Part 59

Sepuluh menit menjelang pelajaran mulai, Gia baru memasuki gerbang sekolah. Maruli dengan tulang rahangnya yang keras masih berdiri di dekat pintu masuk utama. Kumis lebatnya semakin membuat wajah terlihat sangar. Tangannya yang kekar menyilang ke belakang menandakan latihan fisik yang sering dilakukannya.

Tak satu pun siswa yang melintasinya luput dari pengawasan guru BK yang satu ini. Tak jauh dari tempatnya berdiri, beberapa siswa sedang sibuk membetulkan seragam sekolahnya yang tidak rapi. Meski lolos melintasi pos satpam, mereka harus siap berhadapan dengan Maruli di pintu berikutnya. Tak satu pun siswa diizinkan masuk ke lingkungan sekolah jika memakai seragam tidak rapi.

Setelah parkir motor, Gia mempercepat langkahnya menuju kelas. Matanya masih terasa perih. Wajahnya didekatkan dengan spion untuk memastikan matanya sudah tidak merah, sebelum meninggalkan area parkir. Gia membaur dengan siswa lain yang hampir terlambat seperti dirinya. Sampai di depan Maruli jalannya semakin melambat karena sebagian jalan tertutup siswa yang kena skors.

Gia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Lima menit lagi, dia tidak terbiasa terlambat datang ke sekolah. Sudut matanya menangkap wajah Maruli yang juga sedang memperhatikannya. Gia hanya mengangguk sambil menarik garis lurus di kedua sudut bibirnya.

"Nggak biasanya kamu terlambat Gia," suara Maruli yang berat membuat Gia sedikit terkejut. Maruli tak pernah menegur siswanya jika tak melakukan kesalahan. Sekarang Gia menjadi salah satu diantaranya karena masuk ke sekolah di menit-menit terakhir.

"Iy...iya Pak, tadi di jalan macet." Jantung Gia berdetak dua kali lebih cepat. Dua tahun sekolah di Pelita Bangsa, dia tak pernah mendapatkan teguran dari guru. Tapi kejadian surat pemberitahuan kemarin membuat percaya diri Gia kembali menurun.

"Besok lagi jangan terlambat," tegas Maruli.

Gia hanya mengangguk dengan ragu, sebelum meneruskan langkah untuk keluar dari kerumunan siswa. Belok ke kiri, ekor matanya bisa menangkap sosok Jae sedang menutup pintu ruang OSIS. Masih sambil mengatur napas, Gia setengah berlari mendekati Jae.

"Hai Jae," sapanya saat jarak hanya tinggal tiga meter dari Jae.

"Hai," Jae setengah terkejut melihat Gia di depannya. "Baru datang? Tumben telat." Jae berusaha menutupi rasa canggungnya.

"Iya nih," Jae tak menyadari Gia sebenarnya menangkap setiap perubahan sikapnya. "Kenapa whatsapp-ku nggak di balas?"

"Oh, maaf. Aku belum sempat buka ponsel lagi."

Hanya anggukan pendek yang diberikan Gia. Seolah percaya begitu saja dengan ucapan Jae. Terpujilah Jan Koum yang sudah membuat aplikasi whatsapp dengan detil sehingga Gia bisa mengetahui Jae sedang aktif chatt dengan orang lain sejak semalam. Gia berusaha mengatur detak jantungnya agar bisa seirama dengan napasnya yang sudah mulai stabil.

"Gimana lukanya?" Gia memiringkan kepala untuk melihat wajah Jae yang sedang berjalan di sampingnya.

"Sudah sembuh," jawab Jae pendek. "Aku belok sini ya," Jae mengambil lorong ke kanan untuk menuju kelasnya. Tak biasanya dia mengambil jalan itu jika sedang berjalan dengan Gia. Jae pasti lebih memilih melewati kelas Gia meski harus memutar jalan.

Senyum tipis yang tergambar di bibir Gia cukup untuk mengisyaratkan kecewanya. Saat pandangannya lurus ke depan, Gia mendapati Dean sedang berdiri melipat tangan bersandar di salah satu daun pintu. Tatapannya tajam ke arah Gia, membuat dia tahu alasan Jae merubah rute jalannya.

Bibir Gia mengerucut saat beradu pandang dengan Dean. Sorot mata yang tajam saat membalas tatapan Dean cukup untuk menggambarkan kekesalannya. Gia melintasi pintu begitu saja tak mempedulikan keberadaan Dean. Beradu mulut sepagi ini dengan Dean akan sangat merusak mood-nya.

"Hati-hati...bisa cepet keriput kalo cemberut terus." Sindir Dean seperti sengaja memancing kemarahan Gia.

"Mau kamu apa sih?" Gia membalikkan badan, dalam hitungan detik mereka sudah saling berhadapan. "Pagi-pagi sudah bikin bete aja." Kesempatan ini tidak disia-siakan Gia untuk mengorek informasi dari Dean.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top