Chapter 12 - Ruby

"Ruby, kamu adalah kakak yang paling tua. Jaga adikmu sebisamu. Suatu saat mereka akan membutuhkanmu, baik mereka utarakan ataupun tidak."

Kemudian terjadi lagi, Ruby merasa gagal untuk kedua kalinya dalam menjalankan pesan ibunya tersebut.

Pertama adalah pada saat adiknya yang bernama Taaffeite dipisahkan dari rombongan putri-putri Naz yang lain ketika mereka dibawa pergi dari puri Naz. Taaffeite dimasukkan dalam kereta kuda yang berbeda dan semenjak itu Ruby tidak pernah melihat adik tersebut lagi.

Ketika berada di ibu kota Bielinca, tepat sebelum Tarkh memanggil Ruby dan saudari-saudarinya lalu memamerkan mereka bagai barang pajangan, ia mendapat jawaban mengejutkan tentang Taaffeite. Seorang prajurit yang bertugas menjaga para putri Naz akhirnya mau menjawab pertanyaan yang Ruby ajukan berkali-kali: "Di mana adikku, Taaffeite?"

"Tentu saja Nona Taaffeite sudah berada di sisi Maharaja Tarkh. Bukankah semua perang ini dilakukan oleh Maharaja Tarkh untuk mendapatkan Nona Taaffeite? Sangat disayangkan Naz tewas. Saya pun terkejut Pangeran Khrush melakukan hal itu."

Ruby dan adik-adiknya tersentak, sama sekali tidak menyangka bahwa saudari merekalah yang menjadi penyebab perang besar. Tidak ada yang membahas mengenai alasan perang besar selama mereka masih tinggal di Kota Suci, tampaknya semua orang menutup fakta tersebut dari para putri Naz. Karenanya mereka menyangka perang itu hanya perebutan kekuasaan seperti biasanya. Mereka pun tidak habis pikir, betapa mengerikannya nafsu seorang lelaki yang ingin memiliki.

Dalam hati Ruby bertanya-tanya, "Bagaimana reaksi Taaffeite jika mengetahui semua perang yang terjadi belakangan secara tidak langsung disebabkan olehnya?" Ia amat tahu karakter adiknya tersebut. Taaffeite mungkin akan menyalahkan diri sendiri.

Kegagalannya yang kedua bahkan jauh lebih buruk. Ruby merasa emosi benar-benar menguasainya saat Raja Oukha menyampaikan kondisi mengenaskan adiknya yang bernama Sapphire. Berbagai macam perasaan marah bercampur jadi satu dalam hatinya. Ia marah pada Raja Tarkh yang bertindak egois, marah pada Raja Sirgh yang biadab, dan marah pada Raja Oukha yang terlalu berambisi. Namun, Ruby juga marah pada dirinya sendiri yang begitu lemah hingga tidak bisa menyelamatkan adik-adiknya.

Pada awalnya yang ada dalam pikiran Ruby hanyalah bagaimana menyamankan diri di istana besar kediaman raja Kerajaan Ezze.

Ruby sudah menyadari ketidaktertarikan Raja Oukha semenjak perjalanan mengikuti sang raja ke Kerajaan Ezze. Raja muda itu tidak mau satu kereta kuda dan tidak menganggap Ruby ada, seolah-olah Ruby hanyalah bawahan rendah yang tidak perlu ia periksa keberadaannya.

Begitu sampai di istana Ezze pun Ruby diacuhkan oleh Raja Oukha meski ia justru merasa lebih nyaman seperti itu. Ruby tidak mempermasalahkan ketika diberi kamar kumuh yang terletak dekat dengan dapur dan kamar-kamar pelayan, setidaknya itu berarti Raja Oukha tidak berniat menyentuhnya.  Ia hanya mencoba untuk bertahan hidup dan melakukan apa yang ia bisa sebagai putri Naz.

