#7 (B)

Kumis dan janggut yang tak terawat menghiasi wajah lusuh itu. Perut buncitnya mengintip dari balik kaos yang agak kekecilan. Kedua lengan dihiasi tato di sana-sini.

"Sayang sekali memang," dia mendengus kasar, "Jujur saja, aku malah lebih senang kalau orang itu tidak ada lagi di dunia ini.

"Tolong maafkan pengakuanku ini, para penggemar Brandon Cherlone -- bisa kulihat dari pakaian kalian yang rapi dan terawat itu."

Mengikuti nalurinya, Chester cepat-cepat bertanya, "Bagaimana kau bisa sampai berpendapat begitu terhadap pebisnis itu?

"Apa mungkin dia telah melakukan sesuatu yang buruk padamu?"

Dia menyeringai, "Dia pernah memenangkan lotre berkat tipuan liciknya padaku," lalu bergerak ke sederet pajangan baju.

Chester dan Cheryl bergegas mengikuti langkah cepatnya.

"Bisa kau ceritakan pada kami lebih banyak?" pinta Cheryl dengan nada dan kesan yang sulit kau tolak - bukan semacam rayuan.

"Tentunya, kalau kau tidak keberatan, Mr...," sambung Chester mengulurkan tangan.

"Daxton Phelps," jawabnya sambil menyambut tangan Chester.

Lalu menawarkan tangannya pada Cheryl, "Panggil saja Daxton."

"Sekaligus kami juga mencari sesuatu yang kami butuhkan di tempat ini," kata Cheryl, menyambung ucapan Chester yang terakhir.

"Terima kasih, Daxton."

"Aku juga siap membantu kebutuhan kalian sebagai pembeli," Daxton memperlihatkan ketulusannya,

"Aku asisten manajer di toko ini. Apa yang kalian butuhkan?"

"Terima kasih untuk kebaikanmu ini," balas Chester riang,

"Kami ingin membelikan sesuatu untuk kakak-kakak tercinta. Aku terkesan dengan sebuah suvenir yang menarik dua orang kakak laki-lakiku, dan dia memerlukan sebuah gaun menawan untuk kakak perempuannya," sambil menoleh pada Cheryl, dan mengedip penuh arti.

"Ya, benar," Cheryl mengiyakan -- setuju pada pilihan Chester yang pintar.

Daxton memanggil seorang pramuniaga perempuan yang bernama Allison. Memercayakannya pada Cheryl.

Segera setelah kedua perempuan muda itu menuju bagian pakaian perempuan, Daxton mengantar Chester ke sebuah rangkaian lemari tempat penyimpanan suvenir. Banyak sekali benda-benda mini dan menarik terpajang di situ.

Sambil melihat-lihat, Chester meneruskan topik tentang ayahnya dengan hati-hati, "Sebenarnya aku tidak ingin mengungkit lagi saat Brandon membuatmu kesal, tapi..."

"Tidak apa," Daxton memukulkan satu kepalan tangannya pada telapak tangan yang lain, "aku juga sudah melupakannya.

"Kira-kira lima atau enam tahun lalu, sewaktu pebisnis brengsek itu berencana menghadiahkan sesuatu pada perempuan simpanannya, si Lynn Farrel. Tapi bukan hanya itu saja yang membuatku kesal."

"Oh ya?" Chester cukup terkesan dengan fakta mengejutkan itu. Ketika matanya tertuju pada sebuah patung emas berukuran kecil.

"Yang ini terlihat bagus, menarik, dan bernilai," katanya penuh minat.

Sebuah patung laki-laki bertubuh kekar memamerkan otot-ototnya sambil memanggul bola besar di punggung. Mulutnya dibuat tertawa, entah menunjukkan ekspresi puas atau sombong. Menarik perhatian Chester untuk memandanginya berlama-lama.

"Patung The Survivor tersohor yang hanya dimiliki segelintir orang. Karya monumental Remington dengan edisi terbatas.

"Aku mendapatkannya dari suami Lynn, namanya Landon Simmons.

"Kata Simmons, dia diberikan patung ini oleh Brandon sebagai hadiah karena telah banyak membantu The Cherlone Companies. Kejadiannya sebelum Brandon akhirnya bertemu perempuan yang jadi pacar Landon semenjak kuliah itu."

"Simmons menjualnya padamu?" tanya Chester penasaran.

"Tidak, dia memberikan begitu saja padaku sebagai tanda persahabatan," ujar Daxton merasa puas, lalu mencibir,

"Tidak seperti Brandon yang cuma memikirkan uang dan keuntungan saja di balik otaknya."

"Dengan menaruhnya di sini, apa berarti kau menjualnya ke umum?"

