nas's notes: AKHIRNYA AKU BISA UPDATE JUGAAA! Terima kasih untuk semua pembaca dan teman-teman yang sudah sudah mampir untuk baca, vote, comment, dan menambahkan cerita ini ke reading list kalian!
kalau kalian ingin drop review atau bantu promosi via twitter/x juga bisa lewat thread ini (lihat foto). kalau kalian mau baca konten lainnya di twitter/x, bisa klik hashtag aurinkari, ya! karena banyak kontenku yang bentuknya one tweet singkat :")))
JANGAN LUPA untuk meninggalkan jejak yaa! Kalau kalian bacanya offline, jangan lupa nyalakan kuotanya untuk meninggalkan jejak (vote comment).
Terima kasih dan selamat membacaa <3
.
.
.
Jakarta, Indonesia
March 28, 2026
"Kamu cantik sekali, Non," puji Mba Yaya, seorang Asisten Rumah Tangga, pada Giandra yang sedari tadi sudah bersiap dengan riasan, tas kecil, dan kebaya modern yang sudah dipersiapkan sejak semalam. Giandra akan mengadiri acara pernikahan dari adiknya Mba Alya, istri dari sepupunya dan juga menantu RI 1 yang terkenal elegan (dan juga kasihan) itu. Untuk melengkapi penampilannya, Giandra mengambil sepatu hak rendah Prada dari lemari sepatunya dan mulai mencobanya.
"Aku, 'kan, kalau pergi ke kantor atau berakhir pekan pasti dandan?" balas Giandra sembari bercermin dan menatap sepatunya, "aku harus mencoba sepatu yang lain—Prada membuatku berpenampilan sebagai salah seorang pemegang sahamnya Admiral Blue."
"Memang, Nona, namun penampilanmu ini berbeda. Benar-benar cantik!" Mba Yaya tak dapat mengalihkan pandangannya dari Giandra yang mencoba sepatu lainnya. Kali ini ia mencoba sepatu hak rendah lainnya dari Roger Vivier. "Kamu selalu cantik jika memakai kebaya, baju kurung, atau gaun barat. Pantas saja Bu Frida mengatakan kalau beliau ingin melihatmu lebih banyak mengenakan pakaian-pakaian cantik."
"Mba, aku senang memakai pakaian cantik dan aku tahu tubuhku seperti apa. Makanya aku terlihat cantik." Giandra merespon dengan perasaan senang sembari mengenakan salah satu koleksi parfum yang memiliki aroma bunga segar seperti mudan dan melati. "Wangi, 'kan?"
"Mungkin tamu lainnya akan mengira kamu habis merangkai bunga sebelum pergi kondangan." Mba Yaya mengatakannya sembari mencium wangi parfum Giandra yang tampaknya bukan wangi parfum teh yang biasa disemprotkan oleh Giandra jika keluar rumah. "Aku suka wanginya. Kamu habis beli parfum?"
Giandra hanya menganggukan kepalanya. Ia tahu persis bentuk reaksi yang ditampilkan dari wanita yang sudah lama bekerja sembari menemaninya hidup. Mba Yaya sudah lama mengabdikan dirinya sebagai Asisten Rumah Tangga Keluarga Hadiwiryono sejak akhir tahun delapan puluhan. Sebelum dipercaya untuk mengurus Giandra, Mba Yaya membantu ART senior untuk mengurus kebutuhan dan mengabulkan keinginan dari dua putri termuda Keluarga Hadiwiryono—Kirana dan Anindya. Lalu mengurus Giandra (bahkan Mba Yaya dikirimkan ke Australia untuk membantu Hiram dan Kirana mengasuh new born) dan membantu mengasuh sepupu-sepupunya jika dibutuhkan.
Setelah kepergian Pak Hiram dan Bu Kirana, Mba Yaya lebih banyak mengurus Giandra dan rumah. Terkadang Mba Yaya juga dibantu oleh beberapa Asisten Rumah Tangga Bu Frida yang kerap mengunjungi Permata Hijau. Salah satunya adalah Mba Laras, ART yang jauh lebih senior yang kerap datang mengirim titipan untuk Giandra. Meskipun mereka tinggal berdua di rumah Permata Hijau, Giandra selalu senang tinggal bersama Mba Yaya dan ia selalu meminta Mba Yaya untuk jalan-jalan bersamanya—meskipun Mba Yaya lebih sering menolak ajakan Giandra dan memilih untuk nonton serial detektif Amerika di ruang TV dan minta dibawakan makanan enak.
Terkadang, Mba Yaya juga membantu Giandra untuk menerima tamu yang tidak diharapkannya. Ia tahu bahwa nonanya tidak suka dikunjungi oleh Ibu Negara (biasanya karena beliau selalu berperilaku tidak sopan) dan sepupu laki-laki tertuanya, Akbar Pradana (karena suka membahas uang dan warisan dari orang tua yang belum menemui ajalnya). Maka, Mba Yaya jauh lebih kreatif dalam membuat alasan yang disampaikan melalui ajudan Ibu Negara atau Akbar Pradana sendiri seperti Giandra yang pergi dinas hingga mendapat kunjungan dari Rania Airlangga-Hassan atau Ingrid Ehrlich (yang sangat tidak disukai oleh Ibu Negara).
"Apa nenek sihir itu juga datang?"
Perempuan muda itu hanya menggelengkan kepalanya sembari melihat penampilannya dari cermin. Semalam sebelumnya, ia sudah menghubungi sepupunya, Rayan, dan mengabari siapa saja dari keluarganya yang akan datang. "Hanya Pak Andhika dan anak-anaknya yang datang."
