11. Deklarasi Perang dan Pelarian
The Prince's Secret (Drowning in Darkness)
Story © zhaErza
.
.
.
Setelah memeriksa keadaan sang tuan, Shizuka memutuskan untuk membenahi barang-barangnya di ruangan pribadi yang disediakan untuknya. Ia hanya mempersiapkan diri karena bagaimanapun kecurigaan Ryunosuke akan sangat mengerikan jika benar-benar terjadi. Saat sedang mengambil gulungan yang dibawa dari perpustakaan tentang klannya, suara ketukan pintu terdengar. Shizuka lantas berdiri dan membuka pintu geser itu, ia melihat dua orang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Kagami Renji dan Igaki Shishio yang akan menjaganya selama peperangan berlangsung. Kedua kapten itu ia persilakan masuk.
Igaki Shishio menjelaskan seperti apa yang dikatakan Ryunosuke kepadanya tadi pagi, bahwa desa sedang dalam keadaan sangat siaga, walaupun sekarang pasuken Ame sedang menuju tempat pertempuran, tak lantas pasukan Yuki hanya berdiam diri saja. Jika yang dipikirkan Ryunosuke benar adanya, maka desa akan mengalami konflik yang nyata. Penyerangan hingga ke distrik desa akan menjatuhkan kekuasaan klan Hakudoshi.
"Tetapi, apakah tak sebaiknya mengamankan Tuan Muda Aoda terlebih dahulu?"
"Karena ini masih dugaan, tuan muda tak bisa meninggalkan istana. Karena pada dasarnya keselamatan rakyat lebih utama. Kalau Tuan Muda Aoda mengetahui hal ini, ia pasti akan berpikir demikian, tak akan mau meninggalkan istana. Rakyat juga sedang berbenah untuk dievakuasi ke jalur aman di bagian selatan. Lagi pula, yang paling bermasalah dari hal ini adalah bagaiman meyakinkan Tuan Muda Aoda untuk ikut dengan kita tanpa mengusik keingintahuannya dan kecuringaannya?"
"Kenapa tidak langsung dibawa saja, lagi pula tuan muda tak bisa melawannya."
"Onna, kau naif sekali. Tuan muda Aoda bagaimanapun adalah pewaris sah dari klan Hakudoshi, kita tidak bisa memperlakukannya sedemikian."
"Em, maafkan saya. Saya hanya sangat khawatir dengan keselamatan beliau."
"Hakudoshi dengan segala kejeniusannya, Tuan Muda Aoda adalah generasi yang paling mencolok tentang hal itu." Renji mengeluh, mereka akan kesusahan karena Aoda memang sangat mengerikan dalam hal menganalisis apapun.
"Ya, kita harus bernegosisasi dahulu dengan tuan muda. Lagi pula, petang nanti rombongan Ame akan sampai di tempat pertempuran, kemungkinan tanpa jeda mereka akan mulai berperang. Karena saya memiliki firasat yang tak mengenakkan tentang masalah kaum perampok yang mendeklarasikan perang terhadap klan Hakudoshi, kita akan memulai secepatnya." Igaki Shishio memberikan pendapatnya dan ia berdiri bersama dengan Renji.
Tak semudah membalikkan telapak tangan nyatanya. Shishio dan Renji kehabisan kata-kata karena tuan muda mereka bisa mematahkan segala asumsi yang berada di otak kedua kapten itu. Dan hari sudah nyaris petang. Shizuka yang melihat tak ada tanda-tanda dari dua orang pengawalnya, pun akhirnya berpikir untuk mengunjungi ruangan pribadi Aoda. Salah satu dari penjaga kemudian masuk dan menunduk hormat, mengatakan kepada Aoda kalau tabib panggilan meminta izin untuk masuk, tentu saja Aoda mengatakan 'ya'.
Shizuka membungkuk, melihat wajah Shishio dan Renji yang masam dan berada di luar tirai pembatas, membuatnya menghela napas. Ia sudah menduga kalau mereka tak akan berhasil.
"Apakah kalian masih ada keperluan? Jika tidak, biarkan Nona Shizuka berkonsentrasi." Aoda berbicara sedemikian, menyuruh kedua kapten itu untuk keluar dari kediamannya.
Shizuka memulai pekerjaannya, memeriksa kembali tubuh sang tuan muda. Dengan tidak adanya penopang, yang Shizuka lalukan hanya memancing energi kehidupan Aoda seperlunya.
.
.
.
Menjelang malam, angin dingin bertiup. Dua rombongan pasukan bertemu, di sana para perampok berdiri menantang, beberapa orang terlihat menggunakan kuda, yang sepertinya memiliki kuasa atas kelompok mereka. Ryunosuke berada di depan memimpin para tentara yang berbaris sejajar. Ia berteriak untuk memberikan semangat kepada prajurit perang, kuda hitam yang dinaikinnya berlari pelan ke sisi-sisi para tentara untuk melihat barisan dan membarakan api semangat.
