14
"Aku mau pamer!" teriak Jeonghan begitu masuk ke dalam ruang latihan. Teriakannya mampu membuat semua orang yang disana menoleh ke arahnya. Pasalnya, pria berambut blonde itu sangat jarang mau capek-capek mengeluarkan tenaga untuk teriak-teriak.
"Apa?" tanya Seungcheol ogah-ogahan. Member lain bahkan tidak ada yang menggubris.
"Hasilnya jagoan," ucap Jeonghan gembira sambil mengguncang bahu leader Seventeen itu. "Anakku cowok!"
"Akhirnya nggak ngumpet lagi?!" kali ini Mingyu antusias. Setiap kali Nari memeriksakan kandungan ke dokter dan melakukan tes USG, anaknya memang selalu membelakangi probe sehingga tidak dapat dilihat jenis kelaminnya.
"Kalau kau bagaimana...ehm," belum sempat Jeonghan melanjutkan kalimatnya, Seungcheol sudah membekap mulut pria itu agar diam. Seungcheol memberi kode bahwa ada banyak orang disana selain member Seventeen. Jeonghan baru sadar. Untunglah ia belum menyebut nama Chan.
"C'mon! Ayo kita mulai lagi latihannya!" Teriakan pelatih dance memenuhi ruangan. Kekacauan yang sempat dibuat Jeonghan lenyap begitu saja.
Chan melirik ke arah hyung-nya itu. Ia baru menyadari bahwa rata-rata para calon orangtua akan penasaran dengan jenis kelamin anak mereka. Namun entah mengapa Chan tidak begitu peduli. Mau anak yang lahir laki-laki atau pun perempuan, sepertinya ia akan baik-baik saja.
Tunggu. Sepertinya ada yang salah. Walaupun setiap kali Nara melakukan pemeriksaan kandungan Chan selalu menanyakan perkembangannya, Chan tidak benar-benar diberi tahu masalah detail kondisi si kembar. Mendengar Jeonghan yang sangat antusias dengan kehamilan istrinya dan selalu menyebut tentang detak jantung janin, ukuran panjang badan, dan sebagainya, Chan jadi sadar bahwa dirinya tidak tahu apa-apa tentang calon anaknya kelak. Sepertinya masih banyak hal yang harus Chan gali dari Nara.
---
"Aku pulang!" seru Chan.
"Sudah pulang? Tumben pulang cepat," komentar Nara begitu melihat Chan melangkah masuk menuju ruang tengah. Wanita itu membawakan satu botol air mineral dingin untuk Chan. Ia tidak tega melihat wajah kusut Chan yang tampak lelah.
"Terima kasih," ucap Chan sembari menerima pemberian Nara. "Noona, tidak ada jadwal lagi hari ini?"
Nara melihat ke arah jam dinding. "Seperti biasa, pukul tujuh nanti aku ada kelas mengajar bahasa isyarat. Masih ada empat jam lagi," jawab Nara. "Kau pulang lebih cepat dari biasanya karena sangat lelah?"
Chan menatap ke dalam manik mata Nara dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. Mendapat tatapan seperti itu, Nara jadi salah tingkah sendiri. Wanita itu tertawa kikuk sembari mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Chan," kata Nara setengah bercanda.
"Hari ini jadwalku memang hanya ada latihan rutin saja. Jadi aku segera pulang kesini setelah semuanya selesai," jawab Chan. "Noona, mau jalan-jalan denganku dulu? Apakah nanti aku boleh ikut kelas Noona?"
"Kau mau belajar bahasa isyarat?" tanya Nara heran. Tak biasanya Chan seperti ini. Bahkan pria itu cenderung tidak mau terlihat bersama dengan dirinya di tempat umum. Chan sangat berhati-hati.
'Aku mau melihat keseharianmu,' jawab Chan dalam hati. Tidak mungkin kalimat itu keluar langsung dari mulutnya. "Aku hanya sedang ingin keluar dari rutinitas harianku. Noona tidak terganggu, kan?"
"Tidak kok," jawab Nara. "Okay, kau boleh ikut kelasku tapi jangan mengacau disana ya," sambung Nara sambil terkekeh kecil menertawakan candaannya sendiri.
Chan tersenyum. Melihat kedua sudut bibir wanita itu terangkat ke atas mampu menularkan energi positif padanya. Rasa lelahnya setelah seharian ini berlatih menguap entah kemana. Jadi ini yang dirasakan tiap pria beristri ketika pulang bekerja dan disambut di rumah dengan senyuman manis? Baru kali ini Chan menyadarinya. Ia biasa pulang kemari ketika matahari sudah tenggelam. Bahkan terkadang Nara sudah terlelap jauh sebelum ia pulang.
Tangan Chan terulur. Ia mencubit pipi gembil Nara dan mengelusnya pelan kemudian. Pria itu masih mempertahankan senyuman manisnya disana. Tawa Nara perlahan makin lirih. Ia tidak siap mendapat perlakuan seperti itu dari Chan.
"Tentu saja, Jang-ssaem," kata Chan. Tangannya beralih mengelus permukaan perut Nara yang cembung. "Appa ikut mengantar kalian belajar. Kalian senang, kan?"