"Kamu pergi ke kondangan sama mereka?" lagi-lagi Mba Yaya bertanya. Pikirannya tak bisa membayangkan jika Giandra harus pergi dengan iringan paspampres.
"Tidak. Aku pergi bersama Kak Nicky!" ucap Giandra saat melihat layar ponselnya yang sudah penuh dengan notifikasi sejak tadi, "HAH, KAK NICKY SUDAH SAMPAI?!?!?"
WhatsApp
Nicholas Wiradikarta
Giandraaa
Anak kecil
Aku sudah sampai yaaaaa
Mba Yaya lagi pergi, yaa?
"Astaghfirullah, belnya tidak terdengar karena baterainya belum diganti." Mba Yaya menggelengkan kepalanya dan mulai melangkahkan kakinya menuju luar pintu kamar. "Sebentar, Non. Mba bukakan pintu dulu."
Berbeda dengan ART grandma yang akan kaget dan sempoyongan jika mendengar Giandra pergi dengan lelaki, justru Mba Yaya lebih bisa menerima karena nona yang ia layani itu sudah memasuki usia yang siap untuk menjalin hubungan. Apalagi saat Mba Yaya tahu bahwa Giandra sering bertemu dan pergi dengan pria baik-baik (menurutnya, dan pria baik-baik itu kerap menyogok Mba Yaya dengan jajanan pasar yang dibeli dekat kediamannya).
"Mas Nicholas, maaf saya baru buka pintu. Baterai bel-nya habis dan belum diganti." Mba Yaya mengatakannya saat membukakan pintu untuk seseorang yang sudah dinantikan oleh Giandra.
"Tidak apa-apa, Mba. Saya baru turun setelah Giandra membaca pesanku, kok." Nicholas merespon dan berjalan mengekori Asisten Rumah Tangga tersebut menuju ruang tengah.
"Sembari menunggu Non Giandra selesai, Mas boleh duduk di ruang tengah, ya. Mba buatkan teh dulu."
"Tidak usah, Mba Yaya. Saya jemput Giandra sekalian pergi ke acaranya Mba Alya." Nicholas mengatakannya sembari memberikan sebuah kotak yang berisi jajanan pasar yang menjadi kesukaannya Mba Yaya. "Saya sama Giandra pulang lebih larut. Tolong jangan kunci pintunya."
Mba Yaya tahu bahwa Nicholas memberikan satu kotak jajanan pasar yang berasal dari salah satu toko kue yang berasal Bandung dan membuka cabangnya di Jakarta. Tangannya terlihat menerima jajanan pasar yang tampaknya seperti makanan modifikasi. "Terima kasih banyak Mas Nicholas."
Lelaki itu duduk di sofa ruang tengah dan mengamati pemandangan kediaman rumah Giandra yang tidak pernah berubah. Selain adiknya, Sura, dan beberapa teman Giandra lainnya, Nicholas lebih sering ke kediaman ini untuk menemani Giandra menulis atau menjemputnya untuk pergi makan bersamanya. Bahkan Mba Yaya, ART yang sudah lama bekerja untuk Giandra, sudah familiar dengan kehadirannya.
Iris hijau kebiruannya tampak melihat boneka beruang yang ia berikan sebagai buah tangan untuk Giandra. Boneka beruang itu tampak diduduki di sofa lebar dan bersandar dengan bantal-bantal dengan warna yang senada dengan sofanya. Nicholas tahu persis bahwa Giandra menamai beberapa boneka dan koleksi Sylvanian Families seperti Yeri untuk boneka naga di ruang kerja, Carlos untuk Midnight Cat Dad yang ada di samping nakas ranjang, Jude untuk Chocolate Rabbit yang ada di meja rias, Oscar dan Wendy untuk boneka kelinci berwarna cokelat dan krem di sofa kamar, dan....
"Kakak, kamu sudah menyapa George, ya?"
Telinga Nicholas menangkap suara Giandra yang memanggilnya dari tangga. Giandra berjalan mendekatinya dan membuat lelaki itu tak dapat mengedipkan matanya atau mengalihkan pandangannya—menurutnya, Giandra sangatlah cantik dan selalu cantik jika mengenakan kebaya encim berwarna biru. Giandra pun tak bisa melepaskan pandangan dari Nicholas yang terlihat tampan dengan setelan jas berwarna hitam.
Mereka hanya tersenyum dan disambung dengan gelak tawa yang terdengar malu-malu. Bibir Giandra tampak ingin memuji betapa tampannya Nicholas sebagai plus-one-nya, namun pikiran dan hati Nicholas ingin memuji betapa cantiknya Giandra saat ini—bahkan ia juga ingin memuji betapa manis wewangian yang dipilih oleh Giandra untuk agenda mereka hari ini. Mereka berdua pun memilih untuk menahannya, meskipun sebenarnya mereka sudah sadar dari wajah mereka yang sudah memerah.
"George? Boneka beruangmu kamu beri nama George?" tanya Nicholas yang memecah keheningan antara mereka. Matanya melirik kembali ke boneka tersebut dan seketika ia dapat menebak nama public figure yang disematkan untuk boneka beruang ini.
"Ya, karena kamu pulang dari Inggris bersamanya." Giandra melanjutkan ucapannya. Ia tahu persis dari Snapgram yang publikasikan Nicholas secara terang-terangan pada beberapa hari yang lalu. "Bahkan kamu membuatnya nyaman karena kamu membawanya ke kabin."
Lelaki itu hanya menghela nafas begitu tahu Giandra mengingat postingannya dan melirik Giandra yang wajahnya tampak memerah. "Kamu akan mendiamiku seharian jika aku memberikan boneka beruangmu dalam keadaan terhimpit tak terbentuk setelah penerbangan London-Jakarta."
TBC
Published on July 16th, 2024
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top