19. Rahasia Keluarga Nanase

Diluar sendiri, Riku yang baru saja mendengar sesuatu dari Rika tidak percaya apa yang dia dengar. Dia perlahan berjalan mundur hingga menabrak dinding di belakangnya dan jatuh terduduk dengan raut wajah tidak percaya, bahkan ada beberapa bulir kristal cair keluar dari matanya.

"Tak mungkin.....jadi...." Riku tidak melanjutkan kalimatnya dan Rika hanya menatap anak bungsunya dengan tatapan sendu.

"Gomen na Riku-chan, Kaa-san tidak ingin memberitahumu hal ini tetapi inilah kebenarannya." kata Rika mendekat ke arah Riku dan mengelus punggung Riku sebelum memeluknya.

"Tapi kenapa hanya karena itu....Deryn harus...." Riku benar-benar tidak percaya apa yang dia dengar kali ini dan di hatinya terbesit rasa bersalah.

"Shhhttt....ini bukan salahmu atau salah siapapun Riku-chan, mereka yang terlalu serakah akan kekuatan sehingga seperti ini. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu." kata Rika berusaha menenangkan Riku.

"Demo...." Riku menangis dipelukan Rika dan tak lama Takeshi tiba bersama Fisry dan Shira di belakangnya. Melihat Riku sedang menangis di pelukan Rika pun membuat mereka penasaran.

"Ada apa ini?" tanya Takeshi begitu mereka berdekatan.

"Aku baru mengatakan kebenarannya Takeshi, mau bagaimana pun dia perlu tahu. Sudah ya Riku-chan, kau harus kuat demi Deryn-kun." Riku menghapus sisa air matanya dan dia berdiri dengan mata yang menyorotkan tekad yang kuat.

"Pasti, bagaimana situasinya?" Riku langsung berubah menjadi serius kembali dan sisi lemahnya tadi seperti hilang tertelan bumi.

"Semuanya sudah di uruskan tinggal menunggu hasil introgasi dan barang bukti sudah di amankan sepenuhnya walau ada beberapa bubuk magnetis yang ternyata sudah mereka kirim ke atasan mereka entah di mana." lapor Shinta dan beberapa saat kemudian, Redina dan Teryce kembali dengan membawa sesuatu.

"Apa kalian mencari ini?" tanya Redina menaruh barang bawaannya di dekat Riku dan terlihat itu adalah bubuk magnetis yang dicuri.

"Mereka kebetulan berada dalam wilayah jangkauan kami dan kami juga sudah mendengar terjadi penyerangan atau apalah itu di laboratorium." jelas Teryce.

Riku mengambil salah satu botol dan dia melirik ke dalam kelas untuk memeriksa keadaan di dalam walau ada Grycellia.

"Lebih baik sekolah di liburkan hingga kondisi kondusif karena aku dengar perang sihir akan terjadi kembali." kata Riku menaruh kembali botol yang tadi dia ambil.

"Aku setuju, keselamatan masyarakat dan Tsumugi-hime sama lebih di utamakan." dukung Takeshi.

"Baiklah, akan aku umumkan sekarang." Rika pergi ke ruang TU dan mengumumkan jika sekolah akan di liburkan dengan alasan keamanan dan akan masuk setelah ada pengumuman lebih lanjut dari pihak tentara sihir.

"Lalu Riku, aku ingin kau pergi ke tempat 'itu'. Ada yang harus kami bicarakan denganmu dan Tenn." Riku mengangguk dan setelah memberikan perintah kepada anggota timnya, Riku langsung pergi ke tempat yang Takeshi maksudkan sedangkan Takeshi mengajak Tenn.

"Tenn, bisa ikut Tou-san?" tanya Takeshi memasuki kelas dan tipis-tipis dia menunduk hormat kepada Tsumugi yang ada di belakang Tenn.

"Doko Otou-sama?"

"Ada hal penting yang harus kami bahas, Riku dan Rika sudah berada di sana sekarang." mau tidak mau Tenn harus ikut bersama Takeshi dan sebelum pergi, Takeshi menghampiri Tsumugi sejenak untuk menyampaikan sesuatu.

"Hime-sama, maafkan keluarga kami yang selalu mengganggu ketenangan keluarga kalian." bisik Takeshi pelan sehingga hanya Tsumugi yang bisa mendengarnya.

"Daijoubu Nanase-san, kami tidak keberatan lagipula kita masih ada hubungan darah walau jauh." jawab Tsumugi tersenyum manis.

