Hari Ketujuh: Menemukanmu (Bagian 2)

untuk FedoraMarleen,

penulis favorit yang karya-karyanya satu di antara sejuta.

***

"INI benar-benar aneh."

"Apa?"

"Kau benar-benar aneh."

Sejujurnya, aku tak bisa lebih setuju lagi dengan komentar ayahku barusan. Saat ini kami tengah berkuda bersisi-sisian di rute hutan yang biasa dilaluinya, dengan empat orang ksatria--termasuk Sir Leonis--yang mengawal kami tak jauh di depan dan tak jauh di belakang.

Ketika aku menerobos masuk ruang duduk sekitar setengah jam yang lalu dan mendadak mengajak Ayah berkuda bersamaku, dia tampak seperti nyaris terkena serangan jantung. Aku praktisnya memintanya untuk menelantarkan para tamu, dan dia tidak bisa menerima ide itu.

Namun Raja Canopus--yang sepertinya sudah menyadari bahwa komentar istrinya mengenai pai rhubarb di meja sarapan tadi merupakan penyebab dari kecanggungan yang sempat terjadi, dan bertekad menebus kesalahannya--berkata bahwa mereka tak keberatan dengan sesi 'waktu bebas' tanpa Raja Cygnus dan meyakinkan pria itu agar mengabulkan permintaanku.

Tetapi tetap saja, Ayah masih kesulitan mencerna sikap spontanku yang agak di luar karakter ini. Terlebih, berkuda tepat sebelum agenda pidatoku yang penting.

"Raja Canopus tadi berkata bahwa aku boleh bersikap egois, toh ini hariku. Lagipula aku ingin mengetahui mengapa kau begitu menyukai berkuda belakangan ini, bahkan ketika jadwalmu begitu padat." aku menanggapi Ayah dengan santai, "Apakah karena tekanan penyelenggaraan segala perayaan ini?"

Bisa kulihat ekspresi Ayah sedikit berubah kaku. Pria itu mencengkeram tali kekang kudanya, Alpha, dengan lebih erat.

"Yang Mulia, apakah Anda ingin berhenti sejenak?"

Perhatianku teralih ketika Sir Leonis mengumumkan dari depan kami. Kami telah tiba di bukaan hutan yang dekat dengan tebing. Agak kurang tepat sebetulnya bila disebut tebing, karena tanah yang berada di balik tebing cukup landai. Kontur tanah di Centauri berbukit, semakin tinggi ke tengah pulau, dan istana terletak di pusat pulau yang lebih tinggi dari kota maupun laut, jadi bagian hutan ini bisa dibilang salah satu 'tepian bukit' dekat istana.

Ayah memberi gestur agar para ksatrianya menunggu di belakang sementara kami berdua berkuda mendekati pinggir bukit.

Pemandangan yang terlihat dari atas sini begitu luar biasa. Dari sisi ini, kami dapat melihat bagian kota Centauri yang berbatasan langsung dengan pelabuhan. Laut tampak begitu biru dengan camar-camar yang beterbangan di atasnya. Dan bila memicingkan mata, aku dapat melihat aktifitas penduduk di pelabuhan yang ramai, kapal-kapal yang merapat, barang-barang yang digotong oleh para buruh, juga nelayan yang menjajakan hasil tangkapan hari itu.

Ayah turun dari kudanya, maka aku mengikutinya. Kami mengikatkan Alpha dan Reggie di pohon terdekat, lalu berdiri bersebelahan, menikmati keindahan pemandangan kota dan laut.

"Ini sungguh menakjubkan." aku membuka suara, "Bahkan samar-samar masih terdengar deburan ombak di kejauhan."

Ayah mengangguk, "Ke sinilah aku biasa berkuda, Orion."

Aku memperhatikan profil Ayah.

