C h a p t e r 2


Happy Reading.
Maaf typo.


****


Veni merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Menghela napas lega setelah ia menyelesaikan pekerjaannya. "Waktunya pulang!" serunya senang.

"Bukannya tadi siang kau bilang akan mencari kosan dekat Resto, Ven?" tanya gadis cantik di sebelah Veni mengingatkan.

Gadis cantik itu bernama Regi, teman yang paling dekat dengan Veni. Hampir ke mana-mana mereka selalu berdua.

Veni menepuk jidatnya karena ia melupakan hal itu. "Ah, aku hampir saja lupa." Veni menatap Regi dengan pandangan memelas. "Maukah kau pergi menemaniku? Aku tidak terlalu tahu daerah disekitar sini. Bagaimana jika aku tersesat? Lalu ada orang jahat yang berniat buruk padaku? Kau tentu tidak tega bukan jika hal itu terjadi padaku?" ucapnya sambil meringis.

Regi memutar bola matanya jengah. "Kau hanya perlu memintanya dan tidak usah mendrama seperti itu. Aku akan menemanimu."

Veni tertawa. "Makanya senyum,"

Regi hanya mengangkat bahunya acuh, "Ohy, kenapa kau tidak menyuruh Dion untuk menemanimu?" tanya Regi sambil menutup lokernya.

Veni menghela napas. "Dia sibuk."

"Benarkah? Apa hubungan kalian baik-baik saja?" Entah kenapa Regi merasa wajah yang di tunjukan Veni terlihat seperti ada apanya.

Veni tersenyum. "Kami baik-baik saja. Kau tenang saja. Jika ada masalah, kau orang pertama yang kudatangi," jawab Veni sambil terkekeh.

"Aku serius, Ven."

"Aku juga serius. Kami baik-baik saja kok. Hanya saja Dion akhir-akhir ini terlihat sibuk. Mungkin banyak pasien yang harus dia tangani. Walaupun sedikit kehilangan, aku mencoba mengerti tentang pekerjaannya. Kau tahu kan menjadi dokter itu tidak mudah. Selain mendukungnya aku bisa apa lagi?" Veni tersenyum getir.

Regi menghela napas panjang saat melihat kesedihan hadir di wajah Veni. "Lakukan saja jika menurut mu itu masih dalam batas wajar."

Veni mendelik cemberut ke Regi. "Tapi aku tahu kau akan selalu mendukungku kan?" tanya Veni sambil memainkan kedua alisnya naik turun.

"Ck, hentikan. Kau terlihat memalukan. Asal kau tahu saja, aku tidak akan selamanya selalu mendukungmu. Bagaimanapun, aku ini sudah dewasa, tahu mana yang baik dan yang tidak. Apalagi jika menyangkut tentangmu yang sudah kuanggap sebagai kakak sendiri. Jika kau salah dan sudah berlebihan dalam suatu hal, aku pasti akan mengingatkanmu. Bagaimanapun juga aku tidak ingin melihatmu terluka dan sakit hati," ungkap Regi dan hal itu membuat hati Veni menghangat.

"Aku tahu." Veni menatap Regi dengan terharu. Veni menghampur memeluk lengan Regi.

Regi mengerutkan keningnya dan berusaha melepaskan tangan Veni. "Lepaskan!" ujar Regi datar.

Veni semakin mengeretkan tangannya, "Tidak mau! Aku tidak akan melepaskanmu setelah mengatakan hal yang luar biasa seperti itu, aku tidak ingin kehilanganmu."

"Jangan bodoh! Lepasan aku, Veni!" tekan Regi yang masih berusahan menarik lengannya.

"Tidak mau! Tidak mau!" sahut Veni cepat sambil tertawa.

"Kalian ini sedang main apa?" ucap karyawan lainnya yang baru saja memasuki ruang ganti.

"Veni lepasan! Kau membuatku malu."

Veni mengerucutkan bibirnya sambil melepaskan lengan Regi. "Jahatnya."

Regi hanya mengerikan bahunya acuh. "Mbak Sania kan orang sini. Ada info lokasi kosan dekat sini gak?"