"Arigatou gozaimasu Hime-sama, kalau begitu saya permisi." Takeshi pun pergi dan Tsumugi masih tersenyum memandang pintu di mana Takeshi keluar hingga suara Kaoru mengalihkan pandangannya.

"Tsumugi, ikou. Ayahmu khawatir jika kau pulang terlambat." kata Kaoru memberikan tas Tsumugi.

"Ha'i." keduanya pun pulang bersamaan dengan murid-murid lainnya. Takeshi dan Tenn sedang berada di parkiran untuk mengambil mobil Riku.

"Otou-sama, kita mau kemana?" tanya Tenn saat Takeshi sedang menyalakan mobil.

"Kau akan tahu nanti, baiklah mari kita melaju karena sudah di tunggu." Takeshi melajukan mobil Riku hingga ke bar tempat biasanya. Tenn menatap papan bar tersebut dan kemudian menatap Takeshi.

"Kenapa kita kemari lagi Otou-sama?" tanya Tenn.

"Ikut saja, kau akan tahu nanti jika sudah sampai. Ossan! Paket spesial 2." begitu Takeshi mengatakan demikian, penjaga bar memberikan satu kunci kepada Takeshi dan menyuruhnya untuk lurus saja.

Tenn mengikuti langkah Takeshi dengan rasa penasaran. Setelah berjalan lumayan lama, mereka menemukan pintu dan Takeshi memasukkan kunci tersebut ke dalam lubang yang ada di sana untuk membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, pemandangan pertama yang didapat adalah kursi merah darah yang terlihat megah dengan satu kursi serupa namun dengan ukuran sedikit kecil di sebelah kananya.

Di sekelilingnya terdapat banyak sekali benda-benda antik bahkan ada beberapa lukisan yang di bawahnya terdapat tulisan 'King' dengan angka romawi dari 1 hingga 14 dan satu bingkai lagi kosong dengan tulisan dibawahnya 'King XV'.

"Kalian lama." mendengar suara wanita yang tak asing, mereka langsung menoleh ke sofa dekat dengan rak buku di sana dan mendapati Rika yang sedang memangku kepala Riku yang nampak tertidur.

"Gomen Rika, tadi harus mengambilnya mobil Riku dulu. Apa dia tertidur?" kata Takeshi mendekat.

"Sou, dia katanya lelah. Tenn-chan, kau duduk di sini. Ada hal yang harus kami beritahukan padamu mengenai rahasia keluarga kita selama bertahun-tahun lamanya." ucap Rika membelai rambut hitam Riku.

"Apakah Riku sudah tahu?" Tenn.

"Ya, aku sudah menceritakan hampir semuanya. Sekarang giliran mu untuk mengetahuinya, Kaa-san harap kau siap menerima apapun yang terjadi." Rika.

"Aku akan berusaha." Tenn.

"Ini adalah rahasia keluarga Nanase sejak lama. Mungkin kalian belum menyadarinya jika kalian itu punya potensi besar untuk menjadi raja iblis karena kalian memiliki darah keturunan iblis keluarga Nanase." Takeshi.

"Alasan kenapa kita memakai cincin ruby, agar kita bisa menyegel kekuatan iblis kita yang sangat besar. Apalagi kalian, terutama Riku, mewarisi 2 kekuatan besar dari 2 keluarga yang selalu mewariskan kekuatan itu ke setiap generasinya." Takeshi menatap wajah tidur Riku yang terlihat damai.

"Jadi mereka sejak awal bukan mengincar Ratu dan Putri tetapi mengincar Riku dan diriku?" tanya Tenn lirih, tidak percaya.

Tenn tahu jika Holymizu sedang di landa kasus percobaan penculikan Ratu dan/atau Tuan Putri, hal itu ia ketahui dari Takamasa sebelum dia pindah ke ReMa.

"Kurang lebih, apalagi Riku itu mempunyai kekuatan yang harusnya tidak ada di dalam satu tubuh yaitu kekuatan iblis dan penyihir suci." Takeshi.

"Seperti yang kalian tahu, keluarga Nanase selalu memakai sebuah cincin ruby di salah satu jarinya termasuk kalian berdua. Itu karena sebenarnya kita adalah keturunan iblis yang dikabarkan telah hilang dan kita bukan sembarang iblis karena kita keluarga bangsawan darah murni." Takeshi.

"Keluarga bangsawan darah murni? Tunggu apa itu artinya kita punya hubungan dengan iblis yang terkurung itu?" Tenn.