Biasanya, Raja Cygnus selalu nampak kuat dan agung dengan bahu tegap, pandangan tajam, mahkota di puncak kepalanya yang semakin menguarkan aura kepemimpinannya. Namun saat ini, yang berdiri di sebelahku merupakan sosok pria yang berbeda. Aku dapat menangkap sorot menerawang pada pandangannya, garis-garis wajah yang merefleksikan umurnya, yang membuatnya terlihat begitu normal dan... rapuh.

Kemudian, aku melihat sudut-sudut bibir Ayah sedikit terangkat membentuk senyuman sendu.

"Ke sinilah aku pergi bila ingin mencari ketenangan." ungkap Ayah, "Melarikan diri sejenak dari hiruk pikuk istana."

'Pohon'nya.

Ini dia.

Tempat ini adalah 'pohon magnolia' Ayah.

Aku masih memperhatikan sosok ayahku, yang berdiri di sebelahku dengan jarak begitu dekat...

Namun di saat yang bersamaan... entah bagaimana, terasa begitu jauh.

Aku mengepalkan kedua tangan di sisi-sisi tubuhku.

Aku perlu meraih dirinya.

"Ayah?"

Aku melihat sepasang mata pria itu mengerjap, seolah tersadar dari lamunannya.

"Ya?"

Aku tersenyum.

"Aku merindukan Ibu."

Ayah menoleh memandangku. Keterkejutan mewarnai wajahnya.

Aku tahu dia tidak menduga bahwa aku sanggup mengakui hal itu di hadapannya.

Anak laki-lakinya yang penurut dan hanya mampu turut diam selama sepuluh tahun ini, yang 'menghormati' keputusannya untuk tidak membicarakan soal istrinya yang telah wafat, kini tiba-tiba menyuarakan isi hatinya.

Tetapi cukup sampai di sini, Ayah. Aku tidak akan 'diam' lagi.

Aku pun bertanya.

"Tidakkah kau merindukannya, terkadang?"

Ayahku hanya terdiam, sementara pepohonan di sekitar kami bergemerisik akibat sapuan angin. Kemudian dia mengalihkan pandangannya kembali ke laut.

"Ya." jawab Ayah akhirnya, "Setiap detiknya."

Aku menelan ludah. Batu yang tadi sempat kurasakan menghilang kini kembali lagi memenuhi tenggorokanku.

"Tetapi kau tidak pernah membicarakannya." kataku, "Mengapa?"

Ayah terkekeh pelan.

"Karena ingatan tentang dirinya, sekecil apapun itu, sanggup membuat hatiku terasa sesak dan mengubah diriku menjadi pria tua yang cengeng." ujarnya pahit, "Tidak ada yang menginginkan seorang raja yang lemah, Orion."

Mengakui kelemahanmu bukanlah tanda bahwa dirimu lemah, Orion mendadak teringat kata-kata itu. Kata-kata yang digoreskan seseorang di bawah naskah pidatonya tempo hari.

"Tidak." kataku, "Menangis untuk orang yang kaucintai bukanlah tanda bahwa kau lemah. Menutup dirimu, menghindari kenyataan yang seharusnya kauhadapi, itulah lemah yang sesungguhnya."

Ayah lagi-lagi menatapku dengan terkejut.

Dalam hati aku memaki diriku sendiri.

Seorang bocah enam belas tahun menasehati ayahnya? Apa yang kupikirkan?

"Aku memang belum pernah merasakan duka seperti seorang pria yang kehilangan wanita yang begitu dicintainya, maka aku tak berhak menghakimi sikapmu." ujarku lagi, menyuarakan pikiranku. "Tetapi... aku melihatnya dari sudut pandang seorang anak yang kehilangan ibunya, namun sangat ingin untuk mengingat dan membicarakannya."

Ketegangan yang sedari tadi menguasai ayahku perlahan luruh. Ekspresinya saat ini ketika menatapku melembut, sepasang mata birunya yang serupa dengan milikku berkaca-kaca oleh emosi. Emosi yang sudah tertahan selama sepuluh tahun lamanya. Emosi yang seharusnya bisa dibaginya kepadaku. Tanpa memikirkan apa-apa. Tanpa perlu takut orang lain menganggapnya cengeng. Tanpa perlu khawatir aku menganggapnya lemah.

