🔒Chapter 06🔒
Furuya menatap pemuda seumuran dengannya dengan pandangan datar. Entah kenapa ada rasa kesal pada pemuda dihadapannya saat ini. Furuya segera membuang mukanya
"Kau memcelakai adikku kau tahu itu Putri Sakamaki?"ucapan pemuda didepannya ini membuatnya marah. Furuya berdecih kesal
"Oh? Memang apa untungnya Furuya mencelakai adikmu itu?" Furuya membalas ucapan pemuda itu tenang dia tersenyum sinis ke arahnya
Pemuda bernama Mako itu berdecih lalu pergi dari hadapan Furuya dan menghampiri sosok adiknya. Sementara yang lain mengevakuasi siswa lain Furuya memilih untuk menjauh dan bersikap acuh tak acuh oleh siswa yang terluka, dia hanya melewati mereka tanpa ada rasa kasihan sama sekali pandangannya tetap lurus ke depan dan datar
Ras lain yang bukan dari vampire pasti akan menjauh darinya saat menatapnya. Mereka tak ingin berurusan dengan putri ras vampire yang terkenal acuh dan kejam ke semua ras oleh sebab itu Furuya dijauhi ras lain kecuali orang terdekatnya
Tak semua vampire tahu pada seorang Sakamaki Furuya adalah Putri yang baik dan bertanggung jawab. Yang mereka lihat hanya dari luar saja tentang Furuya yang kejam dan cuek
Furuya menatap ke langit malam itu seraya memejamkan matanya, angin malam yang lembut membelai tubuhnya dia bisa merasakan kenyamanan dari sana. Perlahan kelopak matanya terbuka dan menampakkan padang bunga yang sangat luas dimatanya
Furuya berbalik mencoba memahami situasi yang dialaminya belum sempat otaknya mencerna semua yang ada disana. Dia bisa merasakan sepasang tangan hangat memeluknya dari belakang dia berbalik dan menatap tak percaya di depannya
"Furu..."
Mulutnya bergetar saat telinganya mendengar suara yang sudah tak ia dengar lagi beberapa hari ini. Dia menggapai tangan sosok itu dan tersenyum senang
"Kaa-san"
🍁🍁🍁
"Ppsst itu Putri Sakamaki kan?"
"Wahh iya iya! Itu dia!"
"Woah! Aku tak percaya dia kesini!"
"Hey! Jangan mendekat! Dia akan melukaimu"
"Katanya Putri baru saja membunuh gadis dari ras lain"
"Apa?! Padahal kan dia baru 675 tahun! Dasar bagaimana jadinya wilayah kita nanti?"
"Iya aku bahkan berharap bisa menjadi ras lain agar aku tak lagi disini"
Semua cemoohan itu terlontar dari mulut mereka membuat Furuya menundukkan kepalanya. Dia masih muda dan belum mengerti apa-apa tapi rakyatnya sudah tak menyukainya
Dia berbelok ke arah hutan terus menyusuri hutan tersebut. Mata birunya memperhatikan sekitar bagaimana suara-suara binatang disana terdengar begitu indah
"Vampire!!!"
Sebuah suara mengejutkannya, dia berbalik dan menatap kaget segerombolan manusia yang membawa belati perak sedang berlari ke arahnya
Dengan segera Furuya berusaha berlari menghindari para manusia itu, dia tak menyangka bahwa hutan itu adalah perbatasan dunia miliknya dan dunia manusia. Dia ketakutan setengah mati
karena belati-belati perak mengkilap itu di lemparkan ke arahnya
"Music Patron"
Sebuah benda biru transparan menyelimuti tubuhnya dan itu memudahkannya berlari. Dia segera memanjat dan melompat-lompat dari pohon ke pohon namun dengan sekejap pula kekuatannya hilang
"Itu dia!!"
DDDOORRRR
.
.
.
.
.
"Engghh.."
Dirinya terbangun dia sebuah ruangan gelap, pengap dan suram. Furuya melihat sekitar hanya ada perapian menyala di dekatnya dan sebuah besi panas yang dipanaskan di perapian tersebut
"Sudah bangun he~?" telinganya menegak dia segera melihat ke arah sumber suara. Disana ada 4 pria kekar dengan seringai kejam masing-masing dari mereka membawa senjata perak dan Furuya tahu itu bukan hal baik
"Jadi kau salah satu vampire itu ya?" ketua dari mereka maju dan menatap angkuh Furuya. Furuya balas menatapnya dengan tajan membuat pria itu terbahak keras tak berselang lama pria itu mengambil besi panas tadi dan menyeringai
"Masih saja memasang tampang angkuh seperti itu. Mungkin kau harus diberi sedikit pelajaran" pria itu mendekat dengan besi tadi ditangannya
Iris biru itu menbulat kaget saat besi mengkilap itu terbayang dimatanya. Disusul oleh ketiga yang lain yang sama-sama memegang benda dari perak
"AAAAAAAAAAAAA!!!!!!"
