Playing With The Devil 3
"Mas, di rumah ada Dika."
Ketika Eliz merasa kesal dan tidak tau harus mengadu pada siapa, pada akhirnya hanyalah Noel yang menjadi pelampiasan cewek itu. Dengan segera ia menghubungi sang kakak yang terpaut usia sebanyak tiga tahun darinya. Yang saat ini sudah berada di Makassar dengan keluarga kecil bahagianya.
"Wah! Kapan Dika datang ke rumah?"
Eliz manyun. Memilih untuk duduk di tempat tidur seraya memeluk bantal.
"Barusan. Paling baru aja setengah jam yang lewat."
"Baru sampe?"
"Iya. Baru sampe. Katanya sih baru balik juga dari liburan ke Jepang gitu," jawab Eliz. "Nggak tau deh. Abis balik liburan malah ke sini. Bukannya balik ke rumahnya dulu gitu."
Noel tertawa di seberang sana. "Ya nggak apa-apa kali. Itu kan tandanya dia kangen sama keluarga kita."
Memang itulah yang persis dikatakan oleh Dika tadi. Bahwa cowok itu rindu dengan Rahmi dan Subagja.
Kangen sama Mama dan Papa, tapi yang jadi tumbal malah aku. Ck. Dunia emang nggak pernah adil sama anak kandung rasa anak tiri kayak aku.
"Lagian ... dia kan juga udah lama nggak ketemu kamu, Liz. Udah mau setahun kayaknya."
Eliz mengembuskan napas panjang. Meralat perkataan Noel.
"Enam bulan, Mas. Baru enam bulan kami nggak ketemu secara harfiah. Walau sebenarnya aku udah ngerasa nggak pernah ketemu dia sepuluh tahun lamanya."
Noel kembali tertawa. Kali ini tawanya malah terdengar lebih meledak bila dibandingkan dengan tawanya yang pertama.
"Kamu itu beneran deh. Kenapa sih gitu amat dengan Dika? Ngindarin dia mulu. Tiap kita kumpul, kamu pasti ngindarin dia. Bawaannya sensi terus. Padahal dia kan anaknya asik sih."
Bola mata Eliz berputar dengan dramatis. Seperti mengejek pada dirinya sendiri.
Lihat? Nggak cuma Mama dan Papa yang pro segitunya dengan Dika. Bahkan Mas Noela pun segini sukanya dengan cowok itu. Heran deh! Itu Dika pake pelet atau gimana sih? Kok bisa satu keluarga pada suka sama dia?
Rasa-rasanya tidak aneh sih bila pada akhirnya Eliz sering berpikir. Bahwa mungkin saja dirinya dan Dika adalah bayi yang tertukar. Mungkin saja kan sebenarnya anak kandung Rahmi dan Subagja adalah Dika, bukan dirinya?
Walau sebenarnya itu adalah pemikiran yang tidak mendasar sekali. Kali jelas kelahiran Eliz dan Dika berjarak sembilan bulan lamanya. Dika lebih dulu melihat dunia ini ketimbang Eliz. Dan seharusnya itu cukup mampu untuk menyingkirkan kemungkinan skenario ala drama Endless Love terjadi di dunia nyata. Tapi, kalau mereka ditukar secara sengaja, nah itu baru lain cerita.
Cuma ya kayak kurang kerjaan aja. Masa ada orang tua mau main tukar-tukaran anak sih?
"Liz?"
Eliz mengerjapkan mata. Sepertinya untuk beberapa saat ia melamun. Nyaris lupa ada telepon yang masih tersambung di ponselnya.
"Ehm?"
"Mas bilangin kok malah diem? Kenapa?"
Eliz tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Alih-alih ia beringsut sejenak. Membiarkan punggungnya mencari-cari kepala tempat tidur. Bersandar di sana dan membuang napas panjang.
"Nggak kenapa-napa," jawab Eliz lesu. "Cuma nggak habis pikir aja."
"Nggak abis pikir kenapa?"
"Ya ... nggak abis pikir sih. Kenapa bisa keluarga aku segitu senengnya sama Dika? Padahal anaknya resek kayak gitu."
Tawa ketika Noel terdengar lagi di telinga Eliz. Membuat manyun di bibir cewek itu semakin menjadi-jadi. Untung, hanya ada dirinya di kamar. Setidaknya tidak ada mata lain yang akan melihat pemandangan menggelikan itu.