Keadaan berubah dengan cepat. Ruby memang menyadari jika Raja Oukha berniat membuatnya kesusahan dan akhirnya raja itu sendiri yang mengakui kelakuan busuk tersebut setelah pulang dari acara pernikahan Raja Tarkh dan adiknya, Taaffeite.

Ruby sempat murka saat Raja Oukha menyinggung kalau semua perlakuan kurang menyenangkan yang diterimanya sekadar untuk membuatnya tunduk. Ia bahkan tidak bisa menahan ekspresi muaknya. Berani sekali dia merepotkanku karena hal remeh seperti itu!

Pengakuan sang raja tidak hanya berhenti di situ. Keadaan bertambah rumit dengan adanya rencana nekat Raja Oukha dan perihal keadaan adiknya, Sapphire.

Sapphire yang malang. Kecantikannya telah membuatnya dipilih oleh monster kejam.

Gadis itu ... Raja Sirgh telah memerkosa dan menyiksanya. Bahkan Raja Sirgh memerintahkan prajurit-prajurit dan pelayan-pelayan yang dia bawa dari Tzaren untuk menyetubuhi Sapphire. Seseorang di Kraalovna mengabarkan jika Sapphire sudah di ambang batas antara hidup dan mati. Kondisi fisiknya benar-benar menyedihkan.

Kabar yang disampaikan Raja Oukha itu bagaikan petir yang menyambar, keras dan menakutkan.

Setelah Raja Oukha menyetujui untuk membantunya menyelinap memasuki istana Kraalovna, Ruby mulai memutar otak. Ia memikirkan tentang apa yang harus dilakukan seandainya berita tersebut benar. Tentunya ia berniat akan membantu rencana Raja Oukha jika itu termasuk membebaskan adik-adiknya dan menghabisi orang-orang yang menyakiti mereka.

Ruby tidak bisa tidur dengan tenang memikirkan nasib adiknya yang lain. Ia membolak-balikkan badannya ketika berbaring di atas kasur empuk di kamar yang baru.

Semenjak Raja Oukha menerima Ruby dengan tangan terbuka, laki-laki itu berubah drastis dalam memperlakukannya. Kamar Ruby dipindah ke sebuah kamar yang sangat luas dan indah di istananya sendiri, istana ratu, meski dirinya belum dinobatkan. Ia diberi dayang pribadi dan baju-baju yang bagus, membuatnya makin terlihat agung.

Pagi itu, Ruby memilih makan di dapur bersama pelayan lain, meski dengan baju kebesaran seorang ratu membuat pelayan-pelayan menjadi tegang saat duduk bersama dengannya. Selain karena mereka takut akan merusak baju mahal yang dikenakan Ruby, mereka juga merasa tekanan yang berbeda dibanding sebelum Ruby berdandan ala bangsawan.

"Ada yang meresahkan Anda, Nona Ruby?" tanya seorang pelayan pada saat makan pagi ketika matahari masih mengintip malu di ufuk. Sarapan para pelayan memang jauh lebih pagi dibanding penghuni istana yang lain. Karenanya Ruby sering makan di dapur istana. Ia terbiasa makan sarapan pagi-pagi sekali.

"Begitu terlihat ya di wajahku?" Ruby menyadari wajahnya kusut karena berhari-hari tidak tidur nyenyak. Matanya menjadi cekung. Baginya hari-hari terasa panjang ketika menunggu instruksi dari Raja Oukha yang akan menyelundupkannya ke istana Kraalovna.

Pelayan tadi tersenyum sekilas. "Saya pikir Yang Mulia Raja sudah memperlakukan Anda dengan lebih baik. Apa Yang Mulia Raja berbuat sesuatu yang menyusahkan hati Anda?"

Ruby menggeleng. "Tidak .... Perlakuan Raja Oukha tidak akan membuat hatiku seresah ini. Ini tentang adikku, yang akan menjadi pendamping Raja Sirgh di Kraalovna."

"Kraalovna?" Pelayan tadi menegakkan badannya. Anda butuh bantuan, nona? Saya mempunyai kerabat di Kraalovna."

"Kau mempunyai keluarga di sana?"

