Part 44
"Orangtuaku udah kesulitan membiayai sekolahku." Gia menutup wajah dengan menangkupkan kedua tangannya. Menjual iba bukanlah caranya untuk mencari perhatian. Namun dia bukanlah hal mudah jika saat ini harus menyembunyikan kesedihannya.
Jae terdiam sejenak, memikirkan apa yang bisa dilakukannya untuk membantu Gia. "Bukannya kamu dapat beasiswa?" tanya Jae memberanikan diri.
"Beasiswaku awal tahun ini sudah habis, Jae. Aku tidak mungkin diam aja melihat orangtuaku yang sedang kesusahan mencari uang untuk biaya sekolahku," ucap Gia cemas. "Sementara kamu tahu sendiri kan, sekolah di sini nggak murah?"
"Sekarang rencana kamu apa?" tanya Jae sambil bangkit sambil mengulurkan tangan ke arah Gia untuk mengikutinya berdiri.
"Aku mau kerja, Jae." Pikir Gia, inilah satu-satunya cara yang muncul di kepala untuk menyelesaikan sekolahnya.
"Mana mungkin ada orang yang mau memperkerjakan anak dibawah umur?" sanggah Jae. "Jangan ngaco ah!"
"Nggak tahu. Aku juga baru mikir," Gia memijat dahinya perlahan. "Gimana caranya bisa ngasilin duit?"
"Nanti kucoba bantu cari jalan keluarnya," janji Jae sambil menoleh ke sekeliling.
Apa aku nggak salah dengar? Jae mau bantuin, itu artinya dia masih perhatian sama aku. Yes! Gia sibuk dengan pikirannya sendiri. Kembang api kembali meletup-letup di kepalanya, membuat senyum kembali mengembang di bibirnya.
"Gia!" panggilan Jae membuyarkan monolog di kepala Gia. Tidak cukup sekali panggil untuk membuat Gia tersadar dari lamunannya.
Gia mencubit lengannya, "Aduh!" jerit Gia lirih.
Bener kan apa kataku? Jae nggak akan ninggalin aku. Disa aja yang sok tahu. Gia kembali sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kenapa sih?" Jae menoleh ke arah gadis di sampingnya. Sorot mata heran menyusuri setiap senti wajah Gia, meneliti kembali perubahan wajah gadis di depannya.
"Hm...nggak apa-apa. Bantuin ya," Gia merajuk sambil mengangkat-angkat kedua alisnya.
Matahari sudah mulai condong ke barat, membentuk bayangan pada setiap benda yang ditimpanya. Anak rambut Gia melambai-lambai mengikuti hembusan bayu. Gia menyambut uluran tangan Jae untuk menariknya berdiri. Hati Gia merasakan kedamaian saat tangan Jae mengacak rambutnya dengan lembut. Jemari Jae merapikan ujung poni Gia yang menjadi tak rapi karena mengikuti gerakan kepalanya.
"Ke kantin, yuk. Kamu bisa cerita sambil makan." Senyum Jae mengembang.
"Traktir ya," Gia kembali merajuk.
"Argh, ayo." Jae sempat meraih tas Gia sebelum melangkahkan kaki menuju kantin. Keduanya tidak tahu, ada sepasang mata sedang memperhatikan mereka sejak tadi.
Gelembung di hati Gia kembali meletup-letup, pundaknya terasa lebih ringan. Seperti ada yang salah, Gia kehilangan desakan kupu-kupu yang sering muncul dalam perutnya. Salah besar jika Disa mengira Jae sudah cinta mati dengan Gia. Semua yang dilakukan Jae untuk Gia terlalu sempurna.
Beban di hati Gia selalu memudar setiap kali membagikannya dengan Jae. Suntikan semangat yang dirasakan Gia membuatnya lebih cepat bangkit dan melanjutkan langkahnya kembali. Gia tidak akan bisa jika harus terlepas dari Jae. Keduanya saling terikat, meski tidak dinyatakan secara verbal.
"Eh, tadi ceritanya gimana?" Jae menenggak minuman ringan bersoda.
"Jam istirahat aku dipanggil sama bagian keuangan. Seperti yang aku bilang tadi, membahas tentang tunggakan biaya sekolah yang belum aku selesaikan." Gia berhenti sejenak untuk membasahi tenggorokannya.
"Katanya ada masalah dengan petugas yang menyalurkan dana beasiswa prestasi. Masalahnya apa, aku sendiri kurang paham. Tapi kalo nggak salah tentang proses penyaluran dana beasiswa." Gia setengah tertawa melihat mata Jae yang hampir keluar dari cangkangnya.
"Jadi sementara beasiswa itu dihentikan dulu untuk waktu yang belum bisa ditentukan sampai masalah ini selesai. Sedangkan pihak sekolah tidak mau tahu tentang hal ini, aku harus menyelesaikan tunggakan yang belum kubayar sejak awal tahun." Gia menelan ludah setelah melihat mulut Jae yang masih membulat.
Perasaan di hati Gia mulai sulit untuk diartikan, dia ingin terus bersama Jae tapi dia sendiri tidak yakin dengan keputusannya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top