"Iie, kita bukan keluarganya. Kau tahu bukan jika iblis itu berasal dari alam neraka, sedangkan kita dari dunia bawah. Aku yakin kalian tahu perbedaan kedua iblis itu. Lalu raja iblis sekarang atau King XIV adalah kakak dari kakek kalian dan sebentar lagi akan digantikan oleh dirimu Tenn." Rika.

Tenn terkejut jika dia akan menjadi raja iblis selanjutnya. "Ne Okaa-sama, bukannya kekuatan Tenn-nii hanya sebatas penyihir biasa?" mereka melihat ke arah suara dan itu adalah Riku yang ternyata terbangun dari tidurnya.

Rika menggeleng dan mengelus surai Tenn, "Tenn-chan hanya mewarisi kekuatan dari keluarga Nanase saja karena kau menyerap semua kekuatan dari keluarga dari Kaa-san." Rika.

"Kekuatan apa itu Okaa-sama?" Tenn.

"Kekuatan penyihir suci, kekuatan besar yang bisa mengurung bahkan mungkin bisa mengembalikan iblis neraka ke penjara alam neraka. Kau tidak memilikinya karena semuanya berpindah kepadaku." Riku bangun dari posisinya dan membenarkan rambutnya.

"Lalu, bukannya jika kekuatan iblis itu terkunci kekuatan itu akan meluap ya? Kenapa kami tidak?" Riku.

"Itu karena kalian sudah melatihnya. Kalian ingat latihan saat kalian 7 tahun?" Si kembar menggangguk dan Takeshi mengelus kepala si kembar bersamaan.

"Itu untuk mengontrol kekuatan dan hawa nafsu kalian. Setiap iblis dari dunia bawah saat umurnya 7 tahun pasti akan dilatih seperti itu agar kekuatannya tidak meluap walau jarang di gunakan atau bahkan tidak pernah menggunakannya seperti kalian." Takeshi.

"Lalu mengapa mereka mengincar kami?" Tenn.

"Untuk membuka segel penjara iblis neraka." Tenn membelalakkan matanya saat mendengar jawaban orang tuanya dan Riku sendiri yang sudah tahu hanya bisa diam.

"Jadi, mereka sengaja mengincar Yang Mulia Ratu dan Putri agar dapat mendapatkan kalian dengan tujuan mereka membebaskan iblis itu untuk membantu pihak mereka saat peperangan." kata Rika.

Tenn tentu saja tidak percaya karena semua cerita tersebut ternyata bukan hanya dongeng isapan jempol semata, namun kenyataan.

"Bukannya itu juga akan merugikan mereka karena iblis itu akan membunuh tanpa pandang bulu bukan?" lanjut Tenn yang langsung berdiri.

"Sebenarnya hanya kau saja sudah cukup untuk membebaskan iblis itu dan perlu kalian tahu, mereka akan membunuh Riku agar iblis itu tidak dapat di kembalikan ke alam neraka dan, ini hanya opini sementara, mereka akan membuat Riku menjadi alat agar iblis itu tidak hilang kendali." jawab Takeshi menatap kedua anaknya terutama Riku yang sedari tadi hanya diam karena sudah mengetahui hampir semuanya.

"Iblis itu tidak bisa di kendalikan. Lagipula aku sudah mendengar desas-desus perang sihir dan maaf aku tidak bisa memberitahu kalian bagaimana kedepannya." kata Riku tanpa menunjukkan wajahnya.

"Apa kau memakai Vision?" tanya Rika yang ada di sebelahnya namun Riku tidak menjawab.

"Kami paham, semoga masa depan tidak sesuram apa yang kau lihat dan Tenn. Pesan Tou-san, jika kau benar-benar ingin masuk ke dalam tentara sihir, maka kau harus benar-benar mempelajari sejarah walau mereka menyebutnya dongeng tetapi bagi kita itu adalah masa lalu pahit." Tenn terdiam dan dia merasakan seseorang memegang tangannya.

"Kita hadapi bersama?" pertanyaan Riku langsung mengembangkan senyuman Tenn dan mereka saling berpelukan.

'Vision tidak selalu benar. Akan aku ubah masa depan dimana banyak anak-anak tersenyum dan juga kedamaian ada di setiap inchi dunia ini.' batin Riku dan tiba-tiba mereka sudah ada di rumah mereka, tentu mobil Riku juga sudah berada di garasi.

