꒰⑅ 09 ꒱

Suasana pemakaman benar-benar terasa sendu ditambah rintik hujan yang membasahi para pelayat, terlihat sesosok 2 bocah mungil tengah berdiri bergandengan tangan di bawah pohon sambil menatap sebuah makam yang masih baru.
Tangan gadis itu mengerat menggenggam erat tangan laki-laki disampingnya, sejak tadi dia sibuk menangis sesenggukan sedangkan teman laki-lakinya berusaha menenangkannya.
"Scar, Ayahku..."
"Aku tahu Mon, tapi kita gabisa apa-apa"
Mona menggenggam erat tangan Scara sejak tadi tubuh gadis itu sudah bergetar hebat, kini Scara beralih merangkul pundak Mona agar lebih erat.
"Kamu ga akan pergi kayak mereka kan Scar?"
Scara hanya terdiam sembari menggigit bibir bawahnya gelisah lalu menghela nafas sebelum akhirnya memeluk gadis itu erat.
"Apapun yang terjadi, aku bakal selalu berusaha ada buatmu Mon"
Mona membalas pelukan Scara, hari itu Mona benar-benar takut Scara hilang dari sisinya.
Tapi ternyata, semesta benar-benar masih ingin mempermainkan hidup seorang Mona.
= × 🌟 × =
Sinar matahari menerobos masuk ke celah kamarnya yang sempit, gadis itu sedikit menggerung sembari sesekali memijat keningnya karna kepalanya terasa berat dan tubuhnya terasa benar-benar letih.
Semenjak Mona berhenti bekerja di rumah Scara, Mona terpaksa mengambil 2 kerja part time yang mana setelah pulang sekolah dan shift yang agak malam.
Hal itu tentu saja membuat jadwal tidur Mona benar-benar kacau ditambah Mona sering terbangun tengah malam, apalagi sekarang tidak ada Scara yang biasanya membantunya untuk tidur kembali.
Gadis itu turun dari ranjangnya dengan langkah gontai dan bersiap untuk ke sekolah.
— At School
Hal pertama yang Mona tuju adalah ruang klub astronomi seperti biasa, begitu sampai gadis itu langsung merebahkan diri di sudut ruangan yang mana biasanya Mona menyediakan beberapa bantal disana.
"Mon pagi"
"Hm"
Amane dan Aether saling menatap satu sama lain, jujur saja kedua pemuda itu sedikit cemas melihat temannya belakangan ini terlihat begitu kelelahan bahkan bisa dilihat tubuhnya semakin kurus dan kantung matanya terlihat jelas.
"Mon, tadi ini ada titipan"
Mona membuka satu matanya lalu menatap kantung plastik yang di sodorkan oleh Aether.
"Dari siapa?"
"Dari Lumine, katanya buat kamu sarapan"
Dengan mata sedikit sayu, Mona duduk dan menerima bekal makanan yang disodorkan oleh Aether dan memakannya.
"Makasih ther, nanti aku bilang juga ke Lumine"
"Ga usah kok Mon! Nanti aku chat aja Lumine"
"Oh yaudah, makasih ther! Aku ga sempet sarapan lagi hari ini hehe"
"Sama-sama"
Sebenarnya itu bukan titipan dari Lumine melainkan bekal Aether sendiri tapi Aether tidak tega melihat Mona yang belakangan ini sering berhemat hingga melewatkan sarapannya, karna itu Aether memutuskan untuk sesekali memberikan bekalnya pada Mona dan membeli makan siang di kantin.
Lagipula uang Aether sudah lebih dari cukup untuk membeli sarapan setiap harinya.
"Mon lo seriusan ga pengen balik kerja di tempat Kak Scara aja? Lo kayaknya cape banget kerja yang sekarang"Celetuk Amane sambil menata buku astronomi, Aether buru-buru menyenggol perut Amane tapi nampaknya pemuda itu tidak peduli melainkan hanya mengangkat pundaknya.
