40 Hari Setelah Kematianmu
Tepat tujuh hari setelah Nisa meninggal dunia, secara tiba-tiba ia muncul kembali di hadapan Raka. Pelukan itu terasa hangat, terlalu hangat untuk sebuah kehilangan yang seharusnya sudah dingin. Napasnya masih ada, begitu juga dengan suaranya. Bahkan detak jantungnya sekalipun, seolah ia kembali hidup di dalam dada Raka. Namun ada yang berbeda. Senyum Nisa yang dulu selalu menenangkan, kini merekah perlahan, lalu memudar. Tatapannya tak lagi utuh seperti menyimpan sesuatu yang tak mampu ia ucapkan. Ada beban, ada luka, ada rahasia yang terus menariknya menjauh, bahkan saat ia berdiri begitu dekat. Seolah-olah ia tidak benar-benar kembali.Namun, 40 hari setelah kematian Nisa, semua mulai berubah. Waktu yang seharusnya menyembuhkan, justru membuka sesuatu yang lebih gelap. Hal-hal kecil yang terasa janggal mulai bermunculan; bayangan yang tidak mengikuti cahaya, suara yang terdengar hanya saat sunyi, dan kenangan yang perlahan berubah. Ada bagian dari masa lalu yang disembunyikan. Raka mulai mempertanyakan satu hal yang tak pernah ia berani jawab, apa benar yang kembali itu adalah Nisa atau hanya sesuatu yang berwujud manusia? Semakin ia mencoba menggenggam, semakin Nisa terasa menjauh.Raka menyadari bahwa tidak semua yang kembali diizinkan untuk tetap tinggal. Di antara cinta, kehilangan, dan rasa bersalah yang tak kunjung padam, Raka harus memilih mempertahankan seseorang yang mungkin sudah bukan miliknya lagi atau melepaskan satu-satunya alasan ia masih bertahan hidup? Karena terkadang yang paling menakutkan bukanlah kematian melainkan ketika seseorang yang telah pergi menemukan jalan untuk pulang.…