Yang bernama Sania itu berfikir sejenak. "Banyak kok yang masih kosong. Coba kau datangin alamat ini dan sekitar alamat ini aja, ya, " jawabnya sambil mengambil sebuah kertas dan pena. Sania mencacat semua alamat yang ia ketahui dan menyerahkannya kepada Regi bukannya ke Veni.

Sania pikir, Regi lebih bisa diandalkan dari pada Veni yang notabennya lebih tua, mengingat sifat Veni yang sedikit manja tapi polos itu, rasa-rasanya Sania kurang percaya Veni akan menemukannya. Ah, ya, Veni juga suka sekali tersesat walaupun sudah diberi alamat dan yang paling parah gadis itu suka sekali terlambat.

Sania menoleh ke arah Veni yang sedang membereskan lokernya. Walaupun Veni terkenal buruk dengan keabsenannya tapi seluruh karyawan di sini tidak ada yang menjauhi Veni, malah yang ada mereka selalu ingin dekat dengan Veni karena gadis itu selalu terlihat tulus disetiap tindakannya. Sania menyukai sifat Veni yang tidak suka berbohong, apa adanya, dan selalu ceria bagaimanapun keadaannya. Dilihat dari manapun, Veni terlihat mengagumkan. Bukan hanya wajahnya saja yang cantik tapi Veni juga memiliki hati yang baik.

Saat Sania melihat ke Regi dan ingin menilai gadis itu, Regi seolah membaca apa yang dipikirkan Sania dan ia berkata, "Jangan mencoba menilaiku," ucapnya tegas dan hal itu membuat Sania tertawa lucu.

"Itulah yang aku suka darimu, Regi. Kau selalu tahu apa yang orang lain pikirkan. Dan tentunya tidak suka basa-basi."

"Huh? Kenapa?" tanya Veni heran saat mendengar Sania tertawa cukup kencang.

"Tidak ada apa-apa. Ayo, sebaiknya kita berangkat sekarang. Dan Mbak Sania terima kasih infonya. Ini mungkin akan sedikit berguna," ucap Regi sambil menarik tangan Veni.

"Terima kasih Mbak atas infonya," ucap Veni sambil tersenyum manis.

Sania mengangguk dan membalasnya dengan senyuman. Tapi tunggu, sebenarnya ada satu alamat yang akan membuat Regi marah. Tapi, ah, kapan lagi mengerjai seorang Regi yang terkenal dingin. Dan hal itu membuat Sania semakin tertawa terbahak-bahak saat membayangkan raut wajah Regi yang marah.

"Semoga saja aku tidak dipecat," gumamnya lirih.

****

Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Veni dan Regi belum juga menemukan kosan yang cocok. Sudah banyak sekali alamat yang mereka datangi. Tapi tidak ada satupun yang membuat Regi merasa harus diambil oleh Veni. Dan hal itu membuat Veni jengkel.

"Sebenarnya, siapa yang sedang mencari kosan. Aku atau kamu sih, Reg?" tanya Veni jengkel. Regi terlalu pemilih.

Regi hanya mengangkat bahunya tidak perduli.

Ketika Veni merasa cocok tapi tidak dengan Regi. Alasan Regi sangat bermacam-macam, misalnya;

"Disini terlalu terbuka."

"Tidak, jangan di sini. Kebanyakan pria yang menghuninya. Aku tidak ingin kau sampai kenapa-napa. Mengingat kau sedikit ceroboh."

"Tunggu, Veni. Apa kau tidak melihat bahwa kosannya panas dan ruangannya terlalu kecil. Aku tidak suka."

"Veni jangan ini. Mana mungkin kau memilih yang kamar mandinya di luar. Sulit dipercaya. Kita cari yang lain."

Dan ketika Veni menemukan yang berfasilitas lengkap. Regi mala mengatakan hal seperti ini.

"Lihat, di sini kebanyakan ibu-ibu tukang gosip begitu. Aku tidak yakin akan membiarkanmu tinggal di sini." Regi manatap malas kumpulan ibu-ibu yang sedang menatap mereka dengan pandangan menilai sambil berbisik-bisik.

"Arrrgh," teriak Veni sambil membuang botol minumannya ke tong sampah.

