[42] Racun Dari Akhirat
Tiba-tiba Aizawa masuk ke kelas sambil membawa setumpuk kertas. Seharusnya memang mereka sedang jam kosong saat ini, tetapi kepala sekolah memerintah Aizawa untuk membagikan kertas tersebut kepada setiap anak kelas 1-A. Jadi ia perlu menyampaikannya sekarang juga, berhubung dia tidak mengganggu pelajaran siapa pun.
Iida menghampiri tiap meja anak di kelasnya satu persatu sambil membagikan selebaran kertas formulir atas perintah Aizawa-sensei. Di tempatnya Aizawa mulai menjelaskan maksud dibalik formulir tersebut.
"Dua minggu lagi kalian akan melakukan pelatihan luar ruangan seperti yang dulu kalian lakukan di gunung. Namun, untuk menghindari kejadian diserang oleh villain tak terduga seperti waktu itu, kami memilih tempat yang lebih terbuka dan luas, yaitu di pantai," jelas Aizawa dengan suara malasnya yang biasa.
Seluruh kelas langsung riuh. Meski Aizawa-sensei menyampaikannya tidak bersemangat, tetapi kata pantai sudah cukup untuk membuat anak 1-A bersorak-sorai. Mereka tidak pernah ke pantai bersama. Lagipula latihan di dekat pantai kan sama saja seperti berlibur!
"Asik kita bisa berenang!" seru Kirishima. Kaminari mengangguk setuju.
"Ya ampun aku sangat menantikannya!" tambah Ojiro.
"AHAHAHAHA AKU TIDAK SABAR MELIHAT YAOYOROZU MEMAKAI BIKI--"
Sero langsung melancarkan tape-nya dan membungkam mulut Mineta. "Dasar mesum!"
"Sensei apakah kami boleh membawa bola voli?" tanya Mina semangat. Sebenarnya gak cuma bola voli, dia udah mikir buat bawa banyak perintilan lain buat main di pantai. Papan catur, kartu remi, ular tangga, monopoli, sampai ekspektasi orang tua.
Semua teriakan semangat itu membuat Aizawa kesal. Lelaki berambut kumal itu memukul papan tulis. Suaranya berhasil membuat suara anak 1-A terdiam.
"Jangan kalian pikir latihan ini untuk main-main! Atau aku akan menugaskan kalian memancing ikan lele di pantai!"
"Sensei tapi ikan lele tidak hidup di pantai," cicit Hagakure dengan suara pelan.
"Kau benar, karena itu kalian menurutlah."
"Bukankah setelah dipikir-pikir pelatihan yang diselenggarakan oleh U.A selalu mengenaskan?" ucap Tokoyami. Memang sih kalau diingat-ingat saat U.A melaksanakan pelatihan paling enggak pasti ada yang patah tulang. Langganannya sih Midoriya. Makanya anak itu langsung merengut waktu dengar Tokoyami ngomong barusan.
Dia pun berdoa semoga latihan nanti dia enggak mematahkan tulangnya yang baru juga sembuh.
Aizawa-sensei pun kembali menjelaskan mengenai latihan pantai dua hari satu malam itu. Tujuannya adalah menilai kekuatan setiap kelompok yang sebelumnya telah Aizawa bagi perdua orang. Formulir itu sendiri sebenarnya adalah surat izin yang perlu ditandatangani oleh orang tua mereka. Jadi akhir minggu nanti mereka dibolehkan pulang sekaligus meminta izin untuk latihan minggu depannya lagi.
Namun, di tengah penjelasan entah bagaimana Aizawa baru tersadar bahwa dua bangku di kelas tersebut kosong. "Maaf semuanya, tapi aku baru sadar. Dimana Bakugo dan (Name)?"
"Oh, Bakugo pingsan saat latihan sebelumnya dan (Name) bilang dia ingin menyembuhkan dan membangunkan Bakugo," jelas Yaomomo setelah menurunkan tangannya.
Alis Aizawa mengerut. Dia melirik jam yang jarum panjangnya telah melewati angka tiga. Lewat lima belas menit. Aizawa tahu betul sekuat apa quirk (Name) dalam penyembuhan. Data-data rahasia berbicara dengan lantang mengenai hal itu. Bukan hal sulit baginya untuk menyentil hidung Bakugo, membuatnya kembali bangun kemudian marah-marah. Harusnya tidak sampai selama itu.
