5. Dua

Ketika aku berputar sepuluh kali. Mereka sudah berputar seratus kali.

Ketika aku sudah berputar seratus kali. Mereka sudah berputar seribu kali.

Semakin jauh. Semakin tak terjangkau.

Saat aku berhenti dan menatap rupaku sendiri dari genangan air di jalanan, rasanya kerut-kerut putus asa itu terlihat jelas.

Terkadang aku ingin mendongengkan semua keluh kesah ini pada seseorang. Tapi tiba-tiba aku teringat, siapa yang mau mendengarku? Dongeng penuh keputusasaan sangat tidak menarik, kan?

Lalu aku menutup mataku. Menghindar dan mencoba berlari. Kemudian bersembunyi sebagai pengecut. Dan keputusasaan itu akan tiba-tiba terlupakan.

Tapi, yang seperti itu ... akan berulang, selalu, terus-menerus. Tak ada jalan keluar.

Ah. Sebenarnya aku hanya ingin menangis.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top