Bab 10 Awal Teror dan Penyusup!
Gretha pun terus mencari informasi soal Black Rose Organization. Namun, rasa penasaran membuatnya beralih mencari tahu soal White Shadow Organization. Mencatat beberapa informasi penting yang didapatkannya, tapi di bagian yang terpisah. Sesekali dia memijat pelipisnya saat rasa pusing menyerang seiring bayangan-bayangan aneh yang mengganggu.
Teng! Teng! Teng!
Dentang bel tanda istirahat mengejutkannya. Dia buru-buru menutup laman itu dan membereskan segala macam catatan dan memasukkannya kembali ke tas. Setelah itu, beralih kembali ke laptop dengan membuat YouTube. Mencari film horor secara asal, lalu memutarnya. Namun, sebentar saja dia tenggelam menikmati film bergenre horor bercampur thriller dan misteri itu.
"Serius amat, Gie!" tegur Tiffany yang kemudian duduk di samping Gretha. "Kamu sudah beli makanan?" tanyanya lebih lanjut.
"Tadi beli cuma es cokelat, donat, sama roti isi cokelat," jawab Gretha.
"Aku lapar. Mau sekalian kupesankan makanan?" tawar Tiffany.
"Boleh. Aku mau siomay aja. Pedas, ya." Gretha menjawab sambil tetap fokus ke layar laptop.
Dentingan notifikasi yang masuk ke ponsel mengalihkan perhatiannya. Namun, itu bukan ponselnya, melainkan milik Tiffany. Dia pun meraih benda itu dan membuat pesan yang masuk. Jantungnya berdegup kencang membaca isi pesan dari nomor tak dikenal. Itu adalah pesan kelima karena di atasnya ada empat pesan lain yang sudah dibaca oleh Tiffany.
[+6285x-xxxx-xxxx: Ambilkan buku harian Gretha dan aku akan memberimu banyak uang.]
"Chat dari siapa, Gie?" tanya Tiffany yang tiba-tiba muncul bersama dua remaja lain. Mereka masing-masing duduk di depan Gretha dan Tiffany.
"Nggak tahu. Nomor tak dikenal dan dia memintamu mencuri buku harianku," jawab Gretha jujur.
"Ah, dari nomor asing itu? Aku baru saja hendak memberitahumu," ucap Tiffany.
Gretha memakan siomay-nya dalam diam sambil mendengarkan cerita Tiffany. Dia mengepalkan kedua tangannya erat dengan emosi yang membuncah. Tidak masalah kalau dirinya yang jadi sasaran, asalkan bukan Tiffany, Louis, atau orang tuanya. Mereka sama sekali tidak punya hubungan dengan masalahnya.
Gretha menyapa sekilas kedua sahabat Tiffany, lalu menoleh ke arah saudarinya itu. "Pulang sekolah, aku mau jalan sama Jason."
"Nggak masalah, tapi kamu kasih tahu Mama sama Papa, ya? Biar mereka nggak khawatir gitu," sahut Tiffany.
"Iya, nanti pasti kutelepon atau ku-chat. By the way, kalau ada pesan aneh lagi, tolong kasih tahu aku, ya, Tiff? Aku nggak mau kamu celaka karena masalahku."
"Pasti, nggak usah khawatir soal itu," sahut Tiffany.
Keempat remaja itu pun mengobrol santai. Gretha mendengar banyak cerita keseharian Tiffany, Miranda, dan Laura di sekolah. Dari mereka, dia tahu kalau ada kelompok remaja perempuan yang suka mem-bully remaja lain. Mereka melakukan itu karena merasa punya kekuatan lebih di sekolah, di mana orang tua leader mereka adalah pemilik sekolah.
"Namanya ...."
"... Griselda," sambung Gretha.
"Bukan, namanya Grace." Tiffany memasang ekspresi kebingungan.
Gretha tidak menganggapi dan menatap sekelompok remaja yang tengah mengolok-olok seorang remaja perempuan. Mengamati wajah dan setiap ekspresi yang dikeluarkannya. Semua tampak begitu familiar untuknya, tapi dia sama sekali tidak ingat. Dia merasa pernah mengalami berada di posisi gadis yang menjadi korban bully itu.
