1. Naga: Melarikan Diri
Balon-balon transparan menyembul dari ubun-ubun penduduk kota Sengkawa, dan mereka bakal terbang ke surga sebelum jam istirahat selesai. Idenya sederhana, suatu pelarian, sebab tidak ada yang benar-benar suka belajar, atau bekerja, atau apa saja yang ditetapkan sebagai kewajiban. Jadi ubun-ubun yang resah meniup banyak omelan ke angkasa, menciptakan balon untuk kabur--dari semuanya, dari apa saja.
"Curang sekali! Apa pintar belajar tidak cukup Ga? Lihat gambarmu, aku iri!" Allan--kawan baikku yang gemar bicara--mengomel. "Kamu tidak buta nada, pandai olah raga pula, apa ada yang tidak bisa kamu lakukan Ga?" Ia bersandar pada kursi kelas dengan banyak kejengkelan sambil menatap langit-langit. "Ada tidak?" ulangnya.
Aku menoleh, mengamati lirikan Allan dan kepura-puraan yang ia tunjukkan. "Menurutmu Lan?"
Anak laki-laki enam belas tahun itu--Allan--membetulkan duduknya sambil melempar fokus pada manusia-manusia balon di buku gambar. "Ada, pasti ada." Ia menopang dagu dengan kedua tangan sebelum melanjutkan. "Semua punya kekurangan." Lengan jaketnya yang kendur hampir jatuh dan ia cepat-cepat bersedekap. "Tapi tetap saja, kamu itu curang sekali!"
Aku tertawa renyah mengapresiasi tabiat Allan. Ia tidak lebih bodoh dariku--dalam urusan pelajaran, olah raga bukan masalah untuknya, dan bermain musik adalah poin penting--sebab hal itu membuat Allan nampak lebih istimewa. Hanya kerajinan tangan, satu-satunya yang menjadi musuh bebuyutan Allan, dan ia jengkel, sebab jari-jariku lebih luwes darinya. Sebuah hubungan rivalitas yang sehat dan dibangun di atas pertemanan.
"Sepertinya, aku tidak akan bisa." Aku menjeda dan Allan menggeser kursinya, memperpendek jarak di antara kami berdua. "Dapat nilai dua puluh meski malas-malasan."
"Sial!" Allan berserapah. Si banyak omong itu--Allan--ditampar oleh kecerobohan dua minggu lalu. Ia sok hebat dan melepas kaca matanya ketika mengerjakan soal matematika. Alhasil lembar jawabnya dipenuhi warna merah, jawaban nomor tiga, ia letakan di nomor empat, dan begitu seterusnya. "Itu tidak sengaja." Allan membela diri. Untungnya guru matematika menyukai Allan dan memberi ia nilai tuntas--setelah Allan melewati ujian ulang.
Aku kembali tertawa, sedang Allan bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang. "Kenapa ya, aku mau berteman denganmu?" Ia menggeleng sambil menggaruk-garuk rambut tebalnya. "Kamu harus beryukur dan berterimakasih!" Telunjuknya mengarah padaku, dan sesuatu yang menggelikan menggerayangi tubuhku. Aku, ia, atau siapa yang patut bersyukur dan berterimakasih dalam situasi ini.
"Ya, ya." Aku menarik lengan Allan, mendudukkan ia dengan serta merta. "Cepat duduk dan selesaikan gambarmu! Istirahat hampir selesai." Guru seni rupa terkenal galak, dan aku tidak ingin Allan dapat masalah.
"Omong-omog, kamu tahu CRISPR?" Allan mulai memainkan pensil dan melanjutkan karya seninya. "Kabarnya anak-anak genius jaman sekarang muncul akibat alat itu." Aku mengamati karya seni Allan, dan tidak yakin dengan apa yang kawanku coba gambarkan. Seperti segerombol pohon pisang yang buahnya tidak beraturan, atau parade panjang yang dihadiri oleh makhluk jadi-jadian. "Orang-orang tua ambisius mengedit DNA anak mereka, mengejar keunggulan genetik." Allan berhenti dan nampak berpikir sebentar. "Kelompok diskusi konspirasi membahas itu minggu lalu, bagaimana menurutmu? Apa kamu sudah mulai tertarik dan ingin bergabung?"
"Jelaskan bagaimana CRISPR bisa mengedit DNA manusia, aku akan pertimbangkan kalau kelompok diskusi konspirasi bisa memaparkan itu, Lan."
"Ya ampun, sulit sekali ya." Allan menggeleng dan melanjutkan gambarnya.
"Kelompok diskusi konspirasi." Ulangku pelan. "Kedengarannya saja sudah aneh." Dan Allan telah mentasbihkan diri sebagai anggota setia dari sekte tidak jelas itu. "Tapi kalau memang CRISPR bisa menghasilkan manusia genius, aku yakin orang-orang tua ambisius sudah mengantre." Aku menjeda. "Untuk memperbaiki anak-anak mereka."
Allan tertawa. "Untungnya orangtuaku tidak peduli dengan menjadi genius atau berbakat." Tentu saja orangtuanya tidak memperhatikan hal-hal seperti itu, dan aku mengagumi kepura-puraan yang Allan tampilkan. "Tunggu, bagaimana denganmu?" Aku mengedik. "Kamu mungkin gila kalau dibuat lebih pintar lagi." Tawanya semakin keras dan murid-murid lain mulai memperhatikan. Tatapan mereka--murid-murid lain--jelas berada di antara rasa ingin tahu dan terganggu, meski tidak ada yang berani mendekat pun menegur.