.
.
.
.
.
Perlahan kelopak matanya terbuka, dia mengerjapkannya beberapa kali serta memfokuskannya. Samar-samar dia bisa mendengar suara orang lain disekitarnya
"Benar dia Putri?"
"Sepertinya begitu Kou"
"Tapi kenapa dia bisa terluka begitu parah?"
"Aku tak tahu Yuuma"
"Dia...terbangun.."
Ke empat bocah laki-laki itu menoleh di tempat Furuya berbaring, mereka sontak menunduk hormat
"Tu-tuan putri, maafkan kelancangan kami" salah satu dari mereka berbicara dengan takut. Furuya hanya meliriknya sejenak pandangannya melunak
"Keluar"
Dengan suara serak Furuya menyuruh ke empatnya pergi. Tiga dari mereka pergi dan meninggalkan kamar tersebut hanya satu laki-laki yang masih disana dia terus memperhatikan Furuya yang memalingkan mukanya
"Tu-tuan putri"
"Furuya bilang kel-uar!" suara tersendat menahan tangis yang akan pecah dia mengepalkan tangannya kuat
Seolah tak mendengar perintah itu anak laki-laki itu mendekat ke ranjang Furuya "Jangan dengarkan mereka!"
Furuya menatap anak itu, iris biru cerahnya bertubrukan langsung dengan iria biru baja dia menatapnya sayu "Furuya tak mendengarkan mereka..."
"Anda bohong! Anda selalu mendengarkan celotehan mereka dan memendamnya sendiri tanpa mau berbagi dengan keluarga Anda! Saya tahu yang saya ucapkan saat ini lancang tapi Anda selalu merendahkan diri Anda sendiri! Berusaha bersikap tak menjadi vampire! Anda terlalu memikirkan nasib orang lain daripada nasib Anda sendiri! Jadi saya mohon Putri" dia menjeda kalimatnya sejenak dan tersenyum simpul
"Berubahlah" dia melanjutkan ucapannya membuat sulung Sakamaki itu heran, dia tak mengerti maksud anak laki-laki di depannya
"Berubahlah menjadi vampire sejati! Anda tak boleh lagi memikirkan orang lain yang tak menyukai Anda. Anda harus tegas dalam mengatur dan memerintah karena di hari mendatang bukan kah Anda yang akan memegang kekuasaan di kerajaan ini? Jadi berubah lah Putri Sakamaki Furuya!"
Furuya terbungkam, dia belum pernah mendengar orang lain berbicara seperti itu padanya. Dia tertegun oleh ucapan anak tadi belum pernah terbesit dalam otaknya dia harus berubah yang dia maukan hanya mengubah ras vampire menjadi lebih bersahabat dan upayanya sia-sia. Furuya tersenyum tipis
"Nama"
"Eh?"
"Namamu"
"Sa-saya Ruki Mukami Anda boleh memanggil saya Ruki"
Furuya mengangguk sekilas lalu melepas kalung dengan lambang not musik berwarna biru dia menyerahkannya ke Ruki
"Jaga ini, jika kita bertemu lagi Furuya ingin Ruki mengembalikannya dan mungkin kita akan bersama"
Ruki tersipu sejenak lalu berdehem dan menggenggam kalung itu erat "Ya, saya janji"
"Jangan terlalu formal terima kasih telah merawat Furuya dan sampai jumpa"
Furuya menghilang dari hadapan Ruki dengan sekejap. Ruki menatap kalung itu sejenak sebuah senyum lebar terbentuk di wajahnya
🍁🍁🍁
"Kachiku! Kachiku! Bangun! Kachiku!" Furuya membuka matanya saat merasa tubuhnya di goncang, dia menetralkan kembali penglihatannya dan melihat Ruki serta vampire muda yang lain mengelilingi dirinya
Mengambil posisi duduk Furuya mengucek matanya sejenak "Ada apa?"
"Tu-tuan Reiji..."
Matanya membulat kaget dan menatap semunya khawatir
"Ada apa dengan Kaa-san?!"
.
.
.
BBBRRRAKKK
"Kaa-san!!"
"Furuya-san!"
Flora dan Ify segera menjauh saat Furuya datang dan bersimpuh di kanan kasur Reiji.
Air matanya kembali menetes dia memperhatikan perubahan kulit Reiji yang mulai semakin pucat pasi serta suhu yang semakin menurun drastis.
"Fu-Furuya-san ji-jika jiwa Tuan Reiji tidak segera di kembalikan ma-maka-"
"Hentikan"
Semua terbungkam saat suara serak Furuya memotong perkataan Ify, dia memandang tajam ke arah Flora dan Ify dengan raut murka. Dia berdiri dan menghajar keduanya
"KALIAN PAYAH!! AKU SUDAH MENYURUH KALIAN MENSTABILKAN KONDISI KAA-SAN!! KALIAN TAK MENDENGARKANKU HAH?!! APA TELINGA KALIAN TULI SAMPAI TAK MENDENGAR UCAPANKU!!!"