"Kalian lebih baik tidur, memang masih sore tetapi pagi-pagi sekali nanti akan Tou-san ajak kalian ke suatu tempat jadi tidurlah." kata Takeshi sebelum dia pergi ke kamarnya diikuti dengan Rika.

"Ne Tenn-nii, ayo tidur di kamarku." Riku menarik Tenn ke kamarnya dan mereka tidur bersama.

Alam Bawah Sadar Riku....

Eh aku di sini lagi? Perasaan baru kemarin aku ke sini, itupun aku ke sini sengaja.

"Riku-san, aku yang memanggilmu kemari."

Reika-sama, doushita no? Apakah ada hal yang perlu kita bicarakan?

"Sou desu, ada yang harus kita bicarakan dan ini berhubungan dengan kembaran mu Riku-san."

Eh berhubungan dengan Tenn-nii?

"Ya, akan aku beri bocoran bagaimana masa depan nantinya Riku-san. Jika kau bisa melakukan sesuatu pada masa sekarang, mungkin saja akan berubah masa depan nantinya."

Bocoran bagaimana Reika-sama?

"Setelah semuanya selesai, kekuatan tersebut akan menjadi besar hingga tidak bisa dikontrol lagi dan itu akan menyebabkan masalah baru."

Ini masalah kekuatan saya atau kembaran saya Reika-sama?

"Coba kau tebak."

Emmm kembaran saya?

"Itu baru anak muridku, tapi seperti yang aku bilang tadi Riku-san, kekuatan itu akan semakin besar hingga tidak bisa terkontrol. Hal itu akan membuat pemilik kekuatannya kehilangan kendali dan bisa menjadi iblis sepenuhnya."

Jadi Tenn-nii akan menjadi iblis di masa depan nanti? Lalu bagaimana dengan saya Reika-sama?

"Sayang sekali kau harus berkorban dalam perang nanti. Tapi seperti yang aku bilang awal tadi, jika kau bisa melakukan sesuatu pada masa sekarang, mungkin saja akan berubah masa depan nantinya."

Kalau begitu saya bisa merubahnya sekarang dengan mencegah kemungkinan itu semua, tapi...bagaimana caranya saya tahu jika langkah saya benar Reika-sama?

"Ikuti kata hatimu Riku-san, hati tidak pernah berbohong dan tidak bisa di bohongi. Kali ini andalkan perasaanmu dalam mengambil keputusan, jangan terus-menerus menggunakan otakmu tapi juga gunakan hati mu."

Saya mengerti Reika-sama, arigatou gozaimasu atas sarannya.

"Semuanya untuk dunia ini dan juga untuk masa depanmu yang lebih baik nak. Kau bisa kembali, Ayahmu sebentar lagi akan membangunkan kalian dan ingat pesanku tadi ya."

Ha'i, mata ne Reika-sama.

Riku pun berlari ke pintu putih di belakangnya dan Reika-sama yang masih berada di tempatnya hanya tersenyum sembari melambaikan tangannya.

"Aku tidak akan mengulang kejadian yang sama, ini janjiku kepadamu xxxx."

Kembali ke kenyataan, tak lama Takeshi masuk dan membangunkan kedua putranya. Dia sekarang memakai baju olahraga dan Rika di belakangnya juga memakai baju olahraga.

"Ohayou Otou-sama, jam berapa ini?" tanya Riku begitu bangun.

"Setengah 4 pagi, ayo kita mulai hari ini." Riku menatap heran Takeshi yang nampaknya bersemangat, Tenn sendiri masih setengah sadar.

"Memang kita mau kemana?" tanya Tenn yang belum sepenuhnya bangun.

"Bukan kemana, lebih tepatnya kita akan berbuat apa dan biar ku tebak, kita akan olahraga pagi." kata Riku membenarkan pertanyaan Tenn dan dia bangkit dari kasurnya untuk ke kamar mandi.

"Seratus poin untuk Riku! Kau juga sudah lama tidak meregangkan badan bukan? Jadi, ini adalah waktu yang tepat." Riku tersenyum singkat sebelum dia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berganti baju.

Tenn masih kebingungan dengan apa yang akan mereka lakukan nantinya dan dia mengikuti Riku untuk mencuci muka juga berganti pakaian.

𝙽𝚎𝚡𝚝....

Khikhikhi....

Gimana nih? Amy akhirnya udah liburan dan bisa up tiap hari>< seneng banget...

Oh ya mulai chapter depan, akan full chap flashback dulu sambil nunggu Amy ada ide buat main story nya ya.

Jaa ne~

19/06/2022

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top