"Gila ya?" ulangku kembali. Misal, misalnya saja, aku benar-benar digiring ke laboratorium dan menjalani modifikasi DNA, lalu menjadi lebih pintar sampai menggila. Mungkin orangtuaku bakal mengamuk sambil menangis untuk beberapa bulan ke depan. Lantas di masa itu, tetangga-tetangga yang tidak benar-benar peduli, bakal sibuk menggunjing dan menyebarkan cerita-cerita tentang aku, kegilaanku, dengan bumbu di sana-sini yang membuat semuanya lebih menarik.
Munglin setahun kemudian, pundak Elang--adikku yang tidak menyukai matematika--bakal remuk tidak berbentuk. Lalu akhirnya, anak cengeng itu mengikuti jejakku--menjadi gila--dan menghancurkan keberadaan megah yang dibangun oleh ayah-ibu.
"Kera tidak punya ekor, monyet punya ekor, benar bukan?" Pertanyaan Allan membuyarkan pemikiran bodohku. Ia menggoyang-goyangkan buku gambarnya di depan wajah, seolah memamerkan karya seni bernilai tinggi. Kedua mataku memicing untuk beberapa detik, menerka-nerka apa yang kiranya Allan coba sampaikan melalui "segerombol pohon pisang."
"Ya, benar," Jawabku. Dan Allan mulai menggambar ekor yang panjang.
"Dipikir lagi, aku tidak akan keberatan kalau orangtuaku mengirimku ke CRISPR." Kawanku ini memang senang bicara. "Ya, aku tidak keberatan, aku bisa jadi genius, belajar jadi lebih mudah, dan mungkin aku bisa membangun koloni di Mars."
"Tidak perlu memodifikasi DNA, belajar saja yang tekun."
"Manusia itu suka yang instant Ga!" Allan mendebrak meja. "Mie instan, bubur instant, minuman instant, membeli nilai, membeli jabatan, dan yang mudah-mudah lainnya." Allan berhenti, menoleh ke arahku, dan tertawa sejenak sebelum melanjutkan. "Bunuh diri juga termasuk, sementara belajar dengan tekun, tidak, tidak instan, sama sekali." Ia menggeleng sambil mengedik.
Allan mengecek jam di tangan kirinya dan mengamati murid-murid yang mulai kembali ke kursi masing-masing. "Aku tidak genius, jadi aku tidak punya banyak pilihan." Istirahat benar-benar hampir berakhir dan Allan belum menyelesaikan tugas seni rupanya. "Bahkan jika dibandingkan denganmu, pilihanku jumlahnya pasti jauh lebih sedikit." Ia nampak kesal dan mulai ditelan kemarahan.
"Kamu bisa langsung bekerja bahkan di industri kreatif." Allan menatap orang-orang dengan balon di ubun-ubun dalam buku gambarku. "Atau mengambil kuliah." Goresan di buku gambarnya semakin menggelap. "Dengan jurusan apa saja." Bulu-bulu monyet dalam kertas karton milik Allan, dilumuri dengan kecemburuan yang baunya tidak sedap. "Sedangkan aku." Pensilnya patah dan kawanku yang senang bicara itu bangkit dari duduknya. Ia mengatur napas sambil membereskan alat-alat tulis yang berserak di atas meja. "Intinya, kamu itu curang Ga."
"Allan!" Ketua kelas menginterupsi diskusiku dengan Allan. "Piket." Gadis berkaca mata itu menunjuk ke arah papan tulis yang dipenuhi coretan.
"Aku lapar, tapi istirahat sudah hampir selesai." Allan mengubah topik pembicaraan dan mengelus-elus perutnya.
"Harusnya kamu selesaikan tugas itu pagi tadi, sebelum jam pertama dimulai."
"Allan!" Ketua kelas kembali memanggil sebab bel berakhirnya jam istirahat sudah terdengar--dan guru seni rupa terkenal galak.
"Iya, sabar." Allan berteriak kesal dan obrolan kami berkahir. Aku diam, membiarkan kawanku yang senang bicara--seenaknya--melenggang melaksanakan tugas. Meski aku ingin memaparkan dengan lantang di hadapan wajahnya. Mengenai hal-hal yang menyulut kecemburuan, apa-apa yang bersembunyi di balik kecakapan Naga, dan kegilaan--seperti manusia-manusia balon--yang jaraknya semakin dekat.
Rasanya bakal lebih melegakan, kalau otakku bisa berteriak-teriak dan mengumpat-umpat lewat ubun-ubun. Meniupkan banyak sekali kejengkelan--tanpa perlu banyak berpikir--hingga menjadi balon raksasa. Menarik tubuhku yang beratnya tidak seberapa ke surga.
Tepat beberapa menit lalu, sebelum waktu istirahat usai dan kewajiban-kewajiban yang tidak disukai oleh semua orang menghabiskan oksigen dalam ruang kelas.
Pengap,
tolong,
aku
hampir
Tenggelam.
____________________
Bab satu yang penuh petunjuk
Jadi, menurut kalian, apa yang menimpa Naga dan Allan?
Tetap hidup! Sebab donat jeko enggak buka cabang di neraka, yep.
Pandu
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top