"You don't belong here! So, you better give up and get out of here. (Tempatmu bukan di sini! Jadi, lebih baik kamu menyerah dan keluar.)"
"She belongs here! You don't own this school, so stop act like that! (Dia berhak ada di sini! Sekolah ini bukan milikmu, jadi berhentilah bertingkah seperti itu!)"
"Who said that? My father is the biggest donor in this school! (Siapa yang bilang? Ayahku adalah donatur terbesar di sekolah ini!)"
Gretha memejamkan kedua matanya. Memegang kepala dengan kedua tangan. Dia berusaha menahan rasa sakit itu dan memilah suara-suara yang masuk. Perjuangannya membuahkan hasil. Ada sebuah suara familiar yang terdengar semakin jelas saat dia fokus pada suara itu. Dia terus melakukannya sampai satu nama terucap dengan jelas.
"RONNIE!"
"Gie? Kamu nggak apa-apa? Apa yang sakit?" Suara khawatir Tiffany berhasil membuat kesadaran Gretha kembali.
"Aku nggak apa-apa, Tiff," jawab Gretha pelan.
"Serius? Wajah kamu pucat." Tiffany meraih tisu di atas meja, lalu mengusap keringat di dahi Gretha.
"Aku ... menurutmu, kalau aku berusaha mengulik masa laluku, apakah akan ada hal berbahaya yang terjadi?" Gretha memandang Tiffany dalam-dalam dengan kernyitan di dahi.
Ucapan Gretha seketika membuat gerakan Tiffany terhenti. "Aku nggak pernah berharap hal itu terjadi, sejujurnya. Namun, kalau menurutmu sendiri ingatan masa lalumu penting, maka aku akan menjawab kalau semua tergantung keputusanmu."
Gretha terdiam memikirkan ucapan Tiffany. Menatap ponselnya yang berdering menampilkan panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Namun, dia tidak memedulikan panggilan itu dan berusaha memikirkan matang-matang ucapan Tiffany. Dia pun melanjutkan acara makanannya kembali, begitu juga Tiffany dan mereka kembali mengobrol santai.
"Halo?" Setelah Tiffany masuk ke kelas, barulah Gretha mengangkat telepon dari nomor asing itu.
"Aku bisa membantumu mengingat kembali kejadian itu, Gie, tapi aku mau kamu memberikan barang yang kuminta."
"Dengar, aku tidak butuh bantuanmu! Aku akan berusaha sendiri mendapatkan ingatanku tanpa harus menyerahkan benda itu padamu!" Gretha langsung memutus sambungan telepon, lalu kembali berselancar di dunia maya mencari informasi.
Begitu bel pulang sekolah berbunyi, dia segera beres-beres dan pergi. Tak lupa mengirim pesan pada Tiffany kalau dia pergi lebih dulu. Namun, dia mampir ke toilet sejenak. Senyumnya merekah melihat Jason sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Beberapa gadis remaja yang sudah keluar sekolah, berbisik-bisik membicarakan pemuda itu.
"Maaf, buat kamu nunggu lama," ucapnya.
"It's okay (Tidak masalah). Aku juga baru sampai. Mau langsung berangkat?" Jason mengulurkan tangan menyingkirkan sehelai rambut Gretha yang jatuh menutupi wajah.
"Boleh." Gretha memasukkan tas laptopnya di kursi belakang, lalu masuk ke kursi penumpang sebelah supir.
Mereka pun segera berlalu dari situ. Sekilas tadi Gretha menangkap keberadaan sedan hitam yang tidak asing. Namun, dia tidak mau berpikiran negatif karena banyak sedang seperti itu. Dia pun mengobrol santai dengan Jason.
Gretha menceritakan kegiatannya hari ini, tapi tidak menyebut soal informasi yang didapatkannya. Bersama dengan Jason membuatnya seperti menjadi diri sendiri. Bersikap ceria, manja, dan tidak ragu untuk protes kalau pemuda itu menjahilinya. Namun, dia tidak bisa berbohong kalau ada sesuatu yang salah.
* * *
PRANG!