Ryunosuke bisa melihatnya dari atas kuda, begitu pula dengan Jendral Sano Juugo dan Jendral Takebi Hiro, mereka kemungkinan berpikiran sama dengannya. Jumlah para perampok itu memang mencapai ratusan, tetapi jumlah pasukan Ryunosuke lebih banyak, dan apa mereka pikir mereka bisa menang dengan jumlah pasukan yang bahkan tak sama dengan tentara Kerajaan Langit?
Bendera berlambang awan biru dikelilingi cahaya putih dikibarkan melambai-lambai tertiup angin, terompet ditiup dan sorak-sorak para petarung terdengar nyaring. Di tanah kosong berumput ini mereka akan menciptakan amis yang merah dan pekat jika mengering nanti. Ryunosuke mengeluarkan pedangnya, rombongan pemanah berada di baris belakang, bersiap dengan busur dan anak panahnya. Sedangkan para perampok kini mulai berteriak dan menggerakkan kaki, menyerbu meraka.
"Tembak!" teriakan kuat itu disambut dengan lontaran anak panah yang mengenai para komplotan perampok, kuda yang tengah berlari kencang kini terjatuh dan terguling karena kakinya tertancap mata panah. Ryunosuke menghentak kudanya, dan mereka menyerbu orang-orang yang kesetanan.
Hantaman besi berdenging saat saling bersinguhan. Tusuk, penggal, sayat. Dari atas kuda ia bisa lebih leluasa. Pedang-pedang berhiaskan darah, rumput dan tanah pun serupa dan kini menjadi merah. Orang-orang bergelempangan dari dua kubu, Ryunosuke menatap sang pemimpin dan menusuk lawannya dengan cekatan.
Kikikan kuda Ryunosuke terdengar, selanjutnya ia merasa oleng dan tubuhnya menghantam tanah. Kuda hitam itu tertusuk pedang, leheranya langsung digorok mengakibatkan hewan kesayangan Ryunosuke meregang nyawa. Ryunosuke bangkit, kilat kemarahannya tercipta jelas di mata, ia berteriak dan menghantamkan pedang dengan sekuat tenaga. Bola matanya berubah menjadi perak dan lawan yang berhadapan dengannya tak bisa bergerak saat menatap kilauan mata indah, namun mengerikan. Ryunosuke memenggal kepalanya.
Menendang, menghantamkan pedang dan tinjunya. Mengantukkan kepalanya yang berhias topi zirah kepada lawan. Berbalik arah, menusuk seseorang yang mencoba menyarangnya dari belakang.
Napasnya terengah-engah, hujan mulai menguyur mereka, darah yang terciprat di wajah dan tubuh pun hilang tertimpa air dari langit.
Kediaman istana menghening, Shishio dan Renji berada di kamar Shizuka. Membicarakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Shizuka di dalam hati mengkhawatirkan keadaan Ryunosuke, walau lelaki itu mengatakan akan baik-baik saja, tetapi segala kemungkinan bisa saja terjadi.
Ia menghela napas dan menatap lelaki berambut hitam dan berponi lurus tepat di atas alis yang sedang mendebatkan sesuatu dengan Shisio, itu adalah cara yang akan mereka gunakan untuk meyakinkan tuan muda mereka.
Masih ribut dengan perdebatan yang alot, tiba-tiba saja terdengar suara peluit yang awalnya samar, namun semakin lama semakin jelas.
"Astaga!" Shishio dan Renji langsung berdiri.
"A-ada apa?" Shizuka terlihat terkejut dan wajahnya menggambarkan kebingungan.
"Yang dipikirkan Tuan Muda Ryunosuke benar. Nona Shizuka, kita harus menyelamatkan Tuan Muda Aoda, persiapkan bawanmu dan jangan terlalu banyak."
Shizuka langsung mengambil sebuah bungkusan dan langsung dikalungkannya di bahu, ia kemudian memakai lapisan kimononya dan sebuah sepatu yang sudah disediakan Ryunosuke. Mereka langsung menuju ruang pribadi Aoda dengan tergesa.
Kalau menurut pemikiran Shishio, kemungkinan para penyerang itu masih berada di perbatasan desa, atau mulai memasuki area desa. Syukurlah rakyat sudah dievakuasi, dengan begini keselamatan mereka tidak terabaikan.
"Tuan Muda Aoda, kami harus membawamu, Tuan Muda." Setibanya di dalam ruangan, Shizuka langsung berkata dengan intonasi nyaris berteriak.
Aoda membuka matanya, ia menatap ketiga orang yang menundukkan tubuh dan Shizuka terlihat canggung karena merasa tak pantas berkata demikian, sangat tidak sopan.