"Tidak, Orion." dia menggeleng, kini memandangiku dengan sorot penuh kehangatan yang memang bukan pertama kalinya terpancar dari sepasang matanya, hanya saja... sudah sangat lama tidak kulihat. "Itu tidak benar. Kau sangat berhak menghakimiku, karena kau adalah anakku."

Kata-kata itu membawaku ke salah satu memori masa kecilku. Ingatan itu berkelebat di kepalaku. Ingatan ketika Ayah tertawa lepas bersama ibuku karena melihatku terjerembab ke dalam air mancur istana saat bermain-main dengan pedang kayu pertama yang kumiliki. Ekspresinya jauh lebih lunak pada saat itu, tidak ada gurat-gurat ketegangan yang nampak menodai wajahnya.

Dan senyuman itu, senyuman lebar dan secerah matahari yang ditunjukkannya saat itu, kini muncul kembali di hadapanku.

Aku pun menyerah. Menyerah pada bongkahan batu yang sedari tadi berusaha kutahan-tahan. Menyerah pada luapan perasaan yang memenuhi dadaku. Haru, sedih, sayang. Rasa sayang pada pria di hadapanku yang begitu besar, hingga aku rela menepis ego dan gengsiku untuk meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat.

"Kurasa Ibu akan senang bila sesekali kita membicarakan soal pai rhubarb kesukaannya ketika makan." kataku, entah sejak kapan pipiku basah oleh air mata.

"Ya." Ayah menyahut tanpa keraguan sedikitpun, terkekeh dengan suara yang agak parau. "Dan soal corak gorden di kamarku yang selalu dibencinya."

Kami tertawa. Kemudian Ayah membawaku ke dalam pelukannya. Aku balas memeluknya dengan sepenuh hati. Entah apa yang dipikirkan para ksatria di belakang sana begitu melihat kami, dua orang laki-laki yang saling berpelukan sambil banjir air mata.

Tetapi aku tidak peduli pada apapun saat ini, selain pada kenyataan bahwa akhirnya... akhirnya aku dapat berharap bahwa kami akan baik-baik saja.

Bahwa aku dan ayahku akan baik-baik saja.

"Y-Yang Mulia?"

Kami melepaskan pelukan mendengar panggilan serak dari Sir Leonis. Yang mengejutkan, aku dapat melihat sepasang mata pria itu nampak merah.

"Apa kau menangis?" Ayah bertanya pada Sir Leonis, kemudian dia melihat wajah-wajah tiga ksatria lainnya, yang juga sama sembabnya, "Astaga, kalian juga...?"

"Kami tidak bisa menahan diri, Yang Mulia. Setelah sekian lama akhirnya..." Sir Leonis nampak begitu bahagia melihat kami. Kemudian dia tersadar dan buru-buru berdeham, "S-Saya harus mengingatkan bahwa pidato Pangeran Orion akan dimulai setengah jam lagi."

Dengan perasaan campur baur--antara keharuan yang masih tersisa dan keinginan untuk menertawai para ksatria yang sibuk menyeka mata mereka--aku dan Ayah kembali menaiki kuda-kuda kami untuk kembali ke istana.

Setelah selama beberapa saat berkendara dalam diam, Ayah menyeletuk.

"Orion?"

"Ya?"

"Apakah kau tahu bahwa kau benar-benar mirip ibumu?"

Secara otomatis aku menyentuh ujung rambutku.

"Maksudmu, rambut hitamku? Banyak yang bilang--"

"Bukan. Maksudku empatimu. Dan... kecenderungan untuk merasa bertanggungjawab terhadap orang lain. Terhadapku."

Aku menoleh menatap Ayah, terkesiap. Pria itu tidak mengalihkan pandangannya. Dia balas menatapku sambil terkekeh, lalu dia menggeleng-geleng takjub.

