Part 58
"Apa tuh?" Ningrum melirik ke arah Gia. Ekor matanya menangkap wajah Gia yang menunjukkan mimik lucu.
"Gia berhasil mendapatkan nilai tertinggi lagi untuk pelajaran matematika di sekolah." Gia kembali menarik kedua sudut bibirnya dengan maksimal.
"Ya iyalah, namanya juga wakil olimpiade pasti nilainya paling tinggi." Ningrum menyenggol siku Gia dengan lengannya. "Meski sudah tua, Mama juga nggak bego Gi."
Gia kembali memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Tangannya mulai merapikan rambut yang masih tidak beraturan.
"Kenapa sih kalian nggak belajar di rumah aja?"
Senyum Gia kembali merekah, namun seketika menghilang. Dia teringat lagi tawaran Jae. Sulit rasanya mengecewakan kebaikan Jae. Selama ini dia sudah terlalu baik sama Gia.
"Nggak bisa Ma, Gia sudah menerima tawaran Jae. Nanti kalo ternyata memang ada lowongan kerja buat Gia gimana?" Tak ada yang bisa Gia tutupi dari mamanya. Kata-kata itu pun meluncur begitu saja.
Ningrum tak berhasil menutupi rasa terkejutnya. Wanita paruh baya itu memeluk anaknya erat, lengannya yang kuat dan lembut melingkar di pundak Gia. Ada hangat yang mengalir disekujur tubuh Gia. Tidak hanya hangat, tapi juga membuat Gia ingin melipat tubuhnya dan masuk kedalam lingkaran Mamanya lebih dalam. Mama bukan hanya sebagai orang tua, tapi juga sahabat yang selalu menjadi tempat cerita paling nyaman.
"Kamu jangan terlalu memaksakan diri, Nak. Usiamu masih terlalu muda untuk menanggung semua ini, biar Ayah sama Mama saja yang menyelesaikannya." Telapak tangan Ningrum terus membelai dengan lembut rambut Gia yang panjang. "Kamu tidak harus bekerja jika memang kamu tidak sanggup, tugas kamu hanya belajar."
"Gia senang melakukannya, Ma. Boleh ya, Ma?" rengek Gia. Ningrum selalu tidak tahan jika harus menolak permintaan anaknya. Anggukan Ningrum disambut senyuman Gia yang mengembang, "Kantor ayahnya Jae kan di perpustakaan daerah Ma. Gia tetap bisa belajar di sana. Mama jangan bilang sama Ayah, ya." Tatapan memohon terpancar dari mata Gia. Sementara Ningrum hanya bisa pasrah dengan keputusan anaknya.
"Kalau memang nanti pengunduran diri kamu ditolak sama Bu Yustin." Ningrum berdehem, "Kalau Mama boleh usul, kalian belajar di rumah atau di perpustakaan saja. Biar nggak terlalu capek." Senyum menenangkan kembali memancar di bibir Ningrum.
"Siap Ma," Gia mengangguk penuh semangat.
"Kok Mama nggak pernah lihat Jae lagi ya," tanya Ningrum tiba-tiba. Sudut matanya mencuri pandang ke arah putrinya. "Kalian baik-baik saja, kan?" Ningrum bisa merasakan ada sesuatu yang ditutupi anaknya.
"Baik Ma," Gia hanya menarik bibirnya membentuk garis lurus. "Mungkin Jae sedang sibuk dengan OSIS-nya."
"Oh syukurlah, nggak biasanya dia nggak main ke rumah." Senyum terus mengembang di wajah Ningrum seraya mengusap lembut punggung anaknya.
"Kemarin Jae sempat nawarin jadi bendahara OSIS yang baru tapi Gia tolak, Ma. Gia sudah pusing dengan urusan Gia sendiri." Gia mulai merengek. Tangannya mencari ponsel yang semalam dipegangnya. Penasaran dengan pesan yang dikirimnya pada Jae.
"Ya sudah, mandi dulu sana, biar nggak terlambat." Ningrum menutup pintu perlahan, meninggalkan Gia yang termenung saat menemukan dua centang biru di samping kanan pesannya. Tak ada balasan apapun dari Jae, membuat Gia kembali melempar ponsel ke atas kasur. Kesal menyelimuti hatinya. Gia kesal, tidak terima merasa sudah diabaikan Jae.
Pertanyaan demi pertanyaan kembali memnuhi kepala Gia. Ada suara halus yang berbisik ditelinganya.
Kenapa kamu mulai kesal? Toh Jae bukan siapa-siapa kamu.
Selesai mandi kemudian memakai seragam, Gia bergegas menyelesaikan sarapannya dengan menggigit roti tawar. Tagannya terus bergerak memasukkan makanan ke kotak bekal yang sudah hampir penuh. Roti itu berjejalan dengan makanan lain yang akan disantapnya untuk makan siang. Takut terlambat karena masih harus mengantar adiknya, Gia bergegas meninggalkan rumah. Gia tak bisa menahan penasaran saat ada pesan singkat masuk ke ponselnya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top