"Tapi ini terlalu lama. Jemput mereka Yaoyorozu!" perintah wali kelas itu.
Gadis Creati menurut dan segera beranjak dari kursinya. Ia pun menuju UKS setelah keluar dari kelas lewat pintu belakang. Aizawa kembali melanjutkan penjelasannya, mengabaikan anak kelasnya yang mulai berbisik, mempertanyakan soal keadaan Bakugo dan (Name).
*****
"(Name) kau disuruh kembali ke kelas oleh Aizawa-sensei," kata Yaoyorozu setelah menutup pintu UKS.
Namun, setelah satu kedipan mata gadis itu berubah terkejut bukan main. (Name) sedang membongkar seluruh isi lemari yang ada di UKS. Dia melempar sembarang tisu, kotak P3K, botol-botol berisi cairan kimia, obat penghilang rasa sakit, dan selimut. Gadis itu memukul kepalanya sendiri dan menggeram, "Ukh! Tentu saja benda itu tidak ada! Ini bukan rumah sakit!"
"Yaomomo kumohon tolong aku!" tukas (Name) cepat.
Yaoyorozu tidak mengerti, tapi dia bergerak cepat. Gadis itu menarik kursi dan duduk di sisi lain Bakugo. "Jelaskan situasinya!"
"Beri aku pisau bedah!" pinta (Name) tanpa basa-basi.
"Apa?" Gadis berambut hitam itu bingung, namun dia tetap menciptakan banyak pisau bedah dengan quirknya.
Dengan cepat (Name) mengambil alkohol dan menyirami seluruh pisau bedah yang Yaoyorozu berikan. "Bakugo diracun! Kemungkinannya saat pertarungan tadi, racunnya masuk lewat luka. Kau bisa lihat bekas lukanya membiru," jelas (Name) dengan intonasi cepat. Ia memakai sarung tangan karet yang baru saja dia temukan dari dalam lemari ke tangan kanannya.
"Bagaimana mungkin? Itu artinya Hagakure?"
"Hanya asumsi. Tapi Hagakure tidak mungkin punya racun seperti ini! Karena racun ini berasal dari sebuah quirk." (Name) meregangkan dasinya dan mengikat pergelangan tangan kirinya dengan erat. Setelahnya gadis itu merobek telapak tangannya sendiri dengan pisau bedah.
"(Name) apa yang kau lakukan?!"
"Tentu saja menyembuhkan Bakugo. Yaoyorozu tolong siapkan air hangat dan kompres. Suhu tubuh Bakugo meningkat!"
Yaoyorozu menatap tidak percaya. "(Name) apa kau yakin dengan yang kau lakukan?"
(Name) geram dan berteriak, "AKU YAKIN! KALAU KAU TIDAK MAU MELIHATNYA MATI DENGAN ORGAN DALAM YANG HANCUR CEPAT LAKUKAN SEMUA YANG KUPERINTAH!"
Ekspresi kaget lantas terpasang di wajah gadis kaya itu. Namun, dia bisa paham mengapa (Name) begitu marah. Pasti ia sangat khawatir. Karena itulah Yaomomo memutuskan untuk mengatupkan lisannya dan menurut meski ia tidak mengerti apa pun.
(Name) menggigit bibirnya. Gadis itu meraba leher bakugo. Detak jantungnya terasa begitu lemah. (Name) kehabisan waktu dan mengeluarkan racun ini nyaris mustahil. Hanya ada satu cara untuk melakukannya dan ini akan memakan banyak kekuatannya.
(Name) menghela napas terlebih dahulu. Dia mencoba membuang semua kemungkinan terburuk yang muncul di kepalanya. Ia pernah melakukan ini sekali kepada Kazuo, jadi dia tidak akan gagal. Ia tidak akan kehilangan Bakugo. Tidak akan pernah!
Yaoyorozu kembali dengan sebaskom air hangat dan handuk basah. Dengan ligat gadis itu segera mengompres kening Bakugo. "(Name) apa lagi yang perlu kulakukan?"
"Tolong pantau detak jantung Bakugo dan jangan berisik!" Yaomomo mengangguk sambil memegangi nadi di tangan kiri Bakugo.
