-Empat-
Mengurus adik-adik di panti sambil mengurus kerjaan, sepertinya aku memang sedang bunuh diri secara perlahan.
Pikiranku pecah antara adik-adik di sana dan Bang Satrio yang meskipun ada di penjara, tetep aja bisa bikin ulah.
Arghhhhh!!
"Mas, ini ada telefon lagi."
"Siapa?"
"Calissta katanya." Aku mengenali nama itu sebagai keponakan dari Bang Satrio yang sedang kucari.
"Sambungin, saya angkat telefonnya." Aku langsung masuk ke ruangan, dan menerima telefon dari Calissta.
"Hallo?"
"Calissta?"
"Iya, kenapa? Ada perlu apa?"
"Ini Bran, asistennya Bang Satrio, well, kamu manggilnya mungkin Om Satrio."
"Ohhh, iya kenapa?"
"Saya ingin minta tolong."
"Minta tolong apa?"
"Bisa kita ketemu?"
"Boleh Bang."
"Panggil Mas aja."
"Oke, boleh Mas."
"Bisa minta nomor kamu? Biar lebih gampang?"
"Nomor Mas Bran yang ada di email bukan? Aku hubungi ya?"
"Nah iya, boleh."
Panggilan disudahi, aku dan Calissta melanjutkan obrolan via pesan text agar lebih nyaman, lalu kami juga janjian malam ini di sebuah kedai kopi.
Sepanjang sisa hari aku mengerjakan tugas-tugasku, lalu melakukan beberapa teleconfrence dengan manager-manager yang berada di luar pulau.
"Mas Bran, ada Pak Jimmy, katanya ditunggu sama Mas Bran?" Siska membuka pintu ruanganku.
"Yeah, iya suruh masuk aja."
Pak Jimmy, salah satu bodyguard senior yang sangat kupercaya.
"Kenapa mas Bran?"
"Ini, saya mau minta tolong Pak Jimmy dan beberapa bawahannya Pak Jimmy juga, buat jagain adik-adik saya di panti. Kemarin saya dapat laporan kalau yang SMP 2 orang laki-laki diajak tawuran sama seniornya. Terus adik saya Jelita, mau diajak ke luar pulau sama pacarnya. Minta tolong diurus, Pak. Dan ada satu orang juga yang ngawasi panti atau dua, karena Ibu saya laporan kalau mesin pompa di belakang dicuri."
Yang mereka tahu, aku adalah anak dari Ibu pemilik panti, hanya Bang Satrio yang tahu cerita sebenarnya, dan ia pun menyarankan agar aku gak perlu buka cerita asli ku.
"Siap Mas Bran."
"Makasi Pak Jimmy, nanti saya minta Bu Lana transfer buat bonus Pak Jimmy sama yang ikutan."
"Makasi banyak Mas Bran, saya pamit buat berangkat ya?"
"Baik Pak, silahkan."
Aku sengaja lembur di kantor sampai mendekati jam janjian dengan Calissta. Berencana agar ia tak lama menunggu, aku berangkat setengah jam lebih awal dari waktu janjian kami.
"Pak Giyanto mau nunggu di dalem apa di mobil aja?" Tanyaku.
"Mobil aja Mas, jam segini lagunya enak-enak di radio."
"Yaudah, saya pesenin camilan sama kopi ya?"
"Asik mantap, makasi ya Mas."
Setelah mengurus kebutuhan Pak Giyanto, aku duduk di pojokan, menunggu Calissta. Untunglah dia anaknya on-time, jadi aku tak lama duduk sendirian.
"Lama ya mas? Sorry!"
"Gak apa Cal, emang sengaja dateng cepet. Pesen gih?"
Calissta memesan minum dan camilannya sendiri, lalu duduk bergabung denganku.
"Saya baca resume kamu, Cal. Lagi pas buat magang ya?"
"Kenapa emang?"
"Boleh ngasih saran gak?"
"Saran apa Mas?"
"Saran tempat magang, sekalian bantuin Bang Satrio, well, Bang Satrio gak tau sih sebenernya, bantuin saya maksudnya."
