SR-1

Kael yang menyerahkan diri, adalah sesuatu yang enggak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku enggak pernah berpikir kalau semua akan berakhir seperti ini. Dari kejauhan aku menatapnya melangkah masuk ke dalam sana untuk apa yang dia sebut sebagai penebusan dosa. Tadinya aku mengira segalanya akan baik-baik saja sebagaimana garis wajah yang kupertahankan untuk tetap penuh wibawa. Air mata yang enggak menetes sejak tadi, membuatku yakin kalau semua sedang berjalan sebagaimana seharusnya.

Tapi ternyata ... enggak.

Melihat tubuhnya menghilang masuk ke balik pintu, aku tahu, ada yang salah. Bilik-bilik di dadaku berdenyut sekarang, bukan karena kisah-kisah dan kejutan-kejutan yang selalu dirangkainya selama ini. Tapi karena ada ruang yang kosong seketika.

Aku pikir akan merasa bahagia, ternyata hampa. Aku pikir ini yang namanya keadilan. Tapi hatiku menjerit.

Saat setetes air mata jatuh di pipi tanpa kuharap, segera punggung telapak tangan mengusap. Bukankah aku harus tetap tegar? Bukankah Kael pantas untuk dihukum? Dia enggak pantas mendapat air mataku.

"Aku akan selalu ada untukmu, Brisa."

"Brisa, jadiin aku orang yang bisa selalu kamu andalin, ya!"

"Brisaaaa! Aku suka kamu!"

Bohong. Itu semua bohong!

Kael membohongiku dengan sangat baik selama ini. Aku sangat membencinya. Tapi, kenapa walaupun aku sadar dia adalah orang jahat dan menyakitiku dengan sangat hebat, air mataku masih saja enggan berhenti? Kenapa hatiku semakin terasa sakit, saat membayangkan kedua tangan yang selalu menggenggamku itu ... diborgol?

🌼
🌼
🌼
🌼
🌼

Alarm bahkan belum berbunyi ketika dering ponsel membangunkanku, yang artinya ini masih terlalu pagi untuk seseorang mengoceh dan marah-marah enggak jelas. Tapi karena aku gadis baik, aku enggak akan menolak panggilan ini.

"Hemmm. Ya, halo," sapaku.

"Ilona! Kamu itu benar-benar enggak tahu diri, ya?! Sampai kapan kamu akan mengganggu suamiku?! Semakin hari permintaanmu semakin banyak! Aku enggak ngerti anak belasan tahun seperti kamu ini punya kebutuhan apa sampai-sampai sering sekali minta uang!"

Ucapan yang sama, nada yang enggak pernah berubah. Kadang aku berpikir apa dia enggak capek marah-marah terus. Aku saja santai, enggak pernah marah-marah balik ke dia, padahal dia sudah merebut cinta pertamaku. Kehadirannya adalah duri yang enggak menguntungkan sama sekali buat hidupku. Sudah sampai sejauh ini aku bahkan enggak pernah menghubunginya duluan hanya untuk menyampaikan ketidaksukaanku. Tapi dia enggak ada bosannya menggangguku untuk hal sepele begini.

"Baru minggu lalu kamu minta uang, kemarin minta lagi ke suamiku! Seusia kamu harusnya belajar aja, bukan foya-foya!"

Jenuh. Selain uang, apa dia enggak bisa nyari topik yang lain? Lagian ya, aku minta uang ke Papa, ngapain dia yang sewot coba.

"Sorry. Tante lupa kalau suami yang Tante sebut itu adalah papaku? Okelah, enggak masalah kalau aku ingetin lagi. Jadi, aku ini anak Papa, alias suami Tante. Udah kewajiban Papa ngasih uang ke aku. Justru aku yang seharusnya marah ke Tante. Tante yang bikin Papa menjauh dari aku dan Tante enggak punya hak buat larang aku minta apa-apa ke Papa."

