Chapter 1
"Kenapa masih ada orang yang hidupnya begitu miris?"
- Keenan Melviano.
*****
Brumm brumm
Beberapa motor besar tersebut, saling berlomba untuk mengeluarkan asap sebanyak-banyaknya. Suara sorakan bahkan semakin terdengar jelas dan semakin keras.
Tiga motor yang akan menjadi pertarung dalam balapan liar tersebut saling melemparkan tatapan tajam kepada sang lawan masing-masing. Sampai seorang wanita cantik berpakaian seksi dengan pistol di tangannya maju dan mengangkat pistol di tangannya keatas. Suara sorakan semakin terdengar keras.
Duarrr
Para pelaju motor besar tersebut saling mengendarai dengan gila-gilaan, tak perduli jika mereka berkendara di jalanan liar walaupun sudah lewat tengah malam.
*****
"Astaga, Alif badan kamu panas banget dek... " Dengan air mata yang berderai melihat keadaan sang adik yang wajahnya pucat tersebut, membuat gadis cantik itu sedih dan tak tahan mengeluarkan air matanya.
"Kamu tunggu sebentar ya, kakak beli obat sama makanan," Tak perduli waktu telah menunjukkan lewat tengah malam. Gadis itu keluar dari rumah sederhana nya tersebut, pikirannya hanya demi sang adik laki-laki yang masih sepuluh tahun.
Di tengah gelap dan dinginnya malam, gadis berusia tujuh belas tahun itu tak memperdulikan hawa dingin yang menyergap kulit putihnya itu.
Kemudian seukir senyuman terbit dari bibirnya, saat melihat tukang nasi goreng masih jualan saat tengah malam seperti ini demi mencari nafkahnya.
"Pak, nasi goreng nya satu bungkus ya," ucapnya kepada tukang nasi goreng tersebut.
15 menit kemudian setelah nasi goreng tersebut sudah jadi, gadis itu bersyukur ketika melihat di sebrang sana terdapat warung kecil yang lampunya masih menyala.
"Semangat Dira, ini semua demi Alif," gumamnya menyemangatkan dirinya. Dengan senyum manis yang masih terukir di bibirnya, gadis itu berjalan dengan semangat untuk membeli obat sang adik.
Tanpa sadar jika di kejauhan sana, sebuah motor hitam besar melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Tepat sekali dengan hal tersebut, gadis itu menoleh tapi terlambat, tubuh mungil tersebut terhempas dengan kencangnya.
"Astaghfirullah," tukang nasi goreng itu bahkan sangat terkejut dengan hal beberapa detik itu.
Darah segar keluar dari kepala Andira, tubuhnya tergeletak begitu saja diaspal. Di setengah kesadarannya, yang terpikir oleh gadis itu hanya senyuman sang adik. Satu-satunya keluarga yang dia punya.
"Alif... Maafin kak Dira,"
***
"Gue out, gue nabrak orang."
"......."
"Oke, Lo susul gue di rumah sakit bokap gue,"
Lelaki itu menjambak rambutnya. Dia teringat betul dengan darah yang keluar dari tubuh orang yang ditabraknya, lemah dan tak berdaya. Lelaki itu menghembuskan nafasnya dan berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup, dirinya bahkan butuh seperkian menit untuk mencerna apa yang telah terjadi.
Tak lama kemudian, seorang dokter wanita keluar dari ruangan tersebut.
"Apa ada keluarga pasien?"
"Bicara sama saya saja Dok," ucap lelaki itu dengan lantang. Dokter tersebut mengangguk dan berjalan diikuti oleh lelaki tersebut.
"Korban mengalami cidera parah, tulang rusuknya harus segera dioperasi, dan itu akan membuat pasien lumpuh sementara." Penjelasan Dokter tersebut membuat Pria itu memejamkan mata sesaat. Kini, rasa bersalah menggerogoti hatinya.
*****
Di brangkar tersebut. Terlihat seorang perempuan dengan setia memejamkan matanya, bermacam alat terpasang di tubuhnya, juga alat yang menyangga lehernya membuatnya terlihat menyedihkan.
"Namanya Andira Prameswari Hermawan. Usia 17 tahun, yatim piatu, ayahnya meninggal sejak 6 tahun yang lalu, dan ibu nya meninggal 3 tahun yang lalu, dia tinggal bersama adik laki-lakinya yang masih berusia 10 tahun," Penjelasan Pria berusia 30 tahun itu membuat lelaki muda tersebut menatap miris sosok yang terbaring lemah itu.
"Jadi... Dia bekerja untuknya dan adiknya?" Tanya lelaki muda itu.
"Iya bos,"
Lelaki itu menatap wajah pucat yang tak nampak jelas karena tertutup oleh alat yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kenapa masih ada orang yang hidupnya begitu miris?"
*****
"Jadi ini rumahnya?"
"Iya bos, ini rumahnya." Lelaki berusia 18 tahun itu menatap rumah yang sangat sederhana di hadapannya.
Dengan ragu, laki-laki itu mengetuk pintu itu. Tak lama kemudian kenop pintu terbuka dan tampaklah bocah laki-laki yang diperkirakan usianya masih 10 tahun itu.
"Kakak!"
Raut wajah bocah laki-laki itu langsung berubah ketika melihat siapa yang datang.
*****
Plakkk
"Kurang ajar kamu!" Pria berusia hampir 50 tahun itu menatap putra bungsunya dengan tatapan marah. Bagaimana tidak, berita yang di dengarnya barusan sangatlah tidak mengenakan dan membuat amarahnya memuncak.
"SUDAH BERAPA KALI AYAH LARANG KAMU UNTUK BALAPAN?!" Murka sang ayah dengan wajah penuh amarah.
Pria berusia 18 tahun itu hanya menunduk. Dia tahu dirinya salah dan menyebabkan semua kekacauan tersebut hingga menimpa gadis malang yang tak dikenalnya itu.
Kemudian tatapan Pria berusia 50 tahun itu jatuh kepada seorang bocah laki-laki yang menangis di hadapan gadis muda yang terbaring tak berdaya itu, bocah tersebut terus menyebutkan nama kakaknya di sela tangisnya itu.
"Sekarang kamu lihat apa yang telah kamu perbuat? Kamu sudah menghancurkan masa depan orang lain!" Ucap dingin dan raut kecewa dari seorang Satrio Billar Pradipta. Pemilik rumah sakit terbesar di Indonesia.
"Aku minta maaf yah, aku akan tanggung jawab." Terdengar ucapan penuh penyesalan dari pemuda itu.
Satrio menghembuskan nafasnya kasar sambil memejamkan matanya "Mereka yatim piatu, Jika sudah sadar, Kita adopsi mereka."
"Baik, Ayah, terima kasih."
"Mas kamu apa-apaan sih!" Ucapan dari perempuan yang lebih muda, yang berdiri di sebelah Satrio, terdengar tak terima oleh perkataan suaminya barusan.
"Ayah benar, aku harus tanggung jawab karena sudah merusak masa depannya. Jadi kita harus merawatnya,"
"Tapi gak harus adopsi juga! Kita bisa kasih uang berapa pun yang mereka mau!"
"MELLISA!" Bentakan dari Satrio mampu membuat Mellisa bungkam.
"Keenan Melviano Ballar. Saya harap kejadian ini untuk terakhir kalinya."
*****
Vote and comment ya guys karena gratis :)))
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top