(Name) kembalikan fokusnya pada leher Bakugo. Dia mengarahkan mata pisau bedahnya yang amat tajam ke leher laki-laki itu. Pisaunya menyelusup masuk. Memberikan luka kecil, namun dalam. Darah segar mengucur pelan dari sumber luka, perlahan menuruni leher Bakugo bercampur bersama keringatnya. Bau karamel lelaki itu bersatu dengan amis darah. Berhasil membuat Yaomomo menutup mata, hatinya berteriak mendoakan Bakugo sedang tangannya ingin sekali menjauhkan (Name) dari leher laki-laki itu.
Dia takut hal paling buruk akan terjadi.
"(Name)...."
"Momo diamlah!" Gadis itu mencabut pisau bedah dari leher Bakugo dan menutup luka tersebut dengan tangan kirinya yang telah ia sobek.
(Name) menutup matanya, mencoba fokus. Ia menggunakan quirknya dengan maksimal kali ini dengan resiko yang besar. Yang semua orang tahu sentuhan (Name) terasa hangat. Kemudian dari kehangatan itu mengalir kekuatan penuh kasih yang mampu membuat rekannya menjadi tak terkalahkan. Namun, orang-orang tidak pernah melihat dari sudut pandang (Name) tentang bagaimana quirknya sendiri bekerja.
Saat ia menyentuh orang lain, (Name) sebenarnya bisa langsung membaca kondisi tubuh orang tersebut. Ia bisa mendengar detak jantungnya, desir aliran darah mereka, dan bagaimana otot-otot mereka bekerja. Bagi (Name) hal itu cukup menyenangkan karena ia bisa merasakan seluruh tubuh seseorang. Namun, saat ia melancarkan quirknya, ia tidak pernah sepenuhnya melepaskan aliran listrik berisi perintah rumit yang bisa mendorong orang lain atau benda yang disentuhnya.
Karena sebenarnya, jika (Name) melakukannya dengan kekuatan penuh, gadis itu bisa meledakkan jantungnya sendiri. Yah, "menyentuh" pun sebenarnya cuma salah satu cara untuk menggunakan quirknya. Menyentuh hanya cara paling cepat dan mudah. Namun cara lain yang bisa (Name) lakukan adalah "mengaliri" objek dengan darahnya.
Ia tidak ingin melakukan cara tersebut. Terakhir kali melakukannya (Name) jatuh pingsan sehari penuh dan tidak bisa menggunakan quirknya selama seminggu. Gadis itu mendorong dirinya sekuat itu adalah beberapa tahun lalu untuk menyelamatkan Pro-Hero yang pernah mengasuhnya. Namun ia tidak berhasil dan Jackylin tetap mati dengan senyuman bangga di pelukan (Name).
Dan demi menyelamatkan Bakugo, (Name) melewati semua batas yang ditetapkan untuk dirinya. (Name) memfokuskan aliran listrik khususnya untuk bergabung dengan sel darah Bakugo lewat darahnya. Seperti mengerahkan ribuan robot mikroskopik, (Name) bisa merasakan darahnya mengalir masuk ke dalam tubuh Bakugo, sedang darah Bakugo mulai mengalir dengan normal.
"Teknik Spesial Quirk Kelipatan, Aliran Sungai Shinano: merambat," lirih (Name).
Gadis itu bisa merasakan aliran darah di dalam tubuh Bakugo berdesir dengan aneh. Sesuatu merusak sel-sel darah anak itu, yang sudah tentu adalah racunnya. (Name) tahu racun ini seperti makhluk hidup. Ia memakan seluruh sel yang ia temui, dan ia terlalu kuat untuk kembali dilawan oleh sistem kekebalan tubuh manusia. Akan sangat fatal apabila virus ini sampai ke organ terdekat, karena ia bisa membuat organ tersebut hancur dan menyusut.
Satu-satunya cara adalah dengan meningkatkan seluruh sistem kekebalan tubuh. Namun, (Name) tidak bisa melakukannya terhadap Bakugo. Jika memaksa (Name) bisa membuat anomali lain dalam tubuh Bakugo dengan membuat sistem kekebalan tubuhnya bekerja dengan aneh dalam waktu sekejap. (Name) takut sel-sel laki-laki pemarah itu malah berubah menjadi sel kanker.
Namun, ia bisa melakukan hal itu dengan tepat jika dia tahu racunnya ada di bagian mana, dan hanya dengan cara iniah ia bisa melakukannya. Mengaliri tubuh Bakugo dengan darahnya dan meningkatkan sistem kekebalan di darah (Name) dengan maksimal. Kemudian menggabungkannya dengan perintah rumit untuk membunuh racun-racun tersebut. Setelahnya (Name) akan mengganti perintah kepada sel darahnya untuk merusak diri sendiri dan mati, kemudian diolah oleh penghuni tubuh Bakugo.