Suara barang pecah mengejutkan Gretha yang tidur pulas. Gadis itu bangun, lalu duduk diam mendengarkan. Setelah beberapa saat, dia buru-buru bangun dan keluar kamar. Dia melihat kedua saudara dan orang tuanya juga terbangun. Bella tampak menyalakan lampu ruang tengah.
"Suara apa tadi, Pa?" tanya Gretha pada Ardinan.
"Tidak tahu, Sayang. Papa juga kaget mendengar suara itu," jawab Ardinan.
BRAK!
Suara keras yang datang dari arah ruang kerja Ardinan mengejutkan mereka. Gretha meraih pedang hiasan yang terpajang di atas televisi, lalu berjalan ke ruangan itu diikuti orang tuanya. Dia membuka lebar pintu yang sudah terbuka sedikit itu. Meraba tembok sebelah kanan dan menyalakan lampu.
"Siapa kalian?" Ardinan bertanya dengan suara keras pada dua pria berpakaian serba hitam dan wajah tertutup masker.
"Kalau mau mencuri, lebih baik belajar supaya tidak membuat keributan," ucap Gretha.
Kedua pria itu berdiri dan memandang Gretha bengis. "Kami memang sengaja membuat suara," sahut salah satu dari mereka.
Pria kedua dengan gerakan cepat melemparkan akuarium kecil. Beruntung Gretha bisa menghindar, sehingga akuarium itu menabrak tembok dan pecah. Gadis itu memandang tajam kedua pria penyusup dan memegang erat pedang di tangannya. Dia menghindar tatkala pria kedua maju dan menyerangnya.
"Gie!" Bella berteriak khawatir.
Gretha tidak mengindahkan panggilan itu dan meladeni serangan kedua pria itu. Secara jumlah, memang tidak seimbang. Namun, potongan-potongan ingatan telah membantu Gretha menemukan kemampuan bertarungnya. Dia pun bisa melawan mereka dan menjatuhkn mereka. Sekali pria bertama berhasil menendang keras perutnya, sehingga dia menghantam meja, lalu jatuh.
Kedua pria itu berlari keluar mendorong Ardinan dan Bella. Terdengar jeritan Tiffany di ruang tengah dan suara keras Louis. Gretha meringis sejenak, lalu meraih pedang tadi dan mengejar mereka. Namun, sayang kedua pria tadi berhasil lari. Gretha mengepalkan kedua tangan erat dengan emosi bergemuruh.
"BELLA!"/"MAMA!" Jeritan Tiffany dan Ardinan mengusik perhatiannya.
Gretha menoleh dan tertegun melihat Bella jatuh terduduk sambil memegang perutnya. Darah tampak membasahi gaun tidur kuningnya. Dia menjatuhkan pedang di tangannya, lalu berlari mendekati orang tua dan kedua saudaranya.
"Mama? Mama kenapa?" tanya Tiffany.
"Salah satu pria tadi ... menusuk perut Mama dengan pisau, sebelum ... mendorong Mama jatuh," jelas Bella sambil menahan sakit.
"Mama jangan bicara lagi, ya?" Gretha merobek bagian bawah gaun tidurnya, lalu menekan bekas tusukan dengan kain itu.
"Louis, siapkan mobil!" titah Ardinan, lalu membopong tubuh istrinya.
Gretha mengikuti, tapi berhenti di samping mobil. Tangannya sudah hendak membuka pintu kursi penumpang sebelah supir, tapi lalu terdiam memikirkan sesuatu. Dia ingin ikut dan memastikan mamanya baik-baik saja. Namun, hatinya menyuruh dia tetap di rumah.
"Gie?" panggil Louis.
"Kalian pergi saja. Kabari aku kalau sampai di rumah sakit. Ada yang harus Gie lakukan," ucapnya setelah diam berpikir.
Gretha memandang kepergian mobil keluarganya. Setelah itu, berbalik dan masuk kembali ke rumah. Tujuannya adalah ruang kerja Ardinan. Dia berhenti dan memandang ruangan yang awalnya rapi itu kini sudah porak-poranda. Kertas bertebaran di mana-mana bercampur dengan pecahan kaca.
"Aku akan menemukan apa pun yang kalian cari di sini!" tekadnya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top