Part 45
"Wah kalo kaya gitu bakalan lama selesainya," garis-garis halus muncul diantara kedua alis Jae yang mengerut.
Gia mengangguk mantap. "Pasti. Makanya pusing banget nih," Gia mengunyah kacang yang sudah dikupasnya.
"Apa sekolah nggak ada solusi lain untuk masalah ini?" Jae berdehem, "Maksudku, kamu disini kan berprestasi. Kali aja sekolah mau ngasih dispensasi."
"Ada sih tapi cuma perpanjangan waktu batas pembayaran aja. Untuk nominal ya sama seperti siswa lain." Mulut Gia kembali mengunyah makanannya.
"Kenapa nggak nyari beasiswa..hm..maaf nih maaf ya sebelumnya," Jae sungkan meneruskan kalimatnya. Namun kalimat meluncur begitu saja dari lidahnya saat melihat wajah Gia yang penasaran. "Kenapa nggak nyari surat keterangan kurang mampu saja?"
"Nah itu dia maslahnya," Jae terkejut saat tidak menemukan mimik tersinggung di wajah Gia. "Ayah nggak setuju aku nyari beasiswa pake begituan. Buat ayah, beasiswa ya harus dari prestasi."
"Bagus dong, itu artinya ayahmu masih mampu membiayai sekolahmu." Tangan Jae mengikuti gerakan Gia menyuapkan kacang oven ke dalam mulut.
Sedangkan Gia hanya menggeleng lemah. "Enggak Jae, aku tuh tahu banget gimana kondisi ayah." Udara yang berhembus dari luar membuat perih mata Gia yang belum kering.
"Ayah tuh nggak mau terlihat susah di depan keluarganya, meski di luar sana beliau sedang mengalami maslah besar." Ada cemas yang muncul dari sorot mata Gia
"Sekarang aku jadi tahu dari mana kamu mewarisi ketegaran yang kamu miliki." Tangan Jae sibuk menggoyang-goyangkan kaleng minuman.
"Ah kamu bisa aja Jae," pipi Gia menggembung memancarkan rona merah. "Aku pengen kerja Jae. Kerja apa aja aku mau asal bisa menghasilkan duit halal. Aku masih pengin masuk arsitek, Jae."
Gia terdiam, menikmati buliran air yang membasahi tenggorokannya yang terasa cepat mengering. Matanya menatap jauh ke dalam mata Jae, berusaha membaca pikiran lelaki berwajah bulat di depannya. Namun Jae seperti lari, dia selalu menemukan cara untuk menghindari tatapan Gia.
Apa yang sedang kamu sembunyikan Jae? Bisiknya dalam hati. Tak lama kemudian, Gia menepisnya. Aku harus segera mendapatkan pekerjaan. Gia terus menguatkan dirinya sendiri.
"Kenapa sih ngliatinnya gitu amat?" Tak ada jawaban, Gia hanya membalasnya dengan gelengan kepala sementara bibirnya mnyunggingkan senyum. "Seperti yang aku bilang tadi, susah nyari orang yang mau mempekerjakan pelajar."
"Iya sih," Matanya tertuju pada pegawai kantin yang sedang melintas. "Apa aku kerja kaya gitu aja ya?" tanya Gia setengah berbisik seraya mengedikkan dagu.
"Hish, ngaco kamu. Jangan ah, cari yang lain aja." Sudut mata Jae mencuri pandang untuk melihat reaksi Gia. "Bukan masalah kerjaannya, bisa habis tenagamu kalau kerja kaya gitu. Ingat kamu juga harus belajar buat olimpiade."
"Iya juga sih," Gia tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya beberapa kali. "Eh tapi bukan karena kamu malu kan punya teman yang kerjaannya kaya gitu?" tuduh Gia.
Apa tadi? Teman? Apa memang benar-benar hanya mau dianggap sebagai teman? Pikiran Gia memulai perang.
Gia menertawakan dirinya sendiri, ingin rasanya menarik kembali ucapan yang sudah keluar dari mulutnya. Sesekali ujung matanya menatap ke arah Jae untuk melihat reaksinya. Ternyata ucapannya tidak berpengaruh banyak. Gia mulai merasakan ada yang berbeda dari sikap Jae.
Jae hanya tersenyum tipis, "Nanti aku coba bicara sama ayah."
Sejenak wajah Disa kembali melintas di benak Gia sambil mengatakan, Ya kalau Jae mau nembak kamu lagi. Nah, kalau enggak gimana? Tiba-tiba semua menjadi ambigu. Jae tidak membalas tatapan mata Gia. Kepalanya menunduk, seolah mencari alasan setiap kali pandangan Gia berusaha menemukan manik matanya.
"Serius?" Gia pura-pura tidak peka dengan perubahan Jae.
Jae hanya menunduk, sesekali menatap ponselnya dengan gelisah. Menyalakan layar, buru-buru mengetik sesuatu, tak lama kemudian segera mematikannya. Matahari mulai merangkak menuju batas bumi. Gia menutup harinya dengan hati yang lebih tenang. Meski Gia masih merasakan jarak yang sengaja diciptakan Jae. Lelaki itu tidak ada inisitif lagi untuk mengantarnya pulang.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top