Regi yang melihat hal itu hanya mengangkat alisnya. "Apa kau sudah gila?"

Veni berdecak kesal. "Kau yang membuatku gila, dan aku lelah. Kau tahu?!"

"Sabar. Masih ada satu alamat lagi yang belum kita datangi. Ayo, jangan lemah seperti itu." Regi mencoba memberi semangat dan menarik tangan Veni agar berjalan dengan cepat.

Jujur saja, Veni sudah merasa pegal dan kakinya juga berasa ingin patah. Sudah empat jam mereka berputar-putar di tempat itu dan belum juga menemukan yang cocok. Entah kenapa, Veni pikir kali ini ia salah membawa orang.

Seulas senyum hadir di bibir Regi saat melihat lingkungan mewah tapi kali ini Veni yang tidak yakin.

"Aku tidak yakin akan bisa membayar kosan mewah seperti itu, Reg." Veni menatap Rumah mewah di depannya yang masih jauh. Veni memicingkan matanya. "Apa kita salah alamat?"

"Tidak ada salahnya kita bertanya terlebih dahulu." Regi kembali membaca alamat yang di berikan Mbak Sania. "Tidak, kita sudah benar."

Veni hanya bisa menghembuskan napas panjang dan ia menyerah. "Baiklah."

Mereka berdua berjalan mendekati rumah mewah itu. Pandangan Veni dialihkan ke sekitar. Veni baru sadar bahwa tidak ada satupun orang yang melintasin jalan ini. Perasaannya juga sedikit gelisah.

"Sialan kau, Mbak Sania!" tiba-tiba Regi mengumpat dengan kesal ketika ia baru saja menyadari di mana mereka berada.

Regi melihat beberapa orang penjaga yang bertubuh tinggi dan besar-besar di depan gerbang. Regi menarik napas panjang.

"Kenapa, Reg? Apa ada yang salah lagi?" tanya Veni heran. Kali ini apa lagi masalahnya?

"Tidak ada. Tunggu di sini," ucap Regi tegas, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang. Regi sedikit membuat jarak dengan Veni.

Mata Veni tak perna lepas dari rumah mewah di depannya dengan pandangan kagum. Veni melihat banyak mobil mewah yang memasuki gerbang yang di jaga oleh pria bertubuh tinggi. Apa mereka salah alamat? Pikirnya.

Veni melihat Regi mendekatinya. "Ayo kita pulang," ajak Regi.

"Apa kita salah alamat?" tanya Veni heran.

Regi mengambil napas dalam sebelum menjawab. "Kita salah alamat. Sebaiknya kita pergi dari sini."

Veni hanya ber"o" panjang. Sedikit lega, ia bertanya ingin tahu. "Sebenarnya itu rumah siapa?"

"Apakah aku harus menjawabnya?" Alis Regi terangkat.

Veni mengangguk ragu. "Aku hanya sekedar ingin tahu. Jika itu tempat yang berbahaya, setidaknya aku tahu dan tidak akan perna memasukinya. Aku hanya penasaran dengan rumah mewah seperti itu dan aku takut rasa penasaranku membahayakanku."

Regi menatap Veni sejenak. "Jadi rumah mewah itu adalah rumah bordil kelas atas, tempat pelacuran. Tempatnya orang-orang berbuat tidak baik. Kau harus menjauhi rumah itu, ingat?"

Veni mengangguk dengan wajah gugup. Ia tidak menyangkah rumah mewah itu tempat yang seperti itu. "Aku benar-benar tidak menyangka. Sebaiknya kita pergi. Aku mulai takut, bagaimana jika salah satu dari penjaga itu menculik kita?!" Veni bergidik ngeri.

Regi mengangguk. "Jika kau diculik, aku yakin tidak ada orang yang kehilanganmu, termasuk Dion."

"Apa kau juga tidak kehilanganku?"

Regi hanya mengangkat bahunya.

Veni mencebikan bibirnya."Kau benar-benar menyebalkan."

Mereka mulai melangkah meninggalkan lingkungan itu.

"Aku heran, kenapa tempat seperti itu dibiarkan saja?"

