Part 28

Gia melonjak dari duduknya sambil menggosok mata dengan kasar. Seketika itu pula kunang-kunang yang membentuk wajah Jae dibenaknya memudar. Kumpulan cahaya itu berpendar saling menjauh sebelum kemudian menghilang. Mata Gia mengerjap, berputar mencari sumber suara yang hampir saja membuatnya terkena serangan jantung. Pipinya memerah seketika saat menemukan Dean sedang berdiri di seberang mejanya.

Bibir Dean membentuk garis melengkung, setengah terbahak hingga pundaknya terguncang. Semakin menemukan Gia kesal dengan ulahnya, cowok itu semakin keras tertawa. Dean tidak menyadari, Gia sudah mengamati setiap perubahan sikapnya dengan teliti. Sampai pada satu kesimpulan ada luka dalam yang disimpannya dalam hati.

Semakin dalam Gia menemukan sesuatu dalam diri Dean, semakin sulit baginya menekan gemuruh yang menggelegar. Tangan kirinya menangkup di dada menahan jantungnya semakin cepat melompat seolah ingin mengeluarkan diri dari tempatnya. Napasnya yang tidak teratur, membuat pundaknya melakukan gerakan naik turun dengan konsisten.

"Wah siswi teladan tidur di kelas nih!" sindir Dean sambil menyandarkan tubuh di bibir meja Gia. "Hobi baru ya?" Dean masih terkekeh.

"Maksud kamu apa sih?" Gia mengerutkan dahi.

"Nggak malu, anak teladan kok tidur di kelas?" Dean menghentikan ucapannya, tubuhnya condong ke arah Gia. "Bukannya tidur di kelas itu kerjaan pemalas?" ucap Dean menirukan yang dikatakannya pada Dean beberapa hari yang lalu.

"Bisa nggak sih sehari saja nggak nyari masalah?" teriak Gia kesal. "Lagian siapa juga yang tidur di kelas?"

"Sudah ketauan masih saja ngeles." Dean masih terkekeh lagi sebelum diam, menatap Gia dengan serius.

"Apa?" bentak Gia.

Geligi Gia saling beradu, membuat tulang rahangnya mengeras. Hatinya kembali berdesir saat menatap mata coklat di depannya. Namun Gia segera menepis. Dia tidak tahu cowok di depannya juga merasakan hal yang sama.

"Galak amat sih," protes Dean.

"Oh Neptunus, tolong lepaskan aku dari makhluk yang satu ini." Gia memutar bola matanya.

Dean memutar bangku di sebelahnya, membuat Gia segera mengemasi buku-buku yang masih terbuka di meja. Jantungnya yang berlompatan semakin sulit untuk dikendalikan. Entah apa lagi yang akan dilakukan Dean, dia sedang tidak mood diajak bertengkar. Sementara dia harus meredam suara gemuruh di dalam dadanya.

"Tunggu!" Suara Dean menghentikan gerakan tangan Gia. "Kenapa belum dijawab?" Telunjuk Dean mengarah ke nomor lima.

Matanya menyusuri buku-buku yang masih terbuka. Terdiam sebentar sambil mengamati deretan angka yang di tulis rapi dalam buku bergaris. Tubuhnya condong ke depan memastikan tulisan yang dibuat Gia di sebelah angka lima. Dean kemudian menatap wajah di depannya, mencari tahu kenapa gadis itu membubuhkan tanda tanya di sana.

"Bukan urusanmu," jawab Gia ketus. Tangannya kembali merapikan bukunya.

"Sini," tangan kanan Dean menarik buku teks yang masih terbuka.

Gia coba menerka apa yang akan dilakukan Dean, saat melihatnya menyandarkan punggung di papan bangku. Jemarinya membalik beberapa halaman berusaha menemukan sesuatu. Keningnya bertaut dengan mulut yang sedang merapalkan dengan suara yang tidak bisa didengar Gia. Tangan Dean yang meraih buku tulis membuatnya terkejut.

"Eh tunggu!" Gia setengah berteriak, tidak mau Dean merusak tugas yang sudah dikerjakannya. "Mau ngapain sih?" tanya Gia kemudian.

"Sstt..." Dean menempelkan telunjuknya di bibir. "Diam dulu."

Seperti terkena sihir, Gia menutup mulutnya setelah mendengar perintah Dean. Matanya menatap jari Dean yang terus menari di buku tulis. Sesekali kepalanya menoleh ke arah buku teks kemudian menyalin angka dan huruf. Begitu lancar, membuat Gia membulatkan mulutnya. Sesekali tangannya menggosok mata, memastikan yang dilihatnya tidak salah. Soal nomor lima selesai dalam waktu kurang dari lima menit.

"Deuh! Tugasku berantakan gini," protes Gia.

"Berantakan gimana? Bukannya bilang terimakasih malah bilang berantakan," Dean tak mau kalah. "Baca yang bener!"

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top