Part 56

"Ayah akan segera membayarnya kalo sudah terkumpul uangnya," Gunawan tetap tersenyum meski sorot matanya menyiratkan kesedihan. Kepalanya sempat menunduk sesaat, sebelum menoleh ke dalam rumah. Dua anaknya yang lain sedang bercengkerama di ruang tengah.

"Yah, Gia bisa pindah sekolah yang lebih murah kalau ayah merasa keberatan," usul Gia. Meski sebenarnya dia ragu, ayah akan menerima idenya.

Kepala Gia menunduk saat Gunawan menatapnya lekat. Dia tahu ayahnya pasti juga akan kecewa kalau sampai Gia tak bisa meraih cita-citanya. Gunawan selalu berusaha keras untuk membantu mewujudkannya. "Tidak, sekolah itu segalanya buat kamu. Ayah tidak akan membuat kerja kerasmu untuk masuk sekolah itu menjadi sia-sia."

"Maksud Gia baik, Yah. Dia tidak ingin menjadi beban." Ningrum memandang suaminya dengan wajah sedih di ambang pintu. "Kami juga siap pindah ke rumah yang lebih kecil. Ayah bisa menjual rumah ini untuk menutup kerugian toko."

"Ayah masih sanggup membiayai kalian semua. Ini tanggung jawab Ayah!" Wajah Gunawan mengeras, seketika berubah menjadi merah seolah seluruh aliran darahnya sudah berkumpul ke pipinya. Gunawan selalu memastikan keluarganya dalam hidup berkecukupan.

Gia segera mengusap kristal bening yang menggantung di sudut mata agar tidak jatuh di depan kedua orang tuanya. "Gia akan mencari surat keterangan tidak mampu, kalau Ayah tetap menginginkan Gia sekolah di Pelita Bangsa."

"Apalagi itu? Sudah tugas kamu cuma belajar! Untuk biaya sekolah biar Ayah saja yang memikirkannya." Gunawan menatap tajam pada anak dan istrinya.

Gia beranjak dari tempat duduk, berlari sambil terisak menuju kamar. "Jangan terlalu keras sama Gia, Yah." Sayup-sayup terdengar suara Ningrum yang masih berdebat membela anaknya. Gunawan menjawabnya dengan nada lebih tinggi membuat keduanya beradu mulut.

Tangis Gia semakin menjadi, saat mendengar pertengkaran kedua orangtuanya. Tak tahan mendengar, Gia menutup kamarnya dengan kasar. Dia tak mau mendengar pertengkaran kedua orang tuanya dengan membiarkan suara gaduh itu menghilang di balik pintu. Cairan bening terus membanjiri kedua pipinya yang halus. Sayup-sayup Gia mendengar suara pintu dibuka, membuat isak tangisnya terhenti.

"Gia," Ningrum memanggil anaknya dengan lembut.

Gia segera mengusap kedua pipi dengan punggung tangannya, menarik napas dalam dua kali sebelum menggerakkan kaki. Bentakan Gunawan yang tak pernah dirasakan sebelumnya, meninggalkan perih di hatinya. Gia menarik napas dalam untuk menenangkan diri. Langkahnya berat mendekati pintu.

"Ya, Ma." Gia masih mengusap cairan yang keluar dari hidungnya saat Ningrum masuk ke kamar. Punggung tangannya menyeka sekali lagi pipi yang masih lembab.

"Sini, Nak." Ningrum merentangkan kedua tangannya.

Tak perlu menunggu lama, Gia menghamburkan diri ke dalam pelukan Ningrum. Dia mengeratkan pelukan mamanya yang hangat. Gadis itu selalu mendapatkan ketenangan di sana. Kepalanya menyandar di pundak wanita yang telah melahirkannya. Usapan lembut yang menembus rambut tebalnya membuat hatinya sedikit lebih tenang.

Gia semakin merapatkan tubuh membuat pelukannya semakin erat, "Ayah sudah pergi, Ma?"

"Sudah baru saja," Ningrum mengangkat wajah anaknya. "Maafkan Ayah, ya. Ayah tidak bermaksud membentakmu. Ayah hanya ingin kamu tetap fokus sama sekolah."

Gia mengangguk perlahan. Luka di hatinya sedikit terobati. Selama ini Gunawan tidak pernah bersikap kasar padanya. Kejadian tadi membuat Gia syok, "Iya, Ma."

"Ma, tiga bulan lagi Gia akan mewakili sekolah dalam olimpiade matematika tingkat nasional." Gia membuat garis lurus pada bibirnya yang kaku.

"Wah bagus dong," Ningrum tersenyum sambil memegang wajah anaknya. "Itu tandanya kamu diberikan kepercayaan sama sekolah. Kamu harus lebih giat belajar."

"Iya, Ma. Gia juga diberikan tugas sama Bu Yustin untuk menjadi guru privat teman Gia, Dean." Gia berhenti sejenak untuk melihat reaksi Mamanya.

Dahi Ningrum mengerut, membuat garis halus diantara kedua alisnya semakin tebal. Gia bisa membaca kesedihan yang terpancar dari mata mamanya. 

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top