Part 14
Diam-diam Jae juga memperhatikan setiap kali menemukan tulisan is typing di chatt Gia. Meski seringnya dia nggak sabar dan mengirim pesan setelah beberapa detik tak juga mendapatkan pesan dari Gia. Seperti ada yang hilang jika tak mendapatkan kabar dari Gia, meski gadis itu berkali-kali mengecewakannya. Binar mata Gia yang dilihatnya setiap kali bertemu, membuatnya yakin kalo sebenarnya gadis itu juga menyukainya.
Pesan balasan Gia juga penuh dengan emoticon senyum setiap kali membalas pesannya. Jae tak bisa melupakan cara Gia menatapnya yang penuh kekaguman. Sikap Gia inilah yang membuatnya memutuskan untuk terus berjuang mendapatkan cinta Gia. Bukan hal yang mudah kalo dia harus menghapus wajah Gia setiap kali muncul dibenaknya.
Hari ini Jae belum mengirim pesan sama sekali. Gia juga tak menemukannya di ruang OSIS. Kecewa menyusup di hati Gia. Berkali-kali Gia memeriksa ponsel, meski tak menemukan juga whatsapp dari Jae. Jemarinya terus bergerak untuk stalking media sosial, mencari tahu apa yang sedang dikerjakan Jae hingga melupakannya.
Meski kegembiraannya sering membuncah saat berdekatan dengan Jae, keraguan masih saja menyelinap di hatinya. Tapi dia juga bisa uring-uringan sendiri setiap kali melihat Jae dari kejauhan sibuk ngobrol dengan cewek lain. Sebagai ketua OSIS Jae memang harus bisa membaur dengan semua siswa lain. Kesempatan inilah yang digunakan cewek yang dianggap centil oleh Gia untuk mendekati Jae.
Sudah dua hari Gia tak bertemu dengan Jae setelah mereka mengunjungi toko buku. Dia juga tak menemukan informasi apapun dari media sosial Jae. Rindu menyelinap di hati Gia. Kamu lagi ngapain sih Jae? Bisik Gia dalam hati.
Disa menghela napas panjang, nggak tahu gimana lagi caranya untuk membuat sahabatnya ini mengerti. "Kamu buta apa gimana sih Gi?" Dia menatap lurus pada gadis di depannya. "Mana ada zaman sekarang cowok mau nebelin muka sampai nembak berkali-kali." Disa mengunyah kasar permen di dalam mulutnya. "Untuk kasus yang satu ini, kayaknya otak kamu yang selek Gi."
"Njir! Nggak ada yang bisa jamin kalo dia serius." Gia mengangkat kedua tangannya. Gengsi Gia masih diujung langit untuk mengakui kebenaran ucapan Disa.
"Antara mengabaikan dan tidak percaya itu bedanya tipis banget," ucap Disa kesal.
Dalam hati, Gia mulai menerima logika Disa. "Nanti deh, kalo sudah dua belas kali dia nembak, baru aku terima."
Bola mata Disa berputar, "Ya kalo dia mau nembak kamu lagi, nah kalau sudah disamber cewek lain gimana?"
"Gitu amat sih!" desisnya.
"Tahu nggak sih? Di luar sana cewek yang mau nerima Jae itu sudah nggak kehitung jumlahnya," ucap Disa berapi-api, sementara telunjuknya mengarah ke luar kantin. "Kamunya saja yang masih sok kecakepan."
Mulut Gia masih terkunci, sementara bayangan wajah Jae kembali berkelebat di benaknya. Jae seperti memiliki magnet, bukti bahwa menjadi idola tidak hanya bisa diukur dengan fisik. Jae pandai membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
"Mereka itu cuma nganggep kamu sahabatnya Jae," sembur Disa kemudian. Akalnya sudah habis untuk meyakinkan orang di depannya.
Beda dengan apa yang dipikirkan Gia, dia yakin seribu persen Jae akan mengungkapkan perasaannya lagi. Jae tidak akan melepaskan dirinya begitu saja, sudah banyak yang Jae lakukan untuknya. Jae pernah mengatakan kalo cintanya hanya untuk Gia.. Jae juga meyakinkan, hanya Gia yang bisa mengerti dirinya.
"Aku yakin..." Gia tersenyum penuh. Tenang, tak lama lagi aku dan Jae akan menjadi pasangan paling bahagia di dunia. Aku akan mematahkan hati cewek yang pernah memintanku untuk menjadi comblang dengan Jae. Maaf, aku mengkhianati kalian. Aku tidak akan pernah melepaskan Jae untuk siapapun. Aku dan Jae akan menjadi pasangan sempurna. Gia tertawa dalam hati.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top