"Anak kurang ajar! Mulut kamu enggak ada takut-takutnya atau hormat ya sama orang tua!"

"Aku hormat, kok, sama orang tua. Tapi ya tergantung sekarang orang tuanya kayak gimana. Kalau kayak Tante gini, mana bisa disebut orang tua."

Aku tersenyum sinis karena membayangkan ekspresinya saat ini. Si tukang marah-marah itu sedang mengomel dan pasti wajahnya sangat merah karena marah.

"Aku jadi enggak heran kalau ibumu ninggalin kamu!"

Mataku yang tadinya masih malas untuk terbuka, seketika mendelik. Gemuruh di dada mulai menyebarkan efek lain di seluruh tubuhku. Dia paling tahu bagaimana membuat kantukku hilang sepenuhnya. Ah, aku ingin sekali saja melempar air kotor ke wajah nenek sihir itu.

"Seenggaknya mamaku bisa punya anak. Kalau Tante gimana?"

Yeah, dia enggak hamil juga walau sudah menikah bertahun-tahun dengan Papa.

"Ilonaaa!!!"

Sebelum dia mengumpat panjang lebar yang bisa-bisa bikin hariku kacau total, aku sudah lebih dulu mematikan panggilan. Enggak guna dengerin dia lama-lama, bikin energi habis sia-sia.

Aku menatap langit-langit kamar tanpa memikirkan apa-apa, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Keadaan yang selalu sama setiap harinya tanpa ada perubahan saat aku membuka mata. Di sini masih gelap, masih sunyi, dan aku masih menyukai dua hal itu.

Hah.

Gegas, aku turun dari ranjang, lalu membuka gorden kamar dan sempat melihat ke bawah dari jendela. Satu sudut bibirku tertarik. Kali ini pun masih seperti biasa, enggak ada mobil yang terparkir di halaman rumah. Padahal aku yakin sudah berhenti berharap, tapi tetap saja aku masih memastikan apakah seseorang akan berdiri menyambut ketika kubuka pintu kamar ini.

🌼

Rumah dan sekolah adalah dua hal yang sangat bertolak belakang. Karena itu aku sering nunggu jam pelajaran mulai di perpustakaan. Di sini satu-satunya tempat damai tanpa gangguan bisikan sekalipun. Sayangnya kali ini ada yang berbeda. Dua anak perempuan yang sedang memegang buku di sebelahku malah bergosip tentang sesuatu yang kurasa menarik banget untuk mereka. Aslinya aku enggak bermaksud menguping, sih.

"Eh, eh. Tadi kan gue lewat ruang guru. Tahu nggak? Ada murid baru! Ganteng banget!"

"Sstt! Kecilin suara lo, nanti kita diusir dari sini.

"Ah, iya, iya! Tapi lo harus banget lihat anak itu. Tinggi, ganteng, senyumnya manis bangett. Gila. Hati gue langsung dicuri, nih."

"Seriusan seganteng itu? Anak kelas berapa?"

"Belum tahu. Tadi gue mau tanya-tanya sama guru, malah dibilang nanti juga bakal tahu."

"Please, semoga dia masuk kelas kita."

Aku menutup buku sambil berdecak. Berisik. Dua orang itu menatapku enggak ramah, begitu juga dengan aku yang pergi tanpa senyuman setelah memberi isyarat pada mereka agar tenang di perpustakaan.

Sepuluh menit lagi bel sekolah berbunyi, aku memutuskan untuk kembali ke kelas. Saat melewati ruang guru, segerombolan anak perempuan berdiri di depan pintu sambil melongok-longok ke dalam. Tadinya aku enggak tahu kenapa mereka begitu, tapi pas melewati kerumunan itu aku akhirnya paham kalau mereka mau lihat si anak baru. Sekilas aku mendengar salah satu anak perempuan menyebutkan bahwa murid baru itu ternyata kelas tiga dan pindahan dari sekolah elit di kota besar.