Regi mangkat bahunya. "Entahlah, aku pikir, kemungkinan besar rumah itu dilindungi oleh seseorang yang mempunyai kekuasaan yang cukup besar atau sangat besar, aku tidak tahu pasti tentang hal itu. Tapi rumah itu sudah ada sejak dulu."

Veni berpikir sejenak dan tersenyum konyol sambil menggeleng. "Kekuasaan memang sangat berperan penting di kehidupan ini."

Regi mencoba menilai lingkungan sekitar, tempat yang jauh dari pemukiman. Lokasi tempat yang sepi karena terhalang pepohonan tinggi dan rindang sedikit menguntungkan tempat itu. Dan yang membuatnya yakin jika pemiliknya orang yang berpengaruh adalah ketika ia tidak sengaja melihat seorang yang berpangkat keluar dari tempat itu dengan wajah bahagia. Ada kerja sama yang menyebalkan menurutnya.

"Kita pulang ke apartemen saudaraku. Sudah dua tahun lebih apartemen itu tidak ditempati. Kita akan menginap di sana untuk malam ini. Apa kau bawa baju ganti?" tanya Regi.

"Tentu. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku minta maaf karena selalu merepotkanmu, Reg."

Ketika Regi hendak menjawab, ia melihat sebuah mobil sedan hitam melewatinya. Matanya sedikit membelalak tak percaya. Bahkan, ia sedikit menajamkan penglihatannya untuk memastikan sosok di balik kemudi itu. Kebetulan laju mobil itu tidak terlalu kencang sehingga dengan mudah Regi mengenalinya. Rahangnya mengeras dan jemari tangannya terkepal dengan erat. "Kurang ajar!" desisnya dalam hati. Dan semakin kesal saat mengetahui mobil hitam itu baru saja keluar dari rumah bordil.

Ketika mobil itu sudah melewatinya, Regi mencoba menarik napas panjang dan memejamkan kedua matanya. Menghalau rasa kesal dan marah yang sempat timbul. Dan hal itu membuat Veni sedikit khawatir, ia jadi merasa bersalah. Veni pikir, ini semua ada hubungan dengannya.

"Regi, apa kau marah?" ucapnya dengan wajah sendu. "Maafkan aku ya?" ucapnya lagi.

Dengan perlahan-lahan, Regi membuka matanya, menatap wajah cantik temannya. Veni Suzan, sudah berapa lama Regi mengenalnya? Regi ingat, semenjak ia bekerja di Restoran dan itu sudah satu tahun yang lalu. Entah kenapa ketika melihat wajah polos dan lugu Veni, ia jadi merasa bersalah karena tidak mengatakan hal yang sebenarnya, untuk itu ia hanya bisa mengungkapkan kekesalannya yang lain. "Aku sudah bilang berkali-kali padamu, cari pacar yang baik! Sehingga kau tidak selalu merepotkanku!" serunya di depan Veni.

Veni mengeratkan jemari tangannya, ia merasa tercubit. "Maafkan aku," jawabnya lirih sambil menunduk.

Regi meminjat pangkal hidungnya yang sedikit sakit. "Kau tahu, Veni? Ini semua demi kebaikanmu." Regi menatap Veni dengan senyum tulusnya. Veni tidak mengerti apa yang Regi bicaran tapi ia hanya tersenyum sambil mengangguk. "Ayo kita pulang."

Veni mengangguk lagi. "Sekali lagi aku minta maaf."

"Ya. Aku juga minta maaf karena berteriak tadi." Regi tersenyum kecil.

"Hem.. " Veni berdemen. Veni tahu betul sifat Regi untuk itu ia lebih memilih diam dan mencoba tidak berpikiran negatif. Bagaimanapun ini memang salahnya, jika Dion tidak akan, ia akan selalu meminta bantuan Regi.

Regi menatap tajam ke arah mobil di depannya yang hampir hilang dari pandangannya dengan tatapan penuh amarah. Kali ini saja ia akan membiarkan sosok di balik kemudi itu lolos. Entah kenapa, ia semakin membulatkan niatnya. Seulas senyum hadir di bibirnya. "Dion. Kau akan menyesal telah melakukan ini kepada Veni."

Tbc.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top