"Dika itu kan anaknya asik sih. Seru. Dan pastinya dia itu nggak neko-neko."
Wajah Eliz yang semula tampak tertekuk manyun sontak berubah. Menyiratkan ekspresi horor yang dilengkapi oleh sepasang mata melotot sempurna.
"Nggak neko-neko?" tanya Eliz tak percaya. "Nggak neko-neko gimana, Mas? Orang dia aja jahil banget jadi cowok. Emangnya Mas nggak lupa gimana dia yang selalu ngerjain aku dulu? Ck. Nyaris tiap hari dia ngusilin aku. Dan aku yakin, kalau sampe hari ini mereka nggak pindah ke Jogja sana, pasti. Pasti aku masih bakal tetap jadi bulan-bulanan dia tiap hari."
"Hahahahaha."
Eliz sayang pada Noel. Bagi Eliz Noel adalah kakak terbaik yang ia miliki. Tapi, kalau itu sudah menyangkut Dika, sepertinya predikat itu segera berubah.
"Itu bukan dia ngusilin kamu karena jahat atau gimana, Liz. Itu ya ... cuma cara Dika buat akrab sama kamu. Lagian kan itu cuma becanda doang sih."
Tuh kan? Eliz akan segera mengganti predikat Noel dari kakak terbaik menjadi kakak terburuk bila itu sudah menyangkut Dika.
"Becanda sih becanda. Tapi, buktinya dia doang yang ketawa. Aku mana pernah?"
"Ehm ... sebenarnya dulu kamu juga ketawa-ketawa sih pas dikerjain Dika. Tapi, kayaknya lama-lama kamu jadi sensian juga."
"Astaga, Mas! Mana ada orang yang nggak bakal sensi kalau dikerjain? Please, aku itu masih waras. Bukan kayak dia yang udah gila."
"Hahahahaha."
"Dan lagipula," lanjut Eliz dengan manyun yang kembali membuat berat bibir bawahnya. "Aku tuh nelepon Mas buat menenangkan perasaan aku. Eh ... yang ada malah sebaliknya. Mas juga malah muji-muji Dika aja dari tadi. Padahal kan adek kandung Mas itu aku. Bukan Dika."
"Hahahahaha. Astaga, Liz. Nggak usah cemburu kayak gitu kali."
Eliz mencibir seraya memukul-mukul bantal di pelukannya. Merasa bahwa hidupnya pasti akan berada di ritme yang sama setiap kali Dika muncul. Entah mengapa ia seperti dirinya yang lantas tidak diacuhkan.
"Kami itu sayang sama kamu. Nggak usah cemburu nggak logis gitu sih. Hahahahaha. Mas nggak tau walau kamu udah segede ini, tapi masih mikir kayak gituan."
Masalahnya tidak pernah ada korelasi antara umur dengan perasaan ingin disayangi. Setidaknya itu adalah paham yang dianut Eliz selama ini. Apalagi sebagai anak bungsu, tentu saja Eliz ingin selalu diperhatikan dan disayang. Terlebih bila ada Dika.
"Lagian ya kayaknya Dika datang kali ini bukan cuma sekadar buat main-main deh."
Perkataan Noel yang satu itu membuat mata Eliz mengerjap. Sepertinya tertarik dengan informasi tersebut.
"Aku pikir dia datang memang karena kangen Mama dan Papa."
"Itu emang. Tapi, itu salah satu alasannya."
"Salah dua alasannya?"
"Mas lupa-lupa ingat sih. Tapi, kayaknya dia itu lagi nunggu hasil panggilan kerja dia."
"Oh ...."
Eliz hanya mengeluarkan lirihan samar untuk hal tersebut. Walau tak menanyakannya lebih lanjut, tapi ia sepertinya bisa menebak. Mungkin Dika datang ke rumah karena hal tersebut. Ada panggilan kerja yang sudah menunggu. Ehm ... bisa jadi.
"Kamu nggak mau tau Dika rencananya mau kerja di mana?"
"Kayak yang aku peduli aja," celetuk Eliz. "Nggak ada urusan sama aku. Lagian ... aku cuma berharap dia nggak buat ulah selama tinggal di sini."