"Dan juga sifat keras kepala-mu yang sedikit menular."

Reggie mendengus kasar di bawahku.

"Reggie sepertinya tidak setuju untuk yang terakhir itu. Dia bisa merasakan isi hatiku." tawaku sambil menepuk-nepuk leher kuda itu.

"Pamanmu juga sering bilang bahwa hal yang paling mirip antara kau dengan Andromeda adalah kekeraskepalaan-mu."

Andromeda.

Sudah sangat lama aku tidak mendengar Ayah menyebutkan nama Ibu.

"Baiklah." aku menyerah, "Aku keras kepala, bertanggung jawab, dan berempati tinggi. Tentu saja aku harus memiliki semua sifat itu. Maksudku, aku ini calon raja Centauri."

Suara tawa menggelegar milik Ayah memenuhi pendengaranku.

"Orion, apa yang sebetulnya terjadi padamu hari ini?" katanya lagi-lagi dengan nada takjub.

Aku hanya mengulum senyum.

"Tidak ada, Ayah. Aku hanya senang aku menemukanmu."

👑

Beberapa jam yang lalu bila kau bertanya kepadaku, 'Apa kau siap untuk pidatomu?', pastilah reaksi yang akan kau terima adalah kernyitan dahiku dan gumamanku yang lesu, 'Entahlah apakah aku bisa siap.'

Tetapi bila kau menanyakan pertanyaan yang sama kepadaku sekarang, maka aku akan menjawab dengan pundak yang tegak serta keyakinan penuh.

"Aku selalu siap."

Jawaban yang agak mengingatkanku pada seorang gadis dengan mata sewarna teh. Dia selalu mengatakan kata-kata itu dengan tegas, tanpa keraguan. Sesungguhnya, kepercayaan diri yang dimilikinya begitu menyilaukan, membuatku sedikit iri. Mungkinkah itu salah satu alasan mengapa aku sempat tidak menyukainya? Rasa iri?

Yang jelas saat ini, detik ini, ketika langit di atasku begitu biru dan dengan ratusan pasang mata menatapku dari halaman depan istana, aku tidak merasakan satupun perasaan negatif itu. Detik ketika aku melangkahkan kaki ke balkon terdepan istana untuk membalas tatapan para rakyat Centauri... rasa iri, cemas, keraguan... semua seolah menguap terbawa teriknya cuaca.

Karena ini kesempatanku.

Kesempatan untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa aku di sini, bersama mereka.

Dan akupun memulai pidatoku.

"Bagi sebagian besar orang, ini hanyalah satu hari normal lainnya. Satu hari di mana mereka harus bangun, bekerja, belajar, atau melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa. Namun bagi saya, ini merupakan hari yang tidak biasa.

"Bukan karena ini adalah hari ulang tahun saya. Tentu saya sangat bersyukur kepada Tuhan bahwa saya masih bisa menikmati hari ini sebagai pemuda berusia enam belas tahun yang canggung dan senantiasa merasa tahu segalanya tentang dunia..."

Terdengar tawa dari kerumunan di bawah.

"...tetapi karena ini adalah hari yang penting. Hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya mendengar Ayah berkata kepada saya bahwa saya ini keras kepala seperti mendiang istrinya, Andromeda."

Gemuruh tawa kembali terdengar, namun kali ini diwarnai tatapan-tatapan haru.

"Ini adalah hari ketika akhirnya kami berhasil melalui awan gelap yang menyelubungi. Hari ketika saya, ayah saya, dan semua orang yang menyayangi mendiang Ratu Andromeda, memutuskan untuk bergerak maju dan merangkul rasa kehilangan itu. Hari ketika istana membuka pintunya kembali untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, dan menjumpai rakyat Centauri yang selama ini begitu loyal kepada kami.