Aku memainkan ujung-ujung rambut sambil berjalan menuju kelas. Anak baru, ya. Agak aneh sih kalau beneran kelas tiga. Nanggung banget pindahnya. Oh, atau mungkin dia kena DO? Bisa jadi orang tuanya pusing plus malu dan anaknya dipindahin ke kota yang lebih kecil. Masuk akal.

"Pagi, Ilona. Masih cantik aja, nih. Nanti malam jalan, yuk!"

Seorang anak laki-laki menghadang jalanku untuk masuk kelas. Membosankan.

"Lo kayak orang yang enggak punya kerjaan, tiap hari ngajakin jalan padahal tahu jawaban gue apa. Minggir."

"Ini namanya berusaha, Ilona. Siapa tahu lo berubah pikiran."

Dia nyengir seolah-olah enggak ada beban.

Aku meletakkan kedua tangan di perut dan menatap Noel dengan malas.

"Jawaban gue enggak akan berubah."

"Yah! Patah hati lagi gue."

Noel memegangi dadanya dan memasang ekspresi seperti orang yang menahan sakit. Aku tahu itu cuma pura-pura. Satu temannya datang dan langsung menarik Noel untuk kembali ke kelasnya. Tapi di antara lambaian tangan Noel dan ucapan perpisahan sementara yang dia ucapkan, aku mendengar sesuatu.

"Lo bisa berhenti gangguin Ilona enggak, sih? Masih ada banyak cewek cantik yang enggak sombong," kata teman Noel.

Tentu saja aku enggak kepikiran pada kalimat itu. Lagi pula, dari awal aku juga enggak berniat jadi crush Noel. Mau dikatai sombong atau gimana, aku enggak ada cita-cita untuk mengubah pandangan mereka.

Bel sekolah berbunyi. Anak-anak mulai duduk di bangku masing-masing, mereka juga terdengar saling bicara dengan teman sebangku dan tertawa senang. Yang biasa aku lakukan di dalam kebisingan ini adalah membaca beberapa halaman buku sampai guru datang. Kali ini ada sebuah perubahan. Saat guru datang anak-anak bukannya tenang, tapi semakin riuh, terutama yang perempuan.

Sekarang aku tahu apa alasan kegaduhan di depan ruang guru tadi. Murid baru itu memang memiliki wajah yang lumayan. Dia tinggi, hemmm mungkin sekitar 170 cm? Kulitnya bersih, badannya proporsional, dan tatapan matanya cerah. Enggak heran anak-anak perempuan pada suka. Dan kabar lainnya, ternyata dia satu kelas denganku.

"Silahkan perkenalkan diri kamu," kata WaKepSek yang mengantarkan murid itu.

Wow. Setinggi apa ya status keluarganya sampai kepala sekolah langsung yang turun tangan? Image WaKepSek itu hormat dan menunduk pada yang tinggi, jadi sudah bisa ditebak kalau latar orang tua si anak baru enggak kaleng-kaleng.

"Hai! Hai! Nama gue Kaelus Radeva. Kalian bisa panggil gue Kael. Yang mau nongkrong bareng gue pulang sekolah, gue traktir."

Kelas makin heboh karena ajakan traktiran Kael. Para gadis langsung berteriak semangat mengiyakan ajakan itu, tapi ... Kael mematahkan perasaan mereka.

"Eits! Tapi khusus cowok-cowok aja!"

Kali ini para lelaki yang bersemangat.

"Yo, Brother! Kita temen sekarang!"

"Gue tunggu, Kael!"

Masih ada banyak sahutan lainnya yang dibalas Kael dengan acungan jempol. Cowok bernama Kael itu kelihatan sangat bersemangat. Ada saat di mana mata kami enggak sengaja bertemu dan dia tersenyum lebih lembut dibanding sebelumnya. Mungkin cuma perasaanku, ya?