Semua yang disana terkejut dengan tindakan anarkis Furuya. Apalagi Shu yang baru saja datang langsung terkejut melihat tindakan putrinya tersebut dia segera mendekat dan menghentikan Furuya
"Furu, Furu tenang tenanglah jangan terbawa emosi seperti ini kau harus tenang" ujar Shu berusaha membuat Furuya tenang. Furuya hanya diam di dekapan Shu seraya mengenggam kuat-kuat kemeja yang di pakai Shu
"Maafkan Furuya emosinya masih belum stabil sebaiknya kalian keluar dan obati luka Flora-san dan Ify-san" ujar Shu memerintah mereka semua mengangguk
Riana memapah Flora bersama dengan Luna yang memapah Ify dan keluar dari ruangan itu.
🍁🍁🍁
"Astaga! Kalian berdua kenapa?!" Thunder yang berada di ruang tengah terkejut saat melihat keadaan Flora dan Ify yang babak belur
Hal itu sontak membuat semua ras yang mendengar berkumpul dan bertanya kepada mereka
"Ruki-san mereka kenapa?"
Ruki menghela nafas sejenak lalu menjawab "Furuya menyerang mereka karena tak sanggup mendengar kondisi Tuan Reiji"
Mereka semua terperangah tak menyangka Furuya akan seanarkis itu. Yuko dan Angel segera mengobati mereka berdua dengan kekuatan mereka. Sementara yang lainnya diam seraya terus menatap Flora dan Ify
🍁🍁🍁
Akiru berjalan mondar-mandir di kamarnya sesekali dia juga menatap ke arah jendela yang menampakan desanya yang porak poranda. Dia mengigit kukunya gelisah dengan keadaan yang sekarang ini
Ddrrtt
Ddrrtt
Ponselnya berbunyi dia segera membukanya dan mendapat telfon dari Rea
"Halo Rea ada apa?"
"...."
"Aku mau tapi bagaimana dengan kerajaanku?"
"...."
"Eh? Beneran nggak papa?"
"...."
"Oke aku ikut! Eh sampaikan salamku ke Furuya-chan ya"
"...."
"Ha'i jaa~"
Dia menatap layar ponselnya sejenak seraya berpikir. Sebenarnya dia agak parno jika kerajaannya ia tinggalkan sendiru tapi
"Akiru-sama iblis telah meninggalkan kerajaan kita"ujar penasehatnya memasuki kamarnya
Akiru membalikan badannya menatap penasehatnya tak percaya "Begitu kah? Yokatta~ "
Penasehat itu mengangguk dan tersenyum senang "Rakyat telah menunggu Anda di aula kerajaan Akiru-sama"
"Ha'i! Aku akan kesana"
"Baik Akiru-sama, saya undur diri dahulu"
Sesaat setelah penasehatnya pergi Akiru segera memakai jubah kerajaannya dan mahkota miliknya. Dia menatap pantulan nya di cermin full body di kamarnya lalu tersenyum miris
"Semoga perjalanan ini bisa membuat Furuya-chan ingat padaku" gumamnya lirih sambil tersenyun samar
"Yosh! Semangat!"
.
.
.
.
.
.
Akiru berjalan dengan tegap ke pembatas ruangan lantai 2 di lantai satu terlihat rakyatnya yang menyoraki namanya. Akiru tersenyum
"Salam sejahtera rakyatku semua hari ini kita patut bersyukur karena Iblis telah pergi dari kerajaan kita karena kerusakan yang disebabkan mereka cukup parah maka marilah kita bersama-sama memperbaiki wilayah kita menjadi Kingdom of System yang baru!!"ujar Akiru dengan semangat menggebu membuat senua rakyatnya bertepuk tangan atas usulannya
"Dan aku ingin menyampaikan sestau yang cukup penting" semua kembali terdiam saat putri muda itu berucap
"Aku dan para putri dari kerajaan lainnya akan pergi ke Mystical World untuk beberapa hari maka aku menyerahkan semuanya ke penasehat kerajaan ini untuk sementara"
Terdengar beberapa penolakan dari rakyatnya dan ada yang menyuruhnya tetap tinggal dan tak pergi. Namun Akiru hanya tersenyum tipis
"Aku sebagai Putri kerajaan Kingdom of System percaya pada kalian semua tetap berhati-hati lah kalian. Aku undur diri"
Walaupun begitu para rakyat tetap diam dan menuruti kemauan Putri mereka serta mereka juga percaya bahwa penasehat kerajaan tak akan semena-mena pada mereka
To Be Continue
Yak! Setelah Dilla pikir-pikir ternyata cerita ini akan ada sangkut pautnya dengan salah satu cerita Dilla. Penasaran? Tunggu saja~
Biasakan menekan 🌟 setelah 📖
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top