"Tak ada hadiah yang lebih berharga bagi saya dibanding melihat wajah-wajah Anda, wajah dengan beragam ekspresi, dengan berbagai latar belakang, juga dengan perbedaan usia. Orang tua, anak-anak, perempuan, laki-laki, pedagang maupun bangsawan. Oleh karena itu saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada Anda. Untuk kedatangan Anda di sini, hari ini. Untuk turut merayakan hari kelahiran saya. Untuk kepedulian Anda. Untuk euforia yang Anda rasakan, menebarkan semangat di udara yang menjalar ke seluruh penjuru Centauri hingga sanggup menyusup menembus dinding-dinding istana yang tebal. Untuk kesediaan Anda tidak melupakan kami. Untuk kesediaan Anda menunggu kami dengan sabar dan setia.

"Setelah ini, saya akan terus menempa diri. Karena seseorang pernah berkata bahwa saya adalah pangeran yang naif. Mungkin dia benar. Saya memang masih hijau dan naif, tetapi saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi individu yang jauh lebih baik. Untuk menjadi individu yang dapat Anda banggakan. Agar Raja Centauri tidak perlu merasa cemas jika suatu hari nanti beliau menyerahkan mahkotanya kepada saya."

Aku tersenyum sejenak, mengamati satu tanganku yang secara tak sadar mengepal penuh tekad di atas tembok pembatas balkon. Lalu aku mendongak dan melanjutkan.

"Hal terakhir yang ingin saya sampaikan--"

Kata-kataku terputus karena sebuah tangan menyentuh pundakku tiba-tiba. Aku berbalik dan terkejut melihat ayahku tengah berdiri di balkon bersamaku. Pria itu menatapku sambil tersenyum. Maka aku balas tersenyum dan mengangguk samar.

Aku mengamati Ayah berjalan dan berdiri di sampingku. Dia menatap kerumunan di bawah--yang juga tampak kaget sepertiku--dengan ekpresi yang tak dapat kubaca. Begitu banyak emosi yang terlukis di sana, namun aku belum pernah melihatnya menatap siapapun dengan cara seperti itu.

Lalu Ayah membuka suara.

"Saya merasa agak bersalah karena telah memotong pidato Pangeran Orion yang mengagumkan. Tetapi saya harus melakukannya, jika saya tidak ingin dicap pengecut oleh semua orang yang mengenal saya."

Ayah meremas lembut pundakku.

"Sejujurnya, saya merasa bangga terhadap anak saya yang saat ini tengah berdiri di hadapan Anda semua. Karena dia telah menyampaikan segala hal yang sangat ingin saya sampaikan kepada Anda, namun tidak bisa. Karena berkat dia, saya menemukan keberanian untuk membuka diri dan menghadapi Anda kembali. Berkat dirinya pula, saya bisa mengingat sang Ratu dengan hati yang lapang.

"Oleh karena itu, saya bersyukur karena Andromeda telah meninggalkan saya bersama Orion, anak laki-laki yang entah sejak kapan telah tumbuh menjadi pemuda yang--selain tingginya yang nyaris melebihi tinggi saya--begitu pemberani dan dipenuhi kasih sayang. Walaupun saya memang mengakui dia keras kepala seperti ibunya."

Tawa haru kembali terdengar dari kerumunan. Ayah menoleh padaku.

"Sebagai wujud rasa terima kasih atas hari kelahiran anak laki-laki saya dan atas kehadiran Anda semua hari ini, saya ingin mengumumkan bahwa ke depannya, kita akan merayakan hari ulang tahun dan hari kematian Ratu Andromeda, setiap tahunnya. Dan hari ini, para ksatria Centauri akan berkeliling kota dan desa untuk membagi-bagikan bahan pangan ke setiap kepala keluarga. Dan besok, mungkin saya harus memesan pai rhubarb ke seluruh pembuat kue di Centauri, dan utusan saya akan membagi-bagikannya ke setiap rumah."

"Panjang umur Yang Mulia Raja Cygnus! Panjang umur Yang Mulia Pangeran Orion!"