"Baiklah. Perkenalannya sudah cukup. Sekarang juga sudah memasuki jam pelajaran, saya harap kalian tenang. Untuk Kael, di belakang sana ada kursi kosong. Silahkan duduk di sana."

"Terima kasih, Bu. Saya enggak mau duduk di belakang, Bu. Saya boleh milih tempat duduk, enggak?"

"Boleh kalau ada yang bersedia tukar duduk dengan kamu. Atur saja. Saya tinggal dulu dan kalian tetap tenang menunggu guru datang."

Wajah Kael terlihat lebih berbinar-binar karena mendapatkan izin. Eh, tapi kok ada yang aneh? Kenapa dia berjalan ke bangkuku sambil memasang wajah penuh senyuman?

"Hei. Nama lo Siapa?" Kael bertanya pada teman sebangkuku.

"Dewi. Kenapa, ya?"

"Gue mau duduk di sini.  Tolongin gue, ya, Dewi? Lo duduk di belakang, nanti tiap hari gue tambahin uang jajan lo. Gue minta tolong banget, nih. Gue enggak nyaman kalau duduk paling belakang."

Lho? Kok jadi gini? Kaelus Radeva yang kesan pertama di mataku sebagai anak ceria seketika pecah. Dia menggunakan uang demi mendapatkan keinginannya.

"Ah, gitu. Ya, boleh. Bener ya tambahin uang jajan gue?"

"Bener! Thanks, ya!"

Dewi pergi begitu saja dari sebelahku dan digantikan dengan Kael. Wangi parfumnya tertangkap olehku. Enak, sih, tapi aku enggak suka dia, jadi aku juga batal suka aroma parfumnya.

"Halo! Nama gue Kael. Nama lo siapa?"

Aku enggak menyahut.

"Haloo!"

Tangan Kael melambai-lambai di depan mataku, mengganggu aku yang sedang membaca.

"Lo ngomong sama gue?" tanyaku akhirnya.

"Ya kali sama patung."

"Ilona."

"Lengkapnya?"

"Tambahin Brisa."

"Ilona Tambahin Brisa. Itu nama lo?"

Ish! Apaan, sih?"

"Hahaha. Santai, dong. Nih cokelat buat lo, Brisa."

Kael menyodorkan lima cokelat dengan kemasan seperti permen.

"Gue enggak suka cokelat."

Bohong, sih. Cokelat itu kesukaanku sebenarnya.

"Nolak pemberian itu nyakitin hati orang yang ngasih, Brisa. Seenggaknya terima aja dulu, buangnya pas gue enggak lihat."

Dia memaksaku untuk menerima cokelat itu. Senyumnya melebar saat aku mengalah dan memasukkan cokelat-cokelat itu ke tas.

Sikapnya aneh. Aku enggak nyaman, apalagi dari sudut mata aku melihat dia terus tersenyum ke arahku.

To be continued

Next ayangku verlitaisme

Guys, selamat tahun baru! Tahun ini kita akan memenuhi semua wishlist dan menjadi pribadi yang lebih baik dari 2022. Aamiin.❤️

Eh, eh, ngobrol dong. Gimana perasaan kalian di chapter ini? Gimana pandangan kalian tentang Ilona yang super dingin dan Kael yang lumayan pecicilan? Hahahaa.

Btw, kalian wajib banget follow aku dan verlitaisme karena keuntungannya kalian bakal bisa baca chapter baru lebih cepat. Kayak gini contohnya, hari ini aku publish Chapter 1, Mbak Ver akan repost di lapaknya hari Rabu, karena hari Kamis Mbak Ver akan publish bab 2. Sedangkan aku akan repost bab 2 itu hari Minggu depan.

Dan untuk jadwal tayang minggu depan akan seperti ini: Aku update bab terbaru hari Senin, dan Mbak Ver hari Kamis. Aku akan nge-repost bab yang dibikin Mbak Ver di hari Minggu, dan Mbak Ver di hari Rabu.

Ada yang masih bingung? Sini ngobrol yukk.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top