🔒Chapter 10🔒
>> Rumah Sakit Bloodarld>>
Kelopak mata itu berkedip untuk beberapa kali. Iris yang semula berwarna indigo berubah kembali menjadi biru sempurna. Tangannya bergerak untuk menutupi matanya yang terkena cahaya terlalu terang tak lama pandangannya pulih dan dapat dia lihat kekasihnya ada di sebelahnya sedang tertidur
"Dimana ini?" batinnya bertanya-tanya, hidungnya segera menciun aroma darah dimana-mana membuatnya cukup yakin dia berada di daerah Bloodarld
Tangannya terulur mengelus surai abu-abu sang kekasih secara perlahan memberikan gestur nyaman untuk kekasihnya
"Emhh..Kachiku? Kau akhirnya bangun" Ruki terbangun karena usapan dari Furuya dia segera menggenggam tangan Furuya yang ada di atas kepalanya
Furuya mengangguk perlahan, diliriknya sekitar ruangan dengan pandangan heran. Ruki yang menyadari hal itu mengarahkan dagu Furuya agar menatapnya.
Kedua iris itu bertemu membuat keduanya terhanyut sesaat dalam keindahan masing-masing iris mata tersebut.
"Kissu..Kissu..Kissu..Kissu.."
Wajah mereka segera menjauh, mereka sontak menatap siapa yang berkata seperti itu. Terlihat Zero dibelakang mereka seraya menunjukkan cengirannya, dia melayang mendekat dan duduk di bahu Ruki sambil menatap Furuya
"Zero kemana saja kau?" tanya Ruki pada kucing itu. Pasalnya sejak pembahasan mereka tentang letak setiap Element, Zero menghilang begitu saja awalnya Ruki berpikir jika Zero kembali lagi dengan majikannya namun entah kenapa tiba-tiba dia berada disini sekarang
"Oh itu aku kan bersembunyi di tasmu Ruki!" dia terbang dan berputar di antara keduanya. Dengan raut sebal Zero kembali duduk di bahu Ruki mengabaikan tatapan tajam Furuya yang sepertinya tak suka jika miliknya berdekatan dengan yang lain
"Kachiku bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar di sekitar sini?" tanya Ruki lalu mengambil tangan Furuya mengajaknya turun dari kasur
Furuya mengangguk lalu perlahan-lahan dirinya pun turun dari kasur dan mulai berjalan. Ruki mengikutinya dari belakang bersama Zero yang masih setia di bahunya.
Keluar dari ruangan tersebut, mereka dapat melihat beberapa vampire berlalu lalang dari koridor lain ke koridor lain serta bau darah yang ada dimana-mana.
Keduanya pun sampai di halaman rumah sakit dan tak sengaja berpapasan dengan ras Witch
"Furuya-san! Ruki-san! Ohayou" sapa Adeline yang membawa sekeranjang roti, dibelakangnya ada Eija, Yoshino, Sky, Lye dan Kuurei mengikuti
"Ohayou mo, kalian dari mana?" balas Ruki ramah, dia menengok ke arah beberapa keranjang yang mereka bawa dan itu berbeda-beda
"Dari pasar kami membeli beberapa perbekalan untuk melanjutkan perjalanan kita nanti" jawab Eija lalu menunjukkan keranjangnya yang berisi buah-buahan segar
"Jaa, kalau begitu kami pergi dulu ya ada yang harus kami beli lagi" ujar Sky alu menarik Lye serta yang lainnya untuk pergi
Keduanya hanya mengangguk lalu kembali berjalan menuju pasar yang sepertinya tak jauh dari posisi mereka saat ini. Perjalanan mereka hanya diisi oleh keheningan tak ada yang berniat membuat obrolan sama sekali sampai mereka pun memasuki pasar
"Emhh Kachiku apa yang kau inginkan?" tanya Ruki mencoba menarik perhatian gadis biru kesayangannya tersebut. Furuya mendongak menatap hutan yang jauh disana yang tiba-tiba bergerak-gerak. Burung-burung pun berterbangan pergi dari hutan tersebut
"GGGGGOOOAAARRRRR"
"HYDRA!!!!"
"LARI! LARI! SEMUANYA LARI!!!"
Semua penduduk berlarian menuju tempat yang aman membuat Ruki serta Furuya agak kesusahan menerobos mereka. Keadaan disekitar mulai sepi membuat Ruki bisa melihat Furuya yang tak jauh dari tempatnya
"Kachiku!!!"
Furuya menoleh dengan cepat matanya melebar saat melihat sesosok Hydra berkepala sembilan muncul dari balik hutan tersebut
"GGGGOOAAARRR"
🌟🌟🌟
"Bibi apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kita tak boleh keluar?" tanya Rea heran. Dirinya tadi berniat pergi mengunjungi Furuya tapi tiba-tiba saja Yumi menyuruhnya tetap berada di istana
Yumi menghela nafas "Kalian jangan keluar dahulu, di luar ada Hydra yang mengamuk" jawabnya pelan tapi semua yang disana masih bisa mendengar
"Hydra?!"