"Kamu itu, Liz. Bawaannya negative thinking terus sama Dika. Hahahahaha."
"Kalau dia nggak banyak ulah, aku nggak mungkin parnoan kayak gini tiap ada dia, Mas. Dan kayak yang Mas tau, Dika itu selalu aja punya cara buat mainin aku."
"Hahahahaha. Jadi ceritanya ... kamu nggak mau dimainin sama dia?"
Ekspresi wajah Eliz berubah seketika. Tampak tak percaya dengan pertanyaan yang dilayangkan oleh Noel padanya.
"Emangnya cewek mana yang mau dimainin, Mas? Pasti nggak ada! Wah! Apalagi kalau ceweknya itu aku."
Kali ini bukan tawa yang terdengar di seberang sana. Alih-alih tarikan panjang napas Noel. Lalu sang kakak berkata dengan nada yang terdengar berbeda di telinga Eliz.
"Syukurlah. Kalau begitu artinya kamu mau serius, Liz."
Serius? Ehm ... dahi Eliz sedikit mengerut mendapati satu kata itu.
*
"Liz ...."
"Liz ...."
"Eliz ...."
Tepukan pelan itu berulang kali mendarat di pipi mulus Eliz. Bersamaan dengan panggilan bernada rendah yang kembali terdengar di udara. Dua tindakan yang tentu saja membuat dampak bagi Eliz. Yang tampak berusaha beringsut di atas bantal. Menghindar.
"Liz ...."
Nyatanya Eliz tidak cukup menghindar. Karena di detik selanjutnya ia kembali merasakan tepukan yang serupa di pipinya. Pun berikut dengan samar suara yang lagi-lagi memanggil namanya.
"Aaah!"
Eliz melenguh. Dalam ketidaksadaran tidur yang masih membelenggu dirinya. Kembali berupaya untuk menghindar dari segala macam hal yang bisa membangunkannya kala itu. Ia masih ingin tidur. Tubuhnya masih membutuhkan istirahat. Dan ia belum ingin bangun sebelum waktunya benar-benar tiba.
Hanya saja berbeda dengan keinginan Eliz, ada seseorang yang amat ingin membangunkan cewek itu. Hingga kali ini ia merasa tidak memiliki pilihan lain. Berdecak sekilas, tangan itu lantas bergerak kembali. Memberikan satu tepukan yang sedikit lebih kuat dibandingkan dengan yang sudah-sudah.
"Liz!"
Tentu saja, itu bukan tepukan yang akan memberikan rasa sakit buat penerimanya. Bukan. Tapi, bukan berarti tidak memberikan rasa kaget!
"Argh! Apaan sih?! Aku mau tidur!"
Eliz membentak dengan suara tinggi. Tapi, ia masih bersikukuh untuk tidak bangun. Alih-alih ia justru kembali menjauh.
"Liz, please. Bangun dong. Aku laper nih!"
Pergerakan tubuh Eliz berhenti. Demi apa? Lantaran satu kata itu, dahi Eliz mengerut dalam keadaan mata yang masih terpejam.
Laper?
Sekarang sepertinya bukan hanya dahi Eliz yang mengerut. Alih-alih justru kebingungan mulai merasuki alam bawah sadarnya. Yang dengan cepat berhasil mengusir rasa kantuk yang berusaha tetap menjajah.
Karena bukan hanya satu kata itu yang membuat tubuh Eliz mendadak menegang. Melainkan dengan sesuatu yang kemudian melintas di benaknya.
Kalau mau dipikir-pikir, kok suara ini agak beda ya? Ini kayaknya bukan suara horor Mama deh. Ini kayak ... suara cowok. B-bentar. Ini pasti bukan Mas Noel. Kan Mas Noel lagi di Makassar dan kami tadi baru aja teleponan. Jadi ...?
Tidak bisa tidak. Hal itu dengan ampuh membuat Eliz tersentak hebat dari tidurnya. Tidak bermaksud berlebihan, tapi cewek itu nyaris bisa dikatakan benar-benar melompat. Hingga sontak membuat kepala cewek itu berkunang-kunang.
Umpatan meluncur dari mulut Eliz. Ia memejamkan mata. Sejenak. Butuh waktu demi mengumpulkan kesadarannya yang masih berserakan.
