Extra Part
Thank you so much buat kalian yang udah ngikutin cerita ini dari awal sampai akhir. Nah, berhubung ada yang minta extra part Alexa dan Bian, dengan senang hati author coba bikin nih. Moga suka yaa...
***
Alexa menguap panjang seraya menapaki anak tangga turun. Suhu tubuhnya sudah normal dan ia merasa sangat baik hari ini. Meski rasa kantuk masih mendera sepasang mata indahnya, gadis itu tetap bertekad bangun pagi. Mungkin ia bisa melakukan sesuatu untuk Bian. Memasak nasi goreng atau minimal membuatkan secangkir kopi untuk pria itu. Meski itu hanya cuma kopi instan.
Ah, tapi sepertinya ia keduluan. Bian sudah berdiri di dapur lengkap dengan celemek putih sialan itu, dan sedang bercengkerama bersama peralatan dapur kesayangannya.
"Morning."
Alexa mengurungkan niatnya untuk menyapa pria itu. Lagi-lagi ia keduluan. Bian sudah menoleh dan melempar sapaan yang terdengar sangat merdu di telinga gadis itu. Pria itu tersenyum manis lalu kembali beralih sibuk dengan alat penggorengannya.
"Morning," balas Alexa pelan. Gadis itu melangkah ke sisi tubuh Bian dan berhenti persis di dekatnya. "masak apa?" tegurnya seraya melirik isi alat penggorengan di depan Bian.
"Omelet," sahut Bian pendek dan seulas senyum manis menyertainya. Ia tampak murah senyum pagi ini dan Alexa benci untuk mengakuinya. Karena ia tampak tampan mempesona saat melakukannya.
Alexa berdehem. Untuk menjernihkan suara dan pikirannya yang mulai dijangkiti virus-virus. Sungguh, tidak mudah berada di sisi Bian dan menahan diri untuk tidak terus menatap pria itu.
"Kamu masih sakit? Flu? Batuk?" cecar Bian sembari mengalihkan perhatiannya dari omelet yang sudah setengah matang. Tangannya sudah berpindah ke kening Alexa yang kini bergeming tanpa daya mendapat perlakuan semacam itu dari Bian.
"I'm ok, Bian." Alexa menjawab dengan gugup.
Hatiku yang sedang tidak baik, Bian. Karena hatiku telah jatuh padamu. Kamu tahu?
"Benar, kamu baik-baik aja?" tanya Bian dengan tatapan serius.
Alexa mengangguk pelan.
"Aku baik-baik aja. Cuma sepertinya omelet itu nggak akan baik-baik aja, kalau kamu nggak segera mengangkatnya," tandas Alexa seraya tersenyum.
Bian tersentak dan buru-buru mematikan kompor demi menyelamatkan omelet bakal sarapan mereka berdua.
"Kamu mau sarapan sekarang?" tawar Bian setelah berhasil melakukan penyelamatan omelet itu.
"Aku masih belum lapar," jawab Alexa dengan tak lepas menatap gerak gerik Bian yang tampak sibuk mengambil sebuah piring dari atas rak. Omelet yang tak jadi gosong itu, ia pindahkan ke atasnya. Siap untuk disajikan.
"Kamu harus makan banyak pagi ini, karena kita akan melakukan pekerjaan yang sedikit berat," ucap Bian dengan menatap Alexa sebentar sebelum membawa piring omelet itu ke meja makan.
"Pekerjaan berat apa?" Kening Alexa berkernyit tak paham. Bian membuat gadis itu tak bisa menebak maksud kalimatnya.
"Kita akan memindahkan barang-barangmu ke kamarku, paham?!" Bian berseru dari meja makan.
Maksudnya?
Alexa menyusul langkah Bian ke meja makan. Untuk meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya dari bibir pria itu.
"Kita suami-istri, Lex," ucap Bian sebelum Alexa sempat mengajukan pertanyaan. "jadi, nggak lucu dong, kalau kita nggak sekamar."
"Oh." Alexa bergumam kecil. Gadis itu terdiam.
"Ngapain?" sentak Bian sembari menjentikkan jarinya di depan wajah Alexa. "jangan-jangan kamu sedang mikir ke mana-mana," tebak Bian.
Muka Alexa merah padam seketika. Gadis itu mendengus kesal.
"Memangnya aku kelihatan seperti itu? Membayangkan hal-hal yang... "
"Hal-hal apa?" potong Bian sembari terkekeh.
"Bian!"
Sebuah pukulan berhasil mendarat di dada pria itu. Sungguh, Alexa tidak serius saat melakukannya. Dan Bian juga bergeming di tempatnya. Pukulan gadis itu tak lebih sakit dari hantaman bola bekel.
Bian tergelak melihat ekspresi wajah Alexa. Rasa malu, bahagia, dan kesal bercampur aduk di sana. Begitulah saat orang saat jatuh cinta. Bisa merasakan bahagia dan kesal dalam waktu yang bersamaan.
"Kamu harus makan yang banyak biar lebih bertenaga. Karena ini sama sekali nggak sakit, tahu?" Bian mendekatkan wajahnya ke hadapan Alexa.
