Sahal. Namun, beberapa minggu setelah Sahal kembali, Yeni paham kenapa Sahal memilih kabur ketimbang menikmati segala yang ada di rumah ini.

Selepas Yeni menutup pintu kamarnya, Sahal bangkit. Melepas blazzer SMA Hansa sebelum kemudian berjalan menuju kamar mandi. Ia hanya akan cuci muka, tidak akan mandi seperti yang Susi sarankan. Sebab, itu akan menghabiskan waktu lama. Aryan pasti akan menambah hukumannya seandainya ia membiarkan sosok itu menunggu lama.

....

SAHAL sering mengeluh dengan panjangnya lorong rumah mewah tempatnya tinggal. Sebab, selain memakan banyak waktu untuk sampai di tempat tujuan, juga membutuhkan banyak energi tambahan untuk melewatinya. Sahal bahkan membutuhkan waktu lebih dari tujuh menit dari tempat tidurnya untuk sampai di kamar Aryan. Akan lebih lama seandainya ia mandi dan makan terlebih dahulu.

Mengingat wajah murka sang ayah, Sahal tidak ada waktu bahkan untuk memikirkan rasa sakit di setiap persendian tubuhnya. Terlebih-lebih itu rasa lapar di perutnya.

"Papa, ini aku." Sahal berdiri di depan pintu ruang kerja Aryan. Ketukan ringan di pintu adalah gedoran keras di jantungnya.

Tak ada suara perintah untuk masuk seperti biasanya. Tahu-tahu saja, pintu berbahan kayu terbaik di dunia itu terbuka dengan tiba-tiba sebelum kemudian tubuhnya ditarik kasar guna masuk ke dalam. Lantas, belum sempat Sahal menyadari apa yang terjadi, sebuah tamparan keras Sahal rasa di pipinya.

"Maaf, Pa." Mengabaikan panas yang menjalar di pipinya, dengan cepat Sahal memohon ampun sebelum Aryan bertanya perihal apa kesalahannya kali ini. Tentu saja, Sahal sudah tahu apa yang membuat ayahnya dikuasai amarah saat ini.

Melewatkan les privat Bahasa Inggris. Salah satu aturan yang harus Sahal taati di rumah ini.

Setahu Sahal, apa yang Aryan ingin darinya adalah kesempurnaan. Aryan ingin ia tumbuh menjadi sosok sempurna tanpa satu kekurangan pun. Tentu, ia adalah satu-satunya pewaris Hadi Groups. Sahal dituntut untuk menguasai banyak hal, bahkan itu untuk sesuatu yang tak mampu Sahal kuasai. Namun, setelah semua hal yang dialaminya, Sahal sadar bahwasanya itu hanya alasan naif yang Titi karang guna membuatnya tegar. Karena kenyataan yang sebenarnya ...

"Kamu sama wanita sialan itu, sama saja. Sama-sama pengacau!"

... ada alasan lain yang jauh lebih mampu diserap nalar Sahal. Kenyataan kalau ia hanya sebuah boneka di mana Aryan bisa dengan sesuka hati melampiaskan kebencian, kemarahan, dan dendam terhadap Risti-ibundanya.

"Benar, salahkan saja ibumu yang jalang itu! Dia yang memaksa kamu masuk ke dalam lingkaran penderitaan ini!"

Sahal memejam saat Aryan tiba-tiba melempar sebuah gelas ke lantai. Tak cukup dengan itu, asbak kaca yang nangkring di atas meja pun dilemparnya tanpa perasaan. Saking keras lemparannya, asbak dan gelas itu langsung hancur berkeping-keping. Pecahan kacanya berserakan di bawah kaki Sahal. Percaya atau tidak, hati dan perasaan Sahal rasanya jauh lebih hancur dari kedua benda tersebut. Apa pun masalah Aryan dengan Risti sebelum ini, Sahal berpikir kalau semua ini sangat tidak adil untuknya.

"Mulai besok, bakar seragam ini!" Aryan menarik kerah seragam SMA Hansa yang masih Sahal kenakan. "Sejak dulu, sekolah formal hanya membuat kamu menjadi pemalas. Jadi, mulai besok enggak usah pergi ke sekolah lagi!"

Mendengar hal itu, Sahal refleks menggeleng dengan cepat. Air matanya mengalir begitu saja. "Please, Pa. Aku bakal jalani hukuman apa pun, tapi jangan yang satu itu. Please!" Sahal meraih tangan Aryan, selagi matanya menyorot asa yang besar ke arah si ayah.

Sejemang, Aryan balas menatap Sahal. Berdecak kemudian saat melihat banyaknya harapan yang terpancar dari sorot teduh si anak. Apa pun alasan Sahal kukuh bertahan di SMA Hansa, Aryan tidak akan membiarkannya. Ia akan mengurusnya nanti.

"Baiklah!" Di tatapnya mata Sahal dengan dingin. "Lepas alas kaki kamu, dan berjalan di atas pecahan beling itu. Kita lihat seberapa mampu kamu berjalan ke sekolah besok."

Saat itu juga, hati Sahal mencelos kosong.

....

"ALASAN kenapa Mama sama Papa cerai adalah karena kami tidak saling mencintai."

Sekuat tenaga, Sahal menahan jerit dan tangis agar tak lepas bebas dari mulutnya kala Dirman mencabut satu per satu pecahan beling di kakinya. Pembicaraannya dengan Risti malam itu, malam terakhir sebelum ia dijemput pulang oleh Heru, sama tajamnya dengan pecahan beling yang kini melukai kakinya.

"Mama dipaksa masuk ke dalam kehidupan ayahmu, Sahal. Mama menghancurkan kehidupan sempurna yang ayahmu miliki. Tapi, Mama berani bersumpah. Demi Tuhan, kamu adalah anak kandung Aryan. Bagaimana pun juga, dia enggak berhak memperlakukan kamu seperti ini."

Kuat, Sahal mengigit bantal dalam dekapannya. Di sekelilingnya tiga orang pelayan menatap Sahal prihatin. Sesekali mereka turut meringis saat erangan tertahan Sahal lolos dari bibir pucatnya yang kering.

"Maafin kami semua, Den. Ini semua gara-gara kami. Seandainya saja tadi kami cek ulang jadwal kepulangan Tuan Besar, kami mungkin bangunin Den Sahal pas tutornya dateng tadi." Sambil berusaha fokus dengan pekerjaannya, Dirman berujar penuh penyesalan.

"Lagian, itu si totur teh kenapa atuh ya pake laporan sagala sama Tuan Besar. Kesel ih sumpah!"

"Iya, jadi pengen sumpeeel tuh mulut embernya pake cabe sekilo."

"Sekilo kebanyakan. Cabe kan lagi mahal, Mbok!"

Di sela rasa sakit yang mencubit, Sahal tertawa kecil mendengar gerutuan para pelayan di rumah. Pelayan di rumah mewahnya ada lebih dari sepuluh orang. Kadang, ada beberapa dari mereka selalu menjadi hiburan tersendiri untuk Sahal. Hanya saja itu sangat jarang terjadi.

"KALIAN SEMUA KELUAR!"

Belum sedetik senyum Sahal tergurat, sebuah teriakan terdengar menggema di ruangan bernuansa abu-abu itu. Suara berat Aryan, membuat tubuh Sahal mendadak menegang. Luka di kakinya semakin terasa perih, saat ia dipaksa mengubah posisinya yang semula telungkup menjadi duduk. Saat semua pelayan bersamaan keluar dari kamarnya, Sahal melihat Aryan masuk bersama seseorang di belakangnya.

...


Bandung, 14 Maret 2021

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top