Jantung Nara berdetak kencang. Oh tidak! Hal ini tidak baik untuk dirinya!
"Aku... aku... mau ke toilet dulu," ucap Nara cepat. Ia bangkit berdiri dan segera berlalu ke arah kamar mandi.
---
"Aku mau seolleongtang," ucap Nara semangat sambil menunjuk sebuah gambar di daftar menu.
Chan mengangguk. "Kalau begitu, seolleongtang satu, samgyetang satu," ucap Chan pada pelayan.
"Terima kasih, Chan. Semenjak kehamilan ini, aku jarang sekali makan di luar karena terlalu malas," kata Nara dengan wajah berseri begitu pelayan tadi pergi keluar. "Aku juga jadi cepat lelah kalau berada di luar ruangan terlalu lama."
"Apa sekarang Noona lelah?" tanya Chan khawatir.
Nara tersenyum dan menggeleng pelan. "Tidak. Aku sangat gembira karena memiliki teman jalan-jalan."
Perlahan Chan ikut tersenyum. Kekhawatirannya sungguh tidak beralasan. Pada awalnya ia ragu untuk mengajak Nara makan sore di luar mengingat wanita itu menjadi sangat selektif dalam hal memilih makanan untuk kebaikan kandungannya. Namun ia kemudian ingat restoran keluarga milik seorang kenalan yang berada tidak jauh dari tempat Nara mengajar. Ia memutuskan mengajak Nara makan disana sebelum jam mengajarnya dimulai. Chan bahkan memesan satu ruangan tertutup agar dirinya dan Nara bisa lebih santai berinteraksi, tidak perlu terlalu waspada jika ada orang yang mengenalinya sebagai Dino Seventeen.
"Perutku bahkan sudah berbunyi walaupun hanya dengan melihat daftar menu," kekeh Nara.
Chan berdiri dari duduknya. Ia memilih duduk di kursi yang berada tepat di samping Nara. Pria itu menunduk, menyejajarkan kepalanya di depan perut buncit Nara.
"Kalian lapar ya? Jangan buat Eomma kesusahan ya," bicara Chan pada si kembar.
Nara tertawa kecil. "Kau sekarang sudah tahu alasanku jika berkata lapar."
"Tentu saja," balas Chan. Ia kembali menegakkan punggungnya dan menatap kedua mata Nara. "Noona, bolehkah aku kenal lebih dekat dengan mereka?"
Nara menaikkan sebelah alisnya. Ia tak paham dengan maksud pertanyaan Chan. Melihat reaksi Nara, Chan hanya dapat menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Aku baru sadar bahwa aku tidak tahu jenis kelamin mereka, berapa perkiraan beratnya, dan lain lain," Chan menatap kedua mata Nara lagi. "Jeonghan Hyung selalu membuat pengumuman perihal perkembangan kandungan Nari Noona tiap sehabis melakukan pemeriksaan rutin. Pagi ini saja ia berkoar-koar mengatakan bahwa anaknya laki-laki."
"Jadi kau iri dengannya?" tanya Nara setengah meledek Chan. Pria disebelahnya tetaplah anak kecil baginya.
"Dibandingkan iri...," Chan menggantung kalimatnya. "Aku lebih merasa bersalah karena tidak tahu apa-apa. Aku juga tidak bisa menemani Noona periksa kandungan."
Senyuman meledek Nara perlahan menghilang dari wajahnya. Ia mengelus puncak kepala Chan yang kini sedang menunduk. Hal itu mampu membuat Chan memandang kembali ke arahnya.
"Kau mau ikut aku ke dokter minggu depan? Karena sekarang usia kandunganku sudah enam bulan dan ada dua nyawa di dalam sana, dokter menyarankan untuk periksa setiap dua minggu sekali," tawar Nara.
Chan mengangguk semangat. "Aku akan mencari jalan agar dapat ikut minggu depan, bagaimana pun caranya."
Nara tertawa kecil. "Baiklah, baiklah. Dokter Lee pun selalu menanyakan ayah si kembar."
Chan menjentikkan jarinya. "Aku bisa meminta bantuan Hyesung Noona untuk masalah ini."
"Jangan terlalu merepotkannya. Selama ini ia yang selalu menemaniku memeriksakan kandungan," kata Nara. Ia mengusap perutnya. "Sepertinya mereka senang karena kau mengatakan akan ikut minggu depan. Sedari tadi si kembar terus menendang."
Chan tertawa. Ia ikut mengusap pelan perut Nara, membuat tenang anak-anaknya agar tidak terlalu hiperaktif. Nara membiarkan. Lambat laun ia mulai terbiasa dengan sentuhan tangan hangat dan besar milik Chan di perutnya.
Tak lama kemudian pelayan datang membawakan pesanan mereka berdua. Tatapan Nara langsung terfokus pada sup kaldu tulang sapi di mangkuk miliknya. Memahami bahwa wanita di sampingnya tidak dapat menahan lapar lagi, Chan dengan sigap mengambilkan mangkuk kecil dan menuangkan menu makan Nara ke dalamnya. Ia menyerahkan mangkuk itu pada Nara yang menerimanya dengan penuh semangat.
"Selamat makan!" seru Nara. Chan mengulum senyum melihat tingkah wanita itu.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top