"Liz? Kamu nggak apa-apa?"
Eliz membuka matanya ketika mendapati suara itu bertanya padanya. Hanya untuk mendapati bagaimana ada sepasang tangan yang memegang dirinya. Seolah khawatir kalau Eliz akan mendadak jatuh lantaran belum sadar sepenuhnya.
"Dika?"
Horor, Eliz tak percaya dengan apa yang matanya lihat. Tapi, di hadapannya saat itu memang berdiri Dika. Dan menyadari itu, tentu saja Eliz langsung menyentak tangannya. Lepas dari pegangan Dika.
"Kamu ngapain ada di kamar aku heh?!"
Sepertinya kesadaran Eliz sudah terkumpul seutuhnya. Bahkan lebih dari itu, pun dengan tenaganya pula. Karena ketika pertanyaan itu terlontar dari bibirnya, Dika tampak mengernyit dengan telinga yang terasa berdenging.
"Ya ampun, Liz," ujar Dika sambil mengusap telinganya. "Bisa nggak pake teriak-teriak nggak sih?"
Mata Eliz yang semula redup dalam tampilan khas mata orang yang baru bangun tidur, seketika berubah. Dalam sorot tajam dan delikan besar. Kedua tangannya pun lantas naik. Berkacak di pinggang dalam gestur penuh antisipasi.
"Gimana aku nggak teriak-teriak kalau bangun aku tidur ada kamu di kamar aku?! Astaga! Kamu ngapain ke kamar aku?!"
Dika tampak meneguk ludah. Seiring dengan satu tangannya yang kemudian mengusap perutnya.
"Aku laper, Liz."
"Laper?" tanya Eliz tak percaya. "Terus kalau kamu laper, kamu datang ke kamar aku gitu? Kamu pikir ini dapur apa? Ya kalau laper kamu ke dapur. Bukan ke kamar aku. Aku nggak ada nyimpen makanan di sini!"
Tentu saja Dika tau itu. Mana ada orang yang akan menyimpan makanan di kamar? Kamar jadi penuh dengan semut adalah risiko paling masuk akal yang bisa saja terjadi. Tapi, bukan itu masalahnya.
"Aku udah ke dapur," jawab Dika dengan sorot tak berdaya. Ekspresinya terlihat begitu natural untuk menunjukkan bahwa dirinya memang lapar. "Tapi, nggak ada makanan. Aku cuma ketemu cake coklat dan---"
"Don't say, Dik!"
Eliz memotong perkataan Dika dengan jeritan histeris. Karena sepertinya ia bisa menebak kelanjutan informasi yang akan dikatakan oleh cowok itu.
"Walau aku udah makan itu, tetap aja. Aku masih lapar."
Pada akhirnya, Dika memilih untuk tetap menuntaskan perkataannya. Dan itu membuat Eliz seketika melotot.
"Kamu makan kue aku?"
"Nggak ada pilihan lain."
"Nggak ada pilihan lain gimana? Kan kamu bisa makan nasi. Lagian bentar lagi kan makan siang, Dik!"
Eliz mengerutkan dahi. Sepertinya ada satu kebingungan lain yang terlambat ia sadari kali ini.
"Makan siang?" tanya Dika dengan nada mencemooh. "Ini udah mau jam enam sore, Liz. Makan siang apa lagi?"
What?!
Eliz buru-buru melihat pada jam dinding. Hanya untuk melotot besar. Karena saat itu hari sudah menunjukkan jam setengah enam sore.
Ya Tuhan. Aku tidur berapa jam? Bahkan sampe melewatkan makan siang?
Mungkin itu karena sebelum pulang ke rumah orang tuanya Eliz berusaha menuntaskan pekerjaan kantornya. Lembur tanpa kenal lelah. Dan pada akhirnya ketika ia pun disuruh menyiapkan segala sesuatu untuk kedatangan Dika, tubuhnya menyerah. Ia pasti amat letih hingga tanpa sadar butuh istirahat yang panjang. Setidaknya ini adalah bukti nyata yang terpampang di depan matanya sendiri.
"Oke oke oke."
Eliz butuh beberapa detik untuk mencerna hal mengejutkan itu. Bahwa dirinya mungkin tertidur lebih dari tujuh jam lamanya. Ah! Rasanya Eliz syok. Tapi ....