"Gimana bisa bantunya?" Tanya Calissta santai sambil menghisap minumannya dari sedotan besi yang ia bawa sendiri.
"Kamu tahu kan Bang Satrio lagi di penjara, nah sebenernya Bang Satrio itu lagi menjalankan misi, dan sasaran utamanya itu Pak Iskandar, kamu tahu kan?"
Calissta langsung mengangguk, kujelaskan lebih detailnya bagaimana sebenarnya kondisi negara saat ini dan kuberi tahu juga ia kalau Bang Satrio itu gak jalan sendiri, tapi ada lusinan pengusaha yang menyokong aksinya, tinggal tunggu waktu sampai kepolisian negara ini memihak juga.
"Dan yang paling penting Cal!" Seruku.
"Apa?"
Ku keluarkan map berisi informasi tentang Dwika Kencana, cewek incarannya Bang Satrio itu ternyata malah gabung dengan tim Pak Iskandar, makin nyusahin aku.
"Ini profil cewek yang Bang Satrio suka, Bang Satrio minta mati-matian buat itu cewek dijaga, tapi saya sendiri gak bisa langsung jaga karena orangnya Pak Iskandar sudah kenal saya. Jadi kalau kamu bisa masuk circle Pak Iskandar, itu bagus banget, kamu dapet magang sesuai passion, kamu bisa ngasih saya info langsung, dan kamu bisa awasi cewek ini."
Calissta mengangguk mengerti, ia menarik map yang kuletakkan di meja, dan saat membukanya ia terkejut.
"Dwika?? Om Satrio suka sama Kika?"
"Kok kamu tahu?" Kini aku yang terkejut.
"Ini Kika temen aku, Mas. Temen dari kecil, kita misah dari masuk SMA doang."
Aku diam, aku gak menyadari kalau pengalaman pendidikan Calissta dan Dwika sama sedari taman kanak-kanak sampai tingkat menengah pertama.
"Okee, lebih bagus dong? Kamu gak usah pendekatan sama dia karena sudah kenal."
"Om Satrio gak salah Mas, suka sama anak seumuran aku?" Tanya Calissta.
Aku menahan senyum, lalu mengangkat bahu sebagai jawaban. Gak tau ah, gak mau judge pilihan orang, takut kena tulah.
"Yaudah oke, oke. Tapi Mas Bran tahu kan masuk magang di sekretariat kepresidenan itu gak gampang, aku mau minta dibikinin proposal sebagus mungkin biar bisa tembus."
"Okeee siap kalo itu."
Calissta tersenyum manis.
"Udah, yok aku anter pulang?" Ajakku.
"Ehh? Aku bawa mobil Mas, makasi tawarannya."
Aku mengangguk, lalu kami berdua beranjak dari kursi masing-masing. Kuantar Calissta sampai mobilnya, sekali lagi mengucapkan terima kasih karena sudah bersedia membantu.
Saat mobil Calissta menjauh, baru lah aku masuk ke mobil di mana Pak Giyanto sudah menunggu sampai ketiduran.
"Maaf ya, Pak."
"Gak apa-apa, Mas. Hehehe!"
"Langsung pulang aja Pak, biar bapak bisa istirahat, saya juga udah capek."
"Ya pasti lah mas Bran capek, ngerjain tugas sendiri aja banyak, eh pake gantiin Bang Satrio juga, double. Masnya digaji double juga gak?" Tanya Pak Giyanto jahil.
Aku hanya tersenyum, tak perlu lah kujelaskan kalau dalam surat kuasa yang ditandatangani Bang Satrio ada poin menyebutkan kalau 10% keuntungan seluruh perusahaan selama aku dikuasakan, mengalir ke rekening pribadiku, nanti yang lain sirik lagi kalau aku cerita.
Dah, yang penting masalah Pak Iskandar dan jagain si Dwikampret sudah teratasi dengan baik.
Hehehehe
****
TBC
Thanks for reading, don't forget to leave a comment and vote this chapter xoxoxo
****
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top