Mona menghela nafas mendadak selera makannya hilang mengingat nama itu, belakangan ini Mona berusaha menampar dirinya sendiri dengan mengatakan jika untuk apa dia semarah itu pada Scara?
Jika dipikir-pikir lagi tindakannya benar-benar konyol, untuk apa dia marah pada Scara soal kejadian itu?.
Padahal itu hak Scara untuk menggaet siapapun karna Scara memang tidak ada hubungan spesial dengannya hingga membuat Mona pantas melarang pemuda itu berpacaran dengan gadis waktu itu, lagipula apalah yang Mona harapkan dari hubungan majikan-pembantu ini?.
Semakin dipikirkan, justru hati Mona semakin nyeri dan merasa bersalah sudah menghindari Scara belakangan ini.
"A-Ah gausah dipikirin pertanyaan Amane, kamu sarapan aja Mon"Ucap Aether nyengir, Mona hanya tersenyum lalu mengangguk.
Sedangkan Amane berkacak pinggang menatap 2 temannya.
"Perasaan Aether dah yang lebih sering deket sama Mona, tapi kenapa Rose sering ngambek ngira gua deket sama Mona sih"Batin Amane heran.
= × 🌟 × =
Pyar
Suara pot yang pecah membuat Albedo yang awalnya sedang menata pot di belakang tokonya langsung tergopoh-gopoh berlari masuk karna takut-takut jika adalah ulah Klee lagi.
"Mona, kamu gapapa?!"
Albedo buru-buru berjongkok meraih tangan Mona yang ternyata sedikit tergores pecahan pot yang jatuh, Mona menggangguk lalu buru-buru memungut pecahan pot yang berserakan.
"Ini di obatin dulu, nanti aja mungutinnya"
"Tapi nanti kalo kena Klee bahaya Al, bentar aku pungutin dulu bentar gapapa kok ini luka kecil doang"Tolak Mona halus, Albedo menghela nafas lalu membantu Mona memunguti pecahan potnya.
"Mon kamu gamau pulang aja?"
"M-Maaf Albedo aku mecahin potnya, nanti aku ganti pake gajiku bulan ini deh! Maaf ga bakal kuulangin"Ucap Mona panik karna Albedo tiba-tiba menyuruhnya pulang, Albedo menggeleng lalu menyentuh kening Mona.
"Wajahmu pucat Mon, kamu istirahat aja dirumah! Soal potnya kamu gausah khawatir, nanti aku jelasin ke Mama dan ga harus potong gajimu"Ucap Albedo yang nampaknya benar-benar mengkhawatirkan keadaan Mona, gadis itu juga tidak bisa bohong jika sejak tadi kepalanya benar-benar terasa pening.
"Pulang aja ya Mon? Aku anterin sekarang"Lanjut Albedo, Mona menghela nafas sebelum akhirnya mengangguk lemah.
"Kak Albedo mau kemana? Ehh Kak Mona sakit?!"Tanya Klee yang entah muncul darimana diikuti Diona dibelakangnya.
"Kakak mau nganterin Kak Mona pulang, Klee tolong bilang ke Mama ya?"Pinta Albedo, Klee mengangguk patuh.
"Hati-hati dijalan kak!"
Albedo tersenyum mengangguk lalu menggandeng Mona untuk menuju keluar toko bunga dan mengambil motornya.
"Nih pake jaketku dulu biar ga makin parah"Ucap Albedo membalutkan jaketnya pada tubuh Mona.
"Makasih Al, maaf ngerepotin banget hari ini"
Albedo terkekeh menggeleng.
"Enggak kok, lagipula selain karyawan Mama kamu kan juga temenku Mon jadi santai aja"
Mona tersenyum, Albedo pun mulai melajukan motornya menuju rumah Mona.
Ah seandainya ini Scara, Mona sudah pasti akan memeluk erat tubuhnya seperti sebelumnya.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top