Memang (Name) harusnya tidak bisa menggunakan quirknya pada tubuhnya. Namun, quirknya mengalir pada darahnya, terikat dalam dna yang rumit. Sehingga dalam pencariannya selama bertahun-tahun, (Name) mampu menemukan cara menguras nyawa ini. Cara pelik yang menghadapkannya pada dewa kematian untuk melakukan operasi aneh terhadap tubuh korban melalui aliran darahnya sendiri.
"(Name) hidungmu berdarah!" Yaoyorozu mengambil tisu dan mengelap hidung gadis itu.
"Sedikit lagi! Aku hampir memakan semua racunnya!" ucap (Name). "Aku memerintahkan semua selku untuk membunuh racunnya agar tidak menyebar. Kita beruntung karena racun ini belum sampai ke jantung Katsuki. Apabila racunnya berhasil dipompa keseluruh tubuh, Katsuki akan mati dengan hasil otopsi mayat yang mengenaskan," tambahnya.
"Kau hebat bisa melakukan semua ini (Name)." Momo tersenyum bangga. Sekarang pun ia bisa merasakan detak jantung Bakugo kembali normal perlahan-lahan. "Detak jantungnya membaik! (Name) ini semua berkat kau!"
(Name) menaikkan kepalanya dan tersenyum untuk membalas Yaoyorozu. Mendengar laporan bahwa Bakugo telah terlepas dari racun, gadis itu melepas tangannya dan menutup luka Bakugo dengan dua jari, merapal mantra kecil kemudian menjauh dari leher lelaki itu tanpa meninggalkan bekas luka satu pun.
(Name) melepas dasi dari pergelangan tangan kirinya dan mengelap peluh di dahinya dengan benda tersebut. Agak jorok memang. Ia pun ganti mengobati tangan kirinya sendiri dengan kain kasa dan perban.
"Fiuh dasar jabrik sialan! Nyusahin banget sih!" cibir (Name) sambil melirik wajah Bakugo yang tidak lagi pucat. Mungkin demam di tubuh anak itu masih akan tertinggal sampai besok. Tapi paling tidak (Name) berhasil memakan racun di tubuh Bakugo dan menyelamatkannya.
"Dengar ya Katsuki! Aku sudah tidak ada hutang lagi padamu! Aku memang berterima kasih karena kau sudah membantu menyelamatkan Verdent Cafe, tapi sampai U.A berubah nama jadi E.A pun aku ga bakal mengatakannya!" ucap gadis itu penuh emosi.
Ia pun menyenderkan tubuhnya di punggung kursi. Membiarkan seluruh tubuhnya beristirahat walau mustahil. Kepalanya mulai pusing dan berdenyut. Belum lagi (Name) tidak bisa merasakan tangan kirinya. Gadis bar-bar itu yakin sebentar lagi juga dia akan pingsan. Untung ada Momo di sini.
"(Name)...."
"Iya Yaomomo aku tahu kita harus kembali ke kelas. Tapi aku tidak bisa jalan. Kalau aku pingsan tolong pindahin ya hehehe." (Name) menatap Yaomomo lemah. Kini gantian wajah gadis itu yang memucat. Ia bisa merasakan jantungnya yang berisik seperti akan meledak. Ini adalah resiko jika (Name) menggunakan teknik spesialnya yang belum sempurna itu. Seluruh tubuhnya akan mati rasa dan jantungnya berubah ramai. Belum lagi suhu tubuhnya meningkat dan yang paling parah ia tidak bisa menggunakan quirknya untuk beberapa hari.
"Bukan itu! Tapi dahimu!"
"Dahi?" (Name) sontak memalingkan wajahnya ke arah jendela yang memantulkan cerminan wajahnya. Gadis itu mendapati sebuah simbol rumit membentang horizontal di tengah-tengah jidat datarnya. Sebuah garis melintang dengan liukan indah di tengah-tengahnya membentuk bunga dengan empat kelopak simetris, mengingatkan (Name) dengan ketakutan yang dikuburnya dalam-dalam.