"Ya. Sepupu saya dulu dijual ke sana."

"...."

"Tapi sepupunya beruntung bisa lepas dari rumah bordil." Melihat Ruby yang bingung, pelayan lainnya ikut menimpali. "Di Ezze, wanita tidak memiliki kesetaraan seperti laki-laki, terutama di kalangan rakyat biasa. Keluarga-keluarga yang membenci kelahiran anak perempuan menjual anak-anak gadis mereka. Tentu nona tahu jika Ezze banyak mengirim wanita penghibur ke kerajaan lain. Beberapa wanita itu ada yang mendapatkan kebebasan setelah ditebus mahal oleh laki-laki kerajaan lain yang tergila-gila pada mereka. Meski tidak bisa pulang kembali, terkadang mereka mengirim kabar pada keluarga mereka di sini. Tapi itu adalah keberuntungan langka yang bisa dialami oleh sedikit wanita penghibur."

Ruby tercengang. Pelayan-pelayannya menceritakan hal seperti itu dengan santai. "Aku baru mengetahui hal tersebut."

"Tentu saja Kerajaan Ezze tidak terang-terangan menyatakan salah satu perdagangan besar mereka adalah budak dan gadis penghibur. Kami memaklumi jika seorang putri Naz tidak mengetahui hal ini sebelumnya."

Ruby tampak merenung sebentar. Sarapannya yang masih tersentuh sedikit di hadapannya tidak menggugah selera makannya sama sekali. Bertambah lagi fakta menjijikan untuknya. Ia merasa harus mempelajari tentang Kerajaan Ezze lebih dalam lagi.

"Aku harap ... aku akan bisa membantu kalian suatu saat nanti."

***

Begitu mendekati ibu kota Kraalovna, rombongan Kerajaan Ezze yang akan menghadiri pernikahan Raja Khrush dan Alexandrite di Zetaya, beristirahat sejenak di pinggir hutan dekat ibu kota Kraalovna.

Raja Oukha dan Ruby turun dari sebuah kereta kuda yang mewah. Bertolak belakang dengan Raja Oukha yang memakai pakaian resmi raja, Ruby hanya memakai jubah ringan berwarna cokelat. Dengan seorang prajurit mengekor di belakang, mereka memasuki hutan.

Tidak begitu jauh dari pinggir hutan, terdapat sebuah gua yang sempit sehingga terlihat seperti celah retakan batu biasa. Seseorang wanita bermata sedih muncul dari balik kegelapan gua, mengejutkan Ruby. Wanita berambut pirang putih tersebut berpakaian seperti seorang pelayan.

"Dia adalah Ruby. Putri Naz yang akan menjadi ratu di Ezze. Kakak Sapphire." Tangan Raja Oukha menyilang di hadapan Ruby, memperkenalkan gadis itu.

Wanita pelayan tadi membungkuk untuk memberi hormat. "Salam untuk putri Naz. Saya yang akan membimbing Anda. Silakan lewat sini."

Tanpa menunggu, wanita pelayan itu membalikkan badan dan menghilang dalam kegelapan.

Ruby melangkah tanpa ragu ke dalam gua dan hanya menoleh sekilas pada Raja Oukha. Ia sudah memantapkan hati sejak lama bahwa ia harus bertemu adiknya apa pun yang terjadi.

Jalan terowongan gelap dalam gua tersebut cukup lurus dan ukurannya tidak berubah dari ukuran awal saat masuk gua. Ruby hanya perlu memegang dinding batu di sampingnya untuk membimbing langkahnya. Tidak lama kemudian, terdapat cahaya keemasan di ujung gua dan Ruby dapat melihat siluet pelayan wanita tadi menunggunya di ujung terowongan tersebut.

Ruby lantas disambut sebuah ruangan besar berlangit-langit tinggi dalam gua yang sepertinya berukuran lebih besar dari aula istana. Cahaya keemasan tadi ternyata berasal dari obor-obor yang banyak jumlahnya. Stalaktit dan stalagmit berhamburan di seluruh penjuru bagian gua. Tampak pula titik-titik hitam tersebar di sepanjang dinding gua.