Sorak sorai riuh memenuhi udara. Para warga bertepuk dan berseru dengan kegembiraan yang begitu cerah dan tulus. Entah seberapa lebar senyuman yang tersungging di wajahku menyaksikan seluruh keriangan ini.

"Orion." Ayah merangkulku dan berujar pelan, "Selamat ulang tahun."

"Terima kasih, Ayah." ucapku, semakin gagal menahan cengiran lebar.

Setelah aku dan ayahku mengakhiri pidato kami, kami melambai kepada semua orang dan berbalik untuk menuruni balkon dan kembali ke dalam ruangan. Setibanya di dalam, wajah banjir air mata milik Paman, Duke Elben, Sir Leonis, juga para pengawal dan beberapa pelayan menyambut kami.

"Pidato yang begitu menyentuh!" Paman menutul-nutul matanya dengan saputangan, membuat Ayah tergelak. Keduanya kemudian berpelukan dengan hangat, dan Paman berkata lagi, "Andromeda pastilah akan begitu bangga dan bahagia melihat kalian berdua!"

Selama beberapa saat, ruangan itu ramai oleh pujian dan isakan haru yang ditujukan untukku dan Ayah. Di tengah-tengah keriuhan itu, perhatianku tertuju pada sekelebatan warna biru-perak yang menghilang dengan cepat di balik pintu namun masih berhasil tertangkap mataku.

Buru-buru, aku mohon diri sejenak dan berlari keluar ruangan.

"Carina!"

Aku melihat gadis itu berbalik perlahan menghadapku. Lalu, tanpa mengalihkan tatapannya dari lantai, gadis itu mengangkat rok gaunnya sedikit dan memberikan penghormatan padaku.

"Salam, Yang Mulia Pangeran Orion." katanya.

Aku mengernyit keheranan menyaksikan sikapnya yang mendadak begitu formal. Hanya ada Stefan dan Victor yang berjaga di belakangku, itupun agak jauh demi privasiku.

"Mengapa kau tidak masuk ke dalam ruangan tadi?" tanyaku padanya.

"Saya rasa tidak sepatutnya saya berbuat begitu, ruangan itu hanya diperuntukkan anggota inti kerajaan dan staf berkepentingan."

Aku melangkah mendekatinya, "Carina, apa kau baik-baik saja?"

"B-Berhenti di situ!" Carina berujar panik, membuatku membeku di tempat. Kemudian, seolah tersadar, dia buru-buru menunduk menghormat lagi, "Maafkan saya Yang Mulia, perkataan saya kurang pantas."

Aku menghela napas dan menoleh ke arah Stefan dan Victor di belakangku, "Beri kami lima menit."

"Sesuai perintahmu, Pangeran." Stefan dan Victor menunduk. Aku menawarkan sikuku kepada Carina, yang disambutnya dengan ekpresi tersiksa, lalu aku menuntunnya memasuki sebuah aula kosong terdekat dan menutup pintu di belakang kami.

"Berhenti bersikap aneh." kataku pada Carina, setelah memastikan kami hanya berdua saja. "Ada apa denganmu?"

Carina sibuk memainkan keliman gaunnya, "Tidak ada yang aneh, Yang Mulia. Mungkin itu hanya perasaan Anda--"

Merasa jengkel, aku menyindir. "Jadi inikah sikap seorang guru yang konon pernah mendeklarasikan dirinya akan mengajariku bagaimana menjadi seorang pangeran yang layak? Tak berani menatap mata lawan bicaranya?"

Carina mendongak dan menatapku kesal, "Aku tidak begitu!"

Berhasil.

"Jadi apakah aku lulus pelajaran keenam?" pancingku.

"A-Apa?"

"Hmm... kurasa 'kemampuan berkomunikasi dengan rakyat'?" usulku.

Carina merengut malu, "Kurasa ya, kau lulus. Ditambah, kau sama sekali tak menggunakan naskah pidatomu."