Simbol itu dulu semasa hidup selalu muncul di mana-mana. Di ukiran kimono mewah yang selalu (Name) pakai, di dinding-dinding kamar dan seluruh rumah, dan di senjata-senjata seperti pedang, anak panah, serta laras panjang. Simbol keluarga yang dia warisi dari kedua orang tuanya.
"Ayah, kalau sudah besar nanti apa (Name) boleh menjadi pahlawan?"
Sesuatu mencekik (Name). Jantung gadis itu berhenti bekerja dengan tidak wajar. Pasukan oksigennya berhenti, dan seluruh pembuluh darahnya seperti diberhentikan paksa oleh lampu merah. Gadis itu memegangi dadanya dan mulai mengais-ngais udara. Sedang di saat yang sama kepalanya menjadi begitu bising. Banyak suara bermunculan dan tubuhnya bergetar hebat.
Suara penuh khawatir milik Yaoyorozu menjadi begitu samar. "(Name) tidak usah terburu-buru bernapaslah dengan pelan! Lihat! lihat mataku!"
"Kau punya mimpi yang unik ya! Sama seperti Ayah!"
"Tapi Ayah kan bukan pahlawan?"
"Ayah tidak ingin menjadi pahlawan untuk orang-orang di luar sana. Ayah cuma ingin menjadi pahlawan untuk (Name) seorang."
Lidah gadis itu berubah kelu. Dia tidak bisa mengatakan apa pun, bahkan untuk sekedar menyuarakan rasa sakitnya. (Name) benci serangan panik dan kenapa harus terjadi di saat tubuhnya sedang lemah, belum lagi di hadapan Yaoyorozu.
"Ini simbol keluarga kita. Saat kau melihat ini ingatlah bahwa Ayah akan selalu melindungimu di mana pun kau berada, bahkan saat (Name) tidak melihat Ayah."
Gadis itu menggigit paksa bibir bawahnya hingga berdarah, berusaha membawa pikirannya kembali ke masa kini. Ia menggerakkan paksa tangannya yang begitu lemah, meraih Yaoyorozu, dan memeluk gadis itu erat.
"(Name) tenanglah.... Tidak apa-apa."
"Serangan panik. Ini akan berakhir, tapi memakan waktu. Aku mohon tetaplah seperti ini." (Name) menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Yaoyorozu, membiarkan wangi gadis itu memenuhi paru-parunya yang terasa sempit.
"Sudah berapa banyak orang yang kau bunuh dengan tangan terkutukmu? Dasar anak iblis!"
Seluruh kehangatan Yaoyorozu mengalir kepada (Name), mengingatkan gadis itu betapa indahnya sebuah pelukan jika Ayahnya tidak pernah berbohong. Jika saja Ayahnya tidak meninggalkannya saat (Name) berulang tahun dan mendapatkan quirknya.
"Momo aku benci quirkku."
"(Name) apa yang kau katakan? Kau baru saja menyelamatkan Bakugo dengan kekuatanmu," sanggah Yaomomo, mencoba memberikan pengertian yang lembut sambil mengelus punggung gadis itu.
"Bakatku menghancurkan banyak hal Momo. Aku tidak tahu lagi siapa yang bisa tersakiti hanya karena aku." (Name) mulai menangis dan memeluk Momo semakin erat. Dia berusaha meredam amarah dan rasa sedihnya, namun air mata dan raungan pilu terus keluar.
Bakugo yang telah sadar sejak saat (Name) kehilangan fungsi pernapasannya hanya bisa melirik sedikit di balik tidurnya. Lelaki itu belum sepenuhnya menyadari situasi dan yang pertama kali ia dengar adalah tangisan (Name). Bakugo tidak mengerti, tapi hatinya menjadi begitu kesal. Ia harap ia bisa bangkit dan menghancurkan apa pun yang membuat (Name) membenci dirinya sendiri.
Kau harus mencintai dirimu sendiri sebanyak usahamu untuk menyelamatkan orang-orang di sekitarmu, cewek aneh.
***
"Empat kelopak mawar dan mutiara di tengah adalah lambang yang diturunkan dari Ayahku. Aku tidak pernah melihat simbol ini bertahun-tahun sampai tadi dan itu mengingatkanku dengan Ayah," cerita (Name). Suaranya pelan, nyaris dibawa pergi angin yang melewati balkon kamarnya.