"Ini adalah pusat gua yang menghubungkan banyak terowongan lain seperti tadi," celetuk si pelayan wanita saat melihat pandangan Ruby meneliti ke sana-kemari. "Gua ini dibuat untuk jalur pelarian ataupun untuk menyelundupkan tentara di titik-titik tertentu dekat ibu kota. Ada juga terowongan panjang yang berakhir di kota lain, tentunya harus dengan persiapan karena akan berjalan kaki berhari-hari lamanya dalam kegelapan atau akan mati kelaparan dan kehausan karena tidak memiliki perbekalan. Namun, sebagian besar terowongan di sini merupakan terowongan jebakan yang hanya akan mengantar nyawa jika masuk ke dalamnya."

"Apakah tidak apa-apa mengungkapkan hal itu padaku?" Ruby merasa gua tersebut sungguh luar biasa. Bagian perencanaan matang dari suatu kerajaan yang tentunya hanya diketahui segelintir orang. Tiba-tiba ia berkhayal, "Andaikan di bawah Puri Naz terdapat gua pelarian seperti ini ...."

Pelayan wanita Kraalovna itu tersenyum sedih. "Kraalovna sedang mengalami guncangan di dalam. Tidak ada yang benar-benar memimpin. Meskipun sudah ada raja baru, kesetiaan kami tidaklah untuknya. Seorang asing yang tidak pantas memimpin Kraalovna yang agung. Mereka pikir dengan menikahi seorang Putri Naz, kami akan bersedia memberi kesetiaan pada orang Tzaren itu. Yah ... pikiran mereka nyaris benar sampai beberapa dari kami mengetahui keadaan Nona Sapphire."

Deg! Jantung Ruby terasa sesak mendengar kalimat terakhir si pelayan.

"Mari saya tunjukkan terowongan yang akan langsung menuju ke kamar Nona Sapphire."

***

Ruby mengikuti si pelayan dengan dada berdebar tidak karuan. Berulang kali ia hampir terpeleset karena salah satu terowongan yang mereka masuki menanjak ke atas dengan pijakan dari tanah yang dibuat seperti tangga yang tidak rata. Sementara pelayan yang berjalan di depannya tampak tidak kesulitan meski sambil membawa sebuah obor. Ujung dari terowongan itu sedikit berangin dan dingin, tanda jika mereka telah tiba di bagian yang berbeda dari terowongan gua. Mereka telah berada di sebuah lorong yang tersusun dari batu-batu yang dipotong persegi panjang dengan ukuran sempurna.

"Ini adalah lorong dalam dinding istana. Lorong ini terhubung ke banyak ruangan."

"Apakah Raja Sirgh mengetahui lorong ini?" Ruby khawatir jika berpapasan dengan Raja Sirgh yang mungkin sedang menjelajahi istana barunya.

Pelayan wanita itu tersenyum sinis. "Raja itu tidak tahu. Ia sendiri sibuk dengan sifat curiganya."

Ruby kembali mengekor si pelayan wanita Kraalovna. Mereka menaiki anak-anak tangga yang berpotongan lebih rata dibanding jalan menanjak di terowongan gua tadi. Ruby hampir menabrak ketika tiba-tiba pelayan itu berhenti. Di dekat mereka terdapat sisi dinding dari kayu yang tingginya hanya setengah dari tinggi mereka berdua.

"Di sini tempatnya, Nona Ruby. Saya minta Anda berjanji untuk tidak mengeluarkan suara keras, bahkan jika berbicara pun harus dengan bisikan. Sebagian besar pelayan dan prajurit berambut merah itu ikut mengiringi perjalanan Raja Sirgh ke Zetaya, tapi masih ada yang tinggal untuk mengawasi Nona Sapphire. Pintu kamar Nona Sapphire tidak pernah tanpa penjagaan, mereka akan mengetahui jika terdengar keributan di dalam."

