Part 19

Kristal bening berkumpul di sudut mata Gia, membuatnya seketika berubah menjadi panas. Tubuhnya masih bergetar menahan ledakan emosi di dada. Tapi sekuat apapun dia mencoba, seketika itu pula pertahanannya runtuh. Langkahnya berhenti di pojok bangunan menuju kelas. Bahunya berguncang saat buliran bening mulai meluncur di atas pipi coklatnya yang halus.

Usapan lembut Disa dipunggungnya menciptakan rasa hangat di sekujur tubuh. Cukup menenangkan meski sebenarnya hatinya masih kacau. Kehadiran Disa disaat seperti ini yang selalu membuat nyaman. Pelukan Disa selalu tersedia untuknya kapan pun dia butuhkan. Tangan kanan Gia menuntup mulut, menahan isakan agar tidak terdengar oleh siapa pun.

Bahunya masih terus berguncang seirama dengan isakannya yang belum juga berhenti. Gia membenamkan wajah ke dalam kedua tangannya, kemudian menjatuhkan diri ke dalam pelukan Disa. Sementara tangan kiri sahabatnya masih memegang tumpukan kertas hasil ulangan matematika. Bujukan Disa tak juga berhasil menghentikan buliran bening yang terus mengucur di kedua pipi Gia.

Meski khawatir, sebenarnya ada lega yang menyusup di hati Disa. Selama ini Gia tak pernah menangis walaupun tekanan datang bertubi-tubi. Tak disangka kebaikan dan kepolosannya sering mengundang bully-an dari teman-temannya yang lain. Akhirnya sahabatnya ini bisa meluapkan emosinya.

Disa terus mengusap punggung Gia pelan, sementara mulutnya tak berhenti mengeluarkan sejuta kata mutiara untuk menenagkan.

"Dis, aku ini cuma kesel bukan depresi!" jerit Gia membuat Disa tersentak.

"Ups!" Disa mengatupkan bibirnya penuh rasa bersalah.

"Lagian orang yang depresi pasti malah lebih ingin bunuh diri kalo dengar omongan kamu." Protesnya kemudian.

"Sori..sori..." Sela Disa buru-buru. "Nggak biasanya kamu nangis kayak gini." Belum ada setengah hari, Gia sudah memberinya banyak kejutan.

"Salah aku apa sih? Kok mereka gitu banget." Gia tak terima.

"Kamu itu terlalu baik Gi, sedangkan nggak semua orang bisa menyadari kebaikanmu, apalagi membalas." Disa mengucapkannya dengan hati-hati.

"Baru kali ini dihina orang sampai kayak gitu, Dis." Isakan masih mengiringi ucapan Gia.

Bahunya masih terus berguncang. Sikap Kashi tadi bukanlah yang diharapkan. Apalagi pertengkarannya dengan Dean yang hampir terjadi setiap hari, sangat menguras pikirannya. Sepandai-pandainya Gia menghindari Dean, cowok itu selalu menemukan cara untuk beradu mulut dengannya.

Gia meninju dinding kelas, menyisakan ruam merah di punggung tangannya. Nyeri menjalar sampai ke lengan, namun tak dirasakannya. Gia berteriak sementara tangannya masih membekap mulut. Disa pandai sekali memilih tempat di lorong dekat gudang yang tidak banyak dilewati siswa lain. Siswa yang menuju toilet saja yang bisa menemukan mereka di ujung lorong.

"Gia!" teriak Dean saat menemukan punggung yang sangat dikenalinya.

Gia tidak langsung mencari sumber suara meski sudah menghentikan isakannya. Dia tak akan melakukan hal yang bisa membuat dirinya semakin meradang. Baru kali ini dia mendengar Dean menyebut namanya dengan jelas. Kepalanya masih menunduk, kedua tangannya sibuk mengusap kedua pipinya yang basah.

Usapan lembut tangan Disa kembali menyusuri punggungnya, sementara sudut mata Gia menemukan bayangan tangan yang mengulurkan tisu. Dadanya sedikit lebih lega, meski gemuruh di dalamnya belum juga berhenti.

Kelopak mata Gia mengatup, menghirup udara dalam dari indra penciumannya. Berusaha memenuhi paru-parunya dengan oksigen. Lehernya bergerak naik turun untuk membasahi tenggorokan. Tak ada keinginan sama sekali untuk meladeni keributan yang mungkin akan terjadi lagi.

Gia berdehem untuk membuat suaranya senormal mungkin. Sulit sekali menghilangkan bengkak di matanya, sedangkan dia tak mau musuhnya tahu kalau dirinya sednag lemah. Dean baru mulai bicara lagi bersamaan dengan Gia yang mambalikkan badan. Cowok itu juga tampak terkejut saat tatapan mereka bertemu. Gia memasang wajah datar seolah tak mengetahui perubahannya.

"Mau apa lagi?" hardik Gia dengan suara masih terdengar berat dan serak.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top