"Apakah kau marah?"

Carina mengernyit bingung, "Marah?"

"Karena... kau sudah membantuku menghapal naskahku malam-malam tapi pada akhirnya aku tidak menggunakan..."

"Oh! Tidak! Tidak... sama sekali tidak. Jangan khawatir. Justru penampilanmu tadi sangat--"

Carina lagi-lagi mengalihkan pandangannya.

"Sangat... apa?" tanyaku, cemas dan gugup.

Carina mendongak menatapku, namun sepasang mata cokelat itu kembali teralih dariku. Gadis itu menggeleng dengan cepat sambil lagi-lagi menunduk hormat.

"S-Saya mohon diri dulu Yang Mulia."

Kemudian Carina berbalik dan beranjak menuju pintu dengan buru-buru. Namun ketika tangannya menyentuh pegangan pintu, aku menahan lengannya.

"Tunggu."

Carina, dengan tangan yang masih berada di pegangan pintu, menolehkan wajahnya--yang nyaris tampak berat hati--untuk menatapku.

Aku menelan ludah dan memberanikan diri.

"Carina... maukah kau menjadi pasanganku di pesta dansa malam ini?"

Sepasang mata cokelat itu membulat syok. Kemudian, aku melihat ekspresi terkejutnya perlahan berubah.

Dia tampak... kesal dan...

...merona?

"Pada tahap ini, kau benar-benar masih berpikir bahwa aku sanggup menolakmu?" gumam Carina tidak jelas.

"Apakah... itu artinya 'ya'?" tanyaku ragu.

Kali ini ekspresi Carina betul-betul terlihat kesal.

"Tentu saja, dasar Orion bodoh!"

Kemudian Carina membuka pintu ruangan. Victor--yang rupanya sedari tadi memutuskan melupakan etika ksatrianya dan memilih menguping pembicaraan kami--nyaris terjungkal masuk begitu pintunya dibuka. Stefan buru-buru menyeret Victor ke belakang dengan sorot malu campur meminta maaf sementara Carina berderap pergi dengan wajah semerah udang rebus.

"Ma-Maafkan saya Yang Mulia!" Victor tergagap sambil buru-buru membungkuk di depanku. Tetapi aku masih terlalu bingung dan jengkel akibat sikap Carina untuk memedulikan permintaan maaf dari Victor.

"Victor, kau mendengar semuanya kan tadi?"

"Y-Yang Mulia... saya..."

"Menurutmu mengapa dia bersikap begitu... aneh?" tanyaku, tatapanku masih tertuju pada punggung Carina yang barusan menghilang di sudut koridor.

Stefan, yang sepertinya merasa kesal pada Victor yang terus menerus tergagap di hadapanku, ganti menjawab, "Saya tidak mendengar percakapan Anda dan Tuan Putri, tetapi bila menilai dari sikap beliau... bisa dibilang... bila saya menjadi Putri Carina, mungkin saya juga akan bersikap serupa."

Aku mengernyit, "Apa maksudmu?"

"Dengan segala hormat, Pangeran, tapi apakah Anda sudah berkaca hari ini?"

Aku melihat ke bawah, ke arah pakaian yang kukenakan yang terdiri dari seragam militer kerajaan serba putih dengan bordir perak dan selempang biru. Aku juga mengenakan mahkotaku--yang jarang kupakai kecuali pada situasi formal. Penampilanku terlihat sopan dan sesuai, juga tidak ada yang janggal. Stefan pastilah menyadari tampang bingungku, karena dia akhirnya berkata.

"Anda tampak tampan, Yang Mulia." Stefan memujiku, ketika dia melihatku gagal menangkap maksudnya, "Apalagi setelah pidato yang luar biasa tadi, gadis normal mana yang tidak akan jatuh hati pada Anda?"

👑

Orion: *giving an emotional speech*

All of Centauri: 😭✨🎉👑💙😭👏🏼🎊

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top