"Tentu saja," jawaban mantap Daxton membingungkan Chester, "hingga aku menemukan seseorang yang tepat untuk memilikinya. Dan orang itu tak perlu membayar harga aslinya."

"Aku tidak mengerti. Apa maksudmu?"

"Ada semacam kode rahasia terpahat asal-asalan pada bagian belakang bolanya. Dugaanku itu dibuat oleh Cherlone -- ketika menghadiahkannya, pastilah Brandon hendak menyampaikan suatu rahasia tersembunyi pada Simmons, atau orang lain di dalam Cherlones Companies."

Dengan berhati-hati sekali Daxton mengeluarkannya dari dalam lemari kaca. Menunjukkan kumpulan guratan yang membuat suatu bentuk yang tajam. Semacam segi enam dengan simbol bintang yang terbentuk dari perpaduan tanda tambah dan tanda silang.

"Kau yakin sekali kalau Brandon yang membuatnya," kata Chester dengan nada bertanya,

"Bagaimana jika Simmons berbohong padamu?"

"Simmons tidak seperti Lynn yang pembual besar. Perempuan itu bahkan tega membuang anak-anak kandungnya sendiri dan tak mau mengakui diri sebagai ibu mereka," terpikir oleh Daxton, sebelum menjawab,

"Simmons itu sahabat karibku sejak kecil. Kami sudah berjanji untuk saling jujur dan terbuka. Lagi pula sahabatku itu sosok yang asing dengan kode dan simbol - mainannya si raja kaya Cherlone. Aku kenal benar wataknya."

"Kau mau bilang bahwa pembeli patung ini harus dapat mengungkapkan kode simbol ini kepadamu sebelum memilikinya," Chester menerka.

"Pintar sekali, anak muda," puji Daxton lantang, sembari menepuk bahu Chester dengan riangnya.

"Kau mau mencoba?" tantangnya sambil menyodorkan patung itu.

"Jadi kau kenal Lynn Farrel?" tanya Chester dengan memasang gaya sedang berpikir keras -- mendekatkan kedua matanya pada kode yang belum pernah dilihatnya tersebut.

Sebenarnya otaknya sudah berhasil mendapatkan cara untuk menangani semua situasi di hadapannya.

"Well, hanya sebatas istri dari seorang sahabat...
menyodorkan putranya bagaikan sampah pada Travis Lombardo, bah!....
tapi ada satu hal yang berhasil kuketahui dari dia...
ibu yang malah mengenyahkan putrinya ke panti asuhan...
dia sengaja membuat permainan licik dengan menjebak Brandon dan Simmons ke dalam duel permusuhan dan pertikaian."

Mendengar itu, pikiran dan emosi Chester jadi setengah bergejolak.

Pada saat yang sama dirasakan juga oleh Cheryl yang tengah mengamati sebuah gaun indah menarik dalam genggaman tangannya. Ketika Allison membisiki kata-kata gunjingan akan bosnya,

"Daxton itu menjadi ular berkepala dua, hanya sejak gara-gara menyukai Lynn Farrel -- istri Landon Simmons, sang sahabat karib. Perempuan itu juga berhasil dilirik si kaya Brandon Cherlone."

Sewaktu membayar belanjaan, baik Chester maupun Cheryl masih sama-sama terguncang. Dan mereka saling mengetahui apa yang telah terjadi dalam hati kembarannya selain dari batin sendiri.

Cheryl memperhatikan belanjaan Chester dan merasa penasaran.

Sesudah berada di luar toko, tangannya cepat-cepat mengambil The Survivor dan memperhatikan patung yang dalam genggamannya itu.

"Hati-hati," Chester memperingatkan, "Patung ini adalah hutangku pada Daxton, sekaligus bisa juga dipakai untuk membuka tabir misteri pembunuh ayah.

"Asisten manajer itu sangat mungkin kita masukkan ke dalam daftar tersangka."

"Apa motifnya?" tanya Cheryl kaget.

"Pertama, dendam pribadi karena penipuan lotre. Lalu, ada kesempatan emas untuk menguasai The Cherlone Companies," jawab Chester yang segera menunjukkan kode dari semua guratan itu.

"Tapi, tidak semua omongannya bisa dipercaya," Chester menambahkan,

"Entah kenapa, intuisiku bilang kalau Daxton Phelps itu seorang ular berkepala dua. Kau harus waspada terhadapnya."

******

Kejutan yang mencengangkan dan di luar dugaan?
Ayo lanjut terus ke chapter2 berikutnya.
(Astardi)

NB: beberapa kalimat italic di sini sekali lagi menjelaskan bakat Chester
sebagai mind reader.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top