"Iya oleh karena itu-"
"Tapi Ruki-san dan Furuya-nee ada di luar!!" seru Luna saat melihat ke bola kristal miliknya. Disana terlihat Furuya dan Ruki yang sedang berusaha bersembunyi dari kejaran Hydra tersebut
"Mereka seharusnya kabur" Yumi mulai gelisah, dia tak bisa membayangkan bagaimana marahnya orang tua mereka saat tahu hal ini
"Kita harus menyelamatkannya!" seru Rea lalu memunculkan sapu terbang miliknya dia telah bersiap membunuh Hydra tersebut.
"Aku ikut!" seru para ras vampire tapi dengan cepat Yumi melarang mereka "Jangan! Hydra terlalu berbahaya untuk vampire! Biarkan ras penyihir saja yang memusnahkan Hydra itu"
"Kenapa hanya ras penyihir?" tanya Ina cemberut, dia juga ingin ikut membantu tapi malah dilarang
"Berbahaya! Yang hanya bisa menjinakkan Hydra adalah Penyihir!"
Akhirnya mau tak mau ke empat ras yang lain hanya mengangguk pasrah dan menunggu sementara para penyihir sudah terbang menuju lokasi dimana Hydra itu berada
🌟🌟🌟
Ruki menatap was-was ke segala arah, kondisi desa yang sepi ini membuatnya agak gelisah karena bisa saja tiba-tiba Hydra itu muncul dari segala penjuru
"Hiks...hiks...hiks..Okaa-san.."
Furuya menolehkan kepalanya ke kanan, dia melihat seorang anak kecil yang menangis ditengah-tengah jalan sambil memegang sebuah boneka.
Ssrr...ssrrr..ssrrr...
Suara desisan dari Hydra itu membuat Furuya was-was. Dia dengan perlahan mulai keluar dari tempat persembunyiannya
Crek
"Sial"
Hydra tersebut keluar dan mulai menuju arah anak kecil tersebut membuat Furuya kalap sendiri. Dia dengan segera berlari mendekati anak kecil tersebut berharap dalam hati semoga dia yang lebih cepat
Hap!
Dipeluknya tubuh yang lebih kecil itu dengan cepat sebelum Hydra itu memangsanya
"Music Patron"
Tubuhnya dilingkupi cahaya biru dengan sekejap membuat Hydra yang ingin memakannya itu mulai mencakar-cakar pelindung yang di buat Furuya
Zzaapp
Zzaapp
"GGOOOOAARRR"
"Kachiku!!! Cepat pergi!!"
Furuya menoleh ke arah Ruki dan mengangguk, digendongnya anak kecil itu dan segera menghilangkan pelindungnya bersiap untuk berlari
Zzrrraasshhh
"GGGGOOOAARRRRR!!!"
Sebuah aliran listrik berwarna biru menahan pergerakan Hydra yang membuat makhluk itu terjatuh dan sialnya arah jatuhnya adalah ke Furuya. Furuya sontak kaget dan refleks melempar anak kecil tadi menjauh sementara salah satu kepala Hydra itu memakan dirinya
"Sial, aku akan masuk" Rea menukik tajam ke bawah menghiraukan seruan para saudaranya yang meneriaki dirinya
Hap
"REA!!!! KAU SUDAH GILA!!!"
Hanya itu yang dapat terdengar sesaat sebelum Rea masuk ke tenggorakan Hydra tersebut. Tubuhnya terus meluncur mengikuti kemana saluran tenggorokan Hydra itu sampai akhirnya dia sampai di salah satu organ yang sepertinya di jantung
Rea mencoba berdiri serta membersihkan tubuhnya dari cairan lengket yang menempel di badannya. Pandangannya pun tertuju pada Furuya yang hanya menatap datar ke sebuah sudut.
Rea mencoba menghampiri Furuya yang sepertinya sedang melamun disana. Ditepuknya pelan pundak vampire itu membuat gerakan statis terkejut oleh sang empunya
"Ah, Rea-san kau tertelan juga?" tanya Furuya dengan datar entah itu bersifat candaan atau pun sindiran. Asal tahu saja Furuya masih sedikit dendam dengan penyihir satu ini karena ya itu lah bisikRukibisik
"I-iya, emhh kau sedang apa?" tanya Rea agak gugup di belakang Furuya. Furuya diam untuk beberapa saat sebelum menjawab "Furuya tertelan menurutmu jika kita tertelan kita harus apa?"