Setelah kejadian itu Yaomomo meminta izin kepada Aizawa-sensei untuk kembali ke asrama bersama (Name). Sedangkan Bakugo diberikan perawatan lanjutan sebelum akhirnya kembali ke asrama saat jam sekolah usai. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara soal racun. Yaomomo bahkan menyembukan seluruh bukti dengan rapi. Kini gadis itu duduk di sebelah (Name) dan menemaninya sambil menggenggam semangkuk bubur yang mulai dingin.
"Pasti ada banyak hal yang terjadi."
"Yah kau benar. Aku benci mengingatnya. Semua terkait keluargaku terlalu mengerikan. Kadang-kadang aku berharap terlahir sebagai kucing saja."
Yaomomo menatap (Name) sendu. Gadis itu kehilangan cahaya di wajahnya, membuat Ibu 1-A itu begitu khawatir. Yaoyorozu memegang tangan (Name) yang bergetar.
"Kau tahu (Name) saat Dewa menciptakanmu ke dunia ini, itu juga berarti dunia ini tidak akan ada tanpa kehadiranmu. Aku pikir kita semua punya peran masing-masing. Dan melihatmu bergerak sejauh ini, hingga di titik ini, kau sudah melakukan yang terbaik. Kau bisa tetap seperti ini. Ingatlah kau memiliki kami semua. Kami akan menjagamu," ucap Momo penuh makna.
(Name) bingung. Haruskah dia menganggap ucapan Momo barusan sebagai omong kosong? Dia sudah banyak kehilangan dan berkali-kali mencabut nyawa manusia. Hal ini tidak pantas. (Name) sadar jika dia terlalu lama berada di sini, dia akan menyakiti semua orang.
"Bukankah semuanya akan berhenti kalau aku tidak ada?"
"(Name) kau--"
"TODOROKI SHOTO KAU SUDAH PULANG!!!" (Name) langsung berteriak, memutus omongan Yaomomo yang sudah ia tebak arahnya ke mana. Gadis itu malah melambai-lambaikan tangannya kepada Todoroki yang baru memasuki gerbang asrama. Ia lantas bergegas turun untuk menyambut Todoroki dengan senyuman ceria.
Todoroki tersenyum tipis tatkala (Name) menghampirinya sambil berjalan cepat. Gadis itu sedikit tenang, gak kayak biasanya dia akan lari-lari, teriak, koprol, trus split di udara, kemudian lompat indah dan mendarat di samping Todoroki untuk kemudian berjalan beriringan dengannha.
"Aku akan memandumu ke asrama!" serunya.
"Tidak perlu aku kan yang lebih lama tinggal di sini daripada kau."
Meski begitu, tetap saja Todoroki membiarkan (Name) berjalan di samping kanannya. Selama jalan lelaki itu terus-terusan menoleh dan memindai (Name) dari bawah sampai atas. Membuatnya melihat perban janggal tersebut.
"Ada apa degan tanganmu?"
"Oh? Aku habis menyelamatkan Katsuki! Kau sudah bisa dengar dia marah-marah nanti di ruang kumpul! Aku yakin kau pasti merindukannya!"
"Apa Bakugo melukaimu saat kau mengobatinya?" Todoroki menggenggam tangan (Name), menginspeksi perban yang cukup tebal di tangan kiri gadis itu. Ia pun menatap (Name) tegas, penuh pertanyaan.
Namun, saat ia melihat wajah manis gadis itu dia menyadari banyak hal. Wajahnya pucat, bibirnya membiru, dan suhu tangannya yang panas. Namun, yang paling mencolok adalah dahi (Name) dengan simbol yang mengingatkannya pada pesan ayahnya sebelum meninggalkannya untuk bertugas di perang besar dulu.
"Ingatlah Shoto, villain saat ini berkembang dengan kelompok yang besar. Beberapa di antaranya bahkan beroperasi dalam satu keluarga dan keturunannya. Saat ini aku sedang mencari-cari tentang keluarga Ukanami, mereka semua menggunakan simbol bunga dengan empat kelopak. Namun ternyata Ukanami hanyalah sebuah cabang dari keluarga yang lebih besar. Mereka menggunakan simbol yang sama dengan warna berbeda. Awalnya aku mengira mereka adalah Ukanami. Aku berhasil menemukan kediaman mereka dan mengirim lima pengintai. Keesokannya kantor agensiku dikirimi paket berisi lidah dari kelima orang tersebut. Mereka jauh lebih berbahaya. Mereka semua keji. Mereka adalah..."
"Kau iblis?"
✨✨✨
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top