"Kenapa?"
"Untuk keselamatan Anda." Igaki Shishio berbicara.
"Aku aman di sini. Lagi pula, apa yang sedang terjadi? Kenapa mereka membunyikan peluit Amaterasu?"
Sebelum sang kapten berambut hitam dengan poni di atas alis dan Renji menjawab, peluit lagi-lagi berbunyi, suaranya agak berbeda dengan yang tadi, kedua kapten itu saling memandang.
"Ah, sekarang peluit Tsukuyomi. Itu artinya bahaya semakin mendekati istana." Aoda berbicara tanpa menatap meraka bertiga, kalau tuan muda ini mengatuhi perihal tanda dari peluit, bukankah itu sama saja? Shizuka berpikir demikian. Ia lalu berdiri.
"Sudahlah, kalau begitu kita tak ada waktu. Ini demi keselamatan, Tuan Muda. Kapten Renji, kau gendong Tuan Muda Aoda, dan ini adalah beberapa barang yang mungkin dibutuhkan tuan muda." Shizuka memberikan bungkusan kain itu kepada Shishio, lelaki itu lalu memakainya.
Renji langsung melakukan apa yang dikatakan Shizuka setelah menatap rekannya dan menganggukkan kepala secara bersamaan. Ia lalu meminta izin dan mendengar helaan napas Aoda, dengan perlahan ia membawa tubuh lemah sang tuan muda ke punggunya yang kokoh. Renji lantas berdiri dan menganggukkan kepala lagi, bertanda bahwa dirinya sudah siap dengan semua ini.
Berada beberapa langkah di depan, Shizuka memimpin perjalanan ini, mereka menuju perpustakaan istana yang letaknya berada di bagian barat. Aoda hanya diam dan memejamkan mata, namun saat ia tak mendengar lagi suara langkah dan tak merasakan pergerakan, ia membuka kelopaknya, mereka sudah berada di dalam perpustakaan.
"Di barisan ke 20 lantai tatami, di bagian barat ada sebuah pintu rahasia yang akan kita gunakan untuk meloloskan diri dan akan membawa kita ke hutan terlarang."
Shishio mulai menghitung petakan tatami itu, ia lalu menggesernya dan menemukan sebuah pintu terbuat dari kayu, ia menarik dan membukanya, terlihat tangga yang menurun ke bawah, sangat gelap dan udara pengap pun terasa hingga ke luar.
"Kita harus bergerak cepat."
Yang melangkah turun terlebih dahulu adalah Renji dan Aoda, kemudian Shizuka, sedangkan Shishio tengah mengikatkan seutas benang yang terlihat kuat dibagian ujung tatami, ia merapikannya dan sebelum menutup pintu dari dalam, ia menarik benang itu sehingga lantai tatami berada di tempat semula seperti mereka datang, jadi tak ada yang mencurigai kalau mereka baru saja masuk ke dalam pintu rahasia ini.
Berada di dalam, Renji sudah menyalakan obor. Benda itu berada di dinding lorong ini, begitu pula dengan Shishio, lelaki itu mengambil yang satunya lagi dan menyalakannya. Renji dan Aoda ada di bagian depan, Shizuka di tengah dan Shishio berada berjalan di belakang.
"Tuan Ryunosuke bilang kita hanya perlu mengikuti jalan ini saja, apakah kalian sudah pernah melewati ini?" Shizuka menatap Renji yang menggumam tidak, dan sekarang kepala Shizuka menoleh ke belakang.
"Saya juga tak pernah."
Sang tuan muda yang berada di gendongan Renji hanya diam saja, memejamkan mata dan mendengar pembicaraan yang cukup panik dari sisi Shizuka. Gadis itu terdengar tak tenang sekarang.
"Aku kira kalian mengetahui hal ini? Kenapa Tuan Muda Ryunosuke mengirimkan kalian untuk membimbingku? Kalian belum peranah melewati ini?"
"Kami bahkan tak tahu kalau ada yang seperti ini." Igaki Shishio sekarang tersenyum dan Shizuka melotot karena melihat lelaki itu yang tak khawatir sedikitpun.
Saat ingin mengomeli Shishio yang sekarang berjalan berdampingan dengan Shizuka, tiba-tiba saja Renji menyuruh mereka untuk diam dan berhenti dengan sebuah isyarat. Aoda membuka matanya.
"Ada yang mendekat," bisik Renji.
Shizuka terperangah.
"Tidak mungkin? Bagaimana bisa?"
.
.
.
Bersambung
.
.
.
Teman-teman yang menyukai fiksi ini, ditunggu votemmennya ya.
Sangan dihargai berupa kritik dan sarannya hehe.
Salam sayang,
zhaErza.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top