Rea meneguk salivanya sendiri. Oke dia tahu itu tadi adalah sindiran yang tajam sepertinya dia salah jika bertanya dengan Furuya.
Bagi Rea sendiri Furuya itu seperti entah lah dia sangat kaku, dingin, cuek dan pendiam. Dia hanya akan bicara jika ada yang mengajak dirinya berbicara Ruki misalnya pemuda itu seperti punya berjuta cara untuk membuat Furuya terus berbicara atau seperti Akiru yang hanya melempar beberapa candaan tapi Furuya bisa sedikit berekspresi atau bahkan seperti Thunder dan Lye yang sama-sama selalu mengajak Furuya membaca buku dan berbagi informasi. Untuk Rea sendiri itu seperti keanehan sendiri. Dia sudah mencoba meneliti tentang sifat Furuya yang hanya akan berekspresi dengan orang-orang terdekatnya dan dia akan berbicara bila perlu
Apakah Furuya bersifat defensif? Entah lah sepertinya tidak. Furuya tak akan menekan emosinya sebaliknya dia akan menyalurkan emosinya dengan cara bermain biola atau pun tidur. Aneh? Iya! Rea harus akui itu untuk sebagian orang pasti akan menganggapnya kelainan. Tapi hal seperti itu juga terjadi untuk beberapa orang. Rea tak akan pernah bisa menebak pola pikir Furuya yang selalu bisa berubah-ubah walau terkadang ada orang yang dengan sombongnya menebak pola pikir Furuya tapi catat mereka semua angkat tangan! Tak ada yang bisa menebak pola pikir vampire sulung itu. Kadang dia akan tenang seperti air tapi sesaat dia akan membeku seperti es dan sekejap akan berubah lembut seperti alunan musik dan akan membara seperti larva yang siap menyembur
Entah lah Rea tak tahu kenapa dia yang harus dihadapkan dengan situasi seperti ini. Dia hanya ini mencoba mengenal Furuya lebih tapi sepertinya gadis biru itu telah membuat tembok besar untuknya agar dia tak bisa masuk teritorinya
"Kristal kedua Moon Je Equs "
Rea menoleh dan mendapati Furuya yang telah memperlihatkan sebuah kristal berwarna merah darah yang melayang di antara tangannya. Kristal itu melayang dan terbang mendekati Rea lalu dengan cepat melesat ke arah dada Rea
"Akkhhh...." Rea memekik tertahan saat kristal itu mencoba memasuki dirinya tak lama kemudian kristal itu keluar membuat Furuya memandangnya heran
Kristal itu berputar di antara keduanya dengan cepat kristal itu melesat ke atas dan menembus kulit Hydra tersebut membuat goncangan kuat. Furuya terjatuh namun dia berusaha bangkit, dia hanya menatap datar Rea yang nampaknya masih kesakitan setelah dimasuki kristal tersebut. Dan hanya satu jawaban atas hal itu
Kristal itu menolak tubuh Rea
🌟🌟🌟
Para penyihir yang sedari tadi terus memperhatikan Hydra yang sekarang terbaring di tanah itu kembali mengambil posisi siap saat melihat Hydra itu menggerang kesakitan dan mencoba berdiri, tak lama sebuah kristal muncul dari tubuhnya membuat semua pandangan tertuju ke kristal itu
"Kristal kedua"
Dengan cepat kristal itu kembali melesat kali ini ke arah Ruki dan mulai memasuki dadanya. Tubuh Ruki mulai diselimuti sebuah gelombang energi berwarna merah gelap dan tak lama Furuya serta Rea telah berteleportasi dari tubuh Hydra tersebut
"Thunder! Apa yang terjadi?" tanya Furuya khawatir saat melihat Ruki yang bersimpuh sambil memegangi dadanya
Thunder yang sepertinya masih shock hanya diam sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong membuat Furuya kalut sendiri. Dia pun menghampiri Scout yang melayang tak jauh dari dirinya
"Scout! Katakan apa yang terjadi?!" dia kembali bertanya kali ini Furuya jelas panik!
Scout meneguk salivanya susah lalu dengan pelan dia berkata
"Ru-Ruki...-san...
Hey!!! Kembali lagi!
Maaf nggak bisa update siang hari tapi ini masih hari Kamis kan? Dan ini juga sudah panjang ;)
Btw Dilla mungkin belum bisa update Alpha & Omega Story '-'
Alasannya?
Buanyak!
Mulai dari ceritanya ngilang sampai ada perlombaan dadakan disekolah. Udah deh! Hari sabtu itu harinya Dilla khilaf pengen ngumpat gegara nggak bisa update! Kan kalian yg ikut disana pasti ya pengen baca
Apa Dilla ganti aja ya jadwal updatenya.-.
Ya udah deh klo setuju komen aja
Klo enggak ya udah gitu /apaansihDil
So bye~
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top