3. Sacrifice of Rose
Sacrifice of Rose
Ini adalah era di mana manusia memiliki hati sebusuk bangkai mereka sendiri. Mereka yang pernah kulihat tersenyum di hari pemakaman keluargaku adalah hama-hama utusan iblis.
Lihat bagaimana aku sekarang menjalani hariku. Di sebuah kotak penjara, dengan berbagai luka yang kutanggung setiap hari.
Kala pagi mejelang, tangan-tangan itu menyakitiku. Kala matahari bersinar terik di langit, tangan-tangan itu menorehkan luka di tubuhku. Hingga ketika bulan meremang sempurna di atas sana, tubuh ini tak pernah kering oleh luka.
Biadab. Betapa mereka adalah anak-anak iblis yang harusnya dibakar di neraka.
Hingga suatu malam, di mana mawar-mawar bermekaran. Mereka melakukannya. Sebuah ritual yang melibatkanku. Aku tak bisa mengelak, tak bisa menghindar.
Mereka mengucapkan mantra, sangat panjang. Entah untuk apa. Membuat tubuhku kesakitan, kejang-kejang. Aku sekarat.
Lalu mereka bernyanyi. Dan aku kesakitan kembali. Lebih sakit. Semakin sakit.
Mawar putih ini perlahan, sedikit demi sedikit, mewarnai dirinya menjadi merah.
Doa-doa dari ibuku terngiang. Membuatku teringat kepada para bangsawan itu. Yang telah meninggalkanku sendirian, hingga akhirnya aku seperti ini.
Tapi, bukankah aku pernah berjanji? Aku akan menanggung apapun meskipun lebih sakit daripada kesedihan?
Jadi, aku akan tertawa. Saat aku merasa sedih, aku akan tertawa. Lalu menyeret iblis-iblis itu menjadi bagian dari diriku. Memakan mereka seperti ketika mereka memakan kebahagiaanku.
Oh. Betapa sekarang aku merasa bahagia, hingga lelehan air mata ini tak bisa kubendung.
Darah yang kini mengotori seluruh wajahku adalah pertanda, bahwa mereka telah berhasil membuatku menjadi sosok baru yang tak mereka sangka.
Lihat bagaimana seorang Rousseau mampu berdiri dengan kakinya sendiri? Kalian yang memberikan kesakitan pada awal pertemuan, kini kuberikan kesakitan itu di akhir perjumpaan kita.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top