Ruby mengiakan dengan cepat. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adiknya.

"Saya bersungguh-sungguh dengan kata-kata tadi, Nona Ruby," lanjut si pelayan karena ia merasa tidak yakin Ruby akan mematuhinya. "Jika ketahuan, saya yakin kita akan dibunuh saat itu juga ... dan kesempatan Nona Sapphire untuk bebas akan hilang. Harapan Nona Sapphire hanya ada pada Anda."

Ruby tertegun akan kalimat terakhir pelayan wanita di hadapannya. "Baiklah, aku mengerti. Bungkam aku jika aku kehilangan kendali."

Pelayan wanita tersebut masih menatap Ruby ragu. Namun, ia tetap menarik dinding kayu di dekat mereka dengan susah payah setelah menggantung obor di dinding. Kayu itu ternyata begitu tebal dan tampaknya dibuat agar tidak mudah dibuka. Sebaris cahaya redup melesak masuk ke dalam lorong yang gelap. Si pelayan menunduk, masuk terlebih dahulu.

Pintu kayu pendek itu tembus ke sebuah ruangan muram yang hanya mendapat penerangan berupa seberkas cahaya matahari dari sebuah jendela kecil berjeruji. Mata Ruby yang telah terbiasa dalam kegelapan gua dan lorong bisa menangkap dengan baik isi ruangan yang minim pencahayaan tersebut. Dengan cepat matanya menangkap sesosok tubuh yang terduduk di sisi lain ruangan. Ia bergegas menghampiri sosok itu.

Napas Ruby tercekat begitu mengenali sosok mengerikan yang telanjang dan dirantai di hadapannya.

Sapphire, putri kedua Naz, adalah gadis tercantik yang pernah Ruby lihat. Gadis yang wanita mana pun akan menatapnya iri dan laki-laki mana pun akan jatuh hati padanya itu, kini tampak bagaikan budak yang kotor dan hina.

Tubuh Sapphire jauh lebih kurus dari yang pernah Ruby ingat dan penuh luka mencolok. Bibirnya pecah-pecah. Rambutnya awut-awutan. Mata gadis itu cekung dan redup. Ia seolah tidak sadar jika mendapat kunjungan ... atau mungkin dirinya telah belajar untuk tidak peduli.

Ruby jatuh terduduk, kakinya lemas dan badannya bergetar. Ia segera memeluk Sapphire dengan erat dan membiarkan air matanya jatuh membasahi tubuh adiknya itu. Ia menangis dalam diam dan menggigit bibirnya sekeras mungkin agar tidak meraung. Lama Ruby tenggelam dalam kesedihan sampai ia menyadari jika Sapphire tidak meresponsnya.

Sambil berlinang air mata, Ruby melepas pelukannya. Ia menatap Sapphire yang tidak balas menatapnya.

"Phi .... Ini aku Ruby," bisik Ruby sambil menyentuh wajah Sapphire dengan lembut seakan-akan takut jika sedikit sentuhan saja dapat melukai gadis itu.

Terjadi keheningan singkat sebelum akhirnya Sapphire mengangkat pandangan matanya, menatap lurus Ruby.

"K-Kak ... Ruby ...." Muncul setitik cahaya pada mata Sapphire. "Apakah aku bermimpi lagi? Tapi tanganmu begitu hangat," lanjutnya dengan suara yang nyaris hilang bagai orang yang terlantar di padang pasir tanpa minum berhari-hari.

Ruby menarik napas dalam. "Ini benar aku. Maafkan aku karena ini terjadi padamu." Perasaan sesak yang tidak bisa dicegah membuat Ruby kembali memeluk Sapphire dan membenamkan mulutnya di pundak adiknya itu agar ia tidak mengeluarkan isakan keras.

Sapphire hanya terdiam. Ekspresinya masih tetap kosong.

Tiba-tiba si pelayan wanita mendekati Ruby. "Sudah waktunya kita kembali, Nona Ruby. Sebentar lagi pergantian penjaga kamar Nona Sapphire. Mereka selalu melakukan 'kunjungan' tiap pergantian penjaga."