"Kalau kamu laper, ngapain kamu ke sini? Kamu nggak bisa minta makan sama Mama? Kan kamu anak tiri rasa anak kandung di rumah ini."
Itu adalah poin paling penting. Kalau memang Dika lapar, untuk apa cowok itu sampai ke kamarnya? Membangunkannya? Bukannya ia hanya perlu merengek pada Rahmi? Dan dijamin, Rahmi akan segera memasakkan makanan apa pun untuk Dika.
Dika membuang napas panjang seraya memberikan tatapan tak berdaya pada Eliz. Hal yang tentu saja membuat perasaan tak enak dengan cepat hadir di diri cewek itu. Perlahan menyelimutinya dari atas hingga bawah.
"Soalnya Tante pergi."
Tubuh Eliz dingin. "Pergi?"
Dika mengangguk. "Iya," jawabnya. "Tante dan Om pergi ke Cirebon tadi siang."
"Hah?!"
*
"Mama kenapa nggak ngomong kalau mau pergi ke Cirebon?"
Eliz menggeram seraya meremas rambutnya. Kesal? Ehm ... itu tidak cukup untuk mewakili perasaan apa yang ia rasakan sekarang. Sudahlah ditinggal pergi begitu saja oleh orang tuanya, eh ... ada Dika pula yang bersama dengannya.
Tatapan mata Eliz tajam melihat pada pintu kamarnya. Yang sudah ia kunci atas bawah. Demi memastikan bahwa Dika tidak akan bisa masuk lagi. Karena Eliz yakin. Dika bukan makhluk ajaib yang bisa menembus benda padat. Dika bukan Kitty Pryde di serial X-Men.
"Mama bukannya nggak ngomong, Liz. Tapi, kamu yang nggak denger. Mama udah ngomong, cuma kamu itu tadi lagi tidur."
Jawaban itu sukses membuat Eliz melongo. Ia nyaris tak bisa bicara selanjutnya. Bahkan untuk bernapas pun rasanya ia tak sanggup lagi. Lantaran amat syok.
"M-Mama ngomong sama orang tidur dan berharap dia bakal denger apa yang Mama omongin?"
"Ehm ... sorry. Mama minta maaf. Tapi, Mama tadi udah berusaha buat bangunin kamu. Cuma ya itu. Kamu tidur kayak orang mati, Liz. Mau dibangunin kayak gimana juga kamu nggak bangun-bangun. Jadi akhirnya Mama dan Papa pergi deh. Takut macet di jalan."
Eliz tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rahmi. Karena astaga! Rahmi ini ibu kandungnya. Eliz tau pasti bagaimana sifat sang ibu.
"Aku nggak percaya kalau aku nggak bakal kebangun kalau Mama udah bangunin," ujar Eliz geleng-geleng kepala. "Itu kan keahlian Mama buat bangunin aku tidur."
Oh, Eliz tentu saja tidak akan lupa bagaimana cara Rahmi membangunkannya pagi tadi. Ketika sang ibu menyuruhnya untuk membantu membereskan kamar Dika. Rahmi dengan jelas menggunakan bulu kemoceng untuk menggelitik hidung Eliz. Untuk kemudian disusul tepukan komeceng di pantatnya dan ditutup oleh teriakan menggelegar.
"Mama juga biasanya bangunin aku pake kentongan hatsip sampe Pak RT dengar, Ma!"
Eliz makin tak mampu menahan rasa frustrasinya. Sekarang ia bahkan dengan terang-terangan menjerit histeris. Sama sekali tidak peduli kalau Pak RT mendengar suaranya.
"Mama biasanya bangunin aku sampe telinga aku budek! Dan yang tadi itu ... aku sama sekali nggak ngerasa kalau ada Mama yang bangunin aku. Sumpah! Aku nggak ngerasa dikit pun."
"Kan ada Dika, Sayang. Masa Mama bangunin kamu pake cara horor kayak gitu? Kan malu sama Dika."
Mulut Eliz seketika menganga. Tampak amat sangat syok dengan penjelasan sang ibu.
"A-a-apa, Ma? M-malu sama Dika? Wah!"