Gadis itu hanya bisa bergeming di tempat seraya menahan napas. Wajah Bian begitu dekat dan Alexa bisa merasakan hangat napas pria itu. Aroma wangi shampo yang dipakai pria itu juga menggelitik indera penciumannya. Apa ini saatnya? batin Alexa deg-degan.
"Hei, jangan berpikir kalau kita akan melakukan adegan ciuman, mengerti?"
Alexa tersentak. Pipinya ditepuk oleh Bian dengan lembut. Pria itu sengaja menebarkan senyum manis untuk menggoda gadis itu.
Bian sialan! Lihat saja pembalasanku nanti malam.
Alexa mendengus menatap langkah-langkah Bian yang bergerak kembali menuju dapur. Kenapa ia baru tahu jika Bian sangat menyebalkan? Benar-benar menguras emosi.
Bian kembali berkutat di depan kompor bercengkerama dengan alat penggorengannya. Sepertinya tadi masih ada sisa bahan omelet. Mungkin pria itu sangat mencintai dapurnya melebihi apapun. Membuat Alexa bertambah sebal.
Sekarang apa lagi yang akan dilakukannya? batin gadis itu masih dibalut rasa kesal. Ia melangkah pelan ke tempat Bian berdiri memunggunginya.
Punggung itu. Ya, Alexa pernah memimpikan satu adegan di mana ia memeluk punggung pria yang dicintainya, saat seseorang itu sedang memasak. Dan kesempatan ini datang untuk pertama kali dalam hidup Alexa. Haruskah ia memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya? Atau melewatkannya begitu saja karena rasa gengsi?
Ah, kenapa ini begitu sulit untuknya? Gadis itu hanya bisa berkeluh kesah dalam hati.
"Tolong, jangan bergerak, Bian. Biarkan aku memelukmu sebentar saja," ucap Alexa akhirnya, dengan volume yang cukup pelan. Tangan gadis itu sudah melingkar di tubuh Bian sedetik kemudian.
Bian sedikit terkejut mengetahui tubuhnya sudah berada dalam pelukan gadis itu. Sedianya ia ingin membalikkan tubuh, tapi kalimat permintaan Alexa membuatnya urung. Ia membiarkan tubuhnya berada dalam pelukan gadis itu.
Alexa menghirup aroma tubuh Bian dalam-dalam. Memang ia tidak seberuntung seperti celemek sialan itu, yang setiap pagi menempel di tubuh Bian, tapi ia berjanji akan melakukan hal ini lebih sering lagi.
Punggung itu terlalu hangat dan nyaman. Satu impian sederhana Alexa sudah terwujud pagi ini dan rasanya sulit untuk membiarkan Bian lepas begitu saja.
"Lex."
Alexa tersadar. Panggilan Bian membuatnya harus segera melepaskan tubuh pria itu. Dan ia harus rela melakukannya.
Bian membalikkan tubuh dan mendapati satu kekecewaan terlukis di wajah Alexa.
"Sekarang boleh aku ganti peluk kamu?"
Tanpa menunggu jawaban Alexa, Bian segera menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Satu kecupan lembut mendarat di kening gadis itu.
"Kurasa kita harus membatalkan semua perjanjian kita," ucap Bian.
"Perjanjian yang mana?" tanya Alexa bingung. Ia tak punya ide untuk menelusuri kembali ke belakang.
"Bukannya kamu yang mengajukan syarat kalau di antara kita nggak boleh ada kontak fisik dan dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing? Kamu yang bikin perjanjian itu, tapi kamu juga yang melanggarnya," ucap Bian mengingatkan. Nada suaranya dibuat sekalem mungkin.
Alexa tercekat. Iya, ia ingat sekarang.
"Lalu?" pancing gadis itu dengan melotot guna menutupi rasa malu yang sudah bersarang dalam dirinya. "bukannya nggak ada sangsi bagi yang melanggar perjanjian itu?"
"Memang nggak ada."
Alexa tersenyum. Ia sedikit lega karena tidak pernah menyebutkan sangsi saat membuat perjanjian itu. Jadi, Bian tidak akan pernah bisa menuntutnya.
"Kamu mencium bau gosong nggak?" tanya Alexa sejurus kemudian.
"Oh my God!" Bian berteriak panik dan segera melepaskan tubuh Alexa. Pria itu buru-buru mematikan kompor karena omelet part-2 nya benar-benar gosong dan tak sempat untuk diselamatkan. "yah, gosong, Lex," ucap pria itu dengan wajah cemberut.
Alexa tak bisa menahan ledakan tawanya saat melihat ekspresi lucu Bian.
"Seneng ya, kalau masakanku gosong?" Bian melotot ke arah Alexa. Pria itu bersiap mendaratkan satu kecupan manis di bibir Alexa tapi gagal. Gadis itu sudah terlebih dulu kabur ke arah meja makan dengan deraian tawa yang masih bergema di sekitar area itu. Membuat Bian lebih bersemangat untuk mengejar langkah Alexa. "awas kalau sampai tertangkap!"
***
Endingnya terserah imajinasi kalian, guys!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top