"Tidak! Aku tidak bisa membiarkan adikku di sini!" bisik Ruby dengan sedikit keras.

"Kita tidak bisa melepaskan Nona Sapphire sekarang. Raja Sirgh akan mencarinya ke seluruh penjuru. Raja Sirgh bisa saja mencurigai Raja Oukha yang tiba-tiba melakukan kunjungan ke Kraalovna. Akan terjadi perang untuk itu, Nona Ruby, dan kita belum siap menghadapinya. Kalaupun Anda kabur dengan Nona Sapphire, saudari-saudari Anda yang lain tidak akan aman."

Ruby terdiam sebentar, mengakui kata-kata si pelayan wanita meski hatinya meneriakkan hal yang bertentangan. Dengan gerakan sepelan mungkin, Ruby melepas pelukannya pada Sapphire.

"Aku berjanji akan datang kembali, Phi. Aku akan membebaskanmu dan akan kusiksa laki-laki biadab itu sampai ia memohon kematian padaku," bisik Ruby dengan geraman penuh kebencian yang membuat suaranya bergetar. Tatapan matanya memancarkan kemurkaan bagai seekor binatang buas yang siap menerkam mangsa.

Tidak disangka, setitik kegelapan pekat telah muncul dalam diri seorang putri Naz yang tumbuh dalam lingkungan yang damai dan bersahaja.

Sapphire menyunggingkan senyum. Senyum yang kaku dan menyedihkan. Sebaris kalimat meluncur tanpa ragu dari bibirnya. "Itu akan membutuhkan waktu. Kumohon, Kak. Bunuh saja aku. Aku tidak tahan lagi."

***

Ruby berjalan lebih dulu dari si pelayan. Langkahnya cepat seperti diburu waktu demi mengatasi perasaannya yang tercabik. Berulang kali ia terpeleset di tanah menurun dalam kegelapan terowongan gua. Ia tidak memedulikan bajunya yang kotor, penuh dengan noda tanah. Begitu sampai ke bagian gua yang diterangi obor, ia terduduk di dekat salah satu obor kemudian meraung keras sambil memeluk dirinya, menumpahkan segala emosi yang sedari tadi ia tahan. Air mata menetes deras di pipinya dan badannya bergetar hebat.

Pelayan Kraalovna yang telah menyusul Ruby, ikut duduk sambil mengatur napas. Ia membiarkan Ruby mengeluarkan air mata hingga gadis itu puas menangis dan memaklumi dengan membayangkan jika saudarinya yang bernasib seperti Sapphire, tentunya ia akan melakukan hal yang sama atau mungkin lebih buruk.

Beberapa saat kemudian, Ruby yang sudah mulai tenang membuat si pelayan kembali mengajaknya bicara. Namun, baru mengucap beberapa kata penghiburan, terdengar suara lain dari belakang.

"Apa yang gadis itu lakukan di sini?"

Keduanya menoleh ke asal suara.

Seorang gadis lain dengan warna rambut pirang putih khas bangsa Kraalovna berdiri di dekat mereka, muncul entah dari mana. Ia memakai baju dan celana serupa yang dipakai seorang pemburu dan terdapat bekas luka pada wajah sebelah kiri yang melintangi matanya, sebuah ukiran permanen di wajah yang cantik. Tangannya menggenggam telinga seekor kelinci yang berdarah.

"Putri Freyja!" seru si pelayan wanita. Ia bangkit menghampiri gadis yang baru saja datang. "Apa yang Tuan Putri lakukan? Dari mana asalnya kelinci ini? Tolong jangan berkeliaran di luar gua, sangat berbahaya. Jika Tuan Putri lapar, saya akan membawakan makanan."

"Aku bosan," balas gadis berambut perak itu dan saat melihat pelayan Kraalovna tampak ingin mengajukan keberatan, buru-buru ia menambahkan, "aku hanya berkeliling di sekitar gua. Tidak ada yang melihatku, tenang saja."