Eliz butuh menyalurkan emosinya. Jadi ia bangkit dari duduknya. Mondar-mandir. Mungkin dengan cara itu, letupan api di tubuhnya bisa sedikit tersalurkan.
"Mama lebih mikir soal malu ketimbang keselamatan anak Mama sendiri? Ya Tuhan, Ma. Yang bener aja deh. Mama ini beneran ibu kandung aku nggak sih? Ma, keselamatan anak gadis Mama ini lebih utama ketimbang malu."
"Eh? Keselamatan kamu? Emangnya kamu kenapa, Liz?"
"Mama masih nanya gitu sementara Mama dan Papa pergi? Ninggalin anak gadisnya seorang diri di rumah bareng cowok semacam Dika?"
Rahmi tertawa. Jelas itu adalah respon yang tidak diharapkan oleh Eliz. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Rahmi tertawa sementara ada Eliz yang panik dengan keselamatannya?
"Kamu ini ngomong apaan sih, Liz? Justru karena ada Dika di rumah makanya Mama dan Papa pergi nggak pake mikir lagi."
Eliz tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Sungguh. Ia bisa menebak ke mana alur pembicaraan ini akan bermuara.
"Kalau misalnya di rumah nggak ada Dika, dijamin. Mama dan Papa nggak bakal pergi. Tapi, ya karena ada Dika, kami kan jadinya tenang buat ninggalin kamu."
Tenang? Eliz memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya. Menyadari bahwa ketenangan yang dirasakan oleh kedua orang tuanya justru adalah malapetaka untuknya. Bagaimana bisa orang tuanya sepercaya itu pada Dika?
"Jadi ... kamu nggak usah mikir yang macem-macem ya. Mama yakin Dika pasti jagain kamu baik-baik. Kan selama ini juga gitu. Dia selalu jagain kamu. Kamu nggak perlu khawatir ya?"
"Jagain aku?"
Terdengar helaan napas panjang Rahmi di seberang sana. "Lagipula ... kamu bisa anggap ini kesempatan buat kalian lebih dekat lagi. Kalian udah sama-sama gede dan belakangan ini kalian jarang ketemu."
Apa Rahmi tidak bisa menangkap situasi? Bahwa yang diharapkan oleh Eliz justru hal yang sebaliknya? Ia tidak ingin berdekatan dengan Dika. Alih-alih ia ingin menjauhinya.
"Intinya, Mama minta maaf. Mungkin Mama salah karena nggak beneran bangunin kamu tadi siang. Tapi, kayak yang kamu tau. Ini mendesak. Mama dan Papa harus buru-buru ke Cirebon buat melayat. Dan kebetulan anak Tante Irma lagi nggak ada di sini. Jadi Mama dan Papa harus bantuin semuanya."
Terlepas dari fakta bahwa dirinya terjebak berdua saja dengan Dika di rumah, Eliz harus mengakui bahwa alasan Rahmi dan Subagja memang benar. Itu adalah hal yang mendesak. Mau tak mau itu cukup membuat ia merasa serba salah pula.
"Kamu dan Dika baik-baik di rumah ya? Mama dan Papa bakal usahain balik secepatnya. Kalau bisa besok siang. Tapi, semua tergantung dengan keadaan di sini. Namanya juga orang lagi berduka, Liz."
Eliz mengembuskan napas panjang. Tak mau, tapi hal itu membuat ia mengangguk.
"Iya."
"Cuma semalam aja sih Mama dan Papa tinggal."
Memang, hanya semalam. Tapi, Eliz yakin. Semalam bila berdua saja dengan Dika bisa menjelma menjadi ribuan tahun tanpa akhir yang jelas.
"Jadi ... selama Mama dan Papa nggak ada, Mama harap kamu temenin Dika. Dan pastikan Dika nggak telat makan."
Ekspresi redup yang sempat menguasai wajah Eliz, hilang seketika. Berganti dengan mimik syok.
"Hah?!"
"Ingat! Pokoknya Mama nggak mau dengar ada laporan buruk dari Dika. Kamu harus baik-baikin Dika."
Ya Tuhan. Jangankan mau berlaku baik pada Dika, bahkan setelah panggilan itu berakhir, Eliz justru merasa ingin melakukan tindakan-tindakan buruk pada cowok itu.
"Dikaaa!"
*
bersambung ....
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top