"Putri?" Suara Ruby memotong percakapan antara pelayan wanita dan gadis berbaju pemburu itu.

Pelayan wanita tadi sontak menoleh kembali pada Ruby. Ia menutup mulut, terlambat menyadari kecerobohannya yang mengungkapkan identitas wanita yang sedang ia lindungi dengan nyawanya.

"Aku pikir Raja Tarkh sudah menghabisi setiap keluarga kerajaan yang ada," lanjut Ruby saat tidak mendapatkan jawaban.

Belum sempat pelayan Kraalovna mengeluarkan sepatah kata, gadis berbaju pemburu melangkah mendekati Ruby.

"Rambut hitam? Ah ... apakah kau seorang putri Naz? Putri Naz yang mana? Apakah yang sudah membuat seorang raja menjadi gila?" Terdengar dengan jelas nada tidak suka pada kata-kata gadis yang dipanggil si pelayan dengan sebutan Putri Freyja.

Ruby berdiri dengan perlahan. "Ya, aku adalah salah satu putri Naz. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi ... Putri Freyja."

Putri Freyja mendengus. "Aku selamat dari pembantaian dengan berutang nyawa pada seorang pelayan yang menyamar menjadi diriku. Tapi kau ...." Suara Putri Freyja meninggi bersamaan dengan jarinya menunjuk Ruby. "Kau dan saudari-saudarimu berutang nyawa pada seluruh kerajaan yang jatuh dalam peperangan! Ayahku! Keluargaku! Mereka mati sia-sia untuk sebuah alasan gila! Ku harap tidurmu nyenyak mendengarnya!"

"Putri ...." Pelayan Kraalovna menatap Putri Freyja dengan pandangan protes.

Ruby terdiam sejenak. Mendadak darahnya mendidih. Baru saja kesedihan menerpanya dengan keras setelah melihat kondisi adiknya, kemudian ada seseorang yang menyalahkan dirinya dan saudari-saudarinya. Ia amat sangat marah dan menjawab dengan setengah berteriak, "Apakah itu menjadi dosa kami atas kegelapan hati para laki-laki itu?! Sebagai sesama wanita, kau seharusnya mengerti! Apa menurutmu kami bahagia dinikahkan paksa pada laki-laki yang juga membunuh ayah kami?"

Putri Freyja mendecak. Namun, ia menurunkan telunjuknya dan membuang muka.

"Nona Ruby ...."

Ruby menoleh dan ia mendapati pelayan wanita tadi bersujud padanya. "Apa yang kau lakukan?"

Si pelayan mendongak kemudian duduk dengan kedua telapak tangan menyatu. "Saya mohon, tolong jangan memberi tahu perihal Putri Freyja pada siapa pun, termasuk pada Raja Oukha. Saya mohon .... Putri Freyja adalah satu-satunya harapan untuk merebut kembali Kraalovna."

"Seolah-olah ada harapan untuk itu," cibir Putri Freyja.

Ruby menoleh kembali pada Putri Freyja. "Apakah sifat yang menyebalkan itu hasil dari perang yang membunuh seluruh keluarga si putri?" batinnya.

Ruby pun menyetujui permohonan si pelayan setelah menimbang sesuatu dalam pikirannya. "Tidak masalah ... dengan syarat kalian membantuku juga. Kebetulan aku perlu bantuan dari orang-orang yang tidak mempunyai hubungan dengan Raja Oukha."

Kelegaan muncul pada wajah pelayan Kraalovna. "Kami akan membantu Anda, Nona Ruby. Tentu saja! Saya tidak sendiri, ada beberapa orang di luar sana yang berada di sisi yang sama."

"Kalau begitu aku akan menagih bantuan itu sekarang. Dimulai dengan ...." Ruby berkata cepat. "Kabar adik-adikku selain Sapphire. Beri tahu aku kenyataan sepahit apa pun tentang keadaan mereka. Sampaikan langsung padaku, tanpa